Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Melamar Mu


__ADS_3

"Nggak usah Mirna, biar saya saja." ucap. Adinda.


"Ssssttt ibu duduk saja, sama Pak Bos, biar Mirna yang masakin mie rebus nya." ucap Mirna pada Adinda.


Adinda berjalan ke arah Yudha, dan Yudha hanya bisa mengusap wajah nya dengan kasar.


"Yank, kalau sudah nikah, jangan bawa Mirna ya, dia buat asisten bupati selanjutnya saja." bisik Yudha.


"Kenapa?" bisik Adinda kembali.


"Bikin rusak suasana romantis saja."


Adinda terkekeh, hingga Mirna membawakan dua mangkok mie rebus, dan tak lupa menuangkan air minum untuk kedua nya.


"Selamat makan." ucap Mirna langsung pergi.


"Terima kasih mba Mirna." balas Yudha.


Mirna terkekeh, dan langsung menemui Aksana dan Pak Danang, kedua nya tertawa terbahak - bahak.


"Keren Mirna, hihihihi... " ucap Aksana.


"Kamu berani Mirna, buat mereka kesel. Emang enak, pacaran di depan kita - kita." ucap Pak Danang.


"Hihihihi... lucu ya, kalau tahu pasti bakalan marah."ucap Mirna.


" Bukan marah lagi, yang ada kalian saya mutasi. " ucap Aksana menurut gata bicara Adinda.


Hahahahaha...


"Senang ya. "


Ketiga nya langsung berhenti, saat Yudha berdiri dengan menyilangkan kedua tangan nya. Aksana, Mirna dan Pak Danang langsung bubar jalan.


"Gitu ya sama teman, awas aja ya kalian." ucap Yudha, dan langsung mereka bertiga tersenyum.


Yudha berjalan mendekat dengan berkacak pinggang, sedang kan Mirna, hanya tersenyum sambil bersembunyi di belakang tubuh Aksana.


"Anu Pak Bos, ini ide Mas Aksana." ucap Mirna.


"Enak saja, ide Pak Danang."ucap Aksana.


" Eh.. bukan, fitnah saja kamu Aksana." ucap Pak Danang.


"Sudah, jangan saling tuduh. Kalian jahat banget, ganggu kita sedang romantis."ucap Yudha sambil cemberut.


" Anak Bapak , kasihan banget cup... cup.." ucap Pak Danang sambil menepuk pundak Yudha.


Hiks... hiks... hiks..


"Kalian jahat." ucap Yudha samil berpura - pura menangis.


Hahahahahaha..


"Jahat kalian." ucap Yudha langsung memukul kecil lengan Aksana.


****


"Ibu kenapa?" tanya Ayu.


"Mauren kok, belum pulang ya." jawab Adinda, dengan cemas.

__ADS_1


"Mungkin sedang di jalan bu." ucap Mirna.


"Nggak mungkin, ini sudah mau malam."


"Ada apa?" tanya Yudha.


"Mauren, belum pulang." jawab Adinda.


"Tunggu sebentar lagi, mungkin sedang di jalan."


"Seperti nya, tidak."


"Jangan bicara seperti itu, tunggu saja." ucap Yudha menenangkan.


Tak lama, sebuah mobil masuk ke dalam halaman rumah dinas, setelah berhenti tepat di depan pintu mobil berhenti.


"Mami...!!! " teriak Mauren langsung turun dari mobil nya.


"Sayang...!!! " Adinda langsung memeluk tubuh Mauren.


"Mami kangen."


"Sama Mauren juga kangen Mami."


"Ini belanjaan Mauren." ucap Rafael sambil menyerahkan 3 paper bag.


"Terima kasih." ucap Adinda.


"Kalau begitu, saya pamit." ucap Rafael.


"Papi." panggil Mauren.


"Kenapa sayang?"


"Sampai ketemu, liburan nanti Papi."


"Papi akan merindukan kamu."


"I love you."


"I love you too."


Rafael langsung berpamitan pada Adinda dan Yudha, lalu langsung meninggal kan rumah dinas.


"Tuh, Rafael. bawa pulang kan."


"Saya kan panik Mas."


"Kalau kata Mas tidak, y tidak. "


*****


Kedua orang tua Adinda datang, dan langsung mempersiapkan acara lamaran dan pertunangan Adinda bersama Yudha.


Adinda berdandan cantik, dengan mengenakan kebaya, dan rambut yang di tata cantik oleh MUA langganan nya.


"Mami." ucap Mauren.


"Hi.. kamu cantik banget sayang." ucap Adinda saat melihat putri nya, di make up cantik.


"Mami juga cantik."

__ADS_1


"Eh, Yudha udah datang sama ibu nya." ucap Ayu.


Adinda keluar dari kamar nya, bersama Mauren. Terlihat Yudha mengenakan pakaian batik, dengan celana panjang warna hitam.


Yudha tersenyum, saat melihat Adinda datang bersama dengan Mauren. Senyum Adinda pada Yudha, di balas dengan tatapan teduh Yudha.


"Terima kasih Pak, bu, sudah menyambut dan menerima kedatangan kami dengan baik. Sampai suguhan nya, banyak. Sedang kan kami hanya datang berdua, karena Ayah nya Yudha sudah meninggal dunia sejak umur Yudha 5 tahun." ucap Ibu Nuha.


"Saya, sebagai orang tua Adinda. Sangat berterima kasih karena niat tulus nak Yudha, ingin mengajak serius anak saya.Untuk membina suatu hubungan, yang lebih serius lagi melangkah bersama menuju masa depan." ucap Pak Faisal.


"Terima kasih Pak, niat tulus saya, bapak sama ibu menerima nya. Insya Allah saya ingin, membawa Adinda membentuk suatu keluarga kecil yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Dengan membawa ibu saya kemari, dengan niat serius ingin mengikat saya dan Adinda, lalu menuju ke pelaminan. Insya Allah, niat baik kami ini, menjadi barokah. Buat kami berdua, karena kami sama - sama sudah dewasa, alangkah baik nya tidak main - main lagi." ucap Yudha.


"Kalau Saya, tergantung Adinda bagaimana keputusan kamu." ucap Pak Faisal.


"Bismillah, saya terima lamaran Mas Yudha, karena saya yakin Mas Yudha adalah pilihan hati saya."ucap Adinda.


" Alhamdulillah." ucap Yudha dan Ibu Nuha.


"Bismillah, hari ini Mas lamar kamu." ucap Yudha, langsung menyematkan cincin di jemari Adinda.


"Untuk acara pernikahan nya, setelah Adinda selesai masa idah." ucap Yudha.


****


"Akhirnya, Mas bisa melamar kamu." ucap Yudha sambil menyadarkan kepala Adinda di dada nya.


Kedua nya duduk di kursi taman, sambil menatap bintang dan bulan di langit.Tangan mereka saling menggenggam, sesekali Yudha mencium punggung tangan Adinda.


Sedangkan di dalam, Ibu Heni menatap mereka dari dalam bersama Pak Faisal. Terlihat dari jendela tanpa gorden, Adinda sangat bahagia bersama Yudha.


"Semoga saja, Yudha adalah pilihan terakhir Adinda." ucap Ibu Heni.


"Amin bu, semoga apa yang tidak di dapat kan oleh Adinda dari Rafael, Yudha bisa memberikan nya.


****


" Kamu tahu nggak, kalau bupati kita mau menikah sama Ajudan nya." ucap Lusi, pada Karina.


"Menikah?" ucap Karina.


"Iya menikah, kamu tidak tahu gosip nya?"


"Nggak tahu." ucap Karina dengan hati yang kecewa.


"Pantas, Yudha tidak hubungi saya. Sudah lama dia tidak chat, atau mengajak ketemuan. Ternyata , dia itu pacaran sama Ibu Adinda." ucap Karina dalam hati nya.


****


"Iya, saya udah tunangan sama Ibu Adinda." ucap Yudha saat melakukan panggilan telepon.


"Kamu jahat, padahal saya itu ingin balikan lagi sama kamu. Saya kira, kita dekat itu bisa seperti dulu lagi." ucap Karina dari seberang.


"Maafkan saya, Adinda itu pilihan hati saya. Kita lebih baik berteman, dan memang kita itu tidak bisa bersama sejak dulu juga."


"Iya, tapi hati saya menangis."


"Maaf kalau membuat kamu, terluka dan sedih. Tapi jujur, saya tidak ada niat untuk menyakiti kamu dari awal. Karena awal. ketemu, saya hanya ingin dekat menyambung tali silaturahmi."


"Saya do'akan semoga kamu bahagia, dan lancar sampai hari H. "


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2