
...▪︎OODEYE▪︎...
Suasana hati Hanaya berubah begitu memasuki ruang tamu keluarganya. Suara Javier yang menggema membekukan suasana hatinya.
"Ada yang ingin menjelaskan sesuatu disini?" Hanaya meneguk ludah, gugup sekaligus takut. Aura Javier terasa tak bersahabat kali ini.
"Ak-
"Ijinkan saya mengambil alih, lady " Hanaya mengangguk pelan, menyetujui. Takut dibawah tekanan, kata-katanya malah melantur dan Javier semakin salah paham.
"Maaf yang mulia, rumor yang beredar di kota tidaklah benar. Saya mengejar penyusup dan tak sengaja menyeret lady Viviana didalamnya. Kedatangan saya kesini murni atas permintaan maaf dan ucapan terima kasih. Bagaimana pun, lady Viviana berhak mendapat penghargaan atas jasanya. Tanpa bantuannya, saya mungkin akan gagal" Hanaya terkejut, menatap Xavier. Dia terlihat tak tersentuh, tetapi sebenarnya sangat peduli dan menghargai orang lain.
Teringat lagi sikapnya tadi membuat rasa kagum membuncah pada sosoknya. Xavier tak menyeretnya dia malah menyelamatkan Viviana. Memang benar Viviana menolongnya, tetapi itu hanya refleks kesadaran dan pengaruh intimidasi Xavier. Bahkan Xavier yang membantunya melepas panah. Dan hanya berdasarkan itu dia layak di beri penghargaan?
Dibandingkan Xavier, kontribusi Viviana sama sekali tak tercatat. Lantas mengapa dia layak diberi penghargaan?
"Viviana?" Hanaya menegang kala nada dingin Javier terdengar.
"Maaf Yang Mulia, anda boleh menghukum saya atas kelancangan ini, tapi permasalahan pribadi anda dan
lady sebaiknya dibicarakan berdua saja" Hanaya tertegun, sementara Brianna menatap Xavier lekat.
Pria itu jelas hanya ingin membatasi ruang bertambahnya rumor buruk tentang Viviana. Sebab semua pelayan ada disini. Hanaya rupanya salah menilai Xavier. Tak seperti rumor yang beredar atau kesan pertamanya, meski berhati dingin pria itu masih peduli terhadap sekitarnya- hanya terlihat acuh saja.
Javier menghela nafas, paham maksud Xavier. Xavier menatap Hanaya lalu berkata "Terima kasih atas bantuan lady dan maaf merepotkan anda. Jika terjadi sesuatu pada anda saya akan bertanggung jawab" ujarnya tegas.
Hanaya tergugah mendengar itu.
Bersamaan dengan itu, Viscount Lances dan istrinya turun menyambut Javier.
"Salam Yang Mulia, ada perlu apa berkunjung ke kediaman kami?" tanya Viscount Lances.
Javier tersenyum kecil lalu berujar "Kedatangan saya kesini adalah untuk melamar lady Viviana" kata-kata itu membuat kehebohan. Sementara Hanaya berdiri dengan gugup. Dilamar ? Secepat ini ?
"Me-melamar?"
"Saya, Javier de Roughts melamar lady Viviana de Lances, putri Viscount Lances sebagai pendamping hidup saya" Tegasnya langsung pada inti.
Mata Viscount menatap putrinya "Kami tak dapat mengatakan apapun, itu semua tergantung putri kami" ujarnya. Meski ini adalah sebuah anugerah, jika Viviana tak menyukainya maka ia dan sang istri akan menolak. Kebahagiaan putri mereka adalah yang utama.
"Benar, putri kami adalah kepentingan utama kami. Sangat tidak sopan memang, tapi lamaran ini belum resmi jadi tak akan menjadi masalah jika putri kami menolak. Bagaimana Viviana?"
Belum resmi, tetapi rumor tentang kedekatan keduanya telah berhembus. Bagaimanapun Hanaya akan tetap menerimanya.
Memilin jemari gugup, Hanaya lantas mengangguk pelan.
"Kau yakin?" Viscount bertanya lagi, memastikan.
"Ya, ayah. Aku menerima lamarannya" ucap Hanaya dengan mata bertaut dengan Javier. Pipinya bersemu merah.
Sedikit lagi, dia akan menginjakkan kaki di tempat dimana pelengkap kebahagiaannya berada.
Jantung Hanaya berdebar begitu Javier menghampirinya, lalu mengecup tangannya lembut
__ADS_1
"Saya sangat berterima kasih anda tak menolak saya, lady "
"Kalau begitu, lamaran resmi akan di kirim duke Nestra dalam dua minggu ini. Pernikahan akan di gelar setelah saya naik tahta" ujar Javier mengundang keterkejutan semua orang.
Secepat itu? Itu artinya hanya dalam bulan ini putrinya akan meninggalkan kediaman mereka dan menduduki tahta?
"Se-secepat itu?" Gumam Viscountess terkejut.
Javier mengangguk "Sebenarnya saya dan lady Viviana telah berhubungan sebelum ini, saya sudah melamarnya dua hari yang lalu" jelas Javier. Ingin mengenyahkan keraguan Viscount dan istrinya.
"Ya. Itu benar ibu ayah"
Dan dengan ini satu scene terjadi lagi. Dimana Javier melamarnya. Sedikit demi sedikit dia akan mencapai impiannya.
Namun, yang membuat Hanaya bertanya adalah perubahan alur yang mulai terjadi. Seharusnya tak terjadi masalah apapun, tak ada rumor tentangnya dan Xavier, tak ada insiden tadi. Hanya ada lamaran ini. Lantas apa penyebab segelintir perubahan ini?
Mungkinkah imbas dari perubahan sifatnya?
Hanaya harap Viviana akan terus bahagia hingga akhir hayatnya. Dia harap tak akan ada masalah apapun.
***
"Jadi anak ibu menyembunyikan segalanya dari ibu? Sejak kapan belajar merahasiakan?" Meski nadanya lembut, Hanaya dapat menangkap rasa kecewa didalam sana.
Di peluknya Viscountess "Aku tak menyembunyikan apapun. Semuanya terjadi terlalu cepat, Viviana tak punya waktu untuk menceritakannya. Ibu jangan kecewa" seperti apapun, Hanaya tak ingin melukai perasaan orang yang tulus menyayanginya.
"Ibu tak sedih, hanya saja tak banyak waktu yang harus dihabiskan dengan putri ibu. Bagaimana jika esok seharian kita ke pasar? Mencoba banyak hal?" Hanaya mengangguk bersemangat.
"Tentu"
Tanya Viscountess khawatir.
Hanaya menggeleng "Tidak bu, kami hanya saling membantu. Jendral menolongku begitu pun sebaliknya"
Raut wajah Viscountess di liputi kelegaan, di usapnya lembut surai putrinya. Masih akan sangat lama untuk kepergian Viviana. Hanaya dapat melihat raut wajah sedih wanita itu. Seakan enggan melepasnya. Dia pun, tapi inilah yang harus dilakukan.
Tok-tok
"Boleh ayah masuk?" Tawa Viscountess terumbar.
"Pembuat masalah datang lagi" ujarnya lantas tawa keduanya menggema.
"Masuklah ayah"
Viscount Lances muncul dengan senyum lebar, di hampirinya mereka lalu membalut keduanya dalam pelukan hangat.
"Sepertinya kita harus mengadakan acara tidur keluarga selama bulan ini ke depannya"
"Ayah ini sesak! Aku sulit bernapas!" Ujar Hanaya, menyela.
"Sepertinya ayahmu berniat membunuh kita" timpal ibunya memicu tawa menggelegar Viscount Lances.
"Hahaha, ini adalah pelukan keluarga!" Dan dengan begitu malam itu dihabiskan dengan tidur bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
***
Kediaman penuh dengan bisik-bisik sejak Hanaya bangun subuh tadi. Tentu kebanyakan menggosipkan lamaran Javier padanya.
Hanaya tak ambil pusing. Sarapan pagi dan pembicaraan hangat di lakukan sebelum akhirnya ia dan ibunya pergi ke kota, menghabiskan waktu bersama. Ada sedikit perdebatan antara ayah dan ibunya sebelum keberangkatan mereka.
"Memangnya ada yang salah jika aku ikut?"
"Ada! Aku ingin menghabiskan waktu dengan putriku saja!"
"Begitu pun aku!"
"Ibu, kenapa tak membiarkan ayah ikut saja?" Viscount Lances mengangguk menyetujui "Ayahmu ini tak akan membuat keributan" ujarnya berusaha menyakinkan.
Viscountess tetap keukeh, menarik putrinya pergi "Ayahmu tak bisa meninggalkan urusannya! Kau punya masalah untuk diselesaikan bukan? Selesaikan itu dulu"
Lalu kereta kuda berlalu, meninggalkan Viscount Lances dengan wajah muram. Istrinya berniat memonopoli putrinya!
Lihat saja nanti! Sekembalinya mereka Viscount Lances pastikan putrinya hanya akan dimonopoli olehnya!
"Kau suka sekali mengamati jalan? Apa itu menyenangkan?" Hanaya tersenyum sembari mengangguk
"Hm, menyenangkan bu!" Sahutnya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di kota. Hanaya terkejut begitu melihat list kegiatan terjadwal ibunya. Wanita itu bahkan membatalkan pertemuan istri bangsawan hanya untuk menghabiskan banyak waktu dengannya. Hanaya merasa tersanjung. Jika ayahnya ikut, ini mungkin akan jadi liburan keluarga.
"Pertama, kita akan pergi ke perancang. Ibu menyiapkan gaun rancangan sepasang untukmu, ibu dan Brianna juga"
Brianna yang sedari tadi diam sontak membuka suara melayangkan penolakan, yang tentu saja tak di indahkan ibunya.
"Bagaimana pun, di pesta pernikahan Viviana nanti kau juga harus hadir Brianna. Tak ada penolakan!"
"Baik-baik nyonya" ujar Brianna pasrah. Selepas pergi ke perancang, mereka akan mengelilingi pasar, menonton pertunjukan jalanan, lalu mencicipi banyak jajanan.
"Ini enak sekali, cobalah bu" Viscountess mengangguk riang, kue di kedai ini sangat enak.
"Brianna cobalah" Viscountess menyodorkannya langsung dimulut Brianna. Gadis itu benar-benar bersikap seolah presensinya tak benar-benar ada diantara ibu dan anak Lances itu.
"Ini perintah" dan dengan begitu Brianna menerimanya.
"Terima kasih atas kebaikan anda nyonya" Hanaya tertegun melihat ekspresi lain di wajah Brianna kala ibunya mengusap puncak kepala gadis itu.
"Jangan kaku seperti itu. Kau harus berekspresi lebih, aku khawatir kau akan menua tanpa pasangan" Wajahnya yang tersipu dan senyum lembutnya pertama kali nampak.
"Lihat, kau cantik saat tersenyum" Puji Viscountess mencubit kecil pipi Brianna. Tetapi ucapannya meruntuhkan ekspresi gadis itu.
Viscountess mengabaikan hal itu. Dia ingin menghabiskan banyak waktu bersama putrinya, sebelum segalanya menjadi sebuah keformalan diantara mereka sebab perubahan status putrinya.
Hanaya tersenyum bahagia. Senang menghabiskan banyak waktu. Yah, begitu memikirkan dalam bulan ini kedepan, Hanaya sadar dia akan berpisah dengan keluarganya. Hidup jauh dari mereka.
Namun, itu imbalan yang sesuai bukan? Lagi pula dia akan sama bahagianya dengan disini.
Tapi takdir siapa yang dapat menebak ? Hidup itu selalu penuh kejutan.
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Note:Reupload2303CL