
"Ini buat Mauren." ucap Rafael pada Adinda.
Rafael memberikan sebuah pakaian dan uang untuk Mauren, namun Mauren berlari dan mengejar Yudha yang sedang sibuk menyiram bunga di taman belakang rumah.
"Makasih." ucap Adinda.
"Kamu bisa nggak? bilang sama Mauren, untuk temui Papi nya. Jangan ikut ke Papi tiri nya terus, masa saya kesini ingin ketemu sama anak, dia malah nempel terus sama Papi sambung nya."
"Maaf ya, dari kemarin kan sudah bilang. Anak nya, bukan kami yang ajarin , anak kita itu tidak mau ketemu sama Papi sambung nya. Jadi tolong, jangan mengajak ribut."
"Gimana saya kesal, kesini itu hanya ingin ketemu sama anak. Jangan mau uang nya saja, tapi anak malah jauh sama saya."
"Oh, jadi kamu nggak ikhlas ya, nafkahin anak kita. Asal kamu tahu saja, uang dari kamu, masih utuh saya simpan. Kenapa? karena takut suatu saat nanti, kamu ungkit. Sekarang baru kasih segitu saja, perbulan kamu ungkit. Terus, kamu ini tidak mau apa , memberikan kewajiban buat anak kita. Saya juga masih mampu, kalau kamu tidak mau kasih. Ini bawa lagi uang nya, saya tidak butuh. Dan ingat, kamu sudah bilang begitu, jangan pernah lihat Mauren lagi." ucap Adinda.
"Adinda..!!!" ucap Yudha datang bersama Mauren.
"Kamu sedang apa bicara begitu? Mas bilang apa kemarin? dia itu Papi nya Mauren." ucap Yudha.
"Kamu itu, jangan suka baik." celetuk Rafael.
"Ada apa lagi?" tanya Yudha.
"Anak saya, dia kenapa dekat sama kamu? sedangkan sama saya tidak. Saya kesini kasih pakaian dan kasih uang, untuk ketemu sama anak saya, bukan taruh ini langsung pulang."jawab Rafael kesal.
" Kan sudah di katakan, Mauren nya yang jauhin kamu. Kan kemarin, sudah di tanya kenapa? Mauren jawab kan."
"Bukti nya? kamu pasti mengajar kan yang tidak - tidak."
"Sudah gini saja, kalau tidak percaya. Bawa lagi uang dan ini apa ini? pakaian juga banyak. Saya hargai kamu, tapi kamu berfikir negatif terus sama saya. Tidak perlu kasih perbulan, kalau kamu ucapan nya begitu. Tapi saya tidak akan pernah, melarang Mauren ketemu sama kamu. Dan ingat, anak kalau sudah besar akan menilai sendiri."ucap Yudha.
" Rafael, lebih baik kamu pulang, kalau hanya ingin bertengkar." ucap Adinda.
"Kalau kamu bukan Papi nya Mauren, sudah saya hajar kamu."
"Oh.. jadi kamu berani ya sama saya."
"Bukan begitu, tapi saya hargai kamu." ucap Yudha langsung pergi meninggalkan Adinda dan Rafael.
Mauren hanya santai bermain boneka, Rafael langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata lagi.
"Mauren..!! " panggil Adinda.
"Ya Mami." ucap Mauren.
"Kamu itu, kalau ada Papi mau dong ketemu. Jangan seperti ini, jadi Papi Yudha yang di kena marah, dan Mami kena imbas nya juga." ucap Adinda.
"Kamu itu, marahin Mauren. Sama saja, kamu kayak Rafael." ucap Yudha.
"Kok saya yang dimarahin Mas."
"Kamu tadi bicara seperti itu, marahin Mauren? anak sekecil dia masih belum mengerti. Nanti juga kalau sudah besar, anak akan cari Papi nya sendiri. Apalagi anak kamu itu perempuan, sekali lagi kamu bicara kasar. Mas hajar kamu, cara didik anak itu bukan begitu." ucap Yudha langsung membawa Mauren.
"Mas...!! " Adinda mengejar Yudha.
Sedang kan Yudha dan Mauren masuk ke dalam mobil, sedang kan Adinda terus mengetuk kaca mobil nya.
"Mas, mau kamu bawa kemana Mauren?"
Yudha menyala kan mobil nya, dan langsung pergi. Dari Jauh, Aksana dan Pak Danang melihat nya.
"Seperti nya, ibu Adinda merusak suasana hati Pak Bos." ucap Pak Danang.
"Seperti nya begitu." ucap Aksana.
****
__ADS_1
"Semua ini gara - gara kamu Rafael." ucap Adinda melalui panggilan telepon nya.
"Gara - gara saya gimana? ini bukan salah saya dong, masa urusan rumah tangga kamu, di kaitkan sama saya." ucap Rafael dari seberang.
"Kamu itu ya, makan nya kalau apa - apa, jangan pakai otot tapi pakai otak."
"Kamu itu, hubungi saya hanya ingin katakan ini? buang - buang waktu."
Tuuuutttt...
Aaaaaaaaa....
"Dasar Rafael, kamu itu benar - benar menang sendiri."
*****
"Papi sedang marahan sama Mami ya?" tanya Mauren sambil memakan es krim nya.
"Papi nggak marah, hanya sedang kasih pelajaran sama Mami kamu." jawab Yudha.
"Kasih pelajaran apa?"
"Papi tidak suka cara Mami kamu itu, bicara kasar sama kamu."
"Maaf." ucap Mauren.
"Kok Mauren yang minta maaf? jujur ya walau kamu itu, adalah anak sambung nya Papi, tapi Papi tidak suka, kalau Mami kamu itu bicara nya kasar. "ucap Yudha.
" Mauren, Papi mau tanya. Kenapa kamu itu, tidak mau bertemu sama Papi?" tanya Yudha pada Mauren.
"Nggak apa - apa." jawab Mauren santai, sambil makan es krim nya.
"Mauren itu, jangan begitu. Tidak baik tahu, Mauren tidak boleh begitu. Ingat, Papi Rafael itu, Papi kamu sayang. Kasihan Papi kamu, ingin ketemu sama Mauren. Mauren mau kan? kalau ada Papi, Mauren temui."
"Apa Mauren tidak kangen, sama Papi Rafael?"
"Kangen."
"Ya udah, ini kamu telepon Papi kamu. Bilang minta maaf, walau hanya suara kamu, Papi pasti senang." ucap Yudha langsung menekankan nomer Rafael, dan langsung terhubung.
"Ada apa? " ucap Rafael dari seberang.
"Papi, ini Mauren." ucap Mauren, melalui sambungan telepon nya.
"Sayang, kamu telepon Papi?"
"Mauren kangen sama Papi."
"Sama sayang, Papi juga kangen. Kamu kenapa? sama Papi tidak mau ketemu. Apa kamu tidak sayang lagi ya? sama Papi."
"Mauren sayang, Mauren sayang sama Papi Rafael dan Papi Yudha."
"Papi,bawakan kamu pakaian, kamu tidak mau ya?"
"Mau Papi. "
"Nanti kita ketemu lagi ya, sekarang kasih telepon nya sama Papi Yudha." ucap Rafael, dan Mauren menyerahkan ponsel milik Yudha.
"Ada apa?"
"Kamu antar kan anak saya, ke rumah saya."
"Saya akan antarkan anak kamu, walau ke rumah kamu itu tidak di tempuh dalam waktu 30 menit."
"Saya tunggu."
__ADS_1
*****
"Ibu kenapa?" tanya Mirna.
"Kok Mas Yudha sama Mauren belum pulang ya. " jawab Adinda.
"Mungkin main ke rumah nenek nya."
"Mungkin saja."
"Ibu jangan khawatir, Mauren pergi nya sama suami nya ibu, tidak usah khawatir. Sekarang ibu makan dulu ya, saya masak ini dengan penuh cinta, masa ibu tidak makan."
"Saya itu, bukan tidak menghargai masakan kamu. Rasanya kalau saya makan sendiri, suami sama anak belum datang. Rasa di lidah itu tidak enak, walau kamu itu masak sama daging atau masakan lain nya. "
"Baik Bu." ucap Mirna langsung pergi, meninggal kan majikan nya yang sedang gelisah.
Sedang kan di dapur terlihat Pak Danang dan Aksana yang sedang makan, Mirna pun langsung duduk di samping mereka.
"Kenapa?" tanya Pak Danang.
"Ternyata, Ibu sama Pak Bos sedang berantem ya?" tanya Mirna.
"Kamu itu sok, jadi ratu gosip. Tapi kamu, terlambat dapat info." ucap Aksana.
"Memang nya apa sih?" tanya Mirna.
"Kasih tahu nggak ya?" ucap Aksana.
"Kasih tahu nggak Pak Danang?" ucap Aksana lagi.
"Kasih tahu nggak ya?" ledek Pak Danang.
"Ih.. kalian itu kenapa sih? tambah nyebelin ya, ini lagi Pak Danang tua - tua malah ikut nyebelin. " ucap Mirna.
"Lagian, kamu itu kepo terus." ucap Pak Danang.
"Iya ih, kamu itu. Sok kepo." ucap Aksana.
"Ya sudah, kalau tidak mau berbagi cerita." ucap Mirna langsung pergi.
"Marah nih yeee...!! " ledek Aksana.
Hahahaha...
Tawa Aksana dan Pak Danang, saat melihat Mirna langsung pergi. Sedang kan Mirna hanya cemberut pada kedua nya.
"Awas ya, kalau suruh buatkan kopi." ucap lantang Mirna.
"Apa kamu bilang tadi?" tanya Aksana.
"Ada gajah mati, ke injak sama bebek." jawab Mirna.
"Oh.. ada Mirna, ketabrak gajah." ledek Aksana.
"Ih... nyebelin." teriak Mirna.
"Ciiieeeee marah nih yeeee...!! " ucap Aksana tertawa, sedang kan Pak Danang sudah tertawa, terbahak - bahak.
"Awas ya, kalau suruh buatkan kopi, kalau memaksa, saya kasih garam yang banyak." ucap Mirna kesal.
.
.
.
__ADS_1