Odd Eye

Odd Eye
Part 41. Surat yang tak pernah sampai


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


Utusan Welsey sekaligus pengawal Frederick tiba di istana. Sementara itu Hanaya di liputi ketakutan.


Pertemuannya akan di adakan siang ini. Bagaimana jika saat itu Frederick membocorkan bahkan melebihkan kejadian surat itu? Meski Hanaya membela diri, Parlemen akan menggunakan kesempatan ini untuk menendangnya!


Hanaya masih tak yakin dengan alasan pembatalan penyerangan Frederick. Terlalu aneh dan sangat tidak logis baginya.


Jika Brianna ada disini...


Hanaya tak bisa mengundang ibunya disaat yang tak tepat seperti ini. Mau tak mau dia harus memikirkan jawabannya sendiri.


Seluruh pelayan di usirnya keluar, sementara di dalam kamar ratu, Hanaya mondar-mandir kebingungan.


Bunyi pintu yang terbuka membuat Hanaya menoleh dengan kesal, kepalanya terasa hampir meledak memikirkan masalah besar yang akan menimpanya dan pelayan-pelayan ini malah bersikap tak patuh!


"Sudah ku katakan jangan ada yang-


"Nona, ini saya"


Suara itu...


"Brianna?"


"Ya Nona"


Begitu tudung di lepas, sosok Brianna nampak.


"Brianna" Hanaya memeluknya penuh rasa syukur. Seakan dewa memberinya keajaiban dengan mendatangkan Brianna ke sini.


"Sepertinya anda punya masalah"


"Kau, benar"


"Jika berkenan izinkan saya mengetahuinya, mungkin saya bisa membantu" tanpa di minta pun, Hanaya akan menceritakan masalahnya.


Cerita panjang mulai mengalir. Tidak ada yang dihapus, atau dengan sengaja di sembunyikan. Brianna adalah orang yang sangat ia percaya, tentu Hanaya tak ragu menceritakan seluruh kejadian padanya serta semua pertanyaan yang mendera tanpa rasa takut atau tak nyaman. Loyalitas Brianna telah terbukti.


"Apa yang harus ku lakukan?" Hanaya bertanya cemas. Takut rasanya mimpi indah ini berakhir dalam sekejab kerjaban mata.


"Tidak ada yang bisa anda lakukan  nona. Bahkan jika anda mengelak, Kaisar Welsey memiliki bukti tulisan tangan anda. Menyangkal pun percuma, parlemen pasti menggunakan kesempatan ini untuk menuduh anda sebagai pengkhianat atau mata-mata"


Hanaya tau itu. Dia sudah mengetahui dengan pasti seluruh ucapan yang Brianna ucapkan. Hanya saja, sulit baginya untuk meredam rasa takutnya.


Meski ia menyelamatkan diri dengan dalih tujuan sang kaisar, Hanaya jelas tak dapat meluputkan tuduhan yang di timpakan padanya. Tanpa sepengetahuan Kaisar Utopia, Hanaya melakukan percakapan rahasia jauh hari sebelum perdamaian yang di bawa kaisar Welsey. Pria itu bisa saja memalsukan tulisan tangannya. Ada begitu banyak peniru ulung tulisan tangan, serta suratnya yang tak di beri cap keluarga tentu tak akan menghindarkan bahaya akibat kecerobohan.


Brianna yang peka, tentu sadar bagaimana parlemen memandang sosok Viviana.


"Kali ini, anda hanya bisa bergantung pada keberuntungan nona"


"Apa itu ada?" Putus asa menyergap Hanaya.


"Anda sampai disini dengan kerja keras dan peruntungan, tentu selalu ada jalan keluar untuk semua masalah. Bisa saja Kaisar Welsey hanya sekedar mengecam saja"

__ADS_1


"Ku harap kau benar, Brianna"


"Bagaimana kabar ibu dan ayah?" Untuk sesaat Brianna mengernyit seolah pertanyaan Hanaya bukanlah sesuatu yang tepat untuk di tanyakan.


Ada sesuatu yang salah di sini.


Surat-surat itu tak pernah sampai.


Ada dua surat yang di kirim kemarin untuk Viviana. Yang lain merupakan milik ibunya dan yang satunya perihal keberangkatan Viscount Lances keluar wilayah.


"Tuan dan nyonya baik-baik saja" akhirnya setelah sekian menit menatap Hanaya, Brianna berujar mengeluarkan Hanaya dari kecanggungan sepihaknya.


"Tapi Tuan sedang melakukan perjalanan keluar wilayah"


"Keluar wilayah?" Hanaya bertanya, keterkejutan di wajahnya membenarkan praduga Brianna.


Ada yang menyabotase surat-surat itu.


"Nona, ada seseorang yang menyabotase surat anda" Terkejut Hanaya mendengarnya.


"Maksudmu ayah dan ibu mengirim surat tetapi tak sampai padaku?"


"Benar nona. Ada dua surat yang di kirim kemarin untuk anda, tetapi dua merpati pesan kembali tanpa surat. Itu membuat Tuan dan nyonya berpikir nona pastilah sangat sibuk hingga tak sempat berbalas pesan. Untuk ke depannya, mohon jangan mengirim surat lagi"


Apa tujuannya ?


"Orang ini jelas ingin menciptakan kerenggangan antara anda dan orang tua anda atau mungkin berusaha menjauhkan anda dari jangkauan Tuan besar"


Surat yang tak pernah sampai dan berusaha menjauhkannya dari ayahnya? Ada orang lain di istana yang ingin memotong kaki dan tangannya!


Istana di jaga oleh pasukan istana di bawah komando Xavier.


Mungkinkah pria itu ?


Pasti dia berusaha memutus komunikasi Viviana, mungkin pula khawatir kedoknya di bongkar pada ayahnya.


Sial !


Mengapa rasanya Hanaya sangat tak berdaya melawan pria itu ? Padahal statusnya jauh lebih tinggi !


"Nona, ini masih hanya praduga. Dan untuk memastikannya, kirimlah surat pada nyonya besar, jika tak ada balasan maka anda benar-benar di intai"


"Aku mengerti"


"Sekarang, saya akan kembali. Ini tuan besar menitipkan untuk di berikan pada anda"


"Apa ini?"


"Kotak musik. sebelum berangkat. Tuan masih cemas anda tak terbiasa disini dan takut anda mengalami gangguan tidur"


Hanaya terkekeh kecil, kecemasannya berangsur memudar walau hanya sesaat.


"Ayah terlalu mencemaskanku" gumamnya.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit nona" barulah saat itu Hanaya menyadari penampilan Brianna.


Pelayan setianya itu, menggunakan wig berwarna hitam.


"Kau menyamar?"


"Begitulah nona. Keadaan istana saat ini sedang lenggang, saya punya keleluasaan menerobos"


"Tapi kenapa?"


Hanaya bingung. Brianna bisa saja masuk dengan mudah memakai alasan membawa kiriman ibu atau ayahnya. Lalu mengapa harus menyamar?


"Jika benar ada yang berusaha menjauhkan anda dari tuan dan nyonya, dia pasti tak akan membiarkan saya bertemu dengan anda, nona" kata-kata itu membuat Hanaya tertegun.


Xavier! Terkutuklah pria itu !


"Izinkan saya memberi peringatan, jangan percaya pada siapapun di sini nona" kata-kata yang memicu meningkatnya kewaspadaan Viviana.


Brianna benar. Semuanya, kecuali Javier, pria yang mencintainya.


"Pelayan!"


"Ada yang anda perlukan Ratu?"


"Bawakan merpati pesan kemari, aku harus mengirim pesan"


"Tapi Ratu, bukankah anda harus ke ruang pertemuan? Maaf lancang, tapi ini sudah hampir waktunya"


"Masih ada beberapa menit lagi. Bawakan padaku, sekarang!" Hanaya tak punya banyak waktu selain memastikan keraguannya sekarang"


Segera di tuliskannya pesan, sebuah pesan dengan tujuan ayahnya membatalkan kerjasama dengan Xavier. Lantas di suruhnya pelayan untuk di ikat pada kaki merpati pesan.


Jika tak ada balasan, itu artinya praduga mereka benar. Bahkan jika pesan di balas, Hanaya tau dan telah mengenal tulisan tangan ibunya.


Baru saja terbang melintasi gerbang istana, menghilang di balik pandangan Hanaya, panah melesat menembus burung itu, lalu terjatuh.


"Bawakan pada ku" merpati itu di bawakan padanya oleh prajurit khusus istana. Dengan pakaian hitam dan jubah serupa, pada bagian dada kanan, terdapat lencana emas dengan lambang singa, sebuah lambang kemiliteran Utopia.


Surat di serahkan pada pria yang berdiri tatapan dingin perlahan di bukanya.


Senyum sinis tersungging kala untaian kata dalam tulisan Utopia terbaca.


Ibu, sampaikan pada ayah, aku ingin ayah membatalkan kerja sama dengan jendral Xavier, aku merasa ada yang salah dengannya.


Akan ku jelaskan nanti, jika waktuku luang.


"Sayang sekali Viviana, suratmu harus terhenti sampai disini, demi kelancaran rencanaku. "


"Tiru tulisannya dan kirim dengan merpati yang baru"


Tentu, tidak akan ada yang curiga. Merpati istana memiliki kesamaan corak. Viviana tidak akan dapat menemukan perbedaannya.


Rencananya harus berhasil!

__ADS_1


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Update052310


__ADS_2