Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Selalu Melindungi


__ADS_3

"Sayang kita pulang yuk. " ajak Adinda.


"Om nya harus ikut. " ucap Mauren.


"Sayang, Om nya masih cuti sayang. "


"Om nya ikut ya, kalau tidak ikut, Mauren tidak mau pulang. "


"Mauren." tegur Adinda.


"Nanti ya cantik. "


"Nggak mau. " ucap Mauren.


"Mauren, jangan gitu ah. "


"Om..!! " ucap Mauren dengan wajah memelas.


"Ok, kalau gitu, om antar kalian. "


"Asik....!! " ucap Mauren.


"Yudha, kamu jangan turutin Mauren." ucap Adinda.


"Nggak apa - apa. " ucap Yudha.


Yudha masuk kedalam kamar nya, dan memasukan semua pakaian nya. Ibu Nuha berdiri di depan kamar Yudha, melihat anak nya sedang berkemas.


"Kamu kembali nak?"


"Iya Bu, saya mau kembali dinas."


"Syukur lah, ibu ikut senang. "


"Kalau begitu, Yudha pamit bu."


"Iya, hati - hati. "


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam."


Adinda langsung bersalaman dengan Ibu Nuha, begitu juga dengan Mauren. Ibu Nuha, tidak banyak bicara. Hanya, mengantarkan sampai pintu rumah.


****


"Mauren tidur. " ucap Adinda.


"Capek dia. " ucap Yudha sambil mengemudi kan mobil milik Adinda.


"Tunggu, kamu kok bawa koper segala? "


"Saya kan, sudah kembali dinas. "


"Siapa yang suruh, kamu masih di rumah kan."


"Bukan nya, Mauren minta saya ikut, saya berarti jadi Ajudan nya dong. "


"Ih.. lagian, siapa juga, yang nyuruh kamu jadi Ajudan nya Mauren. "


"Kan kamu, waktu itu. "


"Iya, tapi kamu masih tahap bebas tugas."


"Kalau Mauren yang minta gimana? "


"Saya nggak ijin kan."

__ADS_1


"Anak nya ngambek. "


"Tetap saja. " ucap Adinda sambil tersenyum dan memalingkan wajah nya.


****


"Pelan - pelan, nanti bangun. " ucap Adinda, saat Yudha menidurkan Mauren di kamar nya.


Mauren menggeliat kan tubuh nya, dan sempat terbangun, tapi Adinda langsung menepuk - tepuk pahanya, agar tidur kembali.


"Saya pamit dulu. "


"Iya makasih ya. "


"Iya, selamat malam. "


"Malam."


Saat keluar dari kamar Mauren, Askana dan Ayu sedang menatap tajam ke arah Yudha. Dan Yudha menoleh ke kanan dan kiri, dengan santai, langsung berjalan mendekati mereka berdua.


"Aksana, enak ini orang, kita apakan ya? " ucap Ayu.


"Enak nya mba, kita masak aja deh. "


"Mau di masak buat apa? "


"Kita buat Yudha guling. "


"Ok juga ide kamu. "


"Sudah, ngomong ngaco nya? " ucap Yudha.


"Kamu itu, nggak ada kapok nya. Malah jalan dan keluar tanpa ada yang ngawal. "tegur Ayu.


" Mba, lagian yang ke rumah itu Ibu Adinda loh, bahkan anak nya yang minta. Kalau tidak percaya tanya saja, sama Mauren. " ucap Yudha membela diri.


"Saya tidak percaya mba. " ucap Aksana.


"Ya sudah , kalau tidak percaya sih, yang penting sudah berkata jujur. "ucap Yudha meninggalkan kedua nya.


" Lama - lama, itu Ajudan saya usulkan dia untuk mutasi di daerah rawan konflik. "celetuk Ayu.


" Tinggal usul kan saja. " ucap Aksana terkekeh.


*****


"Nggak mau Papi, nggak mau. " ucap Mauren, saat pagi sekali Rafael sudah ingin membawa Mauren.


"Rafael, sudah tahu, anak nya tidak mau. Kenapa sih, harus kamu paksa. " ucap Adinda kesal, saat dirinya sudah siap rapih berpakaian dinas.


"Mauren, masih dalam hal asuh saya, jadi saya berhak ajak Mauren pulang. "


"Tapi si anak tidak mau. "


"Mauren kamu jangan bantah Papi. " bentak Rafael.


"Oh, kamu gitu ya cara nya. Pantas, Mauren kabur. Kamu yang biang masalah nya. "


"Kamu bicara soal biang masalah nya, apa tidak salah dengar. "


"Hah... kenapa? kamu tidak mau mengakui. Anak itu, kalau sudah tidak merasakan nyaman, dia akan berontak. Anak seusia Mauren ini, sudah bisa merekam. Merekam semua nya, apalagi Papi nya yang temperamen seperti kamu. "ucap Adinda.


" Saya tidak mau berdebat lagi sama kamu, dan kamu lebih baik pergi. "


"Mauren ayo ikut Papi. " Rafael menarik paksa Mauren.


"Nggak mau Papi... nggak mau...!!! " teriak Mauren.

__ADS_1


"Rafael, kamu jangan paksa Mauren. " bentak Adinda.


"Mauren harus pulang sama saya, ayo kita pulang nak. "


"Nggak mau...!!! "


Aaaaarrrrgghhhhhh


Mauren menggigit punggung tangan Rafael, lalu berarti ke arah Yudha, dan memegang tangan Yudha sangat erat.


"Kamu nakal ya Mauren, sudah berani sama Papi. "


"Hiks.. hiks.. . Mauren tidak mau ikut Papi. " isak Mauren ketakutan, dan Adinda langsung mengangkat tubuh Mauren.


"Keluar kamu, jangan buat malu. Sekali lagi, kamu kemari buat keributan. Saya akan menyeret kamu lagi, ke kantor polisi." ucap Adinda.


"Kamu jangan mentang - menang berkuasa."


"Dan kamu juga, jangan mentang - mentang, bisa se enak nya kamu itu menyiksa saya dan Mauren. "


"Maaf Pak Rafael, lebih baik bapak pergi. Jangan sampai, mengundang keributan. " ucap Yudha.


"Diam kamu, jangan ikut campur. Ini urusan keluarga, kamu hanya orang luar , lebih baik kamu tinggalkan kami."


"Maaf Pak, saya disini sebagai Ajudan dari ibu Adinda, saya akan melindungi dia. "


"Melindungi dalam hal apa? kamu itu jangan pura - pura melindungi, jujur saja kalau kamu itu adalah kekasih istri saya. "


"Kalau iya kenapa? saya adalah kekasih istri anda. "


"Kurang ajar...!!!


Rafael menghajar Yudha, tapi berhasil di tangkis nya, Rafael berusaha untuk memukul Yudha tapi Yudha lebih cepat menghindar dan langsung memelintir tangan Rafael.


" Apakah lelaki sejati itu, bisa nya dengan kekerasan, apa seperti ini kamu menyelesaikan sebuah masalah. Ingat, surat cerai turun, Adinda akan saya nikahi. " ucap Yudha mendorong kasar Rafael hingga tersungkur.


"Berarti benar, berita itu kalian pacaran. "ucap Rafael.


" Pergi kamu, jangan kembali lagi kesini.Yang di katakan Yudha, sudah sangat jelas. " ucap Adinda.


"Ok, saya akan pergi, tapi ingat hak asuh Mauren akan jatuh pada saya. " ucap Rafael menatap Mauren, dan Mauren mengencangkan kedua tangan nya di leher Adinda.


****


"Makasih ya, kalau tidak ada kamu, pasti dia sudah kasar. " ucap Adinda.


"Sama - sama, jujur saya tidak ingin melihat seorang wanita apalagi anak kecil di kasarin seperti itu. Dan maaf, kalau saya mengaku menjadi pacar kamu. "


Adinda tersenyum, sedang kan Mauren tersenyum sambil menunjukkan deretan gigi nya yang berlubang.


"Om Yudha, sayang sama Mami ya? " ucap Mauren polos.


Yudha lalu berjongkok sejajar dengan tubuh Mauren, lalu memegang kedua pundak nya.


"Om sayang sama Mauren, om sayang sama Mami nya Mauren, kan Om disini sebagai Ajudan nya Mami sama Mauren. Tugas nya, melindungi Mami sama Mauren, dan membantu semua masalah yang tidak bisa di atasi sendiri. "


"Mauren ingin punya Papi seperti Om Yudha, Papi itu kasar. "


"Mauren, maafkan Mauren ya. "


"Tidak apa - apa bu. " ucap Yudha tersenyum.


"Kenapa saya, jadi berbunga - bunga seperti ini ya? apalagi saat dia bilang, kalau dia itu kekasih saya pada Rafael. Seandainya itu ah.... Yudha, kamu itu buat saya baper lagi. Kalau begini, saya tambah berharap kalau hati ini tidak bertepuk sebelah tangan." ucap Adinda dalam hati nya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2