
"Mami pulang dulu ya." ucap Adinda sambil membelai wajah putri nya.
"Terima kasih Mami, sudah temani Mauren." ucap Mauren dengan mengecup kedua pipi Mami nya.
"Sama - sama sayang, nanti kita akan sering sama - sama."
"Ok Mami. "
Adinda berdiri dan menatap ke arah Rafael, dengan angkuh menatap ke arah Adinda. Dan Wita pun, ada disamping nya.
"Saya kembali kan Mauren utuh, tidak ada yang kurang satu pun."
"Terima kasih, dan silahkan pergi. Mauren harus istirahat."
"Apakah, itu cara kamu memperlakukan istri."
"Jadi kamu, mau diperlakukan seperti apa? saya lebih suka menyiksa kamu." bisik Rafael.
"Tinggu saja tanggal main nya, saya akan memenangkan nya. " ucap Adinda tersenyum sinis.
"Om sini." panggil Mauren pelan ke Yudha.
"Ada apa cantik? " ucap Yudha sambil berjongkok.
"Om, jaga Mami ya. " bisik Mauren, dan membuat Yudha sedikit terkejut lalu tersenyum dan menunjukkan jempol nya.
"Sayang, Mami pamit. I love you. "
"I love you too Mami, bye.. " ucap Mauren melambaikan tangan nya
****
"Tadi kamu ngobrol apa saja, sama Mauren?" tanya Adinda saat sudah di dalam mobil.
"Tidak ngobrol apa - apa." jawab Yudha.
"Tadi, anak saya bisik - bisik? "
"Oh, itu rahasia saya sama Mauren."
Adinda langsung menoleh ke belakang, begitu juga Ayu dan Aksana. Bahkan Pak Danang pun, melirik dari kaca spion.
"Jadi kamu main rahasia sama saya? mau saya turun kan kamu? " ucap Adinda, dan Pak Danang reflek menghentikan mobil nya.
"Maaf Bu, tanya sendiri sama putri ibu. "
"Sudah, masalah sepele saja kamu ributkan." ucap Ayu.
"Pak jalan lagi." ucap Ayu kembali.
****
"Yudha, memang nya Mauren bilang apa sama kamu? sampe segitu kepo nya."
"Rahasia." ucap Yudha.
"Mau saya hukum. "
"Tidak takut. " ucap Yudha dengan melebarkan senyum nya sambil melangkah kan kedua kaki nya.
Sedangkan di dalam kamar, Adinda senyam senyum sendiri, sambil memeluk bantal guling. Ayu masuk, dan langsung naik ke atas tempat tidur.
"Kenapa kamu? bayangin jorok ya sama Yudha. " ucap Ayu meledek.
"Ih.. sembarangan kalau bicara."
"Terus apa? "
"Ayu, kamu tadi lihat kan. Mauren, dekat banget sama Yudha. Menurut kamu, pantas nggak sih, kalau dia nanti jadi Papi sambung nya? "
"Hadeuh, kamu itu ya. Emang mau? si Yudha sama kamu? "
"Nggak tahu. "
__ADS_1
"Makan nya, jangan ngarep. Nanti jatuh, sakit lagi. Kamu kan tahu, Yudha banyak cewek nya. Sekarang kan, lagi dekat sama staf DPRD itu. Yang kata nya mantan, kalau ada perawan ngapain terima janda."
"Kok gitu." ucap Adinda dengan wajah cemberut.
****
"Kamu pulang, tidak kabari dulu. "ucap Ibu Nuha.
" Nggak ada niat tadi Bu, tapi tiba - tiba ingin pulang." ucap Yudha.
"Nak, ibu ingin kamu itu menikah sama Elisa."
"Ibu ini ada - ada saja, saya saja Elisa itu hanya teman."
"Teman tapi lama - lama jadi demen."
"Bu, saya itu nggak ada rasa sama Elisa, coba saja tanyakan sama Elisa nya. "
"Tapi Elisa itu, suka sama kamu."
"Bu, maaf ya bu. Elisa sudah saya anggap, sebagai adik sendiri. Nggak lebih, nggak ada rasa sama sekali."
"Tapi Ibu ingin kamu, menikah sama Elisa."
"Maaf ya bu, nanti Yudha cari sendiri saja."
"Nggak, Ibu cocok nya sama Elisa, titik. "
"Terserah ibu lah, tapi Yudha tetap tidak mau."
****
"Ayah." ucap Adinda langsung mencium punggung tangan Pak Faisal.
"Duduk."
"Ayah kok, malam - malam kesini? ibu mana?"
"Ayah, sengaja datang kesini, untuk menemui kamu. "
"Kamu katanya, lagi suka sama Ajudan kamu?"
"Ka - kata siapa? "
"Banyak informasi, kalau kamu juga semena - mena, memasukan urusan pribadi ke pekerjaan. "
"Ayah kata siapa dulu."
"Ayah, tidak akan bilang kata siapa nya. Kamu itu, seorang pemimpin, jangan memalukan diri sendiri, ada harga diri, kamu itu harus wibawa. Mana, jati diri kamu seorang pemimpin."
"Saya tegas, pada masyarakat. Saya baik, bagus, memimpin kabupaten ini. Malah, masih banyak dukungan untuk saya mencalonkan diri lagi."
"Kalau di luar kamu bagus, tapi di intern. Apa kamu, tidak malu dengan bawahan kamu, apa kamu mau, kena teguran langsung. Jangan buat Ayah malu, kamu dulu tidak begini. Setelah, kamu jatuh cinta sama Ajudan kamu."
"Ayah, jujur. Saya itu ingin pria seperti dia. Ayah harus tahu, dia itu perhatian sama Mauren. "
"Tapi kamu yang kejar dia, bukan dia kejar kamu. "
"Jadi Ayah datang jauh - jauh, hanya ingin membicarakan itu? buang - buang waktu saja."
"Ayah minta, kamu jangan mencalonkan lagi. Cukup satu periode, setelah selesai menjabat kamu ikut dengan kedua kakak kamu. "
"Ke luar negeri? "
"Iya, kesana."
"Ok, tapi saya akan selesai kan perceraian saya dengan Rafael. Dan saya bersama Mauren, akan terbang kesana."
"Bagus, karena Ayah malu punya anak seperti kamu tidak ada wibawa nya."
"Maafkan saya Ayah."
****
__ADS_1
"Mana Ajudan itu? " tanya Pak Faisal pada Pak Danang.
"Seperti nya, sedang keluar Pak. "
"Keluar? "
"Tadi sempat bilang, ingin pulang dulu."
"Dia akan pulang? " tanya Pak Faisal.
"Mungkin besok Pak. " jawab Pak Danang.
"Bagaimana, orang nya? "
"Maksud nya Pak Faisal, Yudha."
"Iya, siapa lagi."
"Dia baik Pak, tidak neko - neko. Dan dia itu mudah dekat sama anak kecil. "
"Anak kecil siapa? "
"Cucu Pak Faisal. "
"Kamu punya photo nya? "
"Maaf Pak, mungkin mba Ayu."
****
"Ini om. " tunjuk Ayu saat datang mengunjungi rumah Ayu.
Pak Faisal melihat photo Yudha, dari galeri ponsel Ayu, dan meminta Ayu mengirim kan nya pada nomer ponsel nya.
"Om, padahal bisa telepon kalau hanya ingin photo Yudha. "
"Om, ingin banyak bicara langsung sama kamu. Hanya ingin tahu, pesona nya seperti apa? sampai membuat sahabat kamu itu lupa diri."
"Yang jelas tampan om."
"Tampan mana sama Rafael? "
"Sama tampan nya, hanya saja Yudha lebih kalem."
"Oh gitu ya, pantas saja. Dari photo nya, om sudah bisa membaca."
"Sekarang, dia sudah ada sedikit jaga jarak om."
"Kamu awasi kedua nya, jangan sampai ada gosip yang tidak - tidak. "
"Baik Om."
"Jangan kamu mencirikan di depan Adinda, kalau kamu itu mengawasi nya." ucap Pak Faisal.
****
"Ada apa ya Pak? " tanya Yudha pada Pak Danang, saat menjelaskan tentang Pak Faisal menanyakan dirinya.
"Saya tidak tahu, yang jelas banyak tanya tentang kamu. "
"Jadi penasaran saya Pak. " ucap Yudha.
"Seperti nya, kamu dalam pengawasan." ucap Pak Danang, langsung pergi meninggalkan Yudha yang masih penasaran.
****
"Ayah tahu dari kamu ya, tentang Yudha." ucap Adinda pada Ayu.
"Nggak, enak saja. Ngapain saya laporan, kurang kerjaan saja. " ucap Ayu.
"Terus siapa? " ucap Adinda.
"Meneketehe." ucap Ayu yang pura - pura tidak tahu.
__ADS_1
.
.