Odd Eye

Odd Eye
Part 14. Kebun bunga matahari dan tawa


__ADS_3

...▪︎ OODEYE ▪︎...


"Kakak ingin kemana?" Tanya Elisia. Kini Hanaya tengah menggandeng tangan anak-anak itu. Allen di tangan kanannya sementara Elisa di samping Allen. Di tangan kiri ada Digitha dan disampingnya Fanesh.


"Mungkin kita bisa berkeliling melihat-lihat Vilanc dahulu" saran Elisia di tolak mentah oleh Fanesh.


"Kita harus ke kaki bukit. Di dalam Vilanc sedikit membosankan. Disana ada banyak hal yang dapat di lihat"


"Tidak bisa Fanesh. Bibi Anne sangat serius kita bisa di hukum nanti, Kakak sepertinya tak dapat diajak kerja sama" timpal Digitha melirik Hanaya curiga.


"Katakan saja kalian takut" cemooh Fanesh.


"Anu- bu-bukan takut. Ki-kita hanya harus patuh kata orang tua" akhirnya Hanaya dapat mendengarnya. Suara Allen halus seringan bulu, sangat lembut dan sopan. Jenis suara yang tak bosan didengar berulang kali.


"Kalian semua sangat kolot!" Cemoohnya lagi, lalu melepas tangan beralih kedepan demi menatap Hanaya "Kakak, katakan kau ingin melihat kaki bukit bukan? Jangan katakan kau takut ancaman bibi Anne, kalau begitu kau sama kolotnya dengan mereka"


"Fanesh, jaga ucapanmu! Tak sopan mengatai tamu" hardik Digitha. Sementara Allen gadis itu sudah mengigit jari, mungkin gelisah dan takut dengan pertikaian yang akan tersulut ini.


"Maafkan kata-kata Fanesh kakak. Dia memang seperti itu" ujar Elisia. Tetapi Fanesh tak peduli, gadis itu terus menatap Hanaya menuntut.


"Baiklah. Kita akan ke bukit. Bibi Anne tak akan marah jika kakak yang mau bukan?" Fanesh mengangguk bersemangat sementara Digitha mencegah "Tak perlu memaksa kak. Jika kakak tak nyaman tak usah mengikuti kata-kata Fanesh. Dia memang keras kepala."


"Tidak kok. Kakak ingin lihat seperti apa kaki bukit. Kalian kembali dari sana tadi bukan?" Hanaya tersenyum.


Elisia mengangguk membuat Hanaya bersemangat. Itu artinya ada banyak bunga matahari disana. Akan seberapa indah kaki bukit ini? Hanaya bertanya-tanya.


"Dengar? Kakak cantik sepertinya penasaran dengan kaki bukit! Tak ada salahnya kita kesana."


"Terserah padamu Fanesh" jengah Digitha.


"Ya."


***


Hanaya tak menduga ini. Ladang bunga matahari berhektar-hektar nampak dari kaki bukit. Memang kakinya terasa pegal berjalan, sebab wilayah Vilanc cukup besar. Tapi di suguhkan pemandangan seperti ini cukup untuk membayar penat. Dari sini seluruh Vilanc terlihat. Dari jauh perumahan dengan warna serupa itu nampak mencolok, sementara latar belakang bunga matahari memperindah. Adapun tempat berteduh mereka yang kini berdiri di kaki bukit, tepat di perkebunan bunga matahari.


"Lihat? Indah bukan?" Hanaya mengangguk dengan senyum kecil. Memperhatikan Allen yang kembali entah dari mana dengan alat lukisnya.


"Allen suka melukis. Setiap kali kami kesini dia selalu memperhatikan dan melukis kami. Seperti yang terlihat, dia pendiam." terang Digitha tau arah pemikiran Hanaya.


"Benarkah?"


"Iya. Allen jarang bicara. Dia suka diam dan menyaksikan semuanya dalam lalu melukis. Gua tempat persembunyian kami punya banyak lukisannya" Hanaya berdecak kagum. Gadis sekecil ini pandai melukis? Hebat!


"Berapa jarak usia kalian?" Tinggi gadis-gadis ini bervariasi itu memunculkan praduga Hanaya akan ketidaksamaan jarak usia mereka.


"Fanesh adalah yang paling muda. Dia enam tahun Allen juga, tapi Allen lahir lebih dulu. Elisia berusia tujuh tahun dan aku delapan," jawab Digitha.

__ADS_1


Hanaya mengangguk. Menyaksikan aksi kejar-kejaran Elisia dan Fanesh.


"Orang tua kalian?" Hanaya tak tau ucapannya dapat meruntuhkan senyum di wajah Digitha. Firasatnya mengatakan jawaban yang tak pernah ingin ia pikirkan.


"Kita yatim-piatu," kalimat sama yang sering kali ibu tirinya teriakan kala Hanaya berusaha menyebutnya ibu.


"Aku bukan ibumu ! Dengar ?"


"Orang tuamu sudah mati ! Ayahmu atau ibumu !"


"Kau bukan anakku ! Hanya benalu !"


"Eh? Kenapa malah kakak yang hampir menangis? Bukan kakak yatim-piatu disini tapi kita." Hanaya tersentak, mengerjab acak berusaha menghilangkan jejak panas dimata dan ingatan masa lalu.


Lupakan ! Disini,adalah dunia barumu ! Rumahmu ! Tempat paling bahagia !


"Tidak. Hanya kelilipan"


"Orang dewasa selalu mengatakan itu untuk menutupi kesedihan. Aku tak paham untuk apa sebenarnya itu, berbohong tak menangis untuk terlihat kuat? Konyol!" Cerca Digitha. Kesal dengan sikap orang dewasa yang satu itu "Memang kenapa kalau menangis? Itu manusiawi." timpalnya.


Hanaya tertegun. Menatap lamat Digitha. Hanaya selalu berusaha untuk tak menangis mengingat masa lalu, tapi kata-kata Digitha membuatnya sadar. Dia selalu mengelak mengenai masa lalunya-Tentang hidup yang tak pernah ia inginkan, kekerasan ibu tirinya, dia tak pernah ingin menerima masa lalu sebagai dasar kehidupannya kini.


"Kakak ayo kita bermain-


"Kakak langit!" Seruan Fanesh membuat Hanaya menoleh, lalu membeku begitu mendapati Xavier. Pemuda itu terlihat sederhana dengan kaus serupa milik warga pria Vilanc berwarna kecoklatan dan celana panjang berwarna hitam kusut.


Ada utas senyum tipis dibibirnya menggelar debaran karuan di dadanya. Hanaya terkesiap kala mata keduanya beradu lalu lintas pertanyaan berputar.


"Izinkan saya menyapa anda secara formal, lady. " Terlalu terkejut hingga begitu sadar Hanaya mendapati Xavier mengecup tangannya.


"Untuk kejadian tempo hari, maaf  menyeret lady dalam masalah"


"Ah, ti-tidak apa-apa" jawab Hanaya gugup. Tiba-tiba saja membentang jarak.


"Huh, jangan menyentuh suamiku!" Seruan galak memecah suasana. Fanesh mendekap lengan Xavier erat, matanya menatap Hanaya penuh permusuhan.


"Suamiku? Yang benar saja. Kau itu masih kecil, tidak ada orang dewasa yang menikahi anak kecil!" Sinis Digitha. "Lagi pula, kak Langit tak akan mau denganmu."


"Bukan urusanmu!" Balas Fanesh galak, tak terpengaruh. Gadis tujuh tahun itu justru menarik Xavier jauh darinya.


"Dia memang selalu seperti itu" ujar Digitha "Sebaiknya kita membuat anyaman mahkota saja." Elisia menarik Hanaya menuju bagian dalam perkebunan. Mengalihkan perhatian gadis itu dari Xavier sejenak.


"Tapi, ini pelanggaran. Jika ada yang melihat, kita akan terkena masalah" Hanaya takut terjadi masalah pada dua gadis kecil ini. Dia mungkin akan aman sebab posisi ayahnya tapi mereka?


"Tak perlu cemas kak. Ini milik seluruh warga Vilanc"


Jadi begitu, pantas. Mereka sering kesini dengan bebas.

__ADS_1


"Allen mari bergabung bersama!" Dari kejauhan, Allen hanya menggeleng tanpa bersuara, mengundang dengusan Elisia.


"Ya sudah, akan kita buatkan satu untukmu" sahutnya.


Sementara Fanesh yang tadi menjauh kini mendekat dengan Xavier "Aku juga akan bergabung. Kita bisa membuat banyak mahkota!" serunya.


"Pergi saja dengan suamimu sana!" Usir Digitha.


"Sudahlah Digit. Jangan memancing masalah. Lagi pula kak Langit baru saja datang ke sini, kau tak merindukannya?" Dari ucapan Elisia, sepertinya Xavier sering kesini. Anak-anak itu juga terbiasa dengannya.


Langit, ya ?


Hanaya sadar panggilan itu serasi dengan Xavier. Mata biru dan surai pirang khas. Bahkan kini wajahnya melembut berbanding dari yang biasanya terlihat. Dingin tak tersentuh. Kali ini, aura pria itu jauh lebih bersahabat.


Mungkin sebab anak-anak kecil ini.


"Lalu Allen? Dia tak diajak bersama?"


"Kau hanya akan menganggunya. Biarkan dia seperti itu. Dia akan datang jika ingin." bariton yang terdengar tegas namun lembut membuat Hanaya berdebar lagi.


Ini sisi lain Xavier yang tak terlihat. Lembut dan bersahaja sesuai tampilannya. Hanaya tak sadar ia terhipnotis dalam pesona lain pemuda itu. Sampai-sampai setiap gerak kecil Xavier ia ketahui.


Satu hal lain tentang Xavier -pria itu pandai merangkai bunga.


Hanaya tak mampu menahan senyum kala bunga matahari dengan bentuk mahkota mendarat di kepala Xavier, memperlembut sosoknya. Sesaat dia terlihat seperti anak kecil.


Sementara tawa Fanesh menggema sambil mencubit pipi Xavier, Elisia mengalungkan rantai dari bunga matahari. Pria itu hanya diam, tak mengeluh.


"Duduk disini." Elisia menyeret Hanaya agar duduk tepat di samping Xavier lalu mahkota dan kalung yang sama di pakaikan padanya.


"Inilah, Raja dan Ratu Vilanc. Berikan tepuk tangan kalian wahai rakyat Vilanc!" Ujar Digitha dengan suara yang dibuat-buat memicu tawa Hanaya. Suasana canggung yang ia rasakan menghilang.


Salahkan refleks tubuhnya. Hanaya seolah di setting untuk selalu kaku atau tegang di sekitar Xavier.


Tepuk tangan sepihak berasal dari Elisia. "Hei kau, warga Vilanc! Dimana rasa hormatmu?"


Astaga, sepertinya ini drama yang di rancang Digitha dengan Elisia sebagai penyokong. Dengan wajah muram Fanesh menepuk tangan, sepertinya terpaksa. Gadis cilik itu mungkin cemburu.


Tetapi apa yang anak kecil ketahui soal cinta?


Hanaya tersentak kala kelopak bunga matahari menghambur di atas udara. Rupanya Elisia si pelaku tengah bersorak di susul sorakan malas Fanesh dan sorakan menggebu Digitha. Dia dapat melihat senyum lebar di wajah Allen yang berdiri tak jauh dengan alat melukisnya.


Rasanya dia dan Xavier seperti di nikahkan.


Astaga ! Apa yang dia pikirkan ? Lupakan Hanaya ! Ingat, kau adalah Ratu. Calon Ratu !


Memikirkan hal seperti itu adalah tindakan penyimpangan!

__ADS_1


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Reupload230404CL


__ADS_2