
Tok... tok...
"Assalamu'alaikum." ucap Yudha sambil mengetuk pintu rumah Tasya.
Tok... tok...
"Assalamu'alaikum." ucap Yudha kembali memberikan salam.
Ceklek
"Walaikumsalam." ucap Tasya membuka pintu rumah nya.
"Bapak sama Ibu, ada Tasya? " tanya Yudha.
"Ada Mas, duduk dulu. " jawab Tasya langsung masuk kedalam.
Sedang kan Yudha duduk di sofa tamu, menunggu kedua orang tua Tasya. Tak lama, Bapak dan ibu Tasya keluar, Yudha langsung bersalaman dengan nya.
"Pak Bu, Mas Yudha ingin bicara serius sama Bapak dan Ibu. Tentang masalah hubungan kami, yang sudah lama ini." ucap Tasya.
"Kami kan sudah pernah bilang, kalau Tasya itu sudah kami jodoh kan, dengan seorang pria. Kamu dekat, dengan anak kami mau beberapa tahun juga tidak akan kami restui." ucap Pak Widodo.
"Pak, saya itu hanya mencintai Mas Yudha. Dan saya tidak suka, dengan pilihan Bapak sama Ibu. "
"Tasya, kamu berani membantah hah..!! kamu tidak lihat, kakak - kakak kamu mereka itu menikah di jodohkan tapi hidup nya, bahagia. Kamu kan belum menikah, nanti kalau sudah menikah baru kamu bahagia." ucap Ibu Sriwati.
"Nggak Bu, nggak..!!! " bentak Tasya.
"Maaf, Pak Bu, kami saling mencintai. Tiga tahun itu, waktu yang tidak mudah buat kami. Kami saling mencintai, saya kemari datang baik - baik, ingin meminta ijin. Semoga Bapak dan ibu, berubah pikiran. Saya itu serius, saya juga memiliki pekerjaan. Dan kami tidak ingin di pisahkan, saya mohon restui hubungan kami. " ucap Yudha memohon.
"Maaf kan kami Yudha, kami tahu kamu bukan pengangguran, tapi kami minta maaf. Kamu bukan pilihan kami, jadi kami minta kamu mundur dari sekarang." ucap Pak Widodo.
"Kalau Bapak sama Ibu, tidak mengijinkan. Baik, saya akan menikah diri dengan Mas Yudha. " ucap Tasya.
"Tasya, kamu berani hah..!! " bentak Ibu Sri.
"Bapak sama ibu tega, memisahkan Tasya dengan Mas Yudha. Coba, kalau Bapak sama Ibu yang di pisahkan? apa kalian akan berontak, atau tetap menurut. "
"Kamu tahu, kami menikah karena di jodoh kan. Tapi kamu lihat kan, orang tua kamu bahagia dan berhasil mendidik anak - anak nya. Kakak - kakak kamu saja, bahagia. Kamu malah, membantah belum coba belum apa." ucap Ibu Sri.
"Nggak Bu, saya mohon. Bapak saya mohon, jangan pisahkan kami. Restui hubungan kami, hiks.. hiks.hiks.. saya mohon. "
"Kamu Yudha, tinggalkan Tasya. Selama kami, masih hidup tidak akan pernah merestui kalian. " ucap Ibu Sri.
"Mas, cepat katakan sesuatu atau kamu bertindak apa. " ucap Tasya dengan menggoyang tubuh Yudha.
"Mas, jangan diam saja. " ucap Tasya kembali.
"Tasya, maaf. Mas tidak bisa, menjalankan hubungan seperti ini. Dan apalagi, kamu meminta nikah siri. Mas tidak mau, karena Mas hanya ingin kita nikah resmi." ucap Yudha.
"Jadi Mas akan mundur? dan Mas tidak bisa perjuangkan hubungan kita? "
__ADS_1
"Maaf kan saya, saya hanya ingin menikah dengan restu orang tua. "
"Jahat kamu Mas, jahat. Kamu malah merelakan saya dengan pria lain. Kamu benar - benar jahat, jahat kamu jahat. " ucap Tasya langsung bangun dari duduk nya dan masuk kamar, lalu membanting pintu kamar nya.
"Sekarang, kamu boleh pergi. " ucap Pak Widodo.
"Saya pamit, Assalamu'alaikum. " ucap Yudha, mencium punggung tangan kedua orang tua Tasya.
"Walaikumsalam."balas kedua orang tua Tasya.
Yudha menoleh ke arah rumah Tasya, dan melihat Tasya yang berada di lantai atas sedang menatap dirinya.
" Maafkan saya Tasya, maafkan saya." ucap Yudha.
*****
"Askana, Yudha mana? " tanya Adinda.
"Maaf Bu, Yudha sedang keluar. Bukan nya, sekarang kan hari sabtu. Jadi dia kan libur? " jawab Askana.
"Anak saya mau les biola, jam segini belum datang? walau Mauren itu, libur dia kan punya tugas. Dan kamu, contoh nya. Ada tugas kan, kamu tetap datang. Bahkan kamu, banyak stay disini. "
"Saya tadi keluar sebentar. " ucap Yudha.
"Ijin, seharusnya kamu minta ijin sama saya." tegur Adinda.
"Maaf Bu, tadi ada urusan yang benar - benar harus, saya selesai kan."
"Sekarang kamu, antar anak saya Les Biola. Ingat, jangan sampai lecet atau tergores."
Yudha langsung menghampiri Mauren, yang sedang duduk menunggu nya. Mauren tersenyum, dan Yudha langsung menggandeng tangan Mauren.
"Mami, Mauren berangkat dulu ya. " ucap Mauren.
"Bye.. sayang. " ucap Adinda sambil melambaikan tangan nya.
Adinda tersenyum, saat melihat Yudha dan Mauren tampak akrab. Dan Adinda langsung kembali, berjalan meninggal kan Aksana yang masih berdiri.
"Benar - benar nggak beres Bu Adinda." ucap Aksana lalu pergi.
*****
"Om, kok dari tadi diam saja. Mana wajah ceria nya Om? " tanya Mauren.
"Nih, Om tersenyum. " jawab Yudha.
"Nah, itu kan jadi ganteng nya kelihatan." ucap Mauren sambil tertawa.
Saat sedang mengendarai mobil nya, tepat di depan mobil Yudha berhenti sebuah mobil mewah. Hingga, Yudha mengerem mendadak.
Ciiiiitttttt
__ADS_1
"Kurang ajar..!!! " ucap Yudha marah, dan jidat Mauren langsung terbentur dashboard mobil.
"Kamu nggak apa - apa, sayang? "
"Sakit." rengek Mauren, dan Yudha langsung memegang jidat Mauren.
Yudha langsung keluar, dan mengetuk kaca mobil tersebut, dan di turunkan kaca mobil nya. Seorang pria tersenyum ke arah nya, sedang Yudha masih berkacak pinggang.
"Bisa berkendara tidak sih? kamu tahu di dalam membahayakan nyawa anak kecil. " ucap Yudha.
"Kasar sekali kamu, kamu tahu kan saya siapa? "
"Suami dari Ibu Adinda. "
"Jaga sopan santun kamu. " ucap Rafael sambil menabrak bahu Yudha dan berjalan ke arah mobil nya.
"Sayang." ucap Rafael membuka pintu mobil nya.
"Papi." ucap Mauren senang.
Rafael langsung mengangkat tubuh Mauren, dan berjalan ke arah Yudha.
"Katakan pada Adinda, Mauren saya ambil."
"Ibu Adinda berpesan, Mauren akan tetap sama saya. Jadi tolong jangan bawa Mauren, saya hanya akan menjalankan perintah nya. Jadi tolong Mauren, serahkan pada saya. "
"Saya ini Papi nya, apa kamu mau saya laporkan ke Polisi atas menghalangi bertemu nya seorang Ayah sama anak nya? "
"Tapi Bu Adinda pesan, tidak boleh di bawa sama Pak Rafael. "
"Mauren, kamu mau ikut sama Papi atau Ajudan Mami kamu? " ucap Rafael memberikan pilihan pada Mauren.
"Ikut sama Papi. " ucap Mauren.
"Kamu lihat sendiri kan, Adinda itu memaksa sedangkan anak nya ingin sama Papi nya."
****
"Mauren mana? " tanya Adinda mencari Mauren.
"Maaf Bu, Mauren di bawa sama Pak Rafael." jawab Yudha.
"Apa...!!! kamu ijinkan Mauren ikut sama Rafael. Kamu tahu, saya bawa dia kesini buat ikut sama saya, bukan untuk kembali lagi sama pria itu. "
"Maaf Bu, Mauren yang minta sendiri."
"Kamu bisa paksa Mauren Yudha...!!! " bentak Adinda.
"Maaf Bu, saya tidak bisa melarang. Karena Mauren, saya lihat dia nyaman bersama Papi nya. "
.
__ADS_1
.
.