
"Kenapa sih, selalu saja mantan jadi masalah. Ada berapa mantan nya Mas?" tanya Adinda.
"Hanya tiga , tidak ada lagi."
"Bohong, saya tidak percaya hanya ada tiga."
"Ya Allah Yank, asli hanya tiga."
"Saya nggak habis pikir ya Mas, mantan nya semua pada kayak nggak rela, kamu itu nikah sama saya."
"Oh ya jelas, orang ganteng."
"Ih... nyebelin banget sih." ucap Adinda langsung memukul lengan Yudha.
Aaaawwwwwww...
"Sakit sayang,... sakit....!!! "
"Kesel...!!! "
"Ya kan Mas ganteng, bukti nya kamu juga jatuh cinta sama Mas."
"Nggak, musibah ini."
"Dosa loh ngomong begitu."
"Ya habis, nyebelin banget, nama nya mantan selalu ada aja nyelip datang."
"Tenang saja sayang, kagak ada yang namanya mantan lagi."
"Mami...Papi....!!! " panggil Mauren berlari, saat tahu Mami Papi nya datang.
"Hi... sayang." ucap Adinda langsung memeluk tubuh Mauren.
"Papi juga mau peluk." ucap Yudha , lalu Mauren pun memeluk nya.
"Ayah Ibu." sapa Adinda langsung mencium tangan kedua nya, begitu juga dengan Yudha.
"Aduh Adinda, anak kamu itu." ucap Ibu Mira.
"Kenapa Bu?"
"Tanya saja, sama Ayah."
"Biasa, anak kamu itu aktif nya minta ampun, kalau ngambek minta nya jalan ke Mall. Satu minggu kalian pergi, setiap hari minta ke Mall." ucap Pak Faisal.
"Ke Mall beli apa cantik?" tanya Yudha.
"Beli ini nih... " ucap Mauren sambil menunjukkan bonek Barbie nya.
"Kamu beli Barbie lagi ya? tanya Adinda.
" He... yes Mami, di rumah Papi juga masih ada satu lemari Barbie, nanti diambil saja."jawab Mauren.
"Nggak, beli lagi saja." ucap Adinda.
*****
"Papi buatkan pesawat." ucap Mauren, sambil membawakan selembar kertas gambar dan spidol nya.
"Mauren mau Papi gambar pesawat?"
"Yes."
"Papi gambar ya." ucap Yudha, lalu memulai menggambar pesawat.
"Papi."
"Kenapa sayang? "
"Papi itu suka sama Mami nya Mauren itu kenapa?"
__ADS_1
"Kan Mami cantik sayang."
"Mami suka sama Papi kenapa?" tanya Mauren saat Adinda melintas.
"Papi ganteng." ucap Adinda sambil menjatuhkan pantat nya di sofa.
"Waktu ketemu sama Mami dimana Papi?"
"Di kantor."
"Terus, Papi langsung bilang suka gitu sama Mami?"
"Ah... iya sayang."
"Mami nggak nyesel nerima Papi?"
Uhuk... uhuk.. uhuk..
Adinda tersedak, saat sedang minum mendengar pertanyaan Mauren.
"Kamu Mauren, pertanyaan nya tidak ada yang lain apa?" ucap Adinda.
"Kan tanya Mami, kalau orang di tanya itu harus jawab."
"Ah... kamu itu, cari pertanyaan yang lain." ucap Adinda.
"Cara buat adik gimana?"
Yudha dan Adinda langsung diam, Yudha langsung pura - pura fokus menggambar, sedangkan Adinda pura - pura meminum kopi hangat nya.
*****
Para tetangga Ibu Nuha, berebut meminta bersalaman dengan Adinda. Yudha dan Adinda datang mengunjungi IBU Nuha, bahkan ada yang meminta photo sama - saja dengan Adinda.
"Maaf ya Ibu - Ibu, bapak - bapak saya masuk ke dalam dulu ya. Mas, ada satu kantong plastik besar, cemilan itu kasih buat anak - anak saja dulu, kan ada satu kantong lagi." ucap Adinda.
"Ya nanti Mas, ambilkan." ucap Yudha kembali lagi, kedalam mobil nya mengambil sesuatu yang di minta oleh Adinda.
Adinda membawa makanan banyak, untuk Ibu mertua nya, dan sengaja di lebih kan untuk membagikan pada tetangga.
"Ibu masak banyak." ucap Ibu Nuha, langsung menggandeng tangan Adinda.
"Ibu repotin."
"Ah.. nggak kok, kamar nya juga sudah Ibu siapkan."
"Ibu ini. "
Mauren turun dari mobil, setelah sibuk sendiri menumpuk kan mainan nya, semua anak sebaya nya melirik ke arah Mauren, yang sedang menarik koper berisi mainan.
"Tuh kan, kata Papi biar Papi yang bawa, Mauren susah bawa nya."
"Mauren bisa bawa sendiri." ucap Mauren sambil menatap mereka.
"Eh, itu anak tiri nya Yudha." bisik salah satu tetangga.
"Iya, cantik ya seperti ibu Adinda." ucap salah satu nya lagi.
"Iya, betul cantik."
"Mauren yuk masuk." ajak Yudha.
"Mauren boleh main sama mereka Papi?"
"Nanti saja ya, kan baru datang. Nenek ingin bertemu sama Mauren."
"Ok Papi."
*****
"Mauren makan ya, Nenek goreng Ayam." ucap Ibu Nuha menuangkan nasi dan Ayam goreng.
__ADS_1
Terdengar banyak suara anak kecil di depan rumah Yudha, memanggil - manggil Mauren.
"Dede main yuk." panggil salah satu anak kecil.
"Dede...!!! main yuk." panggil mereka lagi.
"Itu anak - anak, pada manggil Mauren ya?" ucap Adinda.
"Iya, kali." ucap Yudha.
"Mami Papi, boleh ya main sama mereka." ucap Mauren.
"Boleh, tapi makan dulu."ucap Yudha.
*****
Dari dalam, Adinda dan Yudha, serta ibu Nuha mengawasi Mauren yang sedang bermain bersama anak - anak, yang tadi mengajaknya bermain.
Terlihat Mauren sangat senang, dan mudah bergaul. Bahkan semua mainan nya di pinjamkan pada mereka, untuk yang teman perempuan nya. Sedang kan yang laki - laki, bermain rumah - rumah an dari lego.
" Mauren, mudah bergaul ya." ucap Ibu Nuha.
"Iya betul, mudah bergaul." ucap Yudha.
"Waktu dulu, tinggal sama oma Opa nya jarang banget main, apalagi waktu sama Rafael, hampir di dalam rumah terus. Hanya keluar, sama Rafael saja. Untung anak nya, tidak kuper." ucap Yudha.
Mauren berlari masuk ke dalam rumah, dan langsung menghampiri Adinda. Adinda, mengusap keringat yang menempel di pelipis nya.
"Mami, ada yang ingin mainan nya Mauren."
"Mainan yang mana?"
"Mainan Lego itu, sama ada yang mau Barbie."
"Kamu mau kasih ke mereka?" tanya Adinda, dan di anggukkan oleh Mauren.
"Boleh mainan kamu kan banyak."
"Ok Mami, makasih."
"Sama - sama sayang."
Yudha langsung bangun, dan berjalan ke luar melihat Mauren, yang sedang memberikan mainan nya.
"Mauren, boleh nggak saya minta mainan ini?" tanya salah satu anak perempuan sebaya nya.
"Oh kamu mau mainan, kompor ini?" tunjuk Mauren, sebuah kompor baterai yang di belikan Papi nya.
"Papi, bilang sama Mami boleh nggak? " tanya Mauren pada Yudha.
"Kalau kata Mami boleh ya boleh, tapi Mauren nya boleh nggak di kasih nya?" ucap Yudha.
"Saya beli, di luar negeri. Kalau kamu mau boleh, nanti kalau jalan - jalan lagi ke lua negeri beli lagi."ucap Mauren memberikan mainan kesayangan nya.
" Terima kasih Mauren."
"Sama - sama."
"Tadi kasih apa lagi?" tanya Adinda datang.
"Kasih Mainan kompor, dapat di belikan Rafael katanya."
"Oh, terus?"
"Nanti kalau ke luar negeri lagi minta belikan lagi."
"Rafael pasti tidak akan lupa, dia kan sering ke luar negeri pasti selalu belikan apa yang di mintanya."
"Sayang, kalau Rafael mengajak Mauren berlibur kasih ijin, jangan takut Rafael akan bawa kabur Mauren. Bagaimana juga, Rafael berhak atas Mauren."
.
__ADS_1
.