
...▪︎OODEYE▪︎...
Ditilik dari gelagatnya, Viviana sepertinya melupakan pembicaraan emosional semalam lebih tepatnya bertindak seakan tak terjadi apapun.
Brianna menatapnya. Meski ingin menelusuri lebih jauh penyebab nonanya seperti itu, harus ia urungkan sebab ke keengganan yang nampak di air muka Viviana.
Satu-satunya yang dapat dia lakukan adalah membantu nonanya menenangkan diri
"Anda ingin jalan-jalan ke kota nona? Ada pertunjukan boneka terbaru, jika anda berkenan saya akan mengantar anda kesana."
Sudut bibir Hanaya menarik senyum simpul penuh rasa sendu "Aku baik-baik saja tak perlu khawatir."
"Nona, besok adalah hari dimana Podium Discussion berlangsung. Jika anda pergi kesana dalam suasana hati buruk, saya khawatir segalanya akan jadi lebih buruk. Rumor buruk di kota semakin ganas, jika anda seperti ini-
"Aku mengerti!" Sahut Hanaya bangkit. Dalam sekejab semangatnya tersulut. Brianna peduli dan paham akan suasana hatinya.
Dia tak dapat duduk dengan murung dan menunggu rumor buruknya menyebar merusak reputasi yang akan dinaikinya.
"Antar aku ke perpustakaan. Siapkan teh dan cemilan. Aku mungkin akan membutuhkan itu."
"Baik nona"
Brianna berlalu setelah mengantar Hanaya menuju perpustakaan.
Hanaya terdiam fokusnya sama sekali tak dapat berkumpul. Kacau! Hatinya menggebu-gebu, di penuhi rasa keingintahuan -apa penyebab Xavier turun tahta. Penghukuman untuk putra mahkota tak akan separah itu, mungkin hanya pembekuan status untuk sementara, tapi posisi Xavier di cabut. Lantas atas apa ?
Hanaya merutuk dirinya sendiri. Meski takut akan hal tersembunyi dibalik itu, dia di penuhi rasa penasaran. Hanaya tak akan dapat fokus hingga dia memastikan jawabannya bahwa ini tak berkaitan dengan calon suaminya.
Bahkan ini baru beberapa hari sebelumnya dia menyadari status Xavier, kakak Javier.
"Brianna. Apa-apa kau tau penyebab turunnya Xavier dari tahta?" Hanaya bertanya gugup. Lantas meneruskan pemikirannya kala Brianna hanya menatapnya "Maksudku, kau tau bukan tanpa kejahatan yang berat seperti kudeta status Xavier tak akan lepas semudah ini. Dia calon kaisar mungkin pembekuan status-
"Jendral Xavier terlibat dalam perancanaan kudeta."
Kudeta ?
Bola mata Hanaya melotot, terkejut mendengar itu.
Kudeta? Dengan itu maka Xavier harus di hukum gantung serta namanya di tulis sebagai penghianat Utopia. Lalu mengapa dia masih hidup ?
"Kaisar sebelumnya, yang merupakan ayah mereka melepasnya bertarung melawan musuh di perang, itu adalah kontribusi terbesar Jendral. Setelah itu jendral terus dikirim berperang dan terus menang sebab itu dia diangkat sebagai jendral dan hukumannya di ringankan." Brianna yang selalu dapat menebak pemikiran Hanaya menjawab lugas.
Tetapi itu hanya menambah rasa penasaran Hanaya maka dengan menggebu ia bertanya
"Apa hukumannya?"
"Jendral Xavier harus menusuk matanya dan mengikat sumpah suci dengan darah untuk tidak mengkhianati Utopia lagi"
__ADS_1
Sumpah suci dengan darah ?
Dibeberapa sejarah Utopia yang ia pelajari, ini adalah Sumpah yang di ikat dengan dewa melalui darah sebagai simbol yang merupakan remisi bagi pewaris tahta, keturunan kaisar, atau raja, maupun kerabat keluarga yang pernah melakukan kudeta atau menghianati kerajaan.
Tapi ganjaran hukumannya lebih mengerikan. Tidak di gantung. Melainkan di cambuk dan setiap luka akan di sirami alkohol, penyiksaan tanpa henti hingga mati. Dalam beberapa kasus yang pernah Hanaya baca kebanyakan korban kehabisan darah, mengalami hipotermia sebab ruangan yang gelap dan suhu dingin serta kekurangan zat gizi. Tak hanya itu, mereka bahkan di kuliti dan organ tubuhnya di beri makan burung.
Kekaisaran ini percaya bahwa dengan tak mengindahkan remisi sama saja dengan menghina pengampunan dewa. Maka itu patut diberi ganjaran menyakitkan. Sebanyak 20 keturunan raja di catat dalam sejarah mengalami hal serupa.
Utopia terlihat damai, tetapi di balik kedamaian ini tersimpan sejarah yang mengerikan.
Semakin banyak ia tau semakin Hanaya sadar, kisah ini tak sesederhana yang terlihat.
Lututnya lemas, tetapi hikmah lain yang ia syukuri dari hal ini adalah tak ada campur tangan Javier, sang calon suami dalam hal ini.
Hanaya dapat menjalani kehidupannya dengan tenang tanpa rasa cemas.
Tapi mengapa semuanya terasa salah ? Ada yang mengganjal, tapi apa ?
"Nona anda baik-baik saja-
"Aku baik. Temani aku ke karnaval yang kau sebutkan ada pertunjukan boneka besar-besaran bukan?"
Brianna menatap nonanya lekat. Tau dari mana asalnya suasana hati buruk nonanya.
"Sepertinya anda hanya ingin memastikan ketidakterlibatan Yang Mulia dalam hal ini" pernyataan itu membuat Hanaya memerah.
"Kau! Sepertinya tak ada yang dapat ku sembunyikan darimu" celutuk Hanaya. Dia merasa seperti buku yang Brianna hafal setiap untaian katanya.
"Ingatlah nona, istana tak sesederhana kelihatannya."
Lagi, nasihat misterius di layangkan. Tetapi Hanaya justru tak sependapat. Istana adalah tempat sederhana yang kelak menjadi miliknya!
Rumah tempat kebahagiaannya di lengkapi!
***
"Jadi mereka bersama?"
Prajurit mengangguk. Helaan nafas berat di susul kepalan tangan erat terjadi.
Mengangkat tatap, mata hitam Javier menghunus "Panggil Xavier kemari"
"Baik tuan" tak berselang lama, Xavier masuk. Masih dalam balutan zirah besi, sepertinya Javier menganggu pelatihannya.
"Kemana kau kemarin?"
Xavier menatap Javier, lantas menjawab dengan lugas "Kemarin adalah waktu pribadi. Kemana dan dengan siapa saya pergi tidak ada yang berhak mencampuri."
__ADS_1
"Xavier!" Bentakan Javier tak membuat Xavier bergetar. Pria itu hanya menatap adiknya tenang
"Selalu ada batas dalam pekerjaan dan urusan pribadi. Saya harap Yang Mulia mengerti."
Jawaban yang memicu geladak amarah Javier. Namun, setidaknya kata-kata itu benar adanya sebab itu Javier tak punya pilihan selain meredam dalam-dalam amarahnya.
"Kau bersamanya?" Tanya Javier.
Xavier terdiam beberapa saat. Entah menelah atau apa, lantas menjawab "Ya. Lady Viviana bersama saya."
"Kau tau siapa dia bukan?" Xavier menghela nafas. Kecemburuan. Itu yang dapat ia tangkap dari nada adiknya.
"Calon Ratu. Semua orang di negeri ini tau tentang itu. Lady Viviana adalah orang yang anda cintai."
Nampaknya itu cukup untuk membuat senyum tipis muncul dibibir Javier "Aku harap kau mengerti. Jangan terlibat dengan wanitaku semakin dalam."
"Ya" kesalahpahaman. Namun Xavier enggan meluruskan atau sekedar membela diri. Di mata orang yang terbakar api cemburu, apapun perkataan orang lain hanya akan di anggap sebagai pembelaan diri.
"Lalu, apa ada perkembangannya? Pemimpin mereka, sudah kau temukan?"
"Belum Yang Mulia. Sepertinya semua dokumen, surat dan apapun petunjuk telah di bersihkan sebelum dia bergerak keluar kota dan tertangkap."
Javier menghela nafas pelan "Jika kau tak membunuhnya dan menjatuhkan hukuman,mungkin kita akan punya buktinya."
Saat itu mata biru Xavier berkilat sedingin es "Tidak. Saya tak membunuhnya, dia di bunuh. Ada seseorang yang melenyapkannya. Itu artinya pemimpinnya adalah seseorang yang dekat dengan istana, jika tidak bagaimana mungkin dia menemukan penjara rahasia dengan mudah?"
"Dibunuh?"
"Benar, Yang Mulia. Sebab itu saya mengeksekusi mayatnya sebelum berita menyebar keluar"
"Kau yakin itu bukan bunuh diri?"
Xavier menggeleng tegas. Sementara wajahnya berubah menjadi serius.
"Tidak. Mereka membuatnya terlihat seperti bunuh diri. Tapi ada tanda perlawanan kemerahan di leher. Seseorang mencekiknya, memaksanya menelan pil bunuh diri, dan ada sobekan kain itu artinya dia mencoba mencegah pembunuhnya melarikan diri." Xavier tak bodoh untuk menghukum tanpa mengeruk informasi. Ada orang lain, didalam istana ini atau di sekitaran mereka yang bertanggung jawab atas penyelundupan ini.
"Penjaga?"
"Itu terjadi saat pertukaran penjaga. Pilnya juga zat yang mudah dicerna dan mempercepat kematian."
Bahkan, informasi seteliti ini juga di miliki. Jelas dia seseorang yang berpengaruh, tetapi siapa? Xavier memegang kendali penuh atas seluruh penjagaan di Utopia. Jika berita ini beredar, seseorang bisa menggunakannya untuk melenyapkan Xavier atas tuduhan penghianatan!
Sebab kebanyakan dari data orang yang di selundupkan, pria muda kisaran usia 20-35 tahun menghilang tanpa jejak. Itu artinya, orang ini menggumpulkan pasukan, disuatu tempat.
"Xavier, apa ada yang tau ini selain dirimu? Jika ada lenyapkan mereka." kata Javier dingin.
Xavier memberi hormat "Terima kasih atas kekhawatirannya, tapi saya bisa menangani ini. Yang Mulia tak perlu khawatir fokuslah pada penobatan anda, saya permisi."
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Reupload230409CL