Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Hilang


__ADS_3

"Jadi kamu di pecat? " tanya Ibu Nuha sambil meletakkan singkong rebus di atas meja makan.


"Nggak di pecat bu, saya hanya di rumah kan saja, beberapa hari atau minggu. " jawab Yudha.


"Sama saja, ujung - ujung nya kamu di pecat."


"Kalau di pecat, ya mau gimana lagi bu. Saya mau jadi petani saja, masih ada pekerjaan lain. "


"Kamu kalau ngomong, tidak di pikir lagi. Sekolah kamu, biaya nya mahal. Sudah enak - enak, malah di pecat. Gara - gara, kamu jalan sama Bupati. "


"Salah paham saja Bu, nanti juga lambat laut, berita nya akan hilang dengan sendirinya."


"Ibu, kalau sampai kamu di pecat, Ibu akan datangi itu Bupati. Gara - gara dia, anak ibu di rugikan."


"Bu, ini Yudha yang salah, Yudha yang ajak, Bu Adinda keluar. Jadi begini kejadian nya, padahal kita sudah hati - hati. '


" Ibu saran kan, kamu pindah instansi, Ibu tidak suka anak Ibu malah jadi sasaran."


****


"Ada apa? " tanya Wita.


"Mana suami kamu? " tanya kembali Adinda.


"Suami kita kali. " ucap Wita.


"Sorry ya, saya tidak merasa memiliki suami seperti dia. Sekarang, katakan dia dimana?"


"Ada apa sayang? " ucap Rafael, Adinda langsung berjalan ke Arab Rafael, dan langsung menampar nya.


Plaaaakkk


"Kamu tampar saya. " ucap Rafael, memegang pipi kanan nya.


"Kamu kan, yang kirim Paparazzi, untuk mengikuti saya kemana pun, dan kamu kan, yang suruh para pencari berita, untuk datang ke pengadilan agama? kamu kan yang atur semua nya, agar saya di sini yang di salahkan."


"Kok tahu. "


"Oh.. jadi kamu, mengaku juga? kamu itu benar - benar pria licik."


"Apa kamu, pantas jalan berdua ke laut, mesra - mesra an. Apa itu pantas? "


"Apa itu pantas, istri hamil kamu tidur dengan wanita lain, kamu nikah siri? lebih jahat siapa, saya atau kamu? "


"Kamu pintar bicara ya sekarang, kamu tinggal bilang iya kalau kamu ada rasa sama si Ajudan itu. "


"Kalau iya kenapa? kenapa hah... kamu marah, kamu tidak terima.Egois kamu, bajingan kamu. " ucap Adinda mendorong tubuh Rafael dengan sangat kasar.


"Ingat, Mauren hak asuh nya akan sama saya."


"Tidak bisa, Mauren akan ikut dengan saya."


"Lebih cepat cerai lebih baik, agar saya bisa jadi istri sah. " ucap Wita.


"Silahkan ambil, saya hanya akan ambil Mauren dari kalian. Saya tidak butuh harta gono gini, saya hanya butuh anak saya kembali. "


"Mauren tidak akan saya lepaskan, karena Mauren lebih nyaman dengan saya."


"Oh.. benar kah? sekarang mana Mauren nya?"


*****

__ADS_1


Mauren berjalan sendiri, sambil menoleh kesana kemari. Tubuh kecil nya, dengan menggendong tas kecil dan sebuah boneka.


Mauren duduk di sebuah trotoar terminal, banyak orang yang menatap nya, hingga ada beberapa orang memberikan nya uang.


"Dek, kamu sendirian? " tanya seorang wanita, Mauren pun menganggukkan kepala nya.


"Orang tua kamu mana? "


"Saya ingin ketemu sama Mami saya."


"Siapa Mami kamu? "


"Adinda."


"Adinda." ucap nya, dan Mauren menganggukkan kepala nya.


*****


"Mauren...!!! "


"Mauren...!!! "


Adinda, Rafael dan Wita mencari Mauren, hingga di setiap sudut ruangan. Semua nya panik, saat tahu Mauren tidak ada.


"Mana Mauren? " ucap Adinda panik.


"Dia tadi ada di kamar nya. " ucap Rafael.


"Saya tidak mau tahu, kalau sampai Mauren kenapa - napa, kamu yang harus tanggung jawab. "


"Enak saja kalau ngomong, saya tidak tahu, kalau Mauren sampai kabur. "


"Ini, Mauren kabur. " ucap Adinda.


"Kenapa bisa kabur, dia naik angkot." ucap Adinda kembali.


Rafael segera menghubungi seseorang, sedang kan Adinda yang panik, langsung menghubungi seseorang lagi.


*****


Yudha menatap ponsel nya, sebuah nomer ponsel Adinda yang kini tampak di layar nya. Saat ingin, menekan tombol warna hijau, Yudha menarik kembali jari nya.Dan memilih, memasukkan ponsel ke dalam saku celana nya.


"Mas." sapa Elisa.


"Elisa."


"Kata ibu, kamu dirumahkan. "


"Kapan ibu bilang? "


"Ketemu sama Ibu saya, cerita banyak."


"Oh, saya kira sama kamu."


"Kamu Mas, sedang jadi buah bibir. Warga, membicarakan kamu."


"Tapi kan sudah jelas, kemarin di bicarakan di media, dan pengacara Ibu Adinda menjelaskan semua nya."


"Mas suka ya sama Bu Adinda? "


"Nggak tahu. "

__ADS_1


"Kok tidak tahu, berarti benar dong Mas itu suka, hanya saja Mas tidak menyadari nya."


Yudha hanya diam, lalu menyalakan rokok nya, dan menghisap lalu menghembuskan asap nya ke samping.


"Mas, jujur saya itu suka sama Mas. "


"Maaf Elisa, kamu kan dari dulu sudah Mas anggap kamu itu, hanya sebagai adik dan sahabat, tidak lebih."


"Apa saya bukan tipe, wanita yang di sukai Mas? "


"Bukan begitu, tapi Mas hanya anggap kamu adik, tidak lebih. "


"Mantan Mas, cantik - cantik, sekarang Mas saja dekat sama Ibu Adinda, wajar kalau tipe seperti saya Mas tolak. "


"Kok kamu bilang nya begitu, Jangan seperti itu lah. Hati itu, tidak bisa di paksakan."


****


"Bapak tadi siang bawa anak kecil naik, dari perumahan ini kan? " tanya Rafael setelah, mendapatkan nomor polisi angkutan umum tersebut.


"Benar Pak, saya antar anak kecil. "


"Kemana Pak? " tanya Adinda.


"Saya turun kan di terminal. "


"Terminal...!!! " ucap Adinda dan Rafael bersamaan.


****


"Ya Allah, Mauren kemana kamu. " ucap Adinda terus mencari Mauren.


Hingga orang suruhan Rafael, mencari di sekitar terminal, bahkan di setiap sudut kota bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk memantau dengan camera CCTV yang ada.


"Kemana kamu Mauren. " ucap Rafael.


"Ini pasti, ada sesuatu. Kamu pasti berbuat, yang tidak nyaman ya. " ucap Adinda.


"Tidak nyaman bagaimana, saya selalu turutin apa yang dia mau, saya memberikan nya kasih sayang, apalagi hah..!! "


"Terus, kenapa Mauren bisa kabur, dan turun di terminal. Dia masih kecil Rafael, kalau sampai terjadi apa - apa, sama Mauren, kamu yang pertama saya salahkan."


"Kamu itu, Mauren kabur bukan salah saya. Ini pasti kamu, yang selalu merayu nya untuk keluar dari rumah Papi nya. "


"Saya tidak pernah, merayu nya, saya tidak pernah menjelekkan Papi nya. Yang ada itu, kamu yang suka menjelekkan saya di depan Mauren. Dia sudah besar, sudah merekam semua kejadian, yang akan selalu dia ingat sampai dewasa nanti. Mauren pergi, pasti dia kecewa sama kamu."


"Tidak, Mauren tidak kecewa pada saya, tapi kamu, kamulah yang sudah merayu dia, menjelekkan saya, dan kamu itu sudah niat banget. " ucap Rafael tidak mau kalah.


"Pak." ucap salah satu anak buah Rafael.


"Ada apa? "


"Ternyata, putri Bapak, dan yang melihat di bawa oleh seorang wanita. "


"Apa, seorang wanita..!!! " ucap Rafael.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2