
"Katakan sama ibu, kalau kamu itu pacaran sama Ibu Adinda. " ucap Ibu Nuha, melalui panggilan telepon nya.
"Saya tidak pacaran bu, itu berita hoaks." ucap Yudha dari seberang.
"Ibu tidak percaya, kalau tidak pacaran, kenapa pergi berdua. "
"Ya waktu itu, tujuan saya menghibur Ibu Adinda yang sedang sedih. Karena masalah rumah tangga, dengan suami nya sejak lama tidak sehat."
"Jujur sama Ibu, kamu suka? "
"Bu, saya tidak ada hubungan sama Ibu Adinda , percaya sama saya."
"Lagian, Ibu tidak mau memiliki menantu orang besar, hidup tidak nyaman. Malah dikejar - kejar. Ini saya, banyak tetangga yang datang, malah banyak yang tuduh kamu rebut istri orang. "
"Besok Yudha akan jelaskan semua nya, Ibu jangan khawatir. "
"Iya nak, kamu buktikan pada semua nya, kalau ini berita hoaks. "
*****
Yudha mematikan ponsel nya, dan dirinya malam ini tidak bisa tidur. Yudha memutuskan untuk keluar dari dalam kamar nya.
Sambil menikmati udara malam, Yudha duduk di kursi taman halaman belakang rumah. Dengan menyalakan sebatang rokok, dan menghembuskan asap nya sembarang.
Saat sedang menghisap rokok nya,Yudha melihat Adinda yang sedang berdiri di teras kamar nya. Sambil bersandar di balkon, Adinda tengah menikmati indah nya rembulan malam.
Yudha tersenyum dan langsung mengalihkan pandangan nya. Saat Adinda menatap ke bawah , tidak sengaja melihat Yudha yang sedang duduk sendiri.
Adinda tersenyum, saat menatap Yudha dari atas, dan Yudha pun tahu kalau Adinda sedang memperhatikan nya. Terlihat dari pantulan, air kolam yang jernih di bawah sinar rembulan.
*****
Di depan kantor Bupati, masa telah memadati di luar gerbang, bahkan berbagai spanduk bertuliskan untuk menurunkan Adinda sebagai Bupati.
Adinda berdiri, sambil merasakan jantung yang berdetak sangat kencang, Pak Faisal mendampingi Adinda untuk menemui masa yang sedang memanas.
__ADS_1
Saat akan keluar, Yudha pun berada di samping Adinda, dan kini mereka berjalan mendekati masa yang terus berteriak.
"Mohon, saya minta perhatian nya." ucap Adinda, bahkan tiba - tiba, ada yang melemparkan sebuah balon air, hingga mengenai wajah nya.
"Hey....!!! " teriak salah satu anggota Polisi, dan segera menangkap pria yang melemparkan balon air tersebut.
"Dengarkan saya dulu, jangan main hakim sendiri. " ucap Adinda lantang.
"Mungkin, kalian marah dan kesal, memiliki pemimpin yang seperti saya ini. Dengan beredar nya, berita tentang saya dan Ajudan saya yang bernama Yudha, itu adalah benar. "ucap Adinda kembali.
"Huuuuuuuu....!!! " ucap serentak para warga.
"Tapi dengar kan saya dulu, kami memang ke laut saat itu, dan kami tidak tahu ternyata ada oknum yang tidak bertanggung jawab dengan menyebar luas photo - photo kami berdua, dan menjual nya, untuk jadi konsumsi publik. Kalian seperti ini wajar, karena rasa kecewa. Tapi banyak hal, yang tidak di ketahui oleh kalian kalian, bahkan apa yang terjadi pada pribadi saya. Seharusnya, saya tidak mengatakan nya tapi karena seperti ini, saya terpaksa harus mengatakan nya. " ucap Adinda sambil menarik nafas panjang, dan Yudha berdiri di samping nya.
"Pernikahan saya, dengan suami sudah tidak sehat, sejak 6 tahun yang lalu. Bahkan, kami memang hidup terpisah, bisa kalian cek di pengadilan gugatan dan cek di kepolisian atas pelaporan nya, bahkan di rumah sakit. Nanti pengacara saya yang akan jelaskan. Dari sana, mungkin bisa ada jawaban. Kami tidak selingkuh, saat itu memang kami ke laut. Dan Ajudan saya, hanya menemani saya untuk jalan - jalan, mencari sebuah ketenangan. Saat itu, setelah kejadian saya dan suami bertengkar. Tapi tidak ada niat lain, dari kami berdua. Dan kepergian kami, di ketahui oleh yang lain nya. Untuk gugatan, mengatakan saya gugat suami benar, tapi bukan karena saya pacaran dengan Ajudan saya. Sekian dari saya, dan pengacara saya yang akan, menjelaskan dengan bukti - bukti lain nya." ucap Adinda.
Adinda langsung meninggal kan tempat, saat akan meninggalkan tempat, ada salah satu orang yang akan melemparkan sebuah telur busuk namun dengan segera Yudha, melindungi Adinda dan mengenai punggung Yudha.
"Saya Yudha, asisten dari Ibu Adinda, saya pribadi mengucapkan maaf. " ucap Yudha dan Adinda menoleh ke arah nya.
"Semoga kalian paham, tidak menyudutkan Ibu Adinda, saya yang salah. Telah mengajak dia pergi, hanya untuk menghibur dia dari masalah pribadinya, salahkan saya, kalau ingin marah. Terima kasih. "ucap Yudha langsung pergi.
" Yudha.. .!!! " panggil Adinda.
Yudha menghentikan langkah nya, dan membalikkan tubuh nya, kini mereka saling berhadapan.
"Ini salah saya bu, maafkan saya. Sampai tadi, banyak yang menyudutkan Ibu. Saya siap di mutasi, saya siap di berhentikan menjadi seorang Ajudan. "
"Kamu hanya ingin menghibur saya, kamu tidak akan saya pecat. Masa akan redam, setelah Wildan menjelaskan semua nya, dan beberapa bukti terkait. Masalah pribadi yang seharusnya tidak jadi konsumsi publik, sekarang harus jadi konsumsi publik. Tapi ini lebih baik, agar semua tahu siapa yang salah dan benar. Agar semua tahu, Rafael yang membuat sebuah sandiwara palsu, saya capek hidup dalam ke pura - pura an, saya capek, ini saat nya mereka tahu, bagaimana saya ini tersiksa."
*****
"Ini bayaran kamu, cepat kamu pergi. Karena mereka itu pintar, begitu tersebar langsung mencari akun bodong itu. "ucap Rafael, pada seorang pria yang memotret Adinda dan Yudha, saat di laut.
" Terima kasih bos, kalau begitu saya permisi."
__ADS_1
"Iya." ucap Rafael.
Hahahahahah....
"Kamu pikir, melawan Rafael itu mudah, kamu lawan, akan lebih sakit balasan nya. Jangan coba - coba, kamu mengajak saya bermain. Sekali tembak, saya balas hingga kamu tumbang."
Hahahahaha...
*****
"Saya minta, kamu untuk di rumah sementara waktu. "ucap Pak Faisal pada Yudha.
" Baik Pak. "
"Saya minta, setelah kejadian ini, kalian jaga jarak. Dan saya tidak mau, masalah ini terjadi lagi. Merendam masa itu sulit, daripada merendam kemarahan pribadi satu orang. "
"Saya minta maaf Pak. "
"Cukup, kamu boleh pergi. "
Yudha pun meninggalkan ruang kerja Adinda, dan berjalan ke arah kamar nya, untuk mengemasi pakaian nya.
"Yudha."
"Iya Bu. "
"Maaf ya, karena saya kamu di rumah kan untuk sementara waktu. " ucap Adinda.
"Ini resiko saya, yang sudah mengajak ibu keluar. Maafkan saya Bu, kalau saya tidak mengajak ibu keluar, pasti tidak seperti ini cerita nya. "
.
.
.
__ADS_1