
"Mantan istri kamu, akan menikah. Dan apa kabar nya, dengan status saya." sindir Wita pada Rafael.
"Kamu masih berharap, melanjutkan pernikahan ini? katanya kamu benci sama saya, karena saya memanfaatkan kamu." ucap Rafael.
"Saya mengurung kan niat itu, saya sedang hamil anak kamu."
"Kamu jangan mengajak saya untuk bercanda, saya sedang tidak ingin bercanda."
"Kamu tidak mau tanggung jawab hah.. dan pura - pura, bicara dengan santai nya kalau saya mengajak kamu bercanda. Nih.. baca..!!" ucap Wita melemparkan, surat dari rumah sakit.
Rafael pun membuka amplop tersebut, lantas membaca nya, dan langsung melemparkan surat keterangan itu, ke arah wita.
"Saya akan tanggung jawab pada anak kita, tapi saya sudah tidak mau lagi sama kamu."
"Kurang ajar kamu Rafael, kamu seolah membuang saya dan tidak ingat kah, bagaimana kamu merayu saya, benar - benar kamu itu, hanya memanfaatkan saya demi bisnis."
"Kamu tahu, ya sudah. Ngapain kamu capek - capek, koar - koar tinggal terima nasib saja."
"Rafael...!!! "
"Lebih baik, anak ini tidak tahu bapak nya siapa, dari pada tahu kalau bapak nya itu seorang pria brengsek yang tidak tahu diri."
"Kalau kamu tidak suka, silahkan pergi. Kalau kamu, butuh biaya saya siap tanggung jawab. Kamu lihat Mauren, saya penuhi kebutuhan dia, walau saya seperti ini sama anak saya tidak pelit."
"Masa bodoh dengan itu, saya menyesal mengatakan ini. Membuat saya sakit hati, ingat kamu terakhir lihat saya, jangan harap kamu cari anak kita." ucap Wita langsung pergi meninggalkan Rafael.
Seorang wanita datang, dan langsung bergelayut di leher Rafael, dengan mengalungkan kedua tangan nya dari belakang. Sebuah ciuman, pun di daratkan di kedua pipi Rafael.
"Apakah, wanita itu sudah membenci kamu sayang? dan kamu jadikan saya sebagai ratu."
"Tentu sayang, kamu sekarang jadi satu - satu nya. Dan ingat sayang, apapun yang kamu mau, saya akan penuhi."
"Sungguh!! kalau saya ingin minta berlian, barang - barang branded keluaran terbaru, apa kamu akan belikan?"
"Pasti, apa sih yang tidak untuk kamu."
"Oh... Rafael, jadi saya semakin cinta sama kamu." ucap Rita, wanita yang kini menjalin hubungan dengan Rafael.
Tangan Rafael, menarik tangan Rita, dan langsung duduk di pangkuan nya. Tangan Rafael, tak henti menjelajahi setiap lekuk nya. Hingga terlihat, Rita begitu sangat menikmati.
"Kamu puaskan saya, kamu akan saya bahagia kan seperti ratu."
"Ok baby."
****
"Coba, Mauren hitung ada berapa jumlah kambing, yang ada di buku ini." ucap Yudha saat membantu mengerjakan PR Mauren.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan." ucap Mauren menghitung nya.
"Sekarang tulis angka delapan nya." ucap Yudha lalu Mauren menulis nya.
"Sekarang Mauren, tebak ini gambar apa?"
"Gambar kelinci."
"Tulis lagi, kelinci."
"Duh, serius banget sih, Mauren sama Papi. Sedang mengerjakan apa?" ucap Adinda sambil membawakan segelas kopi dan susu.
"Ada PR Mami, tadi di bantu sama Papi. Nih udah selesai, makasih Papi."
__ADS_1
"Sama - sama sayang, nanti kalau ada yang sulit kasih tahu Papi."
"Ok Papi."
"Sekarang, di minum dulu susu nya." ucap Adinda, dan Mauren langsung meminum susu nya hingga setengah botol."
"Mami, Mauren minta di buatkan pizza."
"Nanti mami buat ya."
"Papi saja, Papi bisa kok."
"Emang enak? "
"Belum coba ya."
Yudha berjalan ke arah dapur, di ikuti oleh Adinda dan Mauren. Tangan nya, mengambil beberapa bahan untuk membuat pizza, Yudha pun meminta Adinda membantu nya untuk mengiris topping yang akan di taruh di atas adonan yang akan di masukan ke dalam oven.
"Ayam nya habis ya?" tanya Yudha, mencari di dalam kulkas.
"Papi ganti sama sosis saja." jawab Mauren.
"Ok." ucap Yudha, meminta Adinda untuk memotong sosis nya.
Yudha membuat adonan untuk Pizza sedang kan Adinda sedang mengiris sosis, paprika, jamur. Sedang kan Mauren, seperti juri yang terus memperhatikan kedua nya.
Adonan pun jadi, Yudha langsung menaruh anek topping nya dan tidak lupa keju Mozarella nya,dan di masukan ke dalam oven. Mauren dengan menatap ke arah oven, menunggu pizza nya matang.
Setelah menunggu, pizza nya matang dan siap untuk di makan. Yudha memotong pizza tersebut, hingga menjadi 8 potong pizza berukuran sedang.
"Coba sayang." ucap Yudha sambil memberikan nya pada Mauren, dan langsung menggigit nya.
"Ehm... enak Papi."
"Kok bisa."
"Ya bisa lah, memang nya perempuan saja yang bisa buat ini itu. Lelaki juga bisa."
"Sombongnya mulai."
Hahahahaha...
"Mauren sama Mami, mau apa nanti Papi buat kan."
*****
"Ayu, kok saya deg - deg an ya, padahal ini pernikahan kedua loh bukan yang pertama." ucap Adinda.
"Ya mungkin beda sama yang kemarin, eh dengar - dengar kemarin, ada gosip di TV, pasangan nya Rafael ganti lagi buka si Wita." ucap Ayu.
"Bodoh amat, saya nggak peduli."
"Emang dasar playboy."
"Ya gitu, makan nya saya ambil Mauren dari dia, jangan sampai pengaruh buruk dari dia menempel pada Mauren."
"Kamu beruntung, memilih Yudha. Dia pria terbaik, dari segi perhatian nya begitu sangat besar."
"Iya, kata kamu benar. Saya butuh pria seperti dia, buat apa memiliki segalanya tapi hanya bisa menyakiti."
"Semoga setelah menikah, Yudha tidak berubah."
__ADS_1
"Amin.. saya yakin, Yudha adalah pilihan yang tepat."
*****
"Nak." panggil Ibu Nuha.
"Iya bu." ucap Yudha.
"Ini ada sesuatu buat kamu."
"Apa ini bu?" Yudha membuka sebuah kotak perhiasan.
"Berikan pada Adinda, ini adalah Mas kawin Ibu dari Ayah kamu."
"Bu, ini kenangan dari Ayah."
"Berikan pada Adinda, simpan lah untuk kenang - kenangan, kalau butuh boleh di jual."
"Ibu, ini kan."
"Tidak apa - apa, berikan nak pada Adinda. Karena janji Ibu, akan memberikan ini pada menantu Ibu nanti, kalau Ibu meninggal dunia, untuk apa nanti nya, kamu juga tidak akan menjual nya."
"Bu makasih ya, saya akan menyuruh Adinda menyimpan nya."
"Sama - sama, semoga besok lancar pernikahan kamu. Dan Adinda adalah jodoh dunia akhirat kamu, Ibu doa kan kamu bahagia selama nya."
"Amin bu, amin...!! "
*****
Di hari pernikahan Mauren mengamuk, menangis ingin di dandanin seperti Mami nya yang memakai melati. Ibu Mira terus menenangkan nya, hingga Pak Faisal pun tidak bisa.
Huuuuaaaaaa
"Mau pakai melati kayak Mami, huuuuaaaa..!!
" Mauren pake mahkota saja ya, ini juga cantik."bujuk Ibu Mira.
Huuuuaaaaaa
"Hiks.. hiks.. nggak mau, nggak mau.... mau pakai melati...!!! "
"Aduh Ayah, ini gimana cucu kita minta melati. Nggak ada lagi, gimana ini bisa - bisa nangis nya sampai acara."
"Ayah juga sudah menyerah, di tolongin malah tambah menangis. "
"Taaaaarraaaa... ini bunga Melati." ucap Aksana membawa beberapa pucuk bunga melati, yang dia petik di halaman belakang kantor Bupati.
Mauren diam, dan menatap bunga yang di bawa Aksana, tapi saat melihat bentuk nya berbeda, Mauren menangis kembali.
Huuuuaaaaaa
"Mau nya seperti Mami, hiks.. hiks.. "
"Ini bisa sayang, di taruh di atas kepala, nanti Om buat ya di ikat sama benang." ucap Aksana.
Huuuuuuaaaaaa
.
.
__ADS_1
.