Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Kebohongan Publik Kembali


__ADS_3

Yudha mengompres wajah Adinda, hingga masih terisak. Setelah, Mirna membantu mengobati luka cambukan di belakang punggung nya.


"Bu, maaf kami tidak berani menolong ibu, kami tidak bisa apa - apa, karena ini masalah pribadi ibu sama suami ibu. " ucap Mirna.


"Iya, nggak apa - apa. "


"Apa perlu, saya lapor kan ke pihak berwajib?" ucap Aksana.


"Jangan, biar ini urusan saya. " ucap Adinda.


Yudha terus menatap Adinda, kedua mata nya lebam karena menangis, dan terlihat bekas tamparan.


"Saya akan memenuhi permintaan Rafael, besok saya akan kesana."


"Tapi Bu. "ucap Mirna.


" Nggak apa - apa, demi Mauren." ucap Adinda dengan menatap ke arah Yudha.


"Kita keluar, biarkan Bu Adinda istirahat." ucap Yudha.


"Terima kasih. " ucap Adinda.


"Sama - sama Bu. " ucap Mirna.


****


"Nanti, kalau ada Pak Rafael jangan kasih masuk. " ucap Mirna.


"Benar itu, tapi kenapa dia bisa masuk ke dalam ya? " ucap Aksana.


"Kan suami nya Mas. " ucap Mirna.


"Ada betul nya juga. "


Di dalam kamar, Adinda menatap tubuh nya di depan cermin, memandang tubuh nya yang penuh luka lebam.


***


"Ibu mana? " tanya Ayu.


"Ibu masih di kamar nya. " jawab Yudha.


"Harus ada rapat pagi ini, dia harus segera datang ke gedung DPRD. "


"Seperti nya, harus di wakil kan, sama Wabup." ucap Yudha.


"Sakit? "


"Semalam, suami nya KDRT. "


"Terus, kalian bawa dia kan ke kantor polisi?"


"Kami diam, dan tidak berani masuk. Karena, ini masalah pribadi. "


"Kamu itu gimana sih, Ajudan tugas nya jaga, mau pribadi mau apa, kalau sudah begini harus ikut campur. Kalau sampai kenapa - napa, kalian yang di salah kan." bentak Ayu.


"Terus, yang lain tahu tidak? "tanya Ayu kembali.


" Tahu Bu. "


"Pak Danang, Mba Mirna, Aksana...!!! " panggil Ayu, lalu mereka bertiga pun datang.


"Kalian ini, kalau si Rafael datang, hadang dia. Ibu Adinda di pukuli, pisahkan mereka. Kalian ini, bodoh membiarkan orang nomer satu mati di tangan pria seperti itu."


"Maaf kan kami." ucap Pak Danang.

__ADS_1


"Sekarang, mau di adakan rapat, Ibu Wabup tidak bisa, karena ada acara sendiri. Kalian bantu saya, untuk membantu cari alasan." ucap Ayu dengan wajah kesal nya.


"Tidak perlu, saya akan datang." ucap Adinda keluar dari kamar nya, dengan memoles make up untuk menutupi luka nya.


"Ibu tidak apa - apa? " tanya Ayu.


"Tidak apa - apa, kita berangkat sekarang. " Jawab Adinda.


"Aksana, Yudha kamu ikut dengan saya. Kamu Ajudan saya berdua sekarang, setelah rapat, antar saya ke tempat tinggal Rafael. "


"Ada apa lagi? " tanya Ayu.


"Mauren, minta photo bertiga." jawab Adinda.


****


Adinda mengisi rapat, di gedung DPRD. dimana Yudha, Aksana dan Ayu, duduk tak jauh dari Adinda.


Yudha melirik, saat melihat ada seorang wanita berpakaian PDH, dan tersenyum ke arah nya.


Yudha memberikan kode, begitu dia juga. Hingga Adinda turun dari podium dan berjalan mendekat, Yudha diam saat mendapatkan tatapan dari Adinda.


"Siapa tadi? " tanya Adinda, saat rapat selesai dan sedang berjalan keluar dari gedung DPRD.


"Maaf Bu, yang mana? "


"Salah satu, staf DPRD. "


"Oh, itu Karina. "


"Kenal? "


"Mantan saya. "


Semua mata melirik , ke arah Yudha. Dan Yudha langsung menundukkan kepala nya. Wanita yang di obrolkan , langsung bergabung di belakang Yudha.


"Baik, kamu pindah kapan? "


"Baru satu minggu."


Adinda berhenti, dan semua yang mengawal berhenti. Adinda menoleh ke belakang, dan menatap ke arah Karina.


"Siapa suruh masuk barisan kita? " tanya Adinda.


"Maaf Bu, saya hanya ingin menyapa Ajudan ibu. "


"Nggak sopan, kamu orang baru? "


"Maaf Bu. "


"Keluar barisan kamu, kamu pulang sendiri nanti. " ucap Adinda pada Yudha dan langsung melanjutkan jalan nya kembali.


"Maaf Karina, nanti saya DM kamu."


"Iya, nomer saya juga masih sama."


****


"Sekarang kita tempat Rafael, tolong Ayu, kamu siapkan make up saya. "


"Baik Bu. " ucap Ayu.


Adinda mengambil ponsel nya, lalu menghubungi Rafael, dan panggilan nya pun langsung di angkat nya.


"Kita ketemu di studio photo, saya akan jemput Mauren di sekolah nya. " ucap Adinda.

__ADS_1


"Saya yang akan jemput dia. " ucap Rafael langsung mematikan panggilan nya.


"Suami, tidak tahu diri. " ucap Adinda.


"Ayu, kamu hubungi Wildan. Untuk segera proses, dan photo - photo saya, suruh cepat kirim kan. Dan setelah, besok atur jadwal di rumah sakit. saya akan visum, dan saat nya saya mulai bertindak. "


"Siap Bu. "


****


"Mami...!!! " Mauren langsung memeluk Adinda.


"I'm miss you, mami. "


"Miss you too. " ucap Adinda langsung mencium kedua pipi kanan kiri Mauren.


Beberapa wartawan langsung meliput Adinda dan keluarga nya, hal yang paling tidak suka. Permainan pun di mulai, kembali pembohongan publik.


"Saya kasihan, lihat Adinda harus pura - pura bahagia. Tapi semoga semua nya, cepat berlalu. " ucap Ayu.


"Kalau pria itu bukan, suami dari Ibu Adinda sudah saya hancurkan rahang nya. " ucap Aksana.


"Kenapa, tidak sekarang saja kamu hancurkan. Mumpung, banyak wartawan." ucap Yudha.


"Kamu pikir, saya bodoh apa. Main pukul disini, yang ada yang akan tidur di hotel pordeo. Kalau mau, sama kamu juga. " ucap Aksana, dan membuat Yudha tersenyum kecil.


"Berarti, kalau tidak ada wartawan, dan bukan suami Ibu Bupati berarti mau ya jaminan masuk hotel pordeo? "


"Mau, asal sama kamu."


Setelah selesai wawancara, Adinda, Mauren dan Rafael mengambil beberapa sesi pemotretan. Senyum palsu Adinda, berhasil membuat semua orang di bohongi. Tawa nya yang renyah, dan bercanda bersama putri satu - satu nya, membuat seakan lupa masalah tadi malam.


"Mami, kita pulang ke rumah Papi. " ajak Mauren.


"Mami, masih ada pekerjaan. Nanti Mauren, libur sekolah Mami janji, akan berkunjung."


"Ok Mami, Mauren tunggu janji Mami."


"Iya sayang, tunggu ya. "


"Kamu jangan obral janji ke anak, yang ada anak malah tersakiti karena kamu selalu mengingkari nya. " ucap Rafael.


"Stop, kamu jangan membuat saya emosi,kamu marah dan bertengkar hebat di depan mereka." ucap Adinda berbisik.


"Sayang, Mami pergi dulu. Mami janji, kita akan selalu bersama nanti. " ucap Adinda memeluk tubuh Mauren.


"Mami bawa Mauren. " bisik Mauren.


"Tidak sekarang, kamu sabar ya. " bisik Adinda ke telinga Mauren.


"Mami pulang, I love you. "


"I love you too Mami, hati - hati. "


"Iya sayang."


Adinda tidak bermain menoleh ke belakang, sedang kan Mauren terus melambaikan tangan nya. Hingga Adinda masuk kedalam mobil, terlihat dari kaca Mauren masih melambangkan tangan nya.


Semua nya diam, Adinda kembali menangis. Hingga tangisan nya, dia lepaskan semua nya di dalam mobil.


"Saya benar - benar sudah tidak kuat." ucap Adinda sambil terisak.


Yudha menatap dari kaca spion, melihat Adinda yang terus menangis.


.

__ADS_1


.


__ADS_2