
...▪︎OODEYE▪︎...
Kemenangan Viviana dan jawaban cermelangnya beredar menuai pujian. Sesuai yang di prediksikan oleh Rozetta berbagai ucapan melayang. Menjadi topik diskusi setiap bangsawan, pedagang dan pembeli. Tetapi, ini secara tak langsung mengungkit masa lampau Xavier beserta kejahatannya.
Disaat Viviana di puji dan Javier di agungkan, Xavier, pria itu semakin di rendahkan.
"Ah, dewa memilihnya. Mungkin semua masalah ini adalah bagian dari kemakmuran Utopia"
"Benar, sepertinya Kaisar adalah perpanjangan tangan dewa. Sebab itu dia memilih pasangan yang tepat"
"Ratu tak hanya bijaksana, tetapi juga sangat sopan dan baik hatinya. Ini pertama kalinya aku melihat ratu menundukkan kepala di depan seluruh rakyat, bahkan meminta bantuan"
"Sulit di percaya. Tapi itu bukanlah kepura-puraan. Sepertinya dewa telah memberi takdir ratu melalui cara yang tak kita ketahui"
"Utopia akan bertambah makmur dari sekarang !"
"Benar ! Sebelumnya, kudeta itu hampir membuat kita kehilangan tempat bermukim beruntung ada kaisar yang sekarang. Orang itu mungkin akan merencanakan kudeta lagi"
"Setidaknya dewa berpihak pada kita ! Dua perpanjangan tangannya akan membasmi kejahatan di dalam Utopia !"
"Tapi bukankah kita yang seharusnya meminta maaf Bukannya ratu ? Rumor buruk itu jelas di sengaja. Ada yang sengaja menghasut kebencian kita pada ratu Viviana"
"Ya. Kau benar. Tapi ratu dengan rendah hatinya meminta maaf. Bukankah kita sangat jahat ?"
Sementara berbagai topik tentang Viviana, kontroversinya atau Xavier dan kejahatannya serta Javier dan keagungannya, Viviana di sibukkan dengan upacara pemberkatan.
Sesuai hukum ratu. Setelah terpilih melalui kontes, upacara pemberkatan di kuil utama akan dilaksanakan di bawah bimbingan Sri Paus sendiri.
Hanaya berjalan dalam balutan gaun putih dengan permata di dahi. Gaun putih merupakan lambang kesucian.
Setelah Sri Paus mendoakannya Hanaya harus menceburkan diri ke dalam kolam di samping kuil yang berhias patung perak wanita 30 meter tingginya, dengan telapak tangan menegadah memamerkan matahari kecil yang terbuat dari emas murni disana. Pada dahinya terdapat berlian biru berukiran bunga, yang merupakan lambang kuil besar.
Ritual ini sendiri merupakan pembersihan diri dengan kata lain dia menjadi baru lagi. Ratu akan di bersihkan sepenuhnya dan menjadi baru.
"Di hadapan dewa, di saksikan seluruh rakyat Utopia ratu Viviana telah bersih. Semua perbuatan buruknya telah terhapuskan oleh air suci dewa. Dengan ini menjadi pribadi yang baharu dan telah siap mengemban tugas" ucap Sri Paus memberkati Hanaya setelah Hanaya keluar dari.
Perayaan doa selesai.
Di depan kuil, Hanaya turun dengan gaun putihnya, memacu tungkai dengan anggun.
Setelah ini pernikahan akan di laksanakan.
Sedikit tak menyangka bahwa kerumunan akan menyerbunya begitu ia keluar.
"Ratu!"
"Ratu!"
"Ratu!"
Kerumunan itu menyerobot dari berbagai arah membuat pengawal istana di kuil dengan sigap membentuk lingkaran pelindung kokoh. Sayangnya, otot tubuh yang besar tak dapat menahan banyaknya kerumunan yang dalam semangat mendesak-lebih dekat pada sang ratu, mematahkan penghalang manusianya.
Lalu seorang anak kecil terdorong ke depan Hanaya, hampir terinjak jika saja refleks Hanaya tak lebih cepat. Ringisan keluar kala telapak kaki besar berbalut sepatu kulit mendarat di punggung dan pahanya. Kerumunan membeku, pengawal tercengang, memundurkan langkah hanya untuk memeriksa keadaan sang Ratu. Namun fokus sang ratu tertuju pada anak kecil itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya khawatir. Memeriksa tubuh anak itu. Lalu kala melihat luka gores akibat tersimpuh nampak, Hanaya kian panik dengan cepat, tanpa berpikir menggunakan baju doanya menghentikan darahnya.
"Ratu, terima kasih" ujarnya. Mata polosnya berbinar, menyenangkan untuk di lihat.
Sementara Hanaya sibuk bergurau, semua orang memandangnya takjub.
Gaun sutra putih yang lembut, seharusnya berharga ratusan roth kini bernoda di bercaki darah, meski begitu sosok Viviana yang tertawa lepas dengan anak kecil itu nampak sangat langka.
Lantas bangkit ia bersua "Dimana orang tuanya?" Seorang wanita tergopoh-gopoh menghampiri Hanaya, memeluk bocah lelaki kisaran 6 tahun itu, lega.
__ADS_1
"Terima kasih Ratu. Maaf gaun-
"Tidak masalah. Ini bisa di bersihkan. Sebaiknya anak kecil tak boleh mengikuti kerumunan seperti ini"
"Maafkan saya. Itu adalah kelalaian saya"
"Tidak. Bukan kelalaian, kau hanya lengah saja." Lalu menunduk menatap bocah lelaki itu, menggusak rambutnya sambil menasehati "Lain kali jangan menerobos seperti itu. Apalagi dalam keadaan ramai, kau bisa celaka, mengerti?"
Ia mengangguk lucu.
Pipi bulatnya mengingatkan Hanaya akan empat gadis cilik di desa.
"Ratu.... ini" dengan malu-malu di sodorkannya kalung, sederhana di buat dari jalinan cangkang kerang.
"Ini, cantik sekali. Untukku?"
Anak itu mengangguk cepat.
"Kau membuatnya sendiri?" Afirmasi melalui anggukan ia dapatkan lagi.
"Bisa tolong pakaikan?" Semua orang syok. Kerumunan yang di dominasi rakyat biasa tertegun.
Perempuan ini, gadis remaja yang rendah hati. Matanya berbinar dengan lembut dan tulus. Tak memandang bulu. Tak seperti diskriminasi yang di lakukan kelompok bangsawan.
Perhatian dan sikapnya yang apa adanya, menggugah hati semua orang. Mungkin, dewa berniat memberi mereka ratu yang merakyat.
"Apa ini terlihat cocok untukku?"
"Uhm ! Ratu sangat cantik" pujinya memicu rona merah di wajah Hanaya.
Xavier yang berdiri tak seberapa jauh, menyaksikan segalanya menarik sudut bibir tipis.
Ratu, ya ?
Hanaya terdiam kala mengangkat wajah mendapati orang banyak menatapnya. Jadi, dia alasan keheningan sedari tadi ini? Itulah sebabnya Hanaya merasa ada yang aneh tadi.
"Maaf, apa itu menganggu?"
"Tidak Ratu kami hanya ingin menyapa"
Hanaya disapa? Jadi begini rasanya di cintai semua orang?
"Senang bertemu kalian, semoga dewa memberkahi" mereka membalas salamnya penuh antusiasme.
Hanaya tak menduga bahwa dia akan di berikan banyak hadiah seperti ini.
"Ratu, kami membuatkan ini untuk anda"
"Daging dari toko kami juga segar"
"Susu sapi keluarga kami baik untuk nutrisi" terlalu banyak ucapan disaat bersamaan membuat Hanaya bingung harus meladeni yang mana.
"Harap tenang" keterdiaman kerumunan itu membuat Hanaya terkejut sendiri.
Apa dia berdampak sebesar ini?
Mungkin ini karena statusnya.
"Dibanding memberikannya pada ku bagaimana jika kita menjadikan hadiah yang banyak ini persembahan di kuil dewa. Dengan persembahan sebanyak ini kereta kuda dapat memuatnya untuk kuil-kuil kecil di seluruh Utopia sebagai konsumsi disana. Bagaimana?"
"Ah! Bukan maksudku menolak tapi ini akan lebih bermanfaat bukan? Kita bisa membantu banyaknya utusan dewa di seluruh penjuru Utopia" imbuhnya cepat
Segera, gagasan itu di setujui dengan sorakan.
__ADS_1
Orang banyak berbondong menuju tempat persembahan, ruangan di sebelah ruang utama doa di selengarakan. Besarnya seperempat dari kuil, pada pintu masuk terdapat tulisan tinta emas dalam bahasa Utopia berarti Persembahan yang tak terhingga ialah hati yang iklas.
Tidak ada bangku duduk, di tepi altar besar berbalut sutra putih terdapat kotak besar dengan lebar dan tinggi dua meter berwarna kecoklatan, pada bagian depan terdapat permata berukir lambang matahati. Dibawah dua tangga altar dengan lebar tiga meter dan lima meter ada pula kota serupa. Di setiap sisi kotak terdapat buku besar berkertas kekuningan ialah buku pencatatan permintaan doa.
Brianna yang tiba-tiba ada di sana memberi Hanaya sebatang emas untuk bagian persembahannya. Hari itu kuil mendapatkan banyak persembahan lebih dari biasanya. Bahkan pencatatan keinginan di buku khusus yang berisi permintaan atau wujud doa semua satu isinya.
Persembahan dengan harapan uluran tangan bagi utusan dewa di seluruh negeri Utopia.
Karena banyaknya orang, dan Hanaya sendiri membantu maka pakaiannya mengering di tubuhnya.
Brianna menyarankan agar Hanaya kembali lebih dulu namun nonanya itu bersih keras.
"Tak enak jika kembali. Semua persembahan ini atas namaku dan tulus dari mereka. Jadi aku juga harus menemani mereka" ucapan sama yang terus di tekankan padanya.
Ini berakhir sore hari. Dari pagi hingga sore. Hanaya tentu mengalami demam.
"Anda terlalu keras kepala. Sepertinya lady akan demam"
"Jangan katakan pada ayah dan ibu. Jika di tanya jawab saja aku lelah mengikuti proses persembahan" apa boleh buat. Brianna terpaksa menuruti.
Baru saja hendak menutup mata, bunyi ketukan kecil di kaca jendela mengusiknya.
Dengan lemas Hanaya bangkit. Penampakan burung biru tempo hari membuat Hanaya berdebar kala jendela dibuka. Berusaha mengusir burung itu. Hanaya jelas tak kuasa membunuh hewan lucu itu. Jika Brianna melihatnya, sudah pasti akan di lenyapkan.
Berulang kali percobaan mengusir gagal. Burung itu malah hinggap di kepala kasurnya sambil mematuk pergelangan kakinya yang di ikat kertas.
Menarik nafas, Hanaya berujar seperti mengomel pelan "Setelah ini pulanglah dan jangan kembali mengerti? Kau akan dibunuh jika ada yang tau!"
Rupanya tak membuahkan hasil. Burung itu paham ucapannya, Hanaya menduga itu tapi reaksinya yang berbanding terbalik membuat Hanaya bingung sendiri.
Tak penting tau siapa saya.
Ini memang surat iseng, tapi sepertinya saya bertemu teman yang tepat. Namanya, Speedo. Speedo tak akan senang saya mengalihkan kepemilikannya.
Maaf.
"Jadi namamu Speedo?" Burung itu mulai mengeluarkan suara refleks memicu kepanikan Hanaya.
"Tenang, tenanglah! Jika ketahuan orang lain kau dan aku sama-sama terancam!"
Burung itu patuh. Mendarat di depan meja belajarnya mematuk pulpen di sana.
Dengan segera menulis surat balasan.
Jika begitu jangan menghubungi saya lagi.
"Sekarang, kembalilah pada tuanmu dan jangan kembali oke?" Tak apa membalas satu surat lagi bukan? Selama tak memberitahukan namanya, segalanya tetap aman.
Seusai sang burung melesat pergi Bersamaan dengan itu, suara Brianna membuatnya terkejut.
"Nona, mengapa anda bangun? Lalu jendelanya kenapa di buka? Udara terlalu dingin anda sedang sakit" gadis itu menutup jendela sementara Hanaya cepat-cepat menuju kasur. Berpura-pura tidur adalah solusi yang bagus.
"Brianna keluarlah aku ingin tidur" ujar Hanaya sebagai dalih rasa gugupnya.
Brianna menarik nafas, lantas segera pergi. Meski Hanaya sadar Brianna peka terhadapnya setidaknya Hanaya bersyukur Brianna bukan pelayan yang rewel.
Pembatasan diri Brianna berguna untuk saat-saat seperti ini.
Saat dimana Hanaya tak ingin membicarakan apapun atau ingin menyembunyikan sesuatu.
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Reupload232704CL
__ADS_1