Odd Eye

Odd Eye
Part 19. Podium Disscusion


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


"Tidak perlu khawatir, semua akan berjalan baik. Jika anda berpikiran buruk maka hasilnya akan buruk juga. Pemikiran yang positif membentuk semangat dan pemikiran yang jernih." Hanaya mengangguk. Meski Brianna mengucapkan dengan nada datar, Hanaya mulai terbiasa secara perlahan. Ketulusan semalam memicu banyak perubahan.


Brianna adalah orang selain ayah dan ibu yang sangat ingin ia bahagia serta berhasil.


"Dimana ayah dan ibu?"


"Nyonya sedang keluar dan tuan sepertinya sedang ada urusan di Vilanc"


"Akhir-akhir ini ibu sering keluar ya?"


"Ya."


Hanaya mengangguk memacu langkah keluar. Hari ini dia mengenakan gaun kuning sederhana berkerah di apit permata hijau, syal sutra senada, topi serta kipas tangan hijau muda.


Sedikit gugup Hanaya menatap Brianna, meminta sedikit kekuatan "Semua akan baik-baik saja. Jika nona berkenan saya akan ikut"


"Tidak!" Sergah Hanaya cepat


"Aku akan melakukannya sendiri" setidaknya dia ingin mencoba segala hal tanpa Brianna sebagai pondasi.


"Sungguh!" Hanaya meyakinkan. Dia telah beriktiad untuk berdiri sendiri secara perlahan. Meski rasanya aneh tanpa Brianna.


"Saya tak ragu, hanya cemas. Tak perlu memaksakan, berikan argumen yang anda bisa saja,"


"Ya. Aku akan berusaha."


"Semoga berhasil." dengan perpisahan itu, Hanaya di giring oleh kereta kuda menuju kediaman Duke Nestra. Rupanya Brianna menyerahkan undangan untuk mendapat jemputan resmi.


Rozetta tak menjelaskan itu kemarin.


Selama perjalanan, Hanaya terus menarik nafas menelan kegugupan. Ada hal lain yang meningkatkan kegugupannya. Javier ada disana. Selalu ikut berpartisipasi dalam Podium Discussion. Brianna menyertakan pria itu jarang menyela opini, hanya orang dengan opini kuat yang akan di celanya.


Mungkin sebab itu, Rozetta tak memberitahunya. Hanaya merasa Rozetta tak yakin dengan kemampuannya. Meski wajar meragukan. Sebab bagaimana pun, putri pembuat onar pasti sulit untuk masuk dalam Podium Discussion. Setidaknya niat baik Rozetta untuk menguatkan akarnya di kalangan bangsawan sangatlah brilian.


Sejauh ini keberuntungan memihaknya.


Menarik nafas dalam, Hanaya tak dapat menahan kekaguman melihat kediaman Duke Nestra. Hanya berbeda sedikit desainnya serta kemewahan dan megahnya dibandingkan istana. Ini jauh lebih elegan dibanding rumahnya. Pelayan menggiringnya menuju tempat Podium Discussion berlangsung, melewati lorong dan berakhir di ujung kediaman Duke Nestra.


Begitu namanya di umumkan semua mata menatapnya. Ada berbagai macam reaksi. Bingung, kebencian, amarah, dan senang. Sisanya netral.


Rozetta ada di ujung bangku paling depan. Memberinya senyum. Javier dan Xavier berada di pojok paling belakang layaknya pengamat.


Dari tatapannya Hanaya merasa Javier ingin dia melakukan yang terbaik. Duke Nestra masuk tak berselang lama setelah ia mengambil tempat.

__ADS_1


"Tidak ada peraturan, tetapi kekerasan dilarang. Memasukan urusan pribadi juga tak di terima." terangnya dihadapan semua orang.


"Topik kali ini adalah gencatan senjata antara Utopia dan Welsey negeri utara. Apa itu menguntungkan atau justru merugikan Utopia? Apa langkah yang harus kaisar lakukan untuk menstabilkan wilayah?"


Topik ini, selama 5 tahun belakangan menjadi kontradiksi. Dari yang di ketahui batas akhir gencatan senjata adalah tahun ini.


Jelas, Duke Nestra ingin menemukan solusi terbaik. Antara menyulut api atau berdamai.


Meski begitu ditilik dari reaksi seluruh ruangan ini, semua orang menginginkan perang.


"Tentu saja, jika kita menyerang dalam tahun ini, seluruh Welsey akan menjadi milik Utopia. Perbesaran wilayah secara mendadak akan sangat menguntungkan!"


Opini ini terlalu umum. Bagi yang berambisi tentu ini menguntungkan, tapi bagi pihak lain ini adalah malapetaka.


Banyak aspek yang harus diperhatikan. Menyerang membabi buta tanpa rencana sama saja menyulut permusuhan semakin dalam.


"Benar, setelah penobatan Kaisar dapat melancarkan serangan. Jika menyerbu tanpa peringatan kemenangan akan menjadi milik kita" timpal yang lain, sangat ambisius. Terlihat jelas tak memikirkan resiko dari opini itu.


"Perang! Perang! Perang!" Kerumunan menjadi tak terkendali.


"Itu tindakan tak berasas. Selain itu, Utopia akan membayar pinalti jika ini gagal" sela Rozetta.


"Tidak jika kita menyerang lebih dulu"


Meski Utopia telah mencapai damai selama gencatan senjata, sayangnya beberapa daerah pinggiran yang jauh dari pusat kekaisaran atau terpencil serta belum netral hak kepemilikannya selalu menjadi arena perang.


"Saya setuju dengan lady Rozetta. Gencatan senjata dimuat dalam dokumen dengan tanda tangan. Menyerang lebih dulu hanya akan menciptakan pinalti juga mengotori sejarah Utopia. Kehormatan kita di pertaruhkan!"


"Bagaimana jika kita menanyakan pendapat anggota terbaru? Lady Viviana, apa pendapat anda?" Pertanyaan duke Nestra terlalu yang tiba-tiba membuat Hanaya berkedip terkejut, mencerna situasi.


Meneliti wajah Duke Nestra. Ada senyum tipis, tetapi matanya berkilat. Sepertinya pertanyaan ini di rancang untuknya- melihat seberapa pantas dia ada diruangan ini.


"Menurutku gencatan senjata menguntungkan kedua belah pihak"


"Berikan rincian mengenai kerugian jika Utopia menyulut perang" Hanaya mengerjab. Pertanyaan itu datang terlalu tiba-tiba. Niatnya menjawab netral untuk mengulur waktu. Masalah ini perlu pemikiran dalam.


Pria di pojok kanan bangku depan, sepertinya dia sir Marcus, pria yang suka mencari kesalahan.


Jika Hanaya menjawab tanpa dasar atau sembrono. Opini publik akan balik menyerangnya, ini berbahaya untuk posisinya kelak.


Dalam segala aspek, Ratu harus seimbang dengan Kaisar.


"Mengirim prajurit hanya akan sia-sia. Jarak tempuh terlalu jauh. Jika prajurit dikirim seusai penobatan itu harusnya musim dingin. Harus ada banyak persiapan. Sementara jarak yang terlalu jauh tak memungkinkan untuk membawa banyak persediaan makanan, jika suhu iklim terlalu tinggi persediaan makanan akan membeku. Resiko terkena hipotermia akan sangat meningkat dan tak ada tempat menghangatkan dir-


"Ada beberapa desa kecil, prajurit dapat singgah ke sana"

__ADS_1


Hanaya menarik nafas. Selaan ini terlalu lemah untuk menjatuhkan pemikirannya  "Pikirkan respon mereka. Tanpa jaminan dari kedua kekaisaran, dan tempat terjadinya perang hanya meningkatkan kewaspadaan mereka. Mereka pasti tak akan memberi bantuan saat melihat pakaian prajurit. Menyamar? Desa kecil  memiliki jumlah populasi yang sedikit. Tak sulit untuk menghafal seluruh anggota desa. Orang asing hanya akan di tolak, dalam kasus terburuk mungkin menjadi korban rampok atau pembunuhan"


"Kalau begitu prajurit kita bisa membantai mereka"


"Membantai? Hanya akan menyulut api sebab yang kita cari adalah sekutu. Jika berita itu tersebar sampai di desa yang lain kewaspadaan mereka akan berlipat. Selain itu akan menambah ketidakpercayaan mereka, sekaligus mencemar nama Utopia dan akan sangat menguntungkan Welsey. Welsey akan mengambil kesempatan untuk mengajukan kesepakatan aliansi, seluruh daerah perang mungkin akan menerima itu"


"Satu saja kesalahan merusak seluruh rencana. Bukankah gencatan senjata terjadi untuk mengulur waktu?"


"Lalu menurutmu apa tindakan yang cukup menguntungkan Utopia?" Kali Ini Javier bertanya. Senyum tipis di bibirnya mengobrak-abrik jantung Hanaya. Beruntung dia masih menyadari situasi ini.


Tak ada waktu untuk tersipu. Ini bukan waktu merindu. Melainkan mengumpulkan kekuatan.


"Setelah penobatan Kaisar secara resmi, mengirim bantuan makanan, membantu rekonstruksi akan membuat perhatian rakyat terkumpul dan semakin tertarik pada Utopia. Kita mungkin dapat melancarkan kesepatakan beraliansi"


Hening. Sepertinya opini ini cukup kuat. Lalu suara Madelin terdengar "Landasan opini yang kuat, tapi terlalu berperasaan-


"Maaf mencela. Tapi ini jauh lebih menguntungkan. Pernah dengar hati adalah bagian terlemah manusia ? Memberi perhatian akan meredakan amarah serta membuang prespektif korban perang akan ketidakpedulian yang timbul akibat perang berkepanjangan. Ini menguntungkan Utopia dalam segala sisi"


Madelin tersenyum. Tidak, itu bukanlah senyum puas. Ada ketidakpuasan dalam opini Hanaya.


"Jika begitu, Utopia akan membutuhkan miliaran keping emas untuk hal itu. Lalu bagaimana jika mereka meminta lebih? Kita memang stabil tetapi ekspor-impor akan terhenti jika itu di fokuskan lebih dulu. Setiap barang yang di kirim keluar dan masuk adalah jantung Utopia. Pengeluaran akan lebih besar dibanding pemasukan. Bagaimana menangani itu?"


Hanaya terdiam. Menarik nafas. Andai Brianna ada- tidak ! dia tak boleh menyerah. Pikirkan sesuatu Hanaya!


"Tidak akan jadi masalah jika kekaisaran fokus pada proyek yang menghasilkan untung besar seperti permata dan gandum tak akan pernah berhenti di ekspor. Hasil usaha sedang dapat digunakan untuk itu"


"Menurutmu apa pemilik usaha akan setuju semudah itu?" Semakin intensif perdebatan ini semakin lemah pula celahnya. Dan Madelin terlalu cerdas untuk menyerang pada kelemahan ini.


"Tidak. Tapi kekaisaran bisa menggunakan hasil pajak usaha untuk menyuplai bantuan dan rekonstruksi, kekurangan dana dapat di tutupi dengan pajak permata dan gandum yang menjadi penyokong. Jika fokus pada daerah di dekat perbatasan Welsey, kita bisa mendapat keuntungan banyak-


"Welsey mungkin saja telah melakukan aliansi damai di sekitaran mereka sebab kosongnya posisi kaisar" lagi dan lagi. Madelin dan Opini agresifnya begitu kuat Hingga Hanaya sendiri kewalahan.


Tetapi pemikirannya berputar cepat "Jika begitu fokuskan pada daerah dalam jangkauan Utopia. Para bangsawan mungkin akan berlomba untuk mengirim suplai demi menaikkan citra mereka. Kekaisaran bisa memanfaatkan ini. Menekan pengeluaran dan memperluas wilayah"


Ini.... Semua orang didalam ruangan terpukau, bahkan Duke Nestra sendiri terkagum-kagum.


Ada ! Ada seseorang yang lain di kekaisaran ini yang mampu menyaingi putrinya.


Semakin di pojokkan semakin kuat pula opini Viviana. Siapa sangka, gadis yang menjadi pusat rumor buruk dalam 18 belas tahun hidupnya  belakangan ini dapat menjabarkan segala hal dengan sangat mudah?


Dimulai dari politik hingga ekonomi. Dua topik sosial tersulit di jabarkan dengan mudah?


Kemunculan perdana Viviana dalam kumpulan bangsawan nyatanya menanamkan dengan kuat pesonanya.


...▪︎OODEYE▪︎...

__ADS_1


Note: Reupload231104CL


__ADS_2