Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Sebuah Perasaan


__ADS_3

"Hahahaha... Papi geli, papi geli...!!! " ucap Mauren, saat Rafael mengajak nya bercanda, dengan Menggelitik perut Mauren.


"Ayo, kalau nakal lagi, Papi gelitik lagi. " ucap Rafael sambil terus menggelitik Mauren.


Wita menatap kesal, ke arah Rafael yang terus bersama putri nya. Dan langsung menyalakan televisi, dengan suara yang sangat nyaring.


"Wita.. ..!!! " ucap Rafael dengan suara keras.


"Wita...!!! " Rafael langsung mendekati, Wita dan mengambil remote tv lalu mematikan nya.


"Bisa nggak sih, suara nya tidak keras mengganggu tetangga? " tegur Rafael.


"Kamu kenapa sih, bawa anak kamu kesini?"ucap Wita kesal.


"Kamu sekarang, urus Mauren."


"Hah.. nggak salah, lebih baik saya asuh anak sendiri. "


"Kamu bilang, asuh anak sendiri? sekarang apa kamu sudah hamil? "


"Saya bisa hamil."


"Bukti nya mana? saya ini tidak mandul. Saya bisa membuahi banyak wanita, hanya kamu sendiri yang tidak jadi - jadi."


"Jadi kamu meragukan saya? "


"Iya, kenapa saya bawa Mauren? buat memancing kamu, agar bisa hamil."


"Ribet tahu, saya urus anak kamu. Serahkan saja, sama orang tua kamu. Dan kamu tahu sendiri, saya malas ketemu sama Adinda."


"Wita, please rawat Mauren. Saya tidak ingin, kehilangan dia." ucap Rafael dengan suara mulai melembut.


"Saya tidak akan jamin, anak kamu betah sama saya. "


"Ok, tapi ingat. Kamu jangan sakiti dia, atau kamu buat dia menangis. Kalau kamu, buat dia menangis, saya akan hajar kamu." ancam Rafael.


Sedang kan di dalam kamar, Mauren memeluk guling nya. Dengan kedua tangan di tutup nya, Rafael lalu masuk kedalam kamar Mauren.


"Sayang." ucap Rafael sambil mengalihkan kedua tangan Mauren dari kedua telinga yang dia tutupi.


"Mulai sekarang, Mauren sama Mami Wita ya?"ucap Rafael, dan Mauren menganggukkan kepala nya.


" Nanti, Papah akan pasang CCTV di setiap sudut rumah. Buat mengawasi kamu, dan ingat kalau Mami kamu kemari, minta kamu ikut sama Mami jangan mau ya? "


"Iya Papi. "


"Papi itu sayang sama kamu, tidak seperti Mami kamu. Mauren rasakan, disana bukan Mami yang selalu ada, tapi siapa? "


"Om Ajudan."


"Pintar, Mauren janji? " ucap Rafael sambil mengarahkan jari kelingking nya.


"Janji." ucap Mauren, mengarahkan jari kelingking nya, lalu di tautkan pada jari kelingking Rafael.

__ADS_1


*****


Aaaaarrrrrgghhhh


"Rafael...!! " ucap Adinda kesal.


Ayu, Aksana dan Yudha hanya diam, saat melihat Adinda terus mencoba menghubungi suami nya.


"Ini gara - gara kamu. " ucap Adinda menunjuk jari nya ke arah Yudha.


"Maaf kan saya Bu." ucap Yudha.


"Kamu tahu, tujuan saya itu. Bawa Mauren kemari, agar bisa cerai dengan Rafael. Saya memiliki rencana, untuk Mauren agar tidak di ambil oleh dia. Tapi, kamu gagalkan, dan kamu malah serahkan. Kamu itu Ajudan saya, harus patuh sama saya, bukan sama Rafael."


"Maafkan saya bu. " ucap Yudha kembali.


"Kamu hanya bisa minta maaf, dan sekarang Rafael susah di hubungi."


"Adinda, kamu cukup menyalahkan Yudha, dia itu tidak tahu apa - apa. Kamu harus paham, masalah ini siapa yang salah. Kamu tahu, jujur, kami ini sabar memiliki pimpinan seperti kamu. Kamu mau di bagaimana, terserah kamu. Tapi kalau kamu, terus menyalahkan Yudha, mungkin kamu salah. " ucap Ayu.


"Kamu berani bilang begitu, karena kamu sahabat saya. Kalau bukan, lihat Aksana dan Yudha hanya diam saja. "


"Saya mundur, saya mundur jadi Ajudan ibu." ucap Yudha berdiri dan langsung pergi.


"Yu - Yudha. " ucap Adinda.


"Manusia itu, memiliki perasaan. Saya akan meminta bagian kepegawaian, untuk segera memproses pemindahan nya. " ucap Ayu pergi meninggalkan Adinda.


"Maaf Bu, saya permisi. " ucap Aksana langsung lari menyusul Ayu dan Yudha.


****


Yudha memasukan pakaian nya kedalam tas, dan tak sengaja menjatuhkan figura kecil photo dirinya dah Tasya.


Bingkai yang pecah, bahkan kaca nya pun pecah, Yudha memungut nya dan membuang nya dalam tempat sampah.


Adinda masuk ke dalam kamar Yudha, dan Yudha hanya diam melanjutkan memasukan pakaian nya.


"Maaf." ucap Adinda.


"Saya maafkan Bu, tapi saya minta maaf. Tidak bisa, menjadi Ajudan ibu lagi. "


"Saya, tadi emosi."


"Saya paham, bagaimana perasaan ibu saat ini. Saya memang salah, sehingga membuat Ibu marah pada saya. "


"Kamu tahu, bagaimana rumah tangga saya. Tolong bantu saya, bantu saya lepas dari suami saya. "


"Maaf Bu, saya bukan orang yang tepat. Saya takut salah, saya tidak mau terlibat."


"Saya mohon, kamu pasti bisa bantu saya. Dari kamu membawa Mauren, untuk tidak melihat nya. Saya tahu, kamu lelaki yang bertanggung jawab. "


"Maaf Bu, saya pamit. " ucap Yudha pergi meninggalkan Adinda, saat Yudha keluar dari kamar nya, Adinda melihat di dalam tempat sampah ada sebuah figura photo.

__ADS_1


Adinda mengambil nya, terlihat photo Yudha dan seorang wanita. Yang sudah, dibuang oleh Yudha.


****


Adinda berdiri di depan ruangan nya, tak melihat Yudha yang biasanya sudah datang. Hanya Aksana, Ayu dan staff lain nya.


Adinda berjalan ke luar, area kantor Bupati. Dan menyisir pandangan nya, mencari Yudha. Tapi tidak ada, dan langsung menghampiri Aksana.


"Yudha mana? " tanya Adinda.


"Bukan nya, Ibu tahu kalau Yudha mengundurkan diri."


"Saya kira, dia itu bercanda."


"Bu, maaf ya. Seperti nya Yudha, sedang memiliki masalah tapi di tambah Ibu yang menyalahkan nya. Jadi Mungkin, Yudha kesal dan mengundurkan diri."


Adinda langsung mengambil ponsel nya, dan menghubungi Yudha. Namun ponsel Yudha tidak aktif, dan Adinda terus berusaha menghubungi nya.


****


"Yudha, gimana ikan nya banyak? " tanya Ibu Nuha saat Yudha tengah menguras tambak.


"Banyak Bu, lumayan besar - besar. " ucap Yudha sambil di bantu oleh kedua tetangga nya Pak Warno dan Pak Toni.


"Mas Yudha, tanam nya nggak hanya ikan Mas saja ya, ada ikan mujaer nya. " ucap Pak Warno.


"Iya Pak, namanya juga empang - empangan, tapi lumayan hasil nya."


Yudha naik ke atas permukaan, dan melihat ikan hasil panen nya begitu banyak. Ibu Nuha, meminta Pak Warno dan Pak Toni membagi nya untuk mereka berdua, dan tetangga sekitar.


"Terima kasih Bu, kebagian semua. " ucap Pak Toni.


"Alhamdulillah, kalau kebagian semua. Yaudah, di kasih cepat, mumpung masih segera ikan nya. " ucap Ibu Nuha.


Yudha duduk di tepi tambak, sambil menghisap barang rokok nya. Dengan celana pendek dan bertelanjang dada.


"Kamu nanti antar, ikan nya buat orang tua Elisa. "


"Ya Bu, tapi nanti nya. Yudha istirahat dulu, soal nya capek. "


"Iya, nanti kamu bersih kan buat makan malam kita."


"Baik Bu. "


Sedang kam Adinda terus mencoba menghubungi Yudha tapi masih sulit, karena ponsel Yudha tidak aktif.


"Apa Yudha marah sama saya ya? ponsel nya sampe sekarang masih belum aktif."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2