
...▪︎OODEYE▪︎...
Kebahagiaan Hanaya yang kemarin sirna mendengar gelombang penolakan ini. Setiap jam, semakin meningkat.
"Brianna, jika begini keadaannya ini hanya akan memecah kekuasaan Javier- bagaimana jika karena masalah ini Javier di turunkan dari tahta?"
Bukan tak mungkin opsi ini terjadi. Meski status jabatan Kaisar di Utopia adalah seumur hidup, jika penolakan rakyat mencapai tingkat tinggi, anggota parlemen pun tak dapat menahan masalah ini. Dan mungkin Sri Paus akan mengeluarkan pembekuan jabatan hingga solusi berhasil keluar, lalu bagaimana jika tak ada jalan keluar? Javier mungkin akan di lengserkan.
Ada setidaknya dua Raja yang pernah di lengserkan Sri Paus karena pergolakan internal. Bagaimana sebuah kerajaan dapat berdiri jika bagian dalam yang merupakan komponen penting bertabrakan arah?
Utopia memiliki slogan yang sangat merakyat. Segala kemakmuran Kaisar atau Raja adalah untuk rakyat. Dan tanpa dukungan rakyat, Javier akan kehilangan posisinya. Masalah ini memang terlihat sepele tapi pemilihan Ratu bukanlah permainan. Ini sebab Viviana tak pernah mengikuti kelas bangsawan dan jarang berpartisipasi semua menjadi rumit. Jika ia hanya mengandalkan dua partisipasinya belakangan ini, semua hanya berlangsung sia-sia.
"Nona tenanglah. Yang Mulia pasti menyelesaikannya dengan baik" ucap Brianna menghibur. Meski tak mendukung keputusan Viviana ke istana, sekali lagi posisinya bukan untuk mengkritik. Dia hanya pelayan yang harus mengikuti nonanya.
Tenang ? Jika keinginannya membahayakan posisi Javier maka Hanaya harus melepas posisi ini. Meski akibatnya ialah rasa sakit yang menukik sebab tak tergapainya keinginan terdalamnya.
"Bawakan merpati pengantar pesan, ada yang harus ku sampaikan pada Javier"
"Nona, anda ingin melepaskan impian anda?"
Hanaya menatap Brianna sendu "Jika itu mengamankan posisinya, maka aku bersedia"
Pertama dia harus mengirim pesan untuk mendiskusikan hal ini. Penolakan lamaran hanya akan mencoreng wajah Kaisar dan Hanaya tak ingin Javier di pandang buruk.
***
Masalah ini merebak semakin jauh. Meski Javier menunda rapat untuk pembahasan ini itu hanya menambah banyaknya petisi yang masuk. Belum lagi surat Viviana tadi pagi memercik amarahnya.
Yang Mulia, bersama surat ini saya ingin mendiskusikan lamaran anda, perihal itu mari kita bertemu. Jika anda memiliki waktu luang sempatkan untuk saya.
Javier merasa Viviana akan menyarankan penarikan lamaran.
"Siapkan kuda!" Ujar Javier.
"Nathan tetaplah di istana, jika ada permintaan pertemuan katakan aku sedang sibuk memikirkan solusi masalah ini"
"Baik Yang Mulia" dengan itu, kuda Javier berlalu melewati pintu belakang tembok istana. Menuju tempat pertemuan rahasianya bersama Viviana.
"Yang Mulia, harap kembali tepat waktu. Saya tak dapat menahan mereka lebih lama" dalam samar pendengaran, teriakan Nathan terdengar. Javier menulikan telinga.
***
Kuda pria itu berhenti tepat di toko kue tingkat dua. Dari bawa sini, Javier dapat melihat Viviana di balkon. Sepertinya sengaja menampakkan diri meski dalam balutan tudung. Kala tatapan keduanya bertemu, Viviana memberi isyarat.
Javier turun dari kuda, mengikuti Viviana yang berbelok mengambil jalan sempit, gadis itu masuk semakin dalam melewati kerumunan yang membicarakan perihal lamaran.
Hanaya menahan nafas mendengar cemoohan tentangnya.
"Yang Mulia menyukai gadis seperti itu? Terlepas dari perubahannya, semua orang tau pembuat onar seperti apa lady Viviana"
__ADS_1
"Ya, yang kudengar dia juga gila permata. Bagaimana jika kekaisaran di jual olehnya hanya karena permata?"
"Bicara mu terlalu berlebihan tapi, sepertinya itu patut di waspadai"
Dari mana berita ini menyebar? Sebelum Hanaya menempati tubuh Viviana gadis pembuat onar itu selalu mengacaukan rapat ayahnya. Sebab itu berita perubahannya menggemparkan.
Sekarang ini lumpurnya naik kepermukaan lagi sebab posisi yang akan di sandang Viviana, Hanaya harap Javier tak terpengaruh. Semoga.
Lalu jika Javier terpengaruh bukankah itu menguntungkan ? Pria itu pasti sudah menebak tujuan dari suratnya. Naif sekali Hanaya.
Berbelok lagi ke kanan, pembicaraan itu mulai terdengar samar, lalu menghilang kala Hanaya tiba di depan tempat makan kecil. Brianna yang memberitahu tempat ini. Ini tempat terbaik untuk berbicara secara bebas.
Bunyi lonceng berdenting menandakan seseorang masuk Hanaya di sambut seorang wanita tua.
"Selamat datang di tempat saya, ingin pesan apa?"
Menatap lekat pada dinding di belakang dimana papan kayu berwarna kecoklatan di ukir nama menu, Hanaya menimang-nimang menginginkan apa.
"Ah pi-
'Satu pie blueberry sedang dan dua teh hijau'
"Baiklah"
Hanaya mengikuti Javier dengan wajah bingung. Mengapa harus memakai isyarat ?
"Wanita tua itu rusak pendengarannya, korban perang." betapa terkejutnya Hanaya oleh pernyataan Javier.
"Terima kasih"
"Sama-sama" Hanaya kaget kala wanita tua itu membalas lugas ucapannya.
"Saya membaca gerak bibir nona muda. Selamat menikmati." jawaban itu menjawab keterkejutan Hanaya. Matanya menatap lekat wanita tua itu hingga suara Javier menarik perhatiannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Jangan katakan ini mengenai la-
"Bisakah kita makan dulu? Sayang jika Pie dan tehnya dingin"
Javier menarik nafas, lantas mulai menyantap hidangannya.
Hanaya hanya mengulas senyum sendu kala pria itu memotong sebagian dan di letakkan pada piring kecilnya.
Perhatian ini, tak lama lagi bukan miliknya. Hanaya hanya mengulur waktu, dengan begitu dia dapat mengingat sedikit dari wajah Javier- sebelum pria itu tak lagi menjadi miliknya.
"Jadi-
"Apa urusan istana akhir-akhir ini mengganggu jadwal tidurmu?" Javier mengulas senyum kecil.
"Perhatianmu mengurangi sedikit rasa lelahku" wajah Hanaya memerah, memutar mata lantas berkata
__ADS_1
"Jika begitu letakkan timun saat kau akan tidur itu juga efektif."
Kening Javier berkerut "Dari mana cara aneh itu datang?"
Hanaya rasanya ingin tertawa. Ini jelas cara modern, bukan cara dalam bangsawan kuno pantas jika Javier tak tahu. Biasanya hitam di bawah mata di tutup dengan riasan atau bedak. Wajar jika Javier tak tahu.
Tak ada yang salah jika Hanaya mengaku ini ciptaannya sendiri bukan?
"Hanya percobaan iseng ku yang berhasil. Kantung teh paling efektif itu akan menenangkan syaraf mata."
"Tak ku sangka wanita ku tau sedikit ilmu medis"
"Tidak banyak, hanya garis besarnya" jawab Hanaya. Yakin bahwa panas di wajahnya mungkin akan membuat rona merah kian besar.
"Kalau begitu saat aku sakit, aku hanya akan memanggilmu" kelakar Javier.
"Dokter jauh lebih mampu dan pasti di bandingkanku"
"Salah" sergah Javier menggeleng, memicu kernyitan di dahi Hanaya
"Kau adalah satu-satunya obatku"
Hanaya terbahak. Sedikit geli mendengar itu. Javier masih persis seperti yang di deskripsi novel. Pria itu pandai menempatkan ekspresi di waktu yang tepat.
Ah, dia harap mereka akan bersama, sayangnya mungkin impian dan keinginan mengukir takdir atau kebahagian seumur hidup harus berakhir di sini.
"Bisakah Yang Mulia serius?"
Tiba-tiba ekspresi Javier berubah serius, meruntuhkan senyum Hanaya "Panggil aku Javier. Hanya ada kita berdua, oke?"
Hanaya paham apa yang menciptakan perubahan ekspresi pria itu "Baik Javier. Ah, bagaimana jika ku panggil Vier?"
"Vier? Itu panggilan lucu yang sama sekali tak cocok untukku." elaknya terlihat sangat tak suka.
Hanaya mengangkat bahu santai, menyesap teh hijau lantas berkata "Itu cocok untuk mu."
Ada hening berkepanjangan.
Lalu ucapan Javier menarik keheningan menuju pembicaraan yang serius "Katakan apa yang ingin kau bicarakan, tak mungkin kau mengundangku ke sini hanya karena rindu bukan?"
Javier pasti tau inti masalah yang ia bahas. Bukan itu, melainkan-
"Lamaran. Bagaimana jika Yang Mulia menarik lamaran ini?" Inti yang di sampaikan merubah raut wajah Javier.
Hanaya tau pria itu tak suka, begitu pun Hanaya. Namun apa pilihan terbaik selain ini tanpa harus memisahkan mereka?
Tidak ada.
Impiannya juga harus berakhir sampai disini. Sebuah mimpi untuk menciptakan dunia cinta sempurnanya.
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Reupload232104CL