
"Papi, beli makanan dong, buat teman - teman." ucap Mauren meminta.
"Mau beli apa?" tanya Yudha.
"Apa saja, tapi yang banyak."
"Ok cantik, kita mampir di min market depan ya." ucap Yudha, dan langsung membelokan arah kemudi nya ke kiri untuk mampir ke sebuah mini market.
Mauren langsung masuk, dan Yudha mengambil keranjang belanjaan sebanyak dua buah.
Mauren, langsung mengambil aneka chiki, biskuit , permen bahkan es krim. Yudha hanya diam memperhatikan, anak tiri nya yang semangat berbelanja.
"Udah Papi."
"Nggak ada lagi?"
"Nggak ada lagi Papi."
"Yuk bayar ke kasir."
Mauren dan Yudha mengantri di kasir, dan ada salah satu pembeli yang mengenali wajah Yudha sebagai suami, Bupati kabupaten M.
"Pak Yudha, suami nya ibu Adinda." sapa seorang Ibu di belakang Yudha.
Yudha tersenyum, dan saat meminta bersalaman, Yudha pun membalas nya. Bahkan Mauren pun, ikut tersenyum.
"Bapak boleh minta photo nya?"
"Boleh bu, berdua ya sama anak saya."
"Iya Pak, terima kasih."
"Mas, tolong photo kan kita." ucap Yudha meminta tolong pada salah satu pegawai mini market.
Pegawai mini market pun memotret mereka, hingga tiga kali jepretan. Bahkan ada pengunjung mini market yang tahu Yudha langsung ikut meminta berphoto.
"Maaf, Ibu - ibu saya harus segera jalan lagi ya, mau mengantar anak saya ke rumah nenek nya."
"Terima kasih Pak."
"Sama - sama."
Yudha lalu kembali ke kasir lagi, dan mengantri kembali. Barang belanjaan Mauren, hingga 5 kantong keresek.
"Berapa total nya?" tanya Yudha.
__ADS_1
"3.5 juta Pak." jawab kasir.
"Mau bayar pakai debet atau cash pak?" tanya kembali kasir.
"Pakai cash saja." jawab Yudha.
*****
Mauren langsung menghampiri teman - teman nya. Yudha dan Ibu Nuha, hanya diam menatap Mauren yang sedang membagikan makanan yang tadi di beli nya.
"Anak kamu itu, kecil - kecil sudah memiliki jiwa sosial yang tinggi."
"Benar bu, saya salut sama Rafael. Dia didik Mauren dengan baik, walau dia itu kasar. Mauren termasuk anak yang beruntung, dia tidak menjadi anak broken home. Karena lingkungan yang sangat mendukung, dan Mauren itu pintar."
"Kamu jangan larang atau cemburu sama mantan suami nya, kalau sewaktu - waktu berkunjung. Bagaimana juga, dia memiliki anak dari perkawinan nya."
"Tidak bu, saya juga malah mengajarkan Adinda, untuk tidak membatasi Rafael bertemu dengan Mauren. Dan saya, tidak akan marah kalau memang mereka dekat. Mereka dekat, karena ada anak kecuali tidak ada anak."
"Bagus, kalau kamu memiliki pemikiran begitu. Ibu suka dengar nya, kamu itu adalah Papi sambung nya, bila nanti kamu memiliki anak dari Adinda, kamu jangan jauhi atau luntur kasih sayang kamu sama Mauren."
"Tidak bu, saya tidak akan seperti itu. Saya dari awal sudah sayang sama Mauren, dari awal saya mencintai Adinda, bukan hanya sama Adinda saja, tapi Mauren. Hati sudah berkata, kalau saya mencintai Adinda, berarti saya juga harus mencintai anak nya seperti anak kandung sendiri. Saya menerima Adinda bukan masa kini nya saja, tapi masa lalu dia. Bukan untuk di ingat, tapi ya harus menerima, dan memberikan kebahagiaan sama dia."
"Ibu bangga sama kamu, maaf kalau dulu sempat tidak merestui hubungan kalian. Ibu takut nya, seperti apa yang kemarin terjadi. Tapi benar kata kamu, tidak meladeni dan diam itu lebih baik. Dan sekarang, sudah tidak dengar lagi ini itu." ucap Ibu Nuha.
"Nah betulkan." ucap Yudha.
****
"Terus, mereka itu asik, dan mereka juga baik." ucap Mauren kembali.
"Mauren, pindah saja kesini sama Nenek." ucap Ibu Nuha.
"Kalau disini, Mami sama Papi juga ikut."
"Jangan, biar Mauren saja. Temani Nenek yang nggak ada teman nya."
"Nggak mau, kalau ada Mami Papi mau."
"Mauren makan ya, belum makan dari tadi." ucap Yudha.
"Masih kenyang , makan kue."
"Nanti satu jam lagi makan ya."
"Iya." ucap Mauren sambil memainkan remote TV.
__ADS_1
****
"Mas, nginap disini?" sapa Elisa saat melewati rumah Ibu Nuha.
"Eh Elisa, nggak kok. Habis maghrib juga nanti pulang. " ucap Yudha.
"Sendiri saja?"
"Sama Mauren, dia ada di dalam sama ibu."
"Terlihat sangat dekat ya Mas, seperti anak kandung sendiri."
"Alhamdulillah."
"Mauren juga, nilai nya bagus - bagus dia anak yang cerdas."
"Alhamdulillah, terima kasih."
"Sama - sama Mas, kalau ada waktu main Mas. Lama Mas tidak main ke rumah, ibu juga sering tanya Mas apa masih sering komunikasi atau bertemu. Kata saya, sudah jarang."
"Iya, saya sibuk El, kadang kalau sedang kosong, yang sama keluarga."
"Oh iya, nomer nya Mas ganti ya?"
"Iya, maaf ya saya tidak kasih tahu kamu."
"Tidak apa - apa."
"Itu yang di group, bukan nomer pribadi tapi memang khusus untuk keperluan lain, jadi kalau nomer pribadi sekarang hanya orang - orang tertentu saja."
"Oh gitu ya, saat sudah jadi suami orang penting."
"Maaf ya El, bukan maksud gimana - gimana takut nanti ada yang menyalah gunakan nomer telepon saya."
"Iya saya paham, tapi beda saja."
"Maaf El, tapi saya tidak akan pernah berbeda sama kamu. Saya tetap teman kamu, saat kamu masih mau berinteraksi dengan saya, akan saya balas. Saya tidak akan pernah lupa, siapa diri saya dulu nya. Mungkin di luar, saya hanya seorang Ajudan yang beruntung mendapatkan hati pemimpin nya, tapi ketika saya di rumah, saya adalah pemimpin nya. Dia tetap patuh dan tunduk pada suami nya, walau dari segi jabatan dialah yang paling tinggi. Tapi tetap saya harus mengajar kan, kepatuhan nya pada suami. Kami ini pasangan normal , seperti lain nya. bukan pasangan yang kalian lihat, suami di tindas istri karena pangkat, tidak itu salah. Dan satu, saya tidak pernah sombong, buat apa sombong. " ucap Yudha pada Elisa, hingga Elisa tidak bisa berkata apa - apa.
"Iya saya paham, Adinda beruntung mendapatkan kamu. Pria seperti kamu, pantas mendapatkan wanita pintar, dan cantik seperti Adinda. "
"Mas doa kan, semoga kamu mendapat kan jodoh terbaik, untuk dunia akhirat."
"Amin..!! "
.
__ADS_1
.
.