Odd Eye

Odd Eye
Part 25. Tolong tarik lamaran anda!


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


"Tidak!" Satu jawaban yang membuat Hanaya bernapas lemah.


"Yang Mulia"


"Tidak. Ada banyak solusi lain"


"Lalu apa solusinya? Jika anda tak melepas saya, status anda yang harus di lepaskan! Situasi sedang tak bersahabat. Semakin banyak menolak, semakin anda di benci!" Hanaya membentak. Emosinya terkuras hanya karena ini.


Sedih, marah dan tak terima! Namun, Javier adalah matahari. Sosok Viviana dan segala kontroversialnya mungkin dianggap awan hitam bagi Javier, yang mana bersirat dia penghalang cahaya pria itu.


"Maaf, saya hanya ingin anda tau apa konsekuensinya. Saya harap Yang Mulia mengerti"


"Tolong tarik lamaran anda. Atau jika anda mengizinkan, saya akan mengirim surat penolakan atas lamaran anda pada Duke Nestra dan bersedia menjadi biarawati kuil dewa" sebab di Utopia, menolak lamaran yang berarti kasih Laisar serta uluran tangan dewa adalah sebuah dosa, dosa yang harus di tebus dalam bentuk penghukuman.


Hanya ini solusi terbaik. Ayahnya juga mungkin akan setuju, meski harus melepas Viviana ke biara. Selama tempat itu bukanlah istana yang di anggapnya keji.


"Hahaha, ku pikir kau berbeda. Ku pikir kau akan mendukungku. Ternyata aku salah, kau sama seperti mereka" Hanaya tertegun.


Nada suara itu terdengar, rapuh.


Kelopak mata yang terkulai serta netra yang menunjukkan kekecewaan. Lalu sudut bibir yang tertarik itu membentuk senyum miris


"Aku tak akan menyetujuinya. Selalu ada cara, dan aku akan terus mempertahankanmu"


Javier kecewa padanya.


Apa yang sudah Hanaya lakukan? Dia hanya ingin melindungi Javier lalu mengapa ini malah mengecewakan?


***


"Kumpulkan semua anggota parlemen, rapat akan di lanjutkan"  Javier berujar, tak ada waktu untuk menunda lagi. Dia harus cepat, Viviana mulai meragu.


"Yang Mulia-


"Tenanglah. Kita akan membahas masalah ini" sela Javier tegas. Mengambil tempat duduk di kepala meja.


"Kepala parlemen, katakan siapa saja calon paling berpotensial untuk menjadi ratu?" Pertanyaan itu membuat wajah semua anggota parlemen cerah.


Mulai percaya, bahwa Javier mempertimbangkan opini dan masukan serta keinginan rakyat.


Grand duke Apollio menjawab sigap "Lady Madelin putri Duke Nestra, dan lady Rozetta putri Duke Raymond adalah yang paling potensial. Status sosial dan kecerdasan keduanya memiliki watak ratu."


Madelin dan Rozetta menguasai kedudukan sosial bangsawan wanita berkat kehebatan dan status besar keluarga mereka. Sebab itu keduanya menarik perhatian parlemen sejak memulai debutante dan resmi secara publik.


"Kirim perintah kekaisaran resmi pada ketiganya lady Rozetta, lady Madelin dan lady Viviana kekaisaran akan membuka pertandingan calon ratu untuk menentukan yang paling potensial"


Semua anggota terkejut, tak ada yang berpikir bahwa ini akan berlanjut seperti ini. Javier sepertinya benar-benar ingin mempertahankan Viviana.


"Yang Mulia-

__ADS_1


"Peraturan pencalonan ratu. Siapapun yang berpotensial wajib di undang untuk pertarungan resmi dan kaisar memiliki hak menentukan satu orang pilihannya." itu membekukan semua bantahan anggota parlemen.


"Ini adalah solusi yang tepat untuk permasalahan ini. Sampaikan pada rakyat akan perlombaan calon ratu" tegasnya sebagai mutlak untuk penyelesaian masalah.


Javier keluar dari ruangan. Pemberitahuan ini mendapat persetujuan dari semua rakyat. Ini dianggap sebagai penegahan yang adil. Dengan ini, jika Viviana gagal, lamaran akan batal tanpa adanya konsekuensi. Gadis itu tak harus memasuki tempat manapun. Dan jika Viviana menang, semua hal yang berkaitan dengannya atau rumornya akan di hapuskan ini adalah hukum untuk keistimewaan ratu.


Tepat setelah pemberitahuan beredar, ketiga lady di kediaman berbeda menerima titah kerajaan. Dalam satu minggu kedepan perlombaan akan di laksanakan. Topik yang dibahas adalah ekonomi dan politik sebagai landasan sebuah kekaisaran.


Mereka semua harus bersiap.


***


"Kita berdua akan bersaing dalam satu minggu kedepan" ujar Rozetta. Pesta minum teh kali ini sehangat biasanya. Rozetta mengundang Viviana untuk membahas hal ini.


"Ya, apa lady tak menolaknya?"


"Tidak" Hanaya terkejut mendengarnya. Rozetta sepertinya tak memiliki minat menjadi ratu.


"Meski saya tau siapa yang kaisar cintai namun posisi ini terlalu menggiurkan untuk di tolak. Akan sangat melukai harga diri jika saya mundur tanpa bertarung."


Ah, Hanaya menyesal berprasangka buruk.


Ia paham maksud Rozetta. Sebagai sosialita, Rozetta perlu mempertahankan reputasinya. Jika ia mundur begitu saja, hal itu akan bertentangan dengan pengikutnya maupun keluarganya.


Keluarganya pasti akan mengirim Rozetta usai menerima titah kerajaan, jadi tak ada pilihan selain bertarung dan kalah secara terhormat.


"Meski akan sangat menyakitkan jika aku menjadi ratu yang tak di cintai. Namun disisi lain kaisar juga tak akan menyelingkuhi ku, sebab hukum kerajaan melarang hal itu. Anggota parlemen dan rakyat juga akan waspada dan mengurangi interaksi kalian. Jadi tak ada masalah jika harus terjebak tanpa cinta seumur hidup. Meski menyedihkan " mata tajam Rozetta berkilat.


Rozetta di satu sisi adalah rival sekaligus sahabat. Jenis manusia lain yang Hanaya butuhkan selain Brianna.


"Jadi, dalam pertarungan kedepan saya tak akan mundur."


Hanaya mengangguk dengan senyum tipis, sama tegasnya "Saya juga tak akan mengalah. Jadi mari bertarung."


Rozetta tertawa "Bukankah itu perkataanku? Sepertinya lady Viviana menggunakannya tanpa izin" kelakarnya. Suasana selalu hangat, meski mata keduanya menegaskan tekad bertarung.


"Topiknya mungkin seputar ekonomi atau politik dua topik terpenting. Jadi, sebaiknya anda mempersiapkan diri lady "


"Tentu. Lady Rozetta juga harus mempersiapkan diri"


"Ku dengar lady Madelin juga di undang serta"


"Ya, jita bertiga"


"Sudah ku duga" Rozetta menerawang


"Dia sangat berpotensial sebab itu menarik banyak perhatian anggota parlemen. Beberapa bahkan mendukungnya secara terang-terangan"


"Maksudnya?"


"Grand duke Apollio kepala parlemen, dia pasti akal dari penolakan ini"

__ADS_1


"Apollio adalah orang yang mendukung Duke Nestra. Semua orang tau itu, dia berniat memasukan lady Madelin untuk memperkuat posisinya. Bisa saja ada transaksi rahasia diantara mereka. Siapa yang tau?" Hanaya tak mengenal begitu banyak orang penting di dunia ini. Tetapi Rozetta tentu tau. Dia telah berkecimpung dalam sosialita sejak lama dan pasti tau mengenai rahasia bangsawan.


Serakah akan kekuasaan.


Jika Madelin naik tahta maka keluarga atau orang yang mendukung duke Nestra akan mendapat posisi penting serta perhatian dari rakyat.


"Tapi bagaimana jika itu tidak benar? Maksudku tebakan mu salah?"


"Duke Apollio pernah di dakwa atas penggelapan pajak kerajaan. Buktinya menghilang saat sampai di penggadilian, menurutmu apa itu sebuah kebetulan?" Hanaya terkejut, ini jelas bukanlah kebetulan-sepertinya ada persekongkolan.


"Berita ini sudah di lupakan semenjak dia diangkat sebagai kepala parlemen. Apollio diberikan pengurangan hukuman sebab kurangnya bukti. Orang biasa mungkin berpikir itu kebetulan atau dewa memihaknya tapi orang jenius tau, itu sebuah persekongkolan."


"Bukti yang hilang tepat dihari persidangan adalah perencanaan penghapusan bukti. Ada seseorang berkomplot dengannya. Istana tak punya bukti untuk menginterogasi lebih lanjut"


"Jadi kemungkinan besar hasil pemilihan akan di curangi. Anggota parlemen merupakan juri tetap, mereka semua berada di bawah kendali Apollio, perlombaan ini sejak awal sudah dimenangkan" jeda dalam ucapan Rozetta menimbulkan gelayar dingin pada tulang punggungnya. "Madelin"


Itulah sebabnya, rumor buruknya dipakai sebagai pedang untuk membuka jalan! Rozetta hanya pemanis, pertarungan ini sudah tak seimbang sedari awal.


Hanaya terkejut,


Jadi segalanya berakhir tanpa perlawanan ?


Istana tak sesederhana kelihatannya. Brianna benar.


"Kita punya satu cara membuat pertarungan yang seimbang" bagaikan cahaya di gelapnya malam, mata Hanaya berbinar.


"Cara? Cara apa itu?"


"Kau tau bukan, sebelum pertandingan dimulai calon berhak meminta satu permintaan, istana akan mengambulkan itu sebagai tanda terima kasih atas partisipasi. Saat kaisar menanyakan apa permintaanmu minta hasil akhir di buat oleh Sri Paus, kau paham maksudku bukan?"


Hanaya memandang Rozetta. Dalam sekejab paham maksudnya


"Kita akan menggunakan Sri Paus sebagai tameng. Orang dari kuil dewa tak terikat dalam sistim kerajaan. Jika menyarankan ini, rakyat akan setuju sebab menganggap jawaban Sri Paus yang merupakan hamba terdekat dewa, adalah restu atau jawaban dari dewa sendiri " Hanaya menjawab lugas. Paham betul maksud Rozetta.


Rozetta berniat memanfaatkan kuil serta kepercayaan rakyat  akan 'kehendak dewa' yang begitu pekat di Utopia sebagai serangan balik.


"Dengan begitu, jika kau menjadi ratu semua orang akan melupakan rumor burukmu dan akan berpikir 'ah, dewa memilihnya. Mungkin semua masalah ini di tujukan untuk kemakmuran Utopia! Seperti kata pepatah, bersusah dahulu bersenang-senang kemudian' "


"Tapi bukankah ini sebuah dosa? Memakai nama dewa tanpa-


"Untuk melawan iblis kekuatan dewa di butuhkan. Kita tidak memanfaatkan, kita menggunakan dewa sebagai penentu ratu sejati kekaisaran Utopia" sergahan Rozetta membuat Hanaya terdiam.


Ini memang benar, dia hanya menyalahpahami konteksnya. Namun, dari sisi manapun, ini tetap masuk dalam frasa 'memanfaatkan'. Orang lain yang mendengar mungkin akan berpikiran ke arah yang sama.


Namun dengan ini, pertandingan akan berhasil dengan nilai seimbang. Jadi tak ada campur tangan orang dalam atau ratu yang dibuat demi keuntungan.


Hanaya harus berhasil! Dia akan berdiri di samping Javier dan membasmi semua kejahatan yang mengakar dalam istana ini. Ini satu-satunya kesempatan. Kesempatan yang diberikan Javier padanya.


Lalu satu opini melintas. Jadi dari sekian banyaknya ratu di Utopia, berapa banyak 'ratu buatan' ?


...▪︎OODEYE▪︎...

__ADS_1


Note: Reupload232204CL


__ADS_2