Odd Eye

Odd Eye
Part 45. Pion tak terduga


__ADS_3

...Part 45. Pion tak terduga...


...▪︎OODEYE▪︎...


"Salam Ratu, Kaisar Welsey meminta waktu pribadi dengan anda, ada yang harus di bicarakan" ujar pelayan, belum juga di balas, sosok Frederick muncul mengecup mesra tangan Viviana menciptakan kecanggungan.


"Maaf mengusik waktu pribadi Ratu, saya meminta waktu berdua"


Mata Madelin berkilat, terdistori oleh ketertarikan. Seperti mencemooh dan mengolok. "Oh, rupanya Ratu dan Kaisar Welsey sangat dekat ya, rumornya memang benar rupanya"


Hanaya menatapnya tak suka.


Bisakah Madelin tak mencari kesempatan menggiring opini buruk?


Mata amber Frederick menyorot dingin Madelin, senyum nakalnya menguar bagaikan uap di telan angin "Jadi, haruskah Kaisar dekat dengan wanita licik?" Hanaya terkejut, begitu pula dengan Madelin. Tak menyangka Frederick akan berkata sekasar itu.


"Lidahmu itu, jika hanya berguna untuk memutar balikkan fakta atau memprovokasi lebih baik di potong saja, sungguh tak berguna" Madelin mengepalkan tangan.


Selalu Viviana dan Viviana! Apa bagusnya wanita ini?


Dia jelas jauh lebih dan lebih baik!


"Will, antar lady ini kembali ke kediamannya. Pastikan dia tak mengoceh hal lain yang menggiring opini, jika begitu tahan dia atas pencemaran nama baik"


"Baik Kaisar" seorang pria muda bermata hijau daun, bersurai hitam membungkuk, segera mendekati Madelin.


"Mari ikut saya lady " sebelum Madelin sempat berlalu bisikan Frederick membuatnya kehilangan harga diri dan kekuatan


"Ini memang negrimu, tetapi dengan statusku dan hanya satu ucapan, bahkan jika itu kebohongan sekalipun nyawamu akan hilang dalam sekali tebas"


Hanaya tak tau, apa yang menciptakan gelombang kepasrahan di wajah Madelin. Seolah Frederick menamparnya dengan hal paling memalukan atau aib terbesarnya.


Ia jelas terkejut dengan perubahan wajah pria itu. Begitu cepat, seringai keji berganti senyum hangat "Izinkan saya menuntun Ratu ke istana. Hari sudah gelap dan jamuan makan malam mungkin telah di siapkan"


Dengan kikuk Hanaya menyambut uluran tangan Frederick, keduanya berjalan dalam keheningan, hingga akhirnya Hanaya membuka percakapan.


"Terima kasih" dia hanya merasa Frederick pantas mendapat itu. Jika tak ada Frederick, emosi Hanaya hanya akan terkuras dengan semua serangan Madelin. Sulit untuk mempertahankan emosi tanpa mengekspresikannya, sebab Hanaya jelas berkebalikan.


"Karena menyelamatkan Ratu dari ketidaknyamanan?"


Bagaimana dia tau?


"Mengerutkan bibir, lalu nada tajam, mata yang berkeliaran, anda juga berusaha menjaga jarak dari lady itu dan senyum anda palsu. Saya memperhatikan semua gerak tubuh Ratu. Anda jelas tak nyaman berbincang dengannya, mungkin keterpaksaan formalitas." penjelasan yang jatuh seolah Frederick membaca pemikirannya menambah keterkejutan Hanaya


"Kau-


"Ah, Yang Mulia Javier" suara Frederick membuat Hanaya menoleh ke depan dengan kaku. Sosok Javier berdiri di depan pintu istana dengan wajah dingin.


Sementara Frederick yang entah pura-pura tak tau atau masa bodoh terus menggiring Hanaya ke arah pria itu.


"Maaf, anda pasti kesal tapi saya punya alasan" Ujar Frederick kala menyerahkan tangan Viviana pada Javier yang spontan bersambut.


"Sepertinya istana terlalu lenggang, penjagaan terlalu kurang hingga wanita tak berkepentingan bisa masuk dan merendahkan Ratu seenaknya" ucapan yang memercik amarah Javier, sementara Hanaya menatap Frederick yang menyeringai dengan keterkejutan.

__ADS_1


"Katakan siapa orangnya Viviana"


Hanaya menghembuskan nafas, tak punya pilihan lain selain menjawab. Frederick memang penolong tetapi ucapannya itu terkadang menyulut api yang telah padam, maksudnya membesar-besarkan masalah.


"Tidak seperti itu, Kaisar Welsey hanya salah paham. Lady Madelin datang dan berbincang sedikit dengan saya Yang Mulia"


"Jika dia membuatmu tak nyaman, katakan padaku"


"Tentu, Yang Mulia"


Javier menatap Frederick "Maaf menyalahpahami anda"


"Tidak masalah, pria cemburu itu wajar bukan?" Kelakarnya.


Lantas ketiganya berlalu, sementara Javier menuntun Viviana menuju kamar dan Frederick kembali ke kamarnya. Yah, masih ada sedikit waktu sebelum jamuan makan malam tiba.


***


"Tuan, ada pesan dari istana" ujar Amos, menyerahkan surat dengan segel kerajaan di atas surat pada Xavier.


Isi surat itu memintanya mengawal kepulangan Kaisar Welsey esok hari.


Xavier meraih pena, membalas surat Kaisar yang merupakan adiknya. Setelah itu matanya menatap ke arah jendela di mana merpati pos keluar.


"Kirim surat pada Baron Alex, tanyakan apa mereka sudah mengunjungi Ratu?"


"Baik Tuan ku" ujar Amos sigap. Lantas berlalu, meninggalkan Xavier yang menatap keluar jendela dengan pandangan tak terbaca.


Sebentar lagi, dia akan memperlihatkan diri. Sebentar lagi kekacauan hidup Viviana akan di mulai, dengan begitu wanita itu akan datang padanya bukan?


Saat dimana Viviana berada di pihaknya dan saat dimana kehancuran hidup Javier di mulai.


Rencana untuk menggulingkan Javier akan berhasil!


"Tuan, Viscountess Lances datang bertamu" tanpa kata, Xavier bangkit, menuruni tangga menemui ibu Viviana itu.


"Kenapa anda datang malam-malam begini?" Tanyanya.


"Pakai madu saja dan satu gula batu, Amos" Viscountess mengabaikan Xavier, memerintahkan Amos seolah terbiasa.


"Baik Nyonya"


"Rasanya pas, terima kasih"


Ujarnya pada pelayan itu.


"Tentu nyonya, sudah tugas saya" balas Amos dengan senyum kecil, lantas bergegas keluar.


Viscountess menatap Xavier,


"Aku hanya ingin bertanya, kapan rencana itu akan di laksanakan? Aku bahkan sudah mempersiapkan apa yang ku butuhkan"


"Tidak lama lagi, Viscountess"

__ADS_1


"Kapan spesifiknya?"


"Akan ada tanda untuk itu, kematian seseorang" ujar Xavier dingin.


"Orang terdekat putriku, kah?" Viscountess menyeringai.


"Mungkin saja. Seseorang yang dekat dengannya. Saat itu, rencana kita akan segera di mulai"


"Rencana menggulingkan kepemimpinan Javier" timpal Viscountess "Itu adalah tujuanmu, tetapi milikku adalah sebuah balas dendam untuk putriku tersayang" imbuhnya berkilat-kilat.


Xavier hanya menatap wanita parubaya itu tak terbaca. "Sepertinya perbincangan ini tak akan lama, aku harus kembali suamiku mungkin akan kembali dalam beberapa jam"


"Sepertinya kita telah sampai di persimpangan tujuan kita" gumam wanita parubaya itu kala mencapai daun pintu.


***


"Wanita itu, siapa dia Will?" Suara Frederick menggema, sementara pria itu duduk dekat tungku perapian kamarnya dengan teh hangat.


"Putri Duke Nestra, tangan kanan Kaisar yang anda lihat dalam pertemuan sebelumnya. Namanya Madelin"


Frederick mengernyit, mengingat sosok Duke Nestra. Pria berusia 45 atau 46 tahun yang telah menguban rambut itu ya?


"Apa dia putri kandungnya?"


"Ya, tuan"


Seringai Frederick nampak


"Mengapa tak meyakinkan? Tak ada satupun kemiripan dalam genetik mereka"


"Mungkin saja genetik ibu lebih mendominasi" ujar Will.


"Bahkan jika gen ibu mendominasi, ada satu atau dua bagian tubuh Duke Nestra yang mirip dengannya. Tetapi Madelin sama sekali tak memiliki itu. Mereka seperti orang yang berbeda"


Will menarik nafas. Sifat lain tuannya itu adalah menerka dan selalu ingin tahu. Sam mungkin mempunyai banyak cadangan tenaga dalam menghadapi perubahan sifat tuan mereka ini. Tak seperti Sam yang leluasa mengutarakan pemikirannya, Will bisa di bilang sangat amat segan terhadap status Frederick meski mereka bertiga tumbuh bersama.


"Apa yang membuat anda begitu penasaran?"


"Dari wajahnya wanita itu tamak. Matanya penuh ke serakahan. Tak seperti Ratu yang sedikit polos, Madelin seperti ular dia mungkin akan kehilangan kepalanya suatu saat nanti dengan sifat culas itu"


Will tertegun.


Ini memang bukan kali pertama Frederick menebak sifat orang lain serta terkadang seolah meramal masa depan mereka. Awalnya memang tak di percayai, tetapi makin sering terwujudnya ucapan pria itu membuat Sam dan Will kini percaya, itu bukanlah tipuan.


Frederick punya satu kelebihan. Pandai menganalisa gerak tubuh seseorang dan membaca pemikiran mereka melalui gerak tubuh. Bukankah tubuh merupakan cermin dari pemikiran? Apa yang otak pikirkan akan tercermin oleh tubuh, itulah bahasa tubuh.


Lidah dapat menipu tetapi mata dan tubuh selalu jujur meski hati adalah ruang penuh misteri.


Jadi, akankah Madelin berakhir terpenggal ? Takdir selalu berubah bukan ?


Dan Frederick tau, tidak ada sesuatu yang mutlak hanya berdasarkan perkiraan.


...▪︎OODEYE▪︎...

__ADS_1


Note: Update052314


__ADS_2