Odd Eye

Odd Eye
Part 31. The meaning of Daisy


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


Sarapan pagi di keluarga Viscount Lances terasa sangat hening.


Hanaya merasakan canggung akan sarapan di pagi ini.


Setidaknya dia tau apa penyebabnya. Tak ada perayaan berlebihan ayahnya, Hanaya tau sang Viscount masih belum rela meski telah bersedia melepasnya.


Ibunya tak ada. Sedang melakukan kunjungan ke Vilanc hanya Hanaya dan ayahnya.


"Ayah, bisa temani aku jalan-jalan keluar?" Ujar Hanaya cepat, kala melihat Viscount Lances bergegas pergi.


Pria parubaya itu menatap Viviana sesaat, menghela nafas lalu mengangguk "Ingin kemana?" Tanyanya.


Mengulas senyum kecil Hanaya menjawab "Jalan-jalan di taman belakang"


Viscount Lances berjalan kearah Viviana, lantas membiarkan putrinya itu mengandengnya. Menuntun keduanya menuju taman belakang.


Hanya ada hening diantara mereka. Hanaya yang canggung memulai pembicaraan dengan basa-basi yang sebenarnya sudah ia ketahui kebenarannya.


"Ayah belakangan ini sibuk?"


Tidak.


"Ada beberapa urusan tapi tak sesibuk itu"


"Apa ayah tak senang?"


Keterdiaman Viscount Lances merupakan sebuah jawaban. Ya.


"Tanpa ayah katakan jawabannya pun kau tau itu"


"Maaf. Tapi ini keinginan ku, aku harap ayah mengerti."


Viscount Lances tak menyahut, keduanya menjelajahi taman. Pembicaraan tadi terhapus angin dan lenyap tak tersisa. Viscount Lances sendiri tak punya pilihan selain menerima pembenaran Neil, Javier bukan pelakunya. Bahwa pemuda berstatus kaisar itu tepat untuk putrinya. Namun mengapa hatinya masih merasa ragu?


Hanaya hanya menatap ayahnya sendu.


Meski bukan ayah kandung jiwanya, Viscount Lances tetap memberi cinta sama besarnya. Serta kemiripan wajah dengan ayahnya membuat Hanaya menyayangi pria itu. Sangat.


"Ayah-


"Ingin tau seperti apa kau dimata ayah?" Hanaya menggeleng dengan bingung. Sama sekali tidak paham apa maksud pertanyaan sang ayah.


"Ayah masih menganggapmu seorang gadis kecil. Anak kecil lucu yang butuh bantuan ayahnya dimana pun itu. Anak perempuan yang belum mampu, yang masih mencari pelukan ayahnya untuk berteduh" mata yang memantulkan kesedihan itu menerawang, mengingat masa-masa lampau.


"Rupanya kau sudah dewasa, sudah terpilih menjadi ratu. Tak lama lagi pernikahan akan di langsungkan. Rasanya tak rela melepas tangan mungil putriku" dimata Viscount Lances tercermin wajah kecil Viviana. Masih tidak percaya 18 tahun berakhir secepat ini.


Mungkin sudah saatnya melepas putrinya. Viviana tak membual akan ucapannya. Dia membuktikannya, bahwa dia akan bertahan tidak peduli seperti apa nantinya. Kecurigaan sang Viscount tentang Javier juga telah terbukti positif. Jadi melepaskan putrinya adalah keharusan.


"Ayah sedih akan melepasku?"


Viscount Lances menatap lekat putrinya. Pantulan wajah mirip namun lembut yang serupa dengannya itu di penuhi rasa cemas "Mungkin ini perasaan seorang ayah. Ragu dan takut melepas putrinya"

__ADS_1


Genggaman tangan hangat putrinya nampak begitu kecil di tangan Viscount Lances. Pria itu tersenyum simpul merasa tenang "Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Seperti yang ku katakan. Aku akan baik-baik saja"


"Ayah tau itu. Tapi di masa depan apapun masalahmu atau ada yang menganggu, sampaikan itu pada ayah. Jangan menanggungnya sendiri, ingat kau tak sendiri." Viscount Lances tak punya pilihan lain selain mengingatkan putrinya. Dia akan berperan sebagai tameng anak gadisnya.


Hanaya menarik senyum lebar. Meski sudah berulang kali mendengar itu, hatinya tetap saja di terpa bahagia.


"Aku tau. Ayahku adalah yang terhebat di Utopia"


"Maka itu, selama ayah masih ada manfaatkan sebaik mungkin" kelakar Viscount Lances memicu ledakan tawa mereka.


Dua hari lagi, segalanya akan berbeda bagi Hanaya. Tempatnya tinggal atau orang di sekitarnya. Meski begitu di istana, akan ada orang yang mencintainya. Yang rela memberikan segalanya seperti ayahnya, Javier.


Ditengah khayalannya, suara Viscount Lances memicu senyum tulus Hanaya "Daisy. Bagi ayah makna bunga itu serupa denganmu. Kau di masa lalu yang ceria seperti terlahir kembali menjadi lebih tulus dan murni"


***


"Lady, anda tak dapat menghindari ini. Meski banyak terimalah salah satu dari undangan ini" semenjak kemarin, undangan terus di kirim ke kediamannya.


Hanaya tak bodoh untuk tau maksud tersembunyinya. Jika bukan di jadikan lelucon, mereka akan menjilatnya, opsi paling akhir adalah mencobainya lagi. Berusaha mencari celah kekurangannya. Melelahkannya ini!


Meski menghindar, Brianna terus mengingatkannya.


"Nona, saya tau kegelisahaan anda. Tapi menghindar sama saja dengan memberi celah. Bahkan jauh lebih besar. Mereka akan berkesimpulan anda takut, dan mulai meremehkan citra anda sebagai ratu. Maka itu, terimalah satu dari sekian banyaknya undangan ini. Mereka tak akan berhenti sampai tujuan mereka tercapai"


Hanaya paham itu. Dia sangat tau itu. Brianna sebagai orang yang paling peduli padanya tak perlu mengingatkan.


"Lady Madelin. Terimalah undangan beliau, ini bagus untuk meningkatkan sudut pandang bangsawan mengenai anda"


"Baiklah. Kapan pertemuannya?"


"Siang ini. Jika lady memiliki waktu luang"


"Balas pesannya. Aku akan ke sana"


***


Tak pernah terlintas, Hanaya akan datang ke sini lagi. Mengikuti undangan Madelin.


Sepertinya, seluruh pelayan di kediaman ini menyambutnya. Ada terlalu banyak. Pelayan, pengawal dan yang lain bahkan koki pun turut serta.


Ini sedikit ralat sangat berlebihan bukan? Perlu di ingatkan, Hanaya sedang berusaha beradaptasi dengan sambutan berlebihan ini.


Madelin mendekatinya, membungkuk menyapa dengan sopan "Merupakan sebuah kehormatan, lady menerima undangan saya"


"Tentu" jawab Hanaya menyunggingkan senyum formal. Bertanya, ekspresi apa di balik topeng itu?


"Kemarin, saya tak sempat mengucapkan selamat pada lady. Makanya mengundang anda secara pribadi. Semoga Anda membantu tugas kaisar untuk memakmurkan Utopia sesuai kehendak dewa" ujarnya yang merupakan bagian dari etiket atau formalitas. Kata-kata itu sama sekali tak tulus. Senyumnya penuh kepalsuan.


"Jika lady berkenan izinkan saya memandu-


"Ratu. Bukan lagi lady. Lady Madelin mohon jaga ucapan anda" teguran Brianna menciptakan keheningan.


Madelin tertegun. Lalu tawa kecilnya menggaung, kedengaran canggung di telinga Hanaya "Maaf, saya mungkin lupa akan itu. Maafkan saya, ratuku." dua kata akhir yang di tekan menunjukan ketidaksukaan murni.

__ADS_1


Madelin memang berbahaya.


Dia adalah orang yang kapan saja dapat merebut posisinya. Namun menjalin kedekatan dengan Madelin jauh lebih menguntungkan, dalam berbagai aspek. Termasuk perluasan pengikut sosial.


Meski pernikahan resmi belum di adakan. Terlepas dari lamaran resmi Javier, kini status Viviana adalah seorang ratu. Kemenangan kemarin di langsungkan dengan acara penobatan. Sebab itu, tak ada alasan untuk menyebutnya lady.


"Tentu, tidak masalah. Wajar jika lady lupa. Kemarin adalah hari sibuk bagi kita berdua bukan? Hanya sedikit tak menyangka kita akan berbincang dengan pembicaraan yang berbeda dan situasi yang beda pula."


Menipiskan bibir, Madelin memaksakan senyum. Paham sangat akan ketersiratan di dalam ucapan itu. Situasi yang beda merunjuk pada diskusi ratu dan bangsawan.


Rupanya Viviana memiliki sisi seperti ini.


"Saya akan menuntun ratu ke rumah kaca, mari." berbeda dengan sebelumnya, dimana Hanaya harus memasuki lorong. Kali ini mereka langsung berbelok, melewati taman bunga serta menara.


Dari sini, cukup jauh dari kediaman Madelin, rumah kaca itu nampak. Megah dan sangat besar. Sepertinya tanah tempat rumah keluarga Duke Nestra mungkin 4 atau 5 hektar luasnya.


Berkali lipat dari kediaman ayahnya.


Memasuki rumah kaca, meja kecil perak dan sepasang kursi di sediakan. Meja itu penuh hidangan, hanya camilan ringan berupa kue dan teh. Ada pula air mancur coklat kecil di tengah meja perak itu.


Hanaya mengambil tempat setelah di persilahkan. Matanya mengarah pada satu bunga, camelia.


"Camelia. beberapa orang menyebutnya mirip dengan mawar tapi sebenarnya mereka berbeda. Hanya karena kesamaan warna bukan berarti mereka sama bukan?"


"Itu memang benar, namun perlu di ingat, setiap bunga punya keistimewaan tersendiri" balas Hanaya ringan.


Apa Madelin berusaha menekannya? Bahwa meski Viviana bertindak menyerupai ratu, dia tak akan pernah menjadi ratu yang sesungguhnya.


Sepertinya Madelin lupa bahwa tak semua orang memiliki kepribadian yang sama. Dia berbeda, dan akan menjadi ratu dengan caranya sendiri.


"Ya. Yang Mulia benar. Setiap bunga memiliki kelebihannya sendiri. Bunga apa yang ratu suka?"


Bunga apa?


Itu bukanlah mawar. Meski mawar dipakai untuk penggambaran wanita hebat namun Hanaya tidak sepenuhnya cocok dengan konteks bunga itu. Dia berada sejauh bukan hanya berdasar pada kekuatannya sendiri.


"Saya dengar anda menyukai Lavender?"


Lavender, bunga yang cantik. Bunga kesukaannya. Lambang pertumbuhan anggun seorang gadis. Sayangnya Hanaya tak merasa sepenuhnya cocok dengan makna bunga itu. Mengingat kenyataan bahwa ia bukanlah wanita yang anggun. Sebab jauh dalam hati, Hanaya sadar perubahan sifatnya hanya untuk pemenuhan egoisme individualnya. Bukan sifat alami.


"Daisy"


Madelin terkekeh "Bunga yang sesuai dengan anda" sindirian, itu yang Hanaya tangkap dengan jelas.


Namun dia tak peduli. Seperti yang di katakan ayahnya. Dia memang serasi dengan makna bunga itu. Selain itu, bunga cerah itu makna kelahiran kembali bukan? Hanaya terlahir kembali untuk bahagia. Meski dia tak semurni yang di pikirkan ayahnya.


...▪︎OODEYE▪︎...


Bunga daisy melambangkan bukan hanya ketulusan tapi juga lambang kelahiran kembali dan sebuah awal yang baru.


Jelasnya baca artikel 4 arti bunga daisy yang begitu mendalam kemurnian cinta dan kelahiran. Source: kompas.com


Note: Reupload232804CL

__ADS_1


__ADS_2