Odd Eye

Odd Eye
Part 42. Kesepakatan Aliansi


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


Kala memasuki ruangan dan mendapati presensi Frederick, Hanaya merasa hilang kekuatannya. Terlalu sibuk dengan yang tadi membuatnya lupa akan masalah yang lebih penting.


Tenang Viviana, tenang, kali ini percayalah pada keberuntunganmu.


Tapi, akankah keberuntungan itu ada? Rasanya dia pesimis soal itu. Meski begitu ekspresinya tak memaparkan apapun. Hanya ketenangan. Hanaya mungkin telah terbiasa mengimplementasikan ketenangan sebagai sosok ratu.


Dua pria lain, mendampingi Frederick. Sepertinya itu adalah utusan miliknya.


Pria itu di sambut secara resmi


"Selamat datang di kekaisaran kami, Kaisar Welsey"


"Terima kasih atas sambutannya. Bukankah anda sudah menyambut saya tadi? Lantas mengapa harus seformal itu?" Kelakarnya.


Hanaya sama sekali tak tau apa isi kepala orang ini. Tindakannya sama sekali tak mencerminkan posisinya. Benar-benar terbalik.


"Niat saya kesini adalah untuk menyampaikan keinginan berdamai dengan Utopia. Kekaisaran Welsey bersedia memberi daerah Wel dan upeti emas serta permata, bahkan lima ratus pelayan sebagai tanda kesepakatan aliansi" Frederick jelas memberikan apa yang di inginkan Utopia. Wel merupakan daerah terbesar maritim Welsey. Dan pria itu memberikannya dengan mudah tanpa memikirkan hal lainnya?


Jelas, ini menguntungkan. Wel, adalah daerah terbesar di Welsey. Perdagangan laut, dan hasilnya bahkan sangat melimpah. Jaminan ini lebih dari cukup untuk timbal dari sebuah kedamaian.


Tetapi apa yang mendasarinya?


Itu merupakan salah satu daerah hebat bagi Welsey. Memberikannya akan sangat merugikan. Hanaya merasa ada niat lain dari hal ini.


"Jika Kaisar Utopia berkenan, perjanjian aliansi dapat di tanda-tangani dan di sahkan sekarang, ini adalah takdir dewa untuk kedamaian" ujarnya memprovokasi lebih lanjut.


"Tapi, apa yang mendasari perdamaian ini?" Duke Nestra bertanya. Meski tidak di perlukan dalam delegasi, tetapi alasan di baliknya tentu sangat ingin di ketahui.


Hanaya mengernyit waspada kala seringai nakal di tujukan padanya.


"Sebenarnya, beberapa hari sebelumnya saya pernah berbalas surat dengan seorang wanita" tubuh Hanaya menegang. Jelas Frederick mengancamnya terang-terangan.


Selain itu, ini menimbulkan kesalahpahaman lain seolah ucapannya merujuk pada tali asmara terlarang antara dua sejoli yang berbatas pada permusuhan kerajaan.


"Sayangnya, dia menghilang tanpa jejak. Sepertinya putri seorang Viscount, hanya spekulasi memang namun begitulah adanya"


"Tapi bukankah alasan itu terlalu klise untuk perdamaian ini?" Duke Apollio menimpali.


Wanita cantik memang menjadi akar masalah dan kelemahan, tetapi dampaknya tak mungkin sejauh ini. Apalagi sejarah panjang Welsey dan Utopia yang terus menerus berperang, mana mungkin di selesaikan hanya dengan satu wanita saja?

__ADS_1


Kaisar Welsey tersenyum


"Ya, tetapi orang ini memiliki posisi tinggi dalam kekaisaran, ratu orangnya" dan begitu kata ratu keluar, hening menjalari.


Sementara Hanaya merasakan hujaman tatapan, dia dapat merasakan milik Javier yang terasa sangat dingin. Seolah Hanaya membuat kesalahan.


"Apa maksudnya ini Kaisar Welsey? Ini adalah sebuah penghinaan jika anda berbohong! Ratu tak memiliki riwayat hubungan terlarang dengan siapapun!" Ucapan Duke Apollio tentu menggiring pemikiran buruk orang lain.


Sama saja dengan menempel label pada dahinya; wanita yang tak setia atau penyelingkuh. Dia berniat menjatuhkan pemikiran orang lain mengenai sosok ratu yang Hanaya bangun.


"Apa itu benar ratu?" Nada dingin Javier membuat Hanaya merasakan tekanan. Meski begitu tak ada pilihan lain selain mengaku.


"Ya, memang benar adanya, kami bertukar surat" pengakuan yang menambah angin pada api. Memperbesar peluang parlemen menendangnya.


"Yang Mulia ini-


"Permasalahan ini akan kita bicarakan nanti" sergah Javier cepat membungkam ucapan buruk yang ditujukan pada Viviana. Mata Hanaya menyorotnya sendu.


Dia tak dapat melakukan apapun. Sementara Javier masih berusaha melindungi sosoknya, Hanaya merasa sangat tak berguna.


"Tidak. Semuanya menyalahpahami ini. Tidak ada hubungan apapun antara ratu dan saya. Dia hanya membicarakan perdamaian dan gambaran besar mengenai bagaimana Utopia" ucapan yang datang dari Frederick berbalik menjadi pembelaan diri bagi Viviana. Semuanya tersentak kaget.


Apa tujuannya?


Sayang sebab anggota Parlemen jelas tak ingin ini selesai dengan mudah.


"Meski begitu, anda harusnya memiliki bukti bukan?"


Frederick menarik senyum tipis


"Tentu. Berbicara tanpa bukti adalah sebuah omong kosong. Tunjukan itu, Sam"


"Baik Yang Mulia" lalu peti kayu sedang tanpa ukiran di buka, lantas di sodorkan pada Kaisar.


"Suratnya, tulisan tangan tidak dapat berubah bukan? Silahkan cocokkan dengan tulisan ratu" Buku catatan yang terletak di dalam kamar milik Hanaya, di perintahkan di bawakan.


Ahli tulisan bahkan di panggil untuk mengidentifikasikan tulisan Viviana. "Ini benar-benar tulisan Ratu, Yang Mulia. Tata letak hurufnya sama, dan cara menulisnya sesuai"


Keterkejutan nampak di wajah Hanaya, netra violetnya menyorot Frederick. Pria di seberang sana, duduk dengan senyum miring dan sebelah alis terangkat.


Sungguh, mendeteksi niatnya terlalu sulit. Belum masalah lain di pecahkan sekarang dia bahkan harus mencari tau motif Frederick, Kaisar Welsey itu.

__ADS_1


"Meski begitu, kenyataan bahwa Ratu bertukar surat dengan Kaisar Welsey tak dapat di tutupi bukan? Di lihat dari jumlah surat dan jarak tempuh pesan, sepertinya itu sudah berlangsung lama sebelum hubungan anda dan Ratu di resmikan" Duke Apollio yang tak ingin kehilangan kesempatan menendang Viviana, tentu akan menggunakan peluang emas ini.


"Ah, sepertinya ada perpecahan disini" suara Frederick datang lagi. Kali ini matanya menatap lurus sosok Javier "Sebaiknya Kaisar Utopia harus mereformasi kedudukan parlemen. Mereka sepertinya tak mendukung baik usaha ratu. Kelak, mereka mungkin akan menjadi musuh dalam selimut, Yang Mulia" sekoyong-koyong ucapan itu membekukan gerak Duke Apollio.


Seketika sujudlah ia memohon ampun "Bukan maksud hamba seperti itu Yang Mulia"


"Lalu apa tujuan kalimat yang seolah mencari kesalahan Ratu? Apa Duke Apollio meragukan kesepakatan damai yang tulus dari Welsey?" Suara Frederick berubah dingin, mengintimidasi.


Ekspresi lain yang mengingatkan Hanaya akan Xavier.


"Sebuah penghinaan. Sebagai orang dengan niat baik, saya tak terima di perlakukan seperti ini rasanya bawahan Yang Mulia melempar lumpur ke wajah saya. Mohon ketegasannya Yang Mulia. Kelak di masa depan, bawahan seperti ini tak akan dapat di kendalikan"


"Mohon maafkan tindakan saya Kaisar Welsey yang terhormat. Saya sama sekali tak bertujuan kesana" ujar Duke Apollio. Tujuannya melempar arang dalam wajah Viviana gagal. Pihak yang terseret bersamanya adalah seorang Kaisar.


Jika begini, sama saja dengan bunuh diri Apollio !


"Ah, lalu apa tujuanmu? Kau ingin menaruh kotoran pada nama ku dan Ratu dengan tuduhan perselingkuhan? Betapa tajamnya lidah itu. Kebenaran di Utopia ternyata dapat di ubah semudah ini" ekspresi itu, sepertinya Frederick tersinggung.


Mengapa dia tersinggung? Frederick sendiri yang memberi peluang munculnya opini itu.


Semakin melihatnya, semakin  bingung pula Hanaya akan tujuan ucapannya. Meski begitu, tak urung kelegaan menghampiri sebab pengakuan itu seolah mengangkat batu dari tubuhnya.


Duke Apollio membeku.


Telapak tangannya mengepal, tidak ada ucapan lain yang dapat di pakai sebagai pembelaan.


Jika dia menyudutkan Ratu, sama saja dengan menyeret Frederick. Dan bahkan jika dia mengakui tuduhannya, isi surat keduanya akan menjadi bumerang baginya.


"Sepertinya, Duke Apollio kehabisan pembelaan. Apa Kaisar hanya akan berdiam diri melihat pembawa kedamaian di hina? Bukankah lidah penyebar fitnah harus di potong dan kepalanya di tancapkan di dinding kota sebab melepas fitnah mengenai hubungan terlarang, bahkan menodai kedamaian yang saya bawakan"


Hanaya tau. Mereka sama sekali tak boleh menyinggung. Bahkan jika Javier menginginkan Duke Apollio dia tak dapat mempertahankannya. Kesalahan pengucapan yang telah di layangkan tentu harus di bayar. Apalagi fitnah mengenai kedamaian yang di bawa Kaisar Welsey. Kalau Javier tak menghukum Apollio, sama saja dengan menghina harga diri Kaisar Welsey.


"Yang Mulia-


"Jabatan Duke Apollio di cabut. Potong lidahnya sebagai imbal atas tuduhan tak berbukti dan penghinaan terhadap Kaisar Welsey, selanjutnya tancapkan kepalanya pada tembok kerajaan sebagai peringatan" tersungkurlah Apollio kala ucapan itu terlealisasi. Mau dikata apa, nasi telah menjadi bubur. Dan ucapan yang telah di lontarkan tidak dapat di tarik kembali, Duke Apollio menanggung ucapannya.


Teringat lagi, Baron Fostor. Dahan tak berguna yang di campakkan. Seperti itulah Duke Apollio sekarang.


Tak berdaya di bawah perintah Kaisar dengan kejahatan lidah yang di ucapkannya sendiri.


...▪︎OODEYE▪︎...

__ADS_1


Note: Update052311


__ADS_2