Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Curi - curi Pandang


__ADS_3

"Pagi...!! "


"Pagi, kok ada di kamar saya? " udah Yudha dengan suara khas orang bangun tidur.


"Gimana, sudah baikan? "


"Mendingan, nggak pusing seperti kemarin."


"Kalau gitu, sarapan dulu ya. Ini spesial loh, saya yang buat. "


"Repotin."


"Nggak apa - apa. "ucap Adinda.


"Ehm... Yudha, ada kabar baik. " ucap Adinda sedang kan Yudha sedang mengaduk bubur di mangkuk nya.


"Kabar baik apa? "


"Saya sudah resmi cerai sama Rafael, dan hak asuh jatuh sama saya. " ucap Adinda bahagia.


"Oh."


"Kok oh sih, nggak mau bilang apa gitu? "


"Selamat ya. "


"Makasih, ish... terpaksa banget. "


"Maaf Bu, saya masih lemas. "


"Ya sudah, habiskan. Awas saja kalau ada sisa. "


"Ibu mau kemana? " tanya Yudha saat Adinda bangun dari duduk nya.


"Mau keluar. "


"Nggak mau temanin saya sarapan? "


"Saya mau sarapan di luar, sudah di siapkan sama Mirna. "


"Sarapan saja disini? "


"Ribet, bawa - bawa nya. "


"Nggak mau cobain ini? " ucap Yudha sambil mengarahkan sendok nya ke mulut Adinda.


"Nggak ah, ini kan buat kamu masa saya makan."


"Yasudah, kalau tidak mau. " ucap Yudha langsung memasukan sendok berisi bubur ke dalam mulut nya.


Adinda tersenyum, dan lalu pergi meninggalkan kamar Yudha. Sedang kan Yudha langsung menghabiskan bubur nya dengan lahap.


*****


"Mami antar Mauren sekolah? " tanya Mauren saat sudah berada di dalam mobil.


"Iya, memang nya kenapa? "


"Biasa nya Om Yudha? "


"Om Yudha kan sedang sakit, jadi Mami yang antar kamu, di antar Pak Danang. "


Terlihat dari luar Yudha berjalan dan menghampiri Pak. Danang, dan Pak Danang menyerah kan sebuah kunci mobil.

__ADS_1


"Om...!!! " teriak Mauren senang.


"Hi... cantik.. !! " sapa Yudha.


"Kamu sudah sehat? " tanya Adinda.


"Sudah dong, masa sakit terus. " jawab Yudha langsung menyalakan mesin mobil nya.


"Cantik, pindah depan dong. "


"Ok." ucap Mauren langsung beralih ke kursi depan.


Adinda tersenyum melihat ke akrab an kedua nya, bahkan Yudha sesekali melirik ke arah kaca spion dan Adinda yang merasakan sesekali di perhatikan langsung mengalihkan pandangan nya ke samping kiri jendela.


Mobil pun sampai, Adinda hanya mengecup kening Mauren di dalam mobil, sedang kan Yudha mengantarkan Mauren hingga masuk kedalam sekolah nya.


"Kita kemana lagi bu? " tanya Yudha.


"Antar saya, langsung ke kantor. " jawab Adinda.


"Siap..!! "


Adinda lalu sibuk dengan tab nya, sambil mengerjakan beberapa laporan. Adinda tahu, Yudha sesekali memperhatikan nya, namun pura - pura sibuk. Hingga mobil pun, sampai di kantor Bupati, Yudha membukakan pintu mobil untuk nya, dengan wajah wibawa, Adinda melangkah masuk dan di sambut oleh Ayu serta Aksana.


"Jadwal hari ini saya kemana? " tanya Adinda sambil menerima sebuah map warna merah dari Aksana.


"Hari ini, pukul 10 nanti akan ada tamu dari kantor gubernur. Beliau salah satu asisten nya, dan pukul 2 siang nanti, ibu ada kunjungan di Lapas sukamakmur. "


"Siapkan semua nya. " ucap Adinda pada Ayu.


"Siap Bu. "


*****


"Kenapa kamu teriak - teriak? tidak tahu saya sibuk. " ucap Rafael.


"Lihat ini. " ucap Wita sambil melemparkan sebuah nota pembayaran.


"Apa sih? nota saja kamu ribut kan."


"Ini hotel, ini restoran, ini club. Kamu habis main sama siapa lagi? selama 6 tahun, kamu sudah meninggal semua nya tapi kini kamu mulai lagi. "


"Kenapa? kamu marah ya? "


"Jelas dong, saya ini istri kamu satu - satu nya. Saya tidak mau, ada wanita datang mengaku hamil anak kamu."


"Kalau iya, kenapa sih? saya akan tanggung jawab. "


"Sudah cukup ya sama Mauren. Saya tidak mau, ada anak lagi. "


"Kamu bisa puaskan saya tidak hah..? saya pertahankan kamu itu karena kamu, adalah sumber uang dan dengan menikahi kamu semua bisnis lancar, nama kamu itu hoki, dan kamu itu sumber uang, aset yang mahal. "


"Kurang ajar kamu Rafael, kamu hanya jadikan saya itu, untuk kelancaran bisnis kamu. "


"Kamu baru sadar apa? sudah tahu saya ini playboy, menikah sama kamu agar semua jadi mudah. Siapa sih, yang tidak ingin menikahi anak dari seorang konglomerat , dengan melihat siapa backingan saya, mereka akan tunduk. "


"Kurang ajar...!! "


"Kamu mau marah silahkan, saya sudah dapatkan semua nya, hingga kerja sama dengan stasiun tv luar negeri dan stasiun tv saya sekarang besar. "


"Saya akan tuntut kamu. "


"Silahkan tuntut apa nya? kamu tidak sadar perusahaan yang di wariskan ke kamu itu sudah jadi milik saya. "

__ADS_1


Aaaaarrrrgghhhhhh


"Jahat kamu Rafael. " bentak Wita.


****


Mauren bersama dengan Yudha, kedua nya sedang asik mewarnai. Adinda tersenyum dan lalu mendekat.


"Sedang apa sih? seperti nya asik banget. " tanya Adinda.


"Ini Mam, ada tugas mewarnai dari sekolah. Di bantu sama Om Yudha. " jawab Mauren.


"Kenapa harus Om Yudha yang ikut mewarnai, ini kan tugas kamu sayang. "


"Saya yang minta, sambil mengajarkan warna yang cocok untuk pola nya. "


"Memang nya mewarnai apa? "


"Robot Mami. "


"Ini kan Robot, masa mau di warnai pink, dan bibir nya merah lagi. "


"Kan ada Robot warna pink. "


"Tapi ini ada nama nya. "


"Memang nya apa? "


"Ini Robot Ironhide, warna nya bukan pink. "


"Saya kan nggak tahu nama Robot. lagian, kamu kenapa pilih mewarnai Robot sih? "


"Kan dari guru nya Mami. "


Mauren sudah menguap, dan Adinda membantu merapikan semua peralatan menggambar nya.


"Selamat malam sayang. "


"Malam." Mauren mengecup kedua pipi Mami nya, dan berjalan sendiri masuk kedalam kamar nya.


"Mau kemana? " Yudha memegang tangan Adinda.


"Masuk kamar, kan sudah malam. "


"Baru jam 9 malam, mau tidur? "


"Capek." ucap Adinda langsung berdiri dan melangkah masuk kedalam kamar nya. Sedangkan Yudha tersenyum tipis.


Sedang kan di dalam kamar, Adinda jantung nya merasakan sangat berdebar, apalagi sentuhan tangan Yudha masih sangat dia rasakan.


"Kok Yudha jadi beda ya sama saya, apa dasar saya nya saja ke geer an. Tadi dia minta, saya jangan dulu pergi. Tapi saya bilang capek. Ih... ini mulut, kenapa nggak bisa di kompromi sih, kenapa nggak bilang, iya ada apa? terus duduk lagi. Kan siapa tahu... ah... ih... ini otak pikiran nya. Lagian dia kan ajudan saya, mana berani dia. Seharusnya saya lah, tapi saya kan cewek, ih... ini konsep nya gimana sih. "


*****


Yudha masih terjaga, bersama Aksana dan Pak Danang menonton televisi, Adinda mengintip dari balik tembok.


Semua nya berteriak sambil bersorak saat menonton bola, entah mengapa Adinda tidak bisa tidur, Saat Yudha menyalakan rokok nya tidak sengaja melihat Adinda, dan Adinda langsung segera masuk kembali ke dalam kamar nya.


Yudha tersenyum, dan langsung menghisap rokok yang dia nyalakan. Sambil sesekali menoleh lagi ke arah kamar Adinda.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2