
...▪︎OODEYE▪︎...
Berita mengenai, penghargaan warga berani yang di semat padanya menekan hawa negatif di ibukota mengenai citranya.
Meski banyak yang masih meyakini bahwa ini adalah rencana yang di siapkan calon Kaisar untuk menaikan reputasi wanitanya. Tapi dengan kekudusan Kaisar bagaimana dia akan membuat cela sehina itu?
Kerumunan berdiskusi di jalan-jalan. Nama Viviana naik dengan pesat seperti yang sudah-sudah. Namun topik lain jauh lebih menarik, kisah cinta bualan yang terjadi diantara ketiganya. Kaisar, putri Viscount Lances dan Sang Jendral.
"Bagaimana itu mungkin? Meski jendral Xavier menarik, Putra Mahkota tetap jauh diatasnya!"
"Ya! Lagi pula pikirkan saja, siapa yang ingin bersama mantan penghianat? Itu sama saja dengan memasang pacung kematian atau menggali kuburan mu sendiri! Tak ada jaminan dia takkan berkhianat lagi!"
"Tapi bukankah mereka bersama waktu itu-
"Bodoh! Jelas ada seseorang yang berusaha memecah kepercayaan antara Putra Mahkota dan lady Viviana"
"Ya, rumor itu hanya menyebar melalui satu interaksi, dan jelas semua orang di sini menyaksikan saat itu. Lady Viviana dan jendral murni terjebak dalam situasi darurat. Rumor buruk! Bodohnya semua orang percaya! Benar-benar bodoh!"
Diskusi terjadi, beberapa fakta dan logika yang di suarakan memadam api yang tercipta. Mempengaruhi pemikiran setiap orang.
Secara logika bukankah terlalu bodoh untuk percaya berdasarkan kejadian yang murni kecelakaan semata?
Tapi Viscount Lances tau, ada seseorang. Orang lain yang melindungi putrinya dalam diam. Menekan rumor buruk dengan menyebar ucapan seperti itu.
Tapi siapa ?
"Mereka semua orang-orang istana."
Istana ?
"Tuan, sepertinya anda salah menilai Yang Mulia. Beliau bahkan melindungi nona diam-diam."
"Lalu bagaimana jika dia pula yang menyebar rumor? Terkadang seseorang yang tak pernah terpikirkan adalah dalang di balik segalanya." ucapan Viscount membuat Nell terdiam.
"Tunggulah dalam seminggu, jika Yang Mulia mengadakan lamaran dalam seminggu ini atau mengajak nona keluar setelah rumor ini, maka dia adalah pelakunya."
Viscount mengangguk setuju.
Dalam seminggu. Jika dalam seminggu ini rumor reda dan lamaran di jalankan secara resmi, maka Javier adalah pelakunya.
Jika begitu apa motifnya? Apa tujuan menyebar rumor buruk mengenai putrinya?
Lamaran yang terlalu tiba-tiba dengan satu kali kontak mata mustahil di percayai.
__ADS_1
Meski, selalu ada kemungkinan dalam cinta, Viscount Lances memilih waspada. Permatanya tak boleh jatuh di tangan yang salah bukan?
***
Hanaya menghela nafas, menikmati keindahan pasar Dorth yang merupakan pusat perdagangan Utopia. Sutra, permata, emas, perhiasan, rajutan. Semua apapun benda yang baru-baru ini naik, semua tersedia di sini.
Dorth adalah sebuah keindahan.
Tapi, Hanaya di rundung asa. Padahal baru kemarin ia memastikan ketidakterlibatan Javier. Tapi tanpa kabar, hati Hanaya merasa hancur.
Mungkin sibuk. Hanya itu yang dapat Hanaya pikirkan. Terpaksa keduanya mengenakan cadar. Rumor tengah berkembang pesat, mengekspos diri hanya akan mendatangkan bencana.
Meski rumor menurun, tak ada yang tau bagaimana reaksi mereka bukan? Waktu itu, Hanaya paham mengapa Brianna banyak bicara. Gadis itu hanya mengalihkan perhatiannya, Brianna menjaga Hanaya tetap aman tanpa mengetahui tatapan tajam semua orang.
Sedikitnya masih ada sisa-sisa keburukan yang di layangkan padanya. Opini publik mungkin sedikit bergolak tetapi keburukan sulit untuk di lupakan.
"Jendral Xavier memang perkasa, tapi masa lalunya itu... Lady Viviana dengan latar belakang ayahnya yang hebat tak akan mungkin cocok bersama."
"Pengkhianat ! Tak ada jaminan bukan jika dia akan berkhianat lagi"
"Bisa saja dia mengincar lady Viviana untuk mendapat dukungan keluarga Lances"
"Apalagi utopia menjadi pusat ekspor-impor gandum yang pesat. Tentu, daerah Vilanc milik Viscount Lances akan jadi pendukung kuat untuk kudeta."
Di titik ini, Hanaya mulai meragukan Xavier. Bagaimana jika ini memang rencana, bagaimana jika Xavier telah menarik ayahnya dalam percobaan kudeta yang kedua?
Selalu ada kemungkinan untuk setiap praduga terburuk bukan?
Mungkin... niat hati orang siapa yang tau ?
"Apalagi yang ku dengar, semua orang yang tinggal disana adalah budak."
"Budak ! Mereka akan sempurna diajak kerja sama. Bisa saja Xavier menghasut mereka dengan perjanjian budak menguasai Utopia !"
"Huh, yang benar saja budak menguasai Utopia yang makmur, lelucon terlucu yang pernah ku dengar !"
"Seperti apapun status mereka, budak tetaplah budak ! Mereka ada untuk dipakai !" Lalu gelak tawa terdengar. Memicu amarah Hanaya.
Beraninya mereka menghina wilayah makmur ayahnya ! Menodai kesederhanaan Vilanc ! Memang benar itu adalah kota budak, tetapi di bandingkan Ibukota, Vilanc jauh lebih menenangkan !
Pergerakan Hanaya yang hendak maju memberi kejelasan terhenti kala Brianna menahannya.
"Nona, mohon tenang,"
__ADS_1
Hanaya menatap Brianna tak percaya. Tenang? Bagaimana dia bisa tenang dengan penghinaan ini? Mereka tak tau seperti apa Vilanc! Sedamai apa desa dengan status rendah itu! Tak tau bagaimana rasanya di hargai seseorang murni tanpa niat buruk!
Brianna menarik nafas. Menyusul nonanya, paham ketersinggungan Viviana.
"Nona, saya paham itu. Tapi dengan membela sama saja dengan menambah kayu dalam api. Semakin anda membela semakin tersulut pula api. Jalan terbaiknya adalah diam." ada genangan air mata di tatapan Hanaya.
Benar yang di katakan Brianna. Membela sama dengan menyulut api. Memunculkan praduga Xavier membayar seseorang untuk menghasut rakyat menggunakan keindahan Vilanc.
Sebab Hanaya akan mendeskripsikan Vilanc yang ia rasakan.
"Nona, tenang adalah jalan terbaik. Ini adalah aspek yang seorang Ratu butuhkan." Hanaya menatap Brianna lekat-lekat. Dia tak sedewasa Brianna, mudah terpengaruh dan lemah.
Mungkin Jika Brianna berasal dari keluarga terhormat, selain Madelin atau Rozetta, Brianna pantas menyandang gelar Ratu. Hanaya mendapati dirinya layu lagi, patah semangat lagi. Orang-orang di sekelilingnya jauh lebih berpontensial menyandang gelar itu dibanding dirinya yang terlalu mudah terbawa perasaan. Utopia akan hancur jika ia memimpin.
Tautan hangat melingkupi telapak tangannya yang dingin. Hanaya menoleh dengan mata sendu tetapi senyum tipis penuh ketulusan Brianna menggugah hatinya "Nona, semua orang terlahir dengan takdir, tapi jika anda percaya pada kerja keras, takdir mungkin akan berubah. Jika impian anda menjadi Ratu maka selama anda pantas dan berusaha keras, tak peduli sekalipun itu takdir itu akan menjadi milik anda"
"Ingatlah satu hal, setiap proses membuahkan hasil. Setiap langkah mengubah hasil, setiap keputusan memperbaiki hasil. Tidak peduli takdir siapa, jika anda pantas itu adalah milik anda."
Bola mata Hanaya bergetar. Hatinya di buncahi emosi. Dia terlalu lemah, mudah terpengaruh dan gampang berputus asa. Berapa kali kata-kata Brianna memercik semangatnya? Berapa ratus kali dia bergantung pada Brianna?
Mungkin Brianna di kirim untuk membantunya bertumbuh.
"Nona, jangan menangis. Ratu adalah seseorang yang memimpin, matahari lain selain kaisar. Memperlihatkan emosi adalah kelemahan dan membiarkan hati mempengaruhi hanya akan merusak segalanya."
Hanaya mengigit bibir, menatap Brianna "Sepertinya, aku takkan bisa melakukan apapun tanpamu."
Hanaya merasa begitu. Dia menyadari seberapa bergantungnya dia pada Brianna. Mungkin, jalan terjal tanpa Brianna tak akan mampu ia lalui. Kata-katanya yang tulus, sorot mata penuh kasih, sentuhan yang menghangatkan begitu menggetarkan dan optimisme dalam setiap ucapannya.
"Siapa bilang? Justru sebaliknya. Saya bergantung pada anda."
"Tidak, aku bergantung padamu Brianna,"
"Nona menyalahpahami ini. Saya bergantung pada anda. Sejak menjadi pelayan anda, hidup saya ada di tangan anda. Jika Nona merasa harus membalas budi, maka hiduplah dengan baik, berdiri sekuat mungkin dan jadilah Ratu yang tak dikendalikan siapapun. Dengan begitu saya akan bangga memiliki junjungan seperti anda."
Meski begitu. Meski menggetarkannya kata-kata itu, Hanaya tak dapat membayangkan jalan terjal tanpa nasihat Brianna. Dia bergantung pada segalanya di dunia ini. Ayahnya, ibu, cinta keluarga, Javier dan Brianna. Jika satu diantaranya mengkhinatinya atau mereka meninggalkannya, maka saat itu hidup tak lebih dari neraka.
Dunia tak akan sama dimata Hanaya.
Dan Hanaya akan melarikan diri lagi. Dia dasarnya memang lemah.
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Reupload231004CL
__ADS_1