
"Seharusnya kamu itu larang, Ibu Adinda pergi sama kamu. Ini nih, jadi nya kalau punya pimpinan seenak nya sendiri, lagian kenapa sih? bisa nempel banget sama kamu? jangan - jangan kamu, pelet dia ya pakai dukun." ucap Ayu mengintrogasi Yudha.
"Ya Allah mba, pelet itu dan ke dukun itu dosa, ibadah kita bakalan tidak di terima." ucap Yudha.
"Sekali lagi, kamu bawa kabur Ibu Adinda, saya usulkan mutasi kamu. "
"Mba, lagian itu, bukan saya bawa Ibu Adinda. Dia masuk saja, ke mobil saya. Langsung duduk di depan, bersama saya. Mba tahu nggak, saya itu mau kondangan ke mantan. Kondangan nya kagak, sampe sini saya di salahkan lagi. Apa karena saya terlalu tampan, sehingga bupati kita, naksir sama saya? " ucap Yudha dengan pede nya.
"Si - siapa yang naksir kamu? " ucap Adinda yang tiba - tiba datang.
"Ibu, tolong jelaskan sama Asisten Ibu, disini saya tersudut, seakan semuanya salah saya."
"Jelas salah kamu, coba kalau kamu tidak mulai, saya tidak akan ikut sama kamu, dan Ayu tidak akan marah - marah. "
"Kok saya bu, saya tidak salah loh. "ucap Yudha menunjuk dirinya sendiri.
" Kamu saya hukum. " ucap Ayu langsung pergi.
"Ta - tapi . " ucap Yudha, melihat Adinda pun pergi.
****
"Kamu itu bagaimana sih? orang sepenting Pak Gubernur, kamu abaikan telepon nya, dari malam loh. " tegur Ayu.
"Ya Maaf, saya tidak cek ponsel." ucap Adinda santai.
"Kamu itu, orang nomer satu disini. Jangan gara - gara, masalah pribadi kamu kayak gini. Sebelum Yudha datang, kamu nggak begini. Tegas, nggak se enak sendiri. Apa perlu, saya usulkan dia untuk mutasi."
"Eh.. sana sini, harus ijin saya."
"Jujur, kamu kemana? "
"Saya ikut Yudha, ke pernikahan mantan nya."
"Ngapain? kamu mau pura - pura jadi pasangan nya Yudha. Mana ada yang percaya Adinda, kecuali kamu itu orang biasa."
"Eh, ternyata si mantan nya Yudha, ngikut tambah bete kan."
"Mantan nya ada berapa sih? "
"Tanya sama orang nya, saya nggak pernah tanya. " ucap Adinda.
"Gini sekedar saran, kamu selesaikan dulu masalah dengan Rafael, kalau sudah, kamu boleh mau gimana - gimana. Lagian, kamu suka sama Yudha, status kamu masih istri orang. Kalau sampai kena kasus selingkuh, Yudha terancam di pecat kamu di protes masyarakat gimana? "
"Saya capek, ingin jadi orang biasa. "
"Masyarakat masih mempercayakan semuanya pada kamu."
****
"Yudha." Adinda langsung duduk di samping Yudha.
"Ibu." ucap Yudha langsung menggeser tubuh nya.
"Maafkan saya ya. "
"Nggak apa - apa bu. "
"Kamu pasti kesel sama saya, karena gagal ke pernikahan mantan kamu."
__ADS_1
"Nggak apa - apa bu, lagian mantan."
"Lagian, bikin kesel saja hari ini. Kalau bukan pemimpin, sudah saya makan nih orang." ucap Yudha dalam hati nya, sambil tersenyum ke arah Adinda.
"Karina itu mantan ke berapa? "
"Dia, mantan ke dua. "
"Yang pertama? "
"Waktu SMA, Amel ke tiga, Tasya ke empat."
"Kamu banyak mantan nya, nggak tangkap banget, kamu playboy. "
"Bu, saya itu bukan playboy. Kalau saya playboy sekarang juga saya pacarin Ibu. Saya menjalin hubungan itu selalu serius, tapi mungkin belum jodoh saja."
"Oh gitu ya. "
"Saya itu, tadi ingin lihat Tasya untuk terakhir kalinya, ingin memenuhi permintaan terakhir nya. Tapi ternyata tidak bisa, dan jujur sama Tasya yang benar - benar hati saya itu sakit, dan membuat saya itu tidak semangat mengerjakan sesuatu. Tapi saya berpikir lagu, buat apa terlalu larut dalam masalah. Masih ada hari esok, buat saya harus jalani."
"Entah Yudha, kalau nasib saya itu bagaimana nanti nya, apakah bisa saya lepas, sampai tubuh saya ini, merasakan kebal apa yang telah Rafael lakukan sama saya. Dan saya minta maaf ya, sebagai ganti nya kamu mau apa? "
"Saya tidak mau apa - apa bu, saya hanya ingin merokok dan minum kopi, itu terasa lebih baik. "
"Ih.. kenapa sih, kamu itu perokok. "
"Saya kan memang doyan merokok."
"Ganti napa. "
"Kenapa? mantan saya semua nya, baik - baik saja bu. "
"Ibu siapa nya saya? main melarang segala."
"Calon istri kamu, eh.. maksud nya atasan kamu." ucap Adinda dengan menahan malu, sedangkan Yudha dalam hati nya tertawa.
****
"Papi, Mauren mau bertemu sama Mami." rengek Mauren.
"Kita jalan - jalan ke luar negeri bagaimana?" ucap Rafael mengalihkan pembicaraan.
"No Papi, Mauren ingin ketemu sama Mami. "
"Rafael, apa kamu tidak serahkan saja, Mauren sama Adinda. Anak nya ingin sama Mami nya, kamu jangan halangi dia untuk bertemu sama Mami nya." ucap Wita.
"Kamu tidak usah ikut campur, ini urusan saya sama Adinda."
"Rafael, saya juga istri kamu, mau sampai kapan kamu pertahankan Adinda. Istri yang sudah lama kamu tidak nafkahi, hanya menyiksa secara batin nya saja."
"Saya itu mencintai dia, tapi karena dia sering membantah saya, hukuman sepanjang hidupnya harus dia terima."
"Ok, saya masih sabar. Jangan sampai, saya yang turun tangan nanti." ucap Wita langsung beranjak pergi.
***
"Mami, Mauren kangen Mami. " ucap Mauren melalui panggilan telepon nya.
"Mami juga sayang Mauren, kamu sabar sayang, suatu saat Mami akan bawa kamu."ucap Mauren dari seberang.
__ADS_1
" Mami, ada pertunjukan biola, Mami bisa hadir. "
"Mami usahakan sayang. "
"Mami harus hadir, lusa besok."
"Iya sayang, Mami janji akan hadir. "
"Mauren juga kangen sama Mami, Mami kan belum pernah hadir, melihat Mauren tampil. "
"Tunggu Mami. "
"Bye Mami, i love you. "
"I love you too."
Adinda menatap Photo Mauren bersama nya, senyum Adinda melihat photo putri nya. Adinda mencium bagian wajah di photo Mauren.
"Mamah janji, kita akan bersama sayang. Tanpa Papi, kita akan bahagia."
*****
"Gugatan Ibu, sudah saya masukan, bersama bukti visum nya juga. " ucap Wildan pengacara Adinda.
"Terima kasih ya, semoga saya juga, memenangkan gak asuh atas Mauren."
"Pasti Bu, saya sudah memberikan bukti, ke pengadilan agama, bagaimana Pak Rafael memperlakukan Ibu, dan dia juga memiliki istri di luar sana. "
"Apa kamu, menemukan anak yang masih ada? "
"Saya rasa, semua nya langsung di gugurkan."
"Kalau masih ada, itu saudara anak saya."
"Tidak ada, waris dari Pak Rafael hanya putri dari kalian. Makan nya, Pak Rafael sangat sayang sama Mauren. Hanya saja, Pak Rafael menjadikan Mauren alat."
"Terima kasih banyak, maaf merepotkan."
"Nggak apa - apa, santai saja."
****
"Mas."
"Tasya, kamu ngapain datang kesini? " ucap Yudha saat setelah upacara bendera hari senin, Tasya menghampiri Yudha.
"Kenapa Mas tidak datang? "
"Saya waktu itu. "
"Yudha." sapa Karina.
"Siapa ini Yudha? " tanya Karina.
"Kenalkan Tasya, Karina pacar saya."
.
.
__ADS_1