
Yudha menarik dua koper masuk ke dalam vila, sedangkan Adinda berjalan mengelilingi sekitar Vila. Terdapat sebuah kolam renang, dengan di tepi nya terdapat kursi panjang, yang bisa digunakan untuk berjemur.
"Mas.. !!! kita bisa renang di sini."ucap Adinda.
Yudha mendekat, dan langsung memeluk Adinda yang sedang berdiri di tepi kolam. Adinda lalu memutar tubuhnya, dan mengalungkan kedua tangan nya di leher Yudha.
"Kita renang yuk." ajak Adinda.
"Nggak ah dingin, nanti saja kalau cuaca nya panas. Kita kan satu minggu disini, enak juga di dalam."
"Ah.. bosen, masa di dalam terus ke kamar."
"Ya nggak apa - apa, kan mumpung berdua. Nggak di ganggu sama Mauren."
"Hihihihi... kalau ingat malam pertama kita, lucu juga pengen ketawa."
"Anak itu belum telepon kan?"
"Seperti nya, sudah di kendalikan sama Oma Opa nya."
"Yuk, kita bikin dede."
"Disini saja, kayak di film - film."
"Nggak ah, nanti ada yang lihat." ucap Yudha.
"Ya nggak lah, kan main nya di dalam kolam."ucap Adinda memainkan kedua alis nya.
" Nggak ah, di kamar saja."
Aaaaaa...
Yudha langsung mengangkat tubuh Adinda masuk ke dalam Villa dan langsung di rebahkan di atas tempat tidur.
*****
"Oma...!! " panggil Mauren.
"Ada apa Mauren?" ucap Ibu Mira.
"Mami itu kok pergi nya berdua sama Papi, Om Aksana, Pak Danang sama Tante Ayu ada di sini, bolak balik saja. Mereka tugas apa sih? tahu pergi berdua, Mauren ikut tadi."
"Mami sama Papi itu kerja, bukan main."
*****
Adinda di bawah kungkungan Yudha, tak bisa menahan gejolak, Adinda menarik seprei, hingga ujung nya tertarik. Terlihat punggung Yudha, penuh cakaran kuku Adinda, saat Yudha terus memimpin permainan.
Adinda pun lalu beralih memimpin permainan, hingga Yudha kini berada di bawah nya. Yudha memegang pinggang Adinda yang ramping, telihat meliukan tubuh nya, saat hentakan demi hentakan merasakan rasa yang begitu sangat nikmat.
Yudha dan Adinda sama - sama mencapai nikmat, hingga akhir nya Adinda ambruk di atas tubuh Yudha dengan sama - sama lemas.
Dering ponsel berbunyi, saat ponsel milik Adinda mengeluarkan suara. Adinda langsung beralih dari atas tubuh Yudha, yang sama - sama berkeringat.
"Mauren." ucap Adinda langsung mengangkat nya.
"Mami...!!! " panggil Mauren dari seberang.
"Sayang, ada apa?" tanya Adinda, sedangkan Yudha memeluk tubuh Adinda dari belakang, yang masih tak mengenakan pakaian.
__ADS_1
"Mami sedang apa?"
"Mami baru saja selesai kerja sayang."
"Kapan Mami pulang?"
"Sabar ya, 6 hari lagi Mami pulang."
"Itu lama sekali Mami, cepat lah pulang."
"Iya nanti juga pulang, ingat pesan Mami, jangan buat Oma Opa susah."
Ok Mami, bye...!! "
Mauren langsung mematikan ponsel nya secara sepihak. Adinda hanya menggeleng kan kepala nya.
"Kenapa? "
"Biasa."
*****
"Ibu Nuha, enak ya sekarang jadi mertuanya Bupati. Pasti sekarang hidup nya, dijamin sama menantunya. Apalagi besan nya menteri, sekarang sih naik kelas." ucap Ibu Halimah.
"Kata siapa, saya tidak naik kelas, tetap sama seperti kalian. Yang menikah kan anak saya, kalau saya tidak berharap gimana - gimana dari menantu. Di kasih alhamdulillah, tidak kasih ya tidak apa - apa."ucap Ibu Nuha.
" Tapi kan, masa nggak di kasih perbulan nya." ucap Ibu Wati.
"Kalau perbulan, anak yang jelas kasih. Tapi nggak enak, kalau saya harus ceritakan. Sama anak juga, mau kasih ya Alhamdulillah nggak juga nggak memaksa.Kalau begitu, saya permisi." ucap Ibu Nuha langsung pergi.
"Ibu Nuha itu, nggak mungkin hidup nya biasa - biasa saja, pasti dia di jamin. Beruntung banget ya, jadi Ibu Nuha, janda, punya anak satu, malah nikah sama Bupati. Ajudan dapat atasan nya, menang banyak." ucap Ibu Halimah.
"Alah... kalian bicara apa." celetuk Ibu Lela.
"Kenapa Bu? "tanya Wati.
" Dia mah orang kayak juga, bukan kaya dari lahir, kaya karena menantu. Coba lihat saya, kaya 10 turunan tidak akan putus." ucap Ibu Lela dengan sombongnya.
"Bu jangan sombong, besok harta Ibu ada yang ambil gimana?" ucap Ibu Wati.
"Kamu sumpahin saya ya, tuh sumpahin sih si Nuha. Orang kaya baru tapi belagu." ucap nya langsung pergi.
"Sombong banget dia."ucap Ibu Wati.
*****
Adinda menyuapi Yudha saat makan malam bersama, di villa yang mereka sewa. Sebuah ikan bakar dan Ayam bakar, menjadi makan malam mereka berdua, Yudha yang membakar nya, di halaman belakang.
" Mau nambah nggak?" tanya Adinda.
"Boleh, sambal nya yang banyak." jawab Yudha.
"Makan sering nambah, tapi tubuh nggak gemuk. Bisa ih, nggak gemuk gini."
"Kan olahraga sayang, kalau nggak olahraga raga ya gemuk. Lihat perut buncit dikit saja, langsung olahraga ekstra."
"Tapi saya mudah gemuk Mas, gimana dong?"
"Ya nggak apa - apa, berarti kan senang hidup nya bahagia."
__ADS_1
"Tapi nggak ngelirik cewe lain atau mantan kan?"
"Ya nggak lah sayang, masa sih ngelirik mantan atau cewek lain."
"Ya kirain."
"Nggak lah."
****
"Mas."
"Ehm..!! " ucap Yudha sambil setengah sadar.
"Anter buang air kecil."
"Tinggal jalan saja sih, kamar mandi kan di dalam kamar."
"Takut Mas, mati lampu." ucap Adinda, dan Yudha membuka kedua mata nya dengan sempurna.
"Mati lampu ya." ucap Yudha, langsung bangun dan segera menyalahkan lampu ponsel nya.
"Yuk, Mas antar."
Adinda menggandeng tangan Yudha, hingga sampai di dalam kamar mandi, dan Adinda menarik Yudha hingga masuk kedalam kamar mandi.
"Yank, masa sih Mas masuk juga."
"Jangan pergi, tunggu."
Yudha pun ikut masuk kedalam kamar mandi, dan menunggu Adinda yang sedang buang air kecil.
Lampu pun menyala, Adinda segera keluar mendahului Yudha , yang kini berjalan di belakang nya.
"Mas."
"Apalagi?"
"Haus."
"Iya, nanti Mas ambilkan."
Saat Yudha keluar kamar, ponsel Yudha berbunyi. Dan Adinda langsung mengambil ponsel milik Yudha, Adinda terkekeh saat melihat chat group milik suami nya.
"Nih air minum nya. " ucap Yudha menyerah kan gelas berisi air putih dingin dan di berikan pada istri nya.
"Ada chat dari siapa?"
"Group yang isinya Aksana, Pak Danang, Ayu sama Mirna. Malam - malam gini, masih bahas tetang kita."ucap Adinda menyerah kan ponsel milik Yudha.
"Biasa tukang ghibah. Pak Danang yang tua nya juga, malah dukung."
"Hahahaha... lucu saja."
.
.
.
__ADS_1