
"Papi....!!! " Mauren berlari ke arah Yudha yang menjemput nya, dan langsung menggendong calon putri nya.
"Gimana tadi pelajaran nya? " tanya Yudha pada Mauren.
"Tadi Mauren di suruh mewarnai gajah." jawab Mauren.
"Oh, terus? "
"Dapat nilai B. "
"Bagus itu. "
"Mauren mau nilai A, bukan B. "
"Nilai B juga bagus. "
"Mas." panggil Elisa.
"Hi.. apa kabar kamu El? " ucap Yudha.
"Baik, Mas saya hanya mau tanya, apa benar yang di katakan ibu? "
"Ibu kasih tahu kamu kah? "
"Iya, dan tadi saya dengar, Mauren panggil Mas Papi. "
"Iya, saya akan menikah sama Mami nya Mauren. "ucap Yudha.
" Papi panas. " ucap Mauren manja.
"Maaf, saya harus pulang, Mauren capek."
"Iya Mas, hati - hati. "
Elisa menatap mobil, yang membawa Mauren, hati nya sakit saat tahu pria yang di sukai nya, tidak bisa dia miliki lagi.
"Papi, kemarin kata Papi nya Mauren. Papi nya Mauren itu hanya, Papi Rafael. Papi Yudha tidak bisa di gantikan. " ucap Mauren, dan Yudha tersenyum ke arah Mauren.
"Papi kamu benar sayang, Papi nya Mauren kan, Papi kandung. Bagaimana juga, Papi Rafael selamanya Papi nya Mauren. Tidak seperti Papi Yudha, Papi kan hanya orang lain, yang dekat sana Mauren."
"Oh gitu ya Papi, tapi Papi Yudha tidak pernah marah - marah, seperti Papi nya Mauren." ucap Mauren sambil menatap ke arah Yudha, yang sedang menyetir.
****
"Mami mana? " tanya Mauren pada Mirna.
"Mami kan masih di kantor." jawab Mirna sambil, membawa tas punggung Mauren
"Mauren lapar. "
"Mba sudah siapkan. "
Yudha langsung berjalan ke dapur, membuka kulkas, dan menegak minuman dingin, dengan memakan berbagai macam buah - buah an.
__ADS_1
"Pak Bos mau makan? " tanya Mirna.
"Saya mau, balik ke kantor. " jawab Yudha sambil melangkahkan kaki nya.
"Kirain Pak Bos mau makan, sekalian saya ambilkan buat Mauren."
"Mba Mirna, kamu itu mba, jangan lihat saya itu seperti majikan. Saya itu di sini hanya kerja, walau saya punya hubungan spesial sama Ibu Adinda, kamu jangan berlebihan begitu."
"Oh gitu ya, ya sudah. Kalau gitu ambil sendiri saja, saya mau ambilkan makan siang buat Mauren. "
"Nah tuh, enak begitu. "
*****
"Masa jabatan ibu, sebentar lagi habis, masa ibu tidak mau mencalonkan lagi. Satu periode lagi, masyarakat masih ingin memilih ibu." ucap Pak Sutrisno, ketua salah satu partai politik yang mendukung, Adinda untuk mencalonkan lagi, menjadi seorang bupati.
"Saya ingin, menjadi seorang ibu rumah tangga saja, mengurus anak dan suami. Saya itu, kurang Pak memberikan waktu untuk keluarga. Jujur, Mauren anak saya butuh perhatian dari saya full. Kenapa, saya mati - mati an, untuk dapatkan hak asuh dia, karena saya ingin fokus dengan keluarga."
"Tapi dukungan partai, hanya pada ibu, kalau maju kembali, kita akan memenangkan nya. Sedang kan, kalau kita mencalonkan yang lain, belum tentu akan menang banyak."
"Ibu Bupati, suara nya lumayan banyak. Kenapa dia, tidak di calonkan saja? "
"Dia kan sudah ada partai politik di belakang nya, dia memang pasti akan mencalonkan, tapi Partai kita masa tidak maju."
"Kenapa, tidak mencalonkan saja Brasmana?"
"Suami mba Ayu? "
"Iya, dia juga kan masa jabatan nya akan habis, kita calonkan saja dia."
"Pasti mau, coba saja."
"Iya, Brasmana. "
*****
"Saya tuh Mas, nggak akan mencalonkan lagi."
"Kenapa?"
"Saya ingin fokus, menjadi istri kamu."
"Serius? " ucap Yudha sambil mengusap punggung tangan Adinda.
"Iya Mas, dan saat Mauren ikut sama saya, saya itu, ingin banget fokus sama dia. Selama ini, saya itu kurang perhatian sama dia, hanya mementingkan karir, mungkin karena sejak kecil di paksa sama Rafael, saya itu seolah tidak pernah bertanggung jawab. Jadi ini saat nya, saya ingin fokus dengan keluarga. "
"Sayang, kalau kita nikah, gaji Mas pasti tahu kan, beda sama gaji nya Rafael. Gimana? mas merasa minder disini."
"Ya Allah sayang, kok gitu. Ya nggak lah, gaji Mas itu cukup buat makan bertiga, berapa pun itu, saya akan bersyukur. Yang penting Mas sayang, sama saya dan Mauren, tidak menyakiti saya seperti Rafael. Mas juga harus tahu, Rafael itu tidak menafkahi saya, baru sekarang dia kasih uang ke saya, itu juga untuk Mauren. "
"Makasih sayang, makasih ya."
"Jangan selalu beranggapan, kalau saya ini harus di beri uang banyak, tidak Mas. Keluarga saya itu, sama seperti Mas. Dari kalangan orang biasa, Ayah itu hanya seorang petani Mas, makan nya di usia senja nya, Ayah ingin fokus bertani."
__ADS_1
"Mas juga, jujur ingin punya istri yang hanya fokus mengurus keluarga, tapi tidak di larang kalau memang berkerja. Tapi Mas ingin, kita nanti jangan ada gaji kamu, gaji saya, kamu seolah se enak sendiri, Mas ingin 100 persen untuk kamu dan mauren. Gaji kamu tabung, dan apa yang kamu mau, Mauren mau bilang sama Mas. "
"Iya sayang, tapi kita nanti saling bantu. Kita kan tidak tahu, nggak akan mungkin hidup di atas terus kan, pasti ada di bawah nya seperti roda berputar. "
"Mas makin sayang sama kamu."
"Mas, kita kapan? main ke rumah ibu?"
"Nanti ya, kalau Mas siap, Mas akan bawa kamu."
"Ibu setuju kan? " tanya Adinda, dan Yudha hanya menatap ke arah Adinda.
"Kita sama - sama, meminta restu pada Ibu."
"Iya Mas, saya akan dapat kan hati nya."
****
"Pak, ini apaan? " tanya Ibu Nuha, saat ada seorang mengantarkan sembako, dan beberapa pakaian.
"Ini dari menantu ibu." jawab nya.
"Menantu? menantu yang mana? anak saya belum menikah."
"Mungkin calon nya, ini bu mohon tanda tangani bukti penerima nya." ucap nya, lalu ibu Nuha menandatangani nya.
"Kalau begitu, saya permisi. "
"Iya, makasih." ucap Ibu Nuha, memeriksa barang yang di kirim ke rumah nya.
Tak lama, sebuah mobil datang, seorang wanita turun dari mobil nya, mengenakan masker dan kaca mata hitam.
"Assalamu'alaikum Bu. " sapa nya langsung mencium punggung tangan nya.
"Walaikumsalam." balas ibu Nuha.
Adinda membuka masker dan kaca mata nya, dengan sebuah senyuman, sedang kan Ibu Nuha masih berdiri mematung.
"Ibu ini dari saya, buat ibu."
"Kamu, yang kirim semua? untuk apa? saya masih kuat belanja seperti ini, dan ini pakaian, saya masih banyak."
"Ibu, ini dari calon menantu ibu. Adinda, ada sedikit rejeki buat ibu. Di terima ya bu, semoga bermanfaat."
"Iya, makasih."
"Adinda, boleh masuk kan Bu? masa di luar saja."
"Iya, masuk. Maaf rumah nya berantakan, tidak ada persiapan."
"Ibu ini, seperti apa saja." ucap Adinda, yang masih menebar senyuman.
.
__ADS_1
.
.