
...▪︎OODEYE▪︎...
"Jika begitu, bukankah kekasih ku pantas di beri gelar warga pemberani?" Suara Javier menggema, menatap Duke Nestra di hadapannya.
Duke Nestra mengangguk. Terlepas dari kebenaran hubungan keduanya, dan meski terseret secara tak sengaja dalam perburuan kejahatan oleh Xavier, tindakan Viviana juga harus di apresiasi. Gadis itu tak menghambat. Tentu saja harus di beri penghargaan.
"Tentu Yang Mulia"
"Kirim surat penghargaan dan lencana permata biru sebagai apresiasi"
"Baik. Lalu mengenai pernikahan anda, bukankah terlalu cepat di tentukan?"
Tatapan tajam Javier dan Duke Nestra beradu. Ada hening cukup lama diantara keduanya. Lalu Duke Nestra meneruskan ucapannya
"Apa anda yakin dengan pernikahan ini, saya ragu dengan pilihan anda-
"Apa maksudmu?" Tanya Javier dingin.
"Anda paham maksud saya. Dengan kualifikasi seperti ini, lady Viviana sama sekali tak pantas menaiki tahta" Javier terdiam. Itu sepenuhnya memang benar.
"Sejak dulu, Utopia memiliki kualitas tinggi tentang Ratu. Tak hanya sejarah atau posisi keluarga, tetapi pondasi dan dampak dari calon Ratu sendiri. Lady Viviana sama sekali tak memiliki itu. Dia tak memiliki pengikut atau citra positif di kalangan rakyat. Semua rumor itu mempengaruhi citranya. Di tambah lagi sejak debutante lady tak pernah mengikuti pertemuan sesama bangsawan akan ada banyak penolakan. Saya harap anda memperhatikan ini"
Javier menarik nafas, seringaiannya nampak "Aku akan mengurus itu. Kirim penghargaan resmi sekarang"
"Yang Mulia! Belum pernah ada dalam sejarah Utopia Ratu tanpa pengikut atau citra-
"Berhenti mencampuri urusanku!" Sergah Javier tajam.
Duke Nestra menarik nafas pelan, lantas berkata "Saya tak akan mencampuri semua urusan anda. Tapi menyangkut Utopia adalah tugas saya. Calon Ratu juga termasuk di dalam wewenang saya"
Javier membeku. Ini sepenuhnya memang benar.
"Jika anda bukan Putra Mahkota saya tak akan melarang anda menentukan pilihan. Tapi ini menyangkut Utopia! Sebagai pendamping anda tak hanya citra, lady Viviana juga harus seimbang dengan anda. Maaf mengatakan ini, akan sangat menyinggung anda tapi inilah faktanya. Saya tak yakin menilik dari sikapnya lady Viviana hanya akan menjadi boneka "
Ratu yang di gerakan semaunya.
***
"PERINTAH KAISAR"
Hanaya menunduk dengan jantung bertalu. Apa ini lamarannya? Tetapi belum lewat seminggu. Baru sehari mengapa sangat cepat?
Kunjungan ini terlalu tiba-tiba. Viscount Lances di liputi kecemasan. Rumor mengenai hubungan putrinya dan Putra Mahkota belum mereda, di tambah lagi kecurigaan tak berdasar yang entah berhembus dari mana, mengenai hubungan gelap putrinya dan jendral Xavier sama panasnya. Kunjungan ini hanya akan memperburuk citra putrinya. Jika memang ingin melamar, Putra Mahkota hendaknya menunggu hingga rumor mereda, ini sama saja dengan menyulut api semakin besar!
"Lady Viviana de Lances dianugerahkan gelar warga pemberani atas distribusi penangkapan penyelundup budak" Disaat Viscount Lances merasa lega, lain halnya dengan Hanaya yang di liputi rasa sedih. Mencelos sebab tak sejalannya realita dan pemikirannya.
__ADS_1
Hanaya hanya tak dapat menahan hati untuk berpikir sejauh itu.
"Bersediakah anda menerimanya lady ?" Hanaya bangkit, berjalan menuju pembawa berita kerajaan, lantas bertekuk lutut dengan hikmat "Dengan penuh kehormatan saya menerima ini" jawab Hanaya
Lalu lencana dengan permata biru mengkilap di serahkan padanya langsung oleh Xavier. Hanaya menahan nafas, tubuhnya selalu merinding kala berada di dekat Xavier. Meski kesan pria itu sedikit berubah di matanya, tetapi hawa dingin yang terpancar masih tetap mengerikan.
"Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia" ujar Hanaya pada sang pembawa berita.
Ini adalah langkah awal untuk memperbaiki imej dan menguatkan akarnya. Tujuan awalnya adalah menjadi sempurna dalam segala hal!
***
"Sudah kau temukan siapa penyebar rumornya?"
"Belum tuan. Hasil penyelidikan saya terus berputar di satu tempat. Sepertinya seseorang sengaja mengecoh kita" Viscount Lances menghembuskan nafas kasar.
Dari mata putrinya, ia sadar Viviana tak dapat di larang. Sifat keras kepalanya belum menghilang sepenuhnya. Karena itu sebagai ayah yang baik, Viscount Lances merasa harus merintis jalan putrinya menuju tahta. Dan ini di mulai dengan membasmi semua rumor yang ada. Rupanya ada seseorang yang cerdik menyebar rumor dalam satu daerah menunggu hingga itu membludak lalu membiarkannya keluar dan semakin melebar.
"Apa itu di mulai dari istana?"
"Tidak tuan. Rumor lady Viviana di mulai dari Dorth" itu daerah yang Viviana dan Brianna kunjungi kemarin bukan?
Viscount Lances menghela nafas lagi. Jika begini sulit untuk menyingkirkan rumor-rumor ini.
Meski enggan melepas Viviana ke istana, Viscount Lances harus tetap melakukan itu. Dia akan selalu menjadi penyokong putrinya, selama itu adalah keinginan malaikat kecilnya.
Kecenderungan orang lain adalah menilai melalui tampilan luar- tetapi Viscount Lances ingin tau seperti apa sebenarnya Javier.
"Sampai saat ini, saya belum menemukan apapun tentang beliau selain kontribusinya untuk banyak hal" Jawab Nell- pengawal bayangan Viscount Lances.
"Baiklah kau boleh pergi"
"Ya tuan. Jika ada hal penting yang saya temukan akan saya sampaikan. Permisi"
Tidak ada pilihan lain selain mengamati rumor tentang putrinya sembari menemukan kebenaran- siapa pelakunya.
"Ayah, siapa itu?"
Mendekati putrinya, Hanaya tersentak kala ayahnya memeluknya "Tidak perlu khawatir ayah akan melindungimu"
"Aku tau, ayah bahkan bersedia menukar nyawa jika itu tentangku" kelakarnya. Viscount Lances mengangguk. Itu adalah sebuah keharusan.
Viviana adalah berlian berharga yang harus dijaganya dengan nyawa sebagai taruhan.
"Kau tak bersama ibu mu?" Hanaya menggeleng "Tidak. Ibu pergi menghadiri perjamuan nyonya Smith" sahutnya.
__ADS_1
"Kalau begitu ayah akan menculik mu seharian ini" goda Viscount Lances.
Hanaya tergelak. Sisi lain ayahnya yang menyenangkan. "Sepertinya aku tak bersedia di culik" balasnya bercanda.
"Kalau begitu apa yang harus di berikan pria tua ini agar nona muda yang cantik ini bersedia di culik?"
Memasang tampang berpikir selagaknya menimbang-nimbang, tawa Hanaya akhirnya lepas. Kemudian berkata "Tak perlu apapun, cukup beritahu kemana tempat yang di tuju"
"Baiklah, akan ayah memberitahumu. Kita akan pergi ke daerah kekuasaan mu, Vilanc"
Hanaya mengangguk bersemangat. Daerah kekuasaan ayahnya bukan?
"Ayo!" Menyeret Viscount parubaya yang tergelak melihat tingkah putrinya.
Matanya menyendu. Hanya dalam bulan ini, kediaman keluarga Lances tak akan di isi oleh putrinya. Dia akan pergi jauh. Ke tempat di mana segalanya berubah menjadi formalitas.
Padahal, terasa baru kemarin- dimana putrinya berubah, dan hanya menginginkan kepulangannya sebagai hadiah. Mungkin lusa, kehadirannya tak lagi terjejak di sini.
"Bisa ayah deskripsikan seperti apa tempatnya?"
"Kau akan tau begitu tiba" jawab ayahnya penuh misteri. Hanaya cemberut. Tetapi mengintip pemandangan luar membuat suasana hatinya membaik.
"Jika- jika nanti kau menjadi Ratu, apa ayah bisa meminta satu hal?" Hanaya tak tau, nada suara ayahnya terdengar menyedihkan.
"Tentu. Bagaimana pun, sebelum menjadi Ratu aku adalah putri ayah" memasang senyum lembut.
Hanaya tersentak kala ayahnya menggengam tangannya, menatap penuh kasih "Sempatkan waktu luang tanpa penjagaan. Dengan begitu ayah akan menculikmu lagi" meski kata-kata itu penuh kelakar akan tetapi Hanaya dapat merasakan gundah seorang ayah.
Di genggamnya balik tangan ayahnya "Tentu. Kapanpun itu jika ayah mau"
"Lalu, jika ada yang menyulitkan mu ceritakan pada ayah, jangan memendam sendiri, itu hanya akan melukaimu" sekarang Hanaya semakin yakin. Dia adalah gadis paling beruntung yang pernah melintasi waktu.
"Ya, ayah selalu jadi yang pertama ketika itu terjadi" bohong. Sebab, Hanaya akan merahasiakan segala sesuatu yang menyakitinya- agar ayah dan ibunya tetap bahagia.
"Kalau-
"Ayah, tolong jangan bicarakan ini lagi, terdengar seperti perpisahan" aku Hanaya. Pembicaraan ini malah berbalik menakutinya.
Mendekap putrinya Viscount Lances meminta maaf "Ayah hanya ingin kau tau, kau tak pernah sendirian. Tidak anakku"
Kata-kata itu menggetarkan hati Hanaya, hingga matanya memanas dan sebulir air mata haru menetes.
Benar, dia tidak sendiri.
Mungkin hanya di kehidupan yang sebelumnya. Namun di dunia kali ini, dia punya banyak tempat pulang.
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Reupload230104CL