
Adinda masih diam tidak berkata apa - apa, Yudha tersenyum dan tahu, bahwa Adinda sedang shock. Yudha pun lalu mendekat, dan duduk di samping Adinda.
"Kenapa sayang? masih nggak percaya ya?" ucap Yudha sambil membelai rambut Adinda.
"Kamu nembak saya? "
"Hahahahahhaha... kamu itu lucu, bukan nya seneng, cinta nya bersambut malah kayak orang dapat kabar apa saja. "
"Kamu coba katakan lagi, saya masih belum percaya. "
"Adinda sayang, mau tidak Mas lamar untuk di jadikan istri? "
"Langsung jadi istri? "
"Iya, Mas ingin menikahi kamu, jadi Papi sambung nya Mauren. "
"Ntar dulu, saya mau tanya. Kamu suka sama saya itu, sejak kapan? "
"Sejak kita dekat. "
"Dekat sejak kapan? "
"Ya sejak, kamu bilang suka." ucap Yudha, dan Adinda tersipu malu.
Yudha memegang wajah Adinda, di belai nya, hingga wajah nya kini saling dekat, Yudha menautkan kening nya, di kening Adinda.
"Saat melihat kamu menangis, hati saya ikut menangis. Apalagi, saat tubuh kamu di siksa, raga saya pun ikut tersakiti. Saya akan membahagiakan kamu, membuat kamu selalu tersenyum, dan membuat Mauren pun selalu tersenyum. "
"Saya mau jadi istri Mas. "ucap Adinda, Yudha tersenyum dan kedua nya saling berciuman.
Yudha dan Adinda, terhanyut dalam ciuman kedua nya, kedua tangan Adinda yang di kalung kan di leher Yudha, begitu juga dengan tangan Yudha yang memeluk erat pinggang Adinda.
" Terima kasih, sudah membalas cinta saya."
"Mas yang terima kasih, kamu sudah menerima pria, tapi dia adalah bawahan kamu. "
"Karena cinta, dari awal saya sudah jatuh cinta sama kamu. " ucap Adinda, kembali mencium bibir Yudha.
"Jadi kita pacaran nih? " tanya Yudha, dan Adinda mengangguk kan kepala nya.
"Iya, kita pacaran. " ucap Adinda, dan Yudha kembali mengecup bibir Adinda.
****
"Kita, kalau di depan mereka seperti Ajudan dan atasan nya, saya tidak mau mereka tahu sekarang kita pacaran. Apalagi publik sampai tahu, lalu mengekspos kita. " ucap Adinda.
"Ok, kalau itu mau kamu, Mas akan turuti."
"Makasih sayang." ucap Adinda mencium pipi Yudha.
Yudha membukakan pintu mobil untuk Adinda, Yudha lalu mengekor langkah Adinda, dan dengan segera masuk ke dalam kamar.
Mauren membuka kamar nya, sambil mengucak kedua mata nya dan langsung memeluk Mami nya.
"Mauren kok bangun? " tanya Adinda.
"Lapar." jawab Mauren.
"Mau makan apa? "
__ADS_1
"Apa saja lapar. "
Adinda mengangkat tubuh Mauren, di gendong nya menuju ke dapur. Yudha melintas, dan mendekati mereka berdua.
"Kenapa cantik? " tanya Yudha membelai rambut Mauren.
"Lapar katanya " jawab Adinda.
"Mau makan apa? "
"Tak buat kan sereal saja yang mudah, tadi makan nya belum kenyang ya? " ucap Adinda dan di anggukkan oleh Mauren.
"Sini sama Om, Mami biar suruh ganti baju dulu. " ucap Yudha dan Mauren pun menurut laku beralih di gendong Yudha.
Adinda masuk kedalam kamar, untuk berganti pakaian sedang kan Yudha memangku Mauren yang sedang makan sereal nya.
"Nanti habis makan, jangan langsung main ya, nanti nggak bisa bobo. Besok kan harus sekolah, masa nggak sekolah. "
"Iya."
Adinda lalu duduk di samping Yudha, yang sedang memperhatikan Mauren. Yudha tersenyum pada Adinda, melihat Mauren yang akrab dengan nya.
"Sudah habis. " ucap Mauren.
"Langsung masuk kamar yuk, besok sekolah." ucap Adinda.
"Met bobo cantik." ucap Yudha.
****
"Pagi semua...!!! " sapa Adinda, pada semua staf saat akan mengadakan briefing pagi.
"Pagi bu..!! " sapa semua nya.
"Alhamdulillah sehat bu. " ucap semua nya.
"Kita mulai, untuk briefing sekitar 10 menit, hanya sebentar sebelum memulai waktu kerja. Kenapa saya panggil semua nya, ini saya akan bahas seputar kinerja kita. " ucap Adinda.
"Tolong mba Ayu, yang kemarin saya serahkan itu. " pintar Adinda, lalu Ayu pun menyerahkan selembar kertas yang sudah di ketik rapih.
*****
Yudha masuk, setelah acara briefing, dan langsung mengunci pintu ruang kerja Adinda, dan langsung merebut pulpen yang ada di tangan nya.
"Mas."
"Jam berapa sekarang? "
"Jam 11.30."
"Waktu istirahat, shalat dan makan siang."
"Sebentar lagi ya, tanggung. "
"Sudah, kata Mas sudah ya sudah. "
"Kok Ajudan ngatur atasan. " ucap Adinda cemberut.
"Sekarang, bukan antara Ajudan dan atasan, tapi sebagai seorang pasangan kekasih. "
__ADS_1
"Iya, Mauren sudah di jemput? "
"Sudah, mau makan siang sama Mauren? "
"Iya, istirahat di rumah dinas, nanti jam 1 kita kesini lagi. "
"Ok, saya antar. "
Saat membuka pintu, Ayu menatap Adinda dan Yudha keluar bersamaan dari ruang kerja Adinda.
"Kalian..!!! " ucap Ayu.
"Waktu istirahat, saya mau pulang dulu."
"Saya hanya mau kasih kabar, setelah istirahat akan ada tamu, para tokoh masyarakat, ingin bertemu ibu, apa bisa? "
"Ada jam kosong? "
"Ada sih, sampai kan saja, jam 4 sore saya bisa temui mereka, karena saya masih harus ada beberapa yang harus saya kerjakan. Tinggal sedikit lagi."
"Baik bu, nanti saya sampaikan." ucap Ayu, sambil melirik ke arah Yudha.
*****
"Aksana, Pak Danang, saya curiga deh. " ucap Ayu.
"Curiga apa mba? "
"Ibu Adinda sama Yudha, keluar sama - sama dari ruang Ibu Adinda."
"Kebetulan saja, mungkin ada pekerjaan." ucap Aksana.
"Iya, jangan berpikir buruk. " ucap Pak Danang.
"Nggak Pak, saya benar kok."
"Sudah mba, berpikir positif saja lah, kalau pun mereka ada hubungan ya sudah, tinggal kita dukung. Lagian ibu kan, janda. " ucap Aksana.
"Iya, sudah kamu diam saja. " ucap Pak Danang.
*****
"Mami, tadi Mauren dapat nilai A loh, Mauren berhitung satu sampai seratus. " ucap Mauren.
"Pintar anak Mami." ucap Adinda.
"Mami, Mauren tadi maju, ditanya pernah jalan - jalan kemana saja sama Mami Papi, Mauren jawab, sama Papi, pernah di ajak ke kebun Binatang, waterbom, kalau sama Mami ke Mall. " ucap Mauren jujur.
"Gimana kalau, kita jalan - jalan, ke sea word." ajak Yudha.
"Iya bagus itu. " ucap Adinda.
"Mau...!!! " ucap Mauren senang.
Dari balik tembok, Mirna mengintip ke akrab an Yudha yang tidak seperti biasa nya. Yudha begitu sangat dekat dengan Adinda dan Mauren, bahkan Yudha sempat membelai kepala Adinda.
"Kok, Mas Yudha berani sama Ibu. Apa jangan - jangan mereka itu, benar - benar pacaran ya?" ucap Mirna.
"Ah.. jangan berpikir yang terlalu jauh, memang Mas Yudha kan dekat sama Mauren, tapi tadi Mas Yudha membelai kepala Ibu Adinda. Ah... iya nggak salah, ini harus di laporkan sama Mba Ayu, Mas Aksana dan Pak Danang, mereka harus tahu. Bisa gawat ini, bakalan ada hot news. Saya coba kirim di pesan group, tak photo mereka, nah.. tuh kan momen langka, tangan Mas Yudha berpegangan sama Ibu. " ucap Mirna memotret nya bahkan mem video lalu di kirim ke pesan group.
__ADS_1
.
.