Odd Eye

Odd Eye
Part 58. Sebuah pembaharuan


__ADS_3

...•ODDEYE•...


Suasana berkabung. Pakaian hitam yang menandakan duka. Hanaya benci suasana ini.


Dia bisa melihat bagaimana kesedihan terjejak di mata semua pelayan. Vilanc mungkin dirudung duka.


Sama seperti Hanaya.


Peti mati bercatkan putih itu menampakkan wajah ayahnya. Gurat-gurat tipis yang selalu menampakkan senyum kini nampak tenang.


Sekarang, rasanya Hanaya kembali ke titik awal. Dimana dia sendirian.


Upacara pemakaman terasa begitu menyakitkan bagi Hanaya. Dia merasa lelah menangis, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Semuanya terasa sangat melelahkan.


Jadi, ini semua adalah imbas dari mimpinya. Mimpi egois yang Hanaya bentuk hanya karena kehidupan lampaunya terlalu menyedihkan.


Keserakahan yang membawanya bergerak sejauh ini hanya untuk semakin kehilangan.


Apa yang membuat Hanaya gagal? Apa penyebabnya? Sekarang dia tau apa penyebab terbesar kegagalannya. Hanaya tidak punya cukup kualifikasi untuk posisi ini, juga hasrat yang salah dan keserakahan.


Mata perempuan itu menatap ibunya, wanita tua yang menangis dengan sesenggukan. Dia masih punya ibu. Lalu bagaimana jika dia kehilangan lagi?


Peti mati yang di tutup menjadi akhir segalanya.


***


Hanaya menatap bayangannya sendu. Sekarang arah mana yang harus dia pilih? Apa dia harus menyerah sekarang? Ataukah terus berjuang?


Lantas apa yang harus di perjuangkan nya? Ah, Javier. Bukankah laki-laki itu adalah pusat segala mimpinya?


Utas senyum tipis muncul.


Lalu apa gunanya itu sekarang? Kebahagiaan lengkap yang dia idamkan tidak lagi sempurna karena sekarang Hanaya terjerumus dalam lubang dimana segalanya diambil darinya.


Taman belakang kediaman mereka mengingatkannya akan ayahnya.


Daisy. Bukankah ayahnya menyebutnya seperti itu? Sayangnya tidak seperti maknanya, sekarang setiap hari bagi Hanaya adalah kematian. Dia tidak lagi merasa terlahir kembali untuk hidup.


"Apa yang harus kulakukan ayah?"


Mata violetnya terangkat kala mendapati sepasang sepatu dibawah gaunnya. Javier mungkin mencemaskan keadaannya, karena Hanaya lari dari semua formalitas duka untuk berduka sendirian.


"Javie-


Mata perempuan itu membelalak, seakan ditusuk sesuatu Hanaya merasa seluruh darahnya merosot. Seluruh sendinya bergetar. Xavier, mimpi buruknya berdiri di depannya dengan mata dingin yang menusuk.


Hanaya ingin berteriak, mengumpat, memaki pria ini atau memukulinya tetapi bayangan itu tidak terlaksana. Seluruh tubuhnya dibelenggu dengan fakta bahwa Xavier menguasai segalanya.

__ADS_1


Tubuh Hanaya merosot kala Xavier menggenggam untaian rambutnya. Dia bisa melihat kernyitan tajam di dahi pria itu.


"Dia hanya perempuan biasa"


"Dalam kasus terburuknya kau akan kehilangan dia"


Seringai Xavier terukir berbanding dengan gema suara Alexander di benaknya. Netra biru itu nampak menghina. Seolah fluktuasi emosi dibenaknya tidak pernah ada.


"Hanya seperti ini saja? Hanya sebatas ini kekuatanmu, Viviana?" Seluruh tulang punggungnya mendingin. Sentuhan pria itu pada untaian rambutnya meninggalkan jejak neraka.


"Aku sudah memberimu hadiah pembuka dan sekarang bagian utamanya, seharusnya itu sudah cukup membuatmu semakin kuat bukan?" Belalak dimata Hanaya berganti yang semula ketakutan sekarang penuh keterkejutan.


Rozetta adalah awal, hadiah pembuka yang Xavier bicarakan lalu ayahnya


Sentuhan dingin pada pipinya membuat Hanaya terperanjat, sentuhan dingin yang sama seperti tatapannya. Mata pria itu bagaikan gulungan ombak ganas, menelan Hanaya utuh tanpa pengasihan.


"Ayahmu adalah hadiah utamanya" bisikan dingin yang menusuk relung hatinya. Air mata Hanaya menetes. Sementara gemuruh menderu didadanya.


Air mata pada netra violetnya penuh kemarahan. Xavier bisa melihat bagaimana dendam terhadap sosoknya tumbuh semakin dalam. Hal yang menusuk jantungnya. Tapi bukankah ini tujuannya?


Menarik batas diantara keduanya. Batas yang tidak dapat Xavier tembus.


"Aku terkejut kau bisa merasa marah" ejekan bergema di suaranya memicu kebencian semakin dalam.


Kau bisa merasa marah ? Seakan Xavier mengolok gejolak emosinya, menghina kematian ayahnya.


Dia mati ditangan orang yang dia percayai.


Pria gila tanpa hati.


Itu adalah gema dibenaknya. Hal yang membuat Hanaya merasa sakit. Kenapa dulu dia sempat merasa kehilangan?


Kesadaran Hanaya tertarik melihat senyum mengejek Xavier. Senyum yang menginjak harga diri, kepercayaan serta martabat ayahnya.


"Lakukan sesuatu. Sebelum aku mengambil semua yang kau miliki" bisikan yang meraup seluruh nafasnya.


Bukankah Xavier sudah mengambil segalanya? Apalagi yang ingin dia ambil darinya?


"Pria kejam!" Suara makian yang terdengar putus asa, seakan Viviana menyalahkan kehadiran Xavier.


Punggung tegap pria itu berbalik. Mata dingin berisi penghinaan menghunus tajam "Mengutuk hanya tanda dari ketidakmampuan. Sayang sekali itu tidak disertai aksi" mata dingin yang selalu menelannya utuh itu terasa semakin menenggelamkan, membuat Hanaya merasa sesak.


Ketidakmampuan.


"Terlalu lemah dan mudah goyah, itu adalah kekurangan anda dan ketidakpantasan untuk berdiri di posisi ini"


Berapa banyak kalimat dengan makna yang sama dia dengar? Kata-kata yang merujuk pada ketidakmampuannya.

__ADS_1


Sentuhan pada dagunya membuat tatap keduanya. Membuat nafas Hanaya tertahan "Kau ingin menyerah ? Seharusnya kau tidak maju sejak awal"


Kepalan tangan perempuan itu mengerat.


"Seharusnya kau tidak maju sejak awal"


"Apa anda menyesal ?"


"Sungguh sebuah ironi Anda melangkah sejauh ini hanya untuk memohon di keluarkan seperti pengecut"


Seharusnya, kalimat ironi yang pernah dia dengar. Karena sejak awal Hanaya pikir dia sudah pantas, pantas berdiri di posisi ini.


Bukankah sejak awal dia berusaha keras memantaskan diri hanya untuk berakhir bahagia? Lantas mengapa dia harus mundur?


Kenapa semua ketakutan merudungnya? Xavierlah orang yang harus bertanggungjawab! Dia adalah neraka yang harus Hanaya hancurkan.


Hanaya tidak cukup kuat. Artinya dia harus bertambah kuat untuk melenyapkan Xavier.


Kernyitan tajam nampak di dahi sementara netra penuh air mata di isi tekad.


Seperti hasrat egoisnya, Hanaya akan menyingkirkan Xavier!


Menatap telapak tangannya Hanaya mengepalkan tangan erat, tidak ada yang salah dari tekadnya. Semua kebencian didasarkan pada perasaan terancam yang Xavier berikan, yang salah hanyalah alasan dari hasratnya- cinta untuk Javier. Sekarang terima kasih pada Xavier yang memberinya alasan baru.


Ya! Sejak awal Hanaya seharusnya bertahan demi dirinya sendiri bukan Javier atau orang tuanya.


***


"Kau tidak mengkhawatirkannya?" Ujar Alexander menatap sosok Viviana yang berdiri dalam formalitas duka, sayu. Terlihat jelas sangat terpukul.


Xavier memberi pukulan yang tidak sedikit. Seakan pria disampingnya ini tidak berhati. Seolah tidak ada rasa sama sekali.


Xavier memang tidak bercela. Dan meski Alexander tau seberapa berharganya Viviana, dia tidak paham alasan mengapa perempuan itu harus di perlakukan seperti ini.


Seharusnya, Xavier memanjakan Viviana dengan semua cinta dan bukan menguji mentalitas perempuan itu.


Senyum tipis muncul di bibir Xavier. Keraguan yang Alexander lihat sebelumnya menghilang. Kepercayaan diri mutlak yang selalu dia perlihatkan kala memastikan kemenangan di medan perang, nampak. "Dia selalu baik-baik saja. Dan akan selalu begitu"


Semua bantahan yang Alexander siapkan menghilang. Xavier selalu pasti dalam bertindak. Semua kata dan tindakannya sesuai. Ditambah mata penuh kepercayaan diri yang teguh itu adalah alasan paling besar Alexander menahan semua ucapannya.


Xavier tidak pernah goyah dengan keteguhan dalam tatap seperti itu.


Mata pria itu terarah pada sosok Viviana. Jadi seberapa menarik perempuan itu?


...•ODDEYE•...


Note: Update20232108CL

__ADS_1


__ADS_2