
"Pacar Mas? " tanya Tasya.
Karina langsung menggandeng lengan Yudha di depan Tasya. Terlihat kedua mata Tasya tampak berkaca - kaca.
"Ini pacar Mas. " jawab Yudha.
"Cepat sekali Mas, berpaling dari saya. Padahal, saya masih mencintai Mas, dan berharap saya bisa cerai dengan suami saya."
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, bagaimana juga sekarang dia suami kamu. Belajar lah mencintai dia, saya pun sudah belajar melupakan kamu. Dan kamu harus tahu, ini mantan saya, dia cinta kedua saya, kita balikan lagi."
"Oh begitu ya. "
"Sayang, panas pulang yuk." ucap Karina langsung mengajak Yudha pergi, dan meninggal kan Tasya yang masih berdiri mematung.
Dari jauh, Adinda melihat dengan menyilang kan kedua tangan nya, sambil menatap tajam ke arah Yudha yang sedang berjalan bergandengan tangan.
"Aksana."
"Siap Bu. "
"Ajudan itu, tidak jauh sama atasan nya kan?"
"Benar bu. "
"Kenapa, teman kamu bisa keluar dari zona tanggung jawab nya? "
"Maaf Bu, tadi dia izin ke belakang."
Adinda langsung melanjutkan langkah nya, dan saat sampai di area ruang tengah kantor Bupati, Yudha sudah bergabung kembali.
"Ayu."
"Siap Bu. "
"Hubungi, Pak Kamil temui saya sekarang."
"Pak Kamil, Kepala Dinas BKD? "
"Iya, saya tunggu sekarang." ucap Adinda masuk.
"Mampus." bisik Askana pada Yudha.
"Salah apa lagi" ucap Yudha bingung, dan Ayu langsung menatap ke arah Yudha.
****
Di ruang rapat, Pak Kamil, Ayu, Yudha, dan Aksana diam dan tak berani menatap ke arah Adinda. Saat Adinda meminta nama salah satu pegawai dari dinas ketenagakerjaan dan Staf DPRD.
"Tolong, buatkan SK mutasi, lempar ke kabupaten lain."
"Siapa Bu? "
__ADS_1
"Tasya Maharani, dari Dinas Ketenagakerjaan, Karina Agatha, staf DPRD. Saya ingin kedua nya, mutasi dari kabupaten sini, ke kabupaten lain. Terserah dimana, asal jangan disini."ucap Adinda, dan membuat Yudha langsung mengangkat wajah nya. Begitu juga Ayu, dan aksana.
" Dengan alasan apa? " tanya Pak Kamil.
"Melanggar kode etik kinerja." jawab Adinda.
"Maaf Bu, kode etik kinerja apa? " tanya Yudha.
"Kamu Yudha, kamu saya jadikan supir, asisten pengganti Ayu, dan Ajudan, semua nya jadi satu. Aksana, kamu bersama Ayu, saya tempat kan di kantor Bupati, mengurus urusan dalam, urusan lain - lain, adalah Yudha. Tolong buat kan surat tugas untuk mereka. " ucap Adinda.
"Baik Bu. "
"Jangan ada yang bantah, siapa yang bantah, angkat kaki sekarang."
****
"Bu."
"Ada apa? "
"Kenapa kedua nya di mutasi? kode etik yang gimana mereka langgar? "
"Mengganggu kamu, disaat tugas. Jangan campur adukan urusan pribadi sama pekerjaan. Ini hukuman buat mereka, dan kamu akan melakukan pekerjaan yang saya kasih, 24 jam harus siap. "
"Alasan yang tidak masuk logika. "
"Kamu protes? silahkan protes." ucap Adinda kesal.
"Bukan nya, yang mencampur urusan pribadi dan pekerjaan itu kamu. Jujur saja, jamu itu cemburu melihat saya bersama kedua nya. "
"Kamu berani sama saya? "
"Apa saya takut sama kamu? saya manusia, bukan robot yang bisa di atur. Kalau karena ini, jangan kamu memutuskan se enak jidat. Mereka punya hati, dan saya juga punya hati dan kesabaran ada batas nya. Kalau memang tidak suka dengan mereka, saya bisa bicara dengan mereka agar menemui saya di luar, dan tidak hubungi saya saat saya berada bersama kamu. Itu hak kamu, suka sama saya, tapi bukan begini cara nya. Kalau seperti ini, saya mundur saya. Dan mutasi kan saya yang jauh."
"Kalau saya suka sama kamu kenapa? nggak boleh. Hak saya, bagi orang yang menyukai seseorang, mau berbuat apa sama saingan nya. Kamu harus tahu, buat mata saya sakit, lihat mereka berdua. Apalagi telinga saya panas, saat kamu teleponan dengan siapa itu."
"Saya hargai kamu suka sama saya, tapi tidak begini juga. "
"Apa kamu, mau jadi kekasih gelap saya?"
"Maaf Bu, saya tidak bisa. " ucap Yudha pergi, meninggal Adinda.
Ayu datang menghampiri Adinda, dan bertepuk tangan. Sedangkan Adinda, menatap ke arah Ayu, seakan Ayu sedang menertawakan nya.
"Keterlaluan kamu, saking suka nya kamu berbuat seperti itu. Dimana harga diri kamu, memalukan. "
"Saya ingin, memiliki suami seperti Yudha." ucap Adinda dan Ayu langsung menatap Yudha dengan tajam.
"Apa maksud kamu? "
"Saya merindukan sosok pria yang sayang dan tulus. Kamu tahu, saya lihat dari cara dia memperlakukan Mauren, memperlakukan saya, sangat berbeda dari Rafael. Saya ingin memiliki nya, kamu paham kan."
__ADS_1
"Tapi bukan seperti ini, salah cara kamu. Meminta memaksa, Yudha bukan barang, dia manusia. "
"Bantu saya, untuk dekat dengan dia."
"Nggak, saya tidak akan bantu."
*****
Yudha menghembuskan asap rokok nya, hingga terlihat habis satu bungkus rokok. Aksana, yang menemani Yudha, ikut menghisap rokok dan segelas kopi hitam.
"Menurut saya, ibu Adinda itu, ada sesuatu." ucap Aksana.
"Dia menyukai saya. "
Uhuk.. uhuk.. uhuk
Askana langsung tersedak, dan mematikan puntung rokok nya, sedang Yudha masih terus menghisap rokok nya.
"Kata siapa? "
"Saya paham, saya sering berhubungan dengan banyak wanita. Dan apa yang di rasakan, Ibu Adinda itu saya paham. Dan dia sudah jujur, dan saya langsung tolak dia."
"Wah, jarang - jarang di tembak pemimpin."
"Bukan nya begitu, dia masih status istri orang, walau sedang proses. Dan saya tahu, dari dulu dia memiliki rasa sama saya. Wajar dia seperti itu, dia gunakan kekuasaannya."
"Ribet, jadi kamu."
****
"Saya paham, kamu merindukan sosok pria yang benar - benar menyayangi kamu. Tapi masalah nya, kamu itu mencintai sepihak. Ini masalah intern jangan sampai bocor ke luar, cukup antara kita saja. "
"Saya baru, mencintai seorang pria lagi, saya itu menyukai nya pada pandang pertama. Saat dis perlakukan Mauren, begitu Sangat sayang, berharap dia bisa jadi Papi sambung nya. itu khayalan saya, kata kamu benar, seharusnya seorang pemimpin tidak seperti ini. Dan tidak gunakan, kekuasaan untuk kepentingan pribadi. "
"Mulai sekarang, kamu jaga jarak, diam, dan biarkan Yudha dengan hidup nya. Kemarahan kamu, sesaat yang akan membuat semua orang tidak suka sama kamu. Dan maaf, saya sudah meminta Pak Kamil, untuk batalkan semua nya. "
"Kamu, Asisten tapi membuat keputusan sendiri tanpa ijin dari saya."
"Maafkan saya, mulai saat ini, beribawa lah." ucap Ayu langsung berdiri.
*****
"Apakah anak saya masih seperti itu? " ucap Pak Faisal dari seberang.
"Saya sudah atasi Om. " ucap Ayu.
"Kamu cari tahu, pria itu. Saya ingin tahu, tentang dia lebih dalam lagi. "
"Baik Om, saya akan kirim informasi nya, setelah saya dapat kan semua nya."
.
__ADS_1
.
.