
"Papi, Mauren mau pulang dulu ya. Nanti, Mauren main lagi, Papi jangan marah - marah terus ya, nanti cepat tua." ucap Mauren.
"Hahahaha... iya sayang, Papi nggak akan marah - marah lagi." ucap Rafael.
"Ya sudah, sekarang Papi antar kamu ke Papi Yudha." ucap Rafael, lalu membawa Mauren ke arah mobil Yudha yang terparkir di depan rumah Rafael.
Yudha membuka pintu mobil nya, Rafael mencium kedua pipi Mauren dan membuka kan pintu untuk Mauren masuk kedalam mobil.
"Terima kasih." ucap Rafael.
"Sama - sama, semoga kamu paham dan sadar, kalau saya itu tidak pernah mengajar kan Mauren untuk menjauhi Papi nya. Saya bawa dia kemari, bukan keterpaksaan. Tapi atas dasar niat pribadi saya, jadi tolong kamu, harus paham untuk hal ini."ucap Yudha.
" Saya hanya, tidak suka cara Adinda." ucap Rafael.
"Baik, nanti saya akan nasehati dia. Dan tolong, kita ini sebagai pria, jangan menjadi seorang pria yang pengecut tapi jadilah pria yang sejati."
"Baik, dan tolong jaga Mauren." pinta Rafael.
"Tanpa kamu minta, saya sudah menjaga nya."
****
Adinda langsung menghampiri Yudha dan Mauren, saat mobil yang di kendarai Yudha tiba. Mauren membuka pintu nya, dan Adinda langsung menghampiri putri nya.
"Kamu dari mana sayang?" tanya Adinda.
"Habis ketemu sama Papi." jawab Mauren.
"Oh sama Papi, dimana?" tanya kembali Adinda.
"ke rumah nya Mami, ini di kasih snack banyak ada sama Papi." jawab Mauren dan Yudha datang sambil membawa satu keresek snack milik Mauren.
"Mas." ucap Adinda.
"Ini sayang, bawa kamar ya." ucap Yudha pada Mauren.
"Ok Papi." ucap Mauren, lalu pergi.
"Saya habis mengantarkan dia bertemu Rafael." ucap Yudha.
"Mas kenapa tidak bilang dulu sama saya?"
__ADS_1
"Kalau bilang dulu, yang ada nanti debat. Maaf kalau Mas ke sana sama Mauren, karena Mas juga tidak ingin di katakan yang tidak - tidak sama mantan suami kamu. Biar Rafael tahu, kalau Mas itu tidak pernah membatasi hubungan antara Ayah dan anak."
"Saya minta maaf Mas, kalau tadi sudah buat Mas kesal."
"Iya sayang, Mas juga maaf ya kalau Mas kasar sama kamu." ucap Yudha sambil mengusap pipi kiri Adinda.
"Kita ini sudah dewasa, jangan lah kita besarkan ego kita kalau sudah berhubungan dengan anak. Kalau kita seperti ini, yang ada anak akan berpikir negatif terus. Seperti mantan suami kamu, dia ingin nya benar sendiri, dan orang lain itu salah.Dan Mas minta, jangan kasar kalau mau nasehati Mauren, tidak hanya sama Mauren, tapi anak - anak kita nanti."
"Iya Mas." ucap Adinda.
Yudha tersenyum lalu mengecup kening Adinda, ditarik nya tubuh Adinda ke dalam pelukan nya.
*****
"Say, kok saya nggak yakin ya kalau suami saya itu maju mencalonkan menjadi Bupati."
"Harus yakin dong, suara suami kamu pasti lumayan banyak suara nya, dari pada Pak sukma Jaya."
"Kamu kenal dia?"
"Kenal sih tidak, tapi tahu nama nya. Mungkin Ayah tahu, dan katanya suami kamu kenal."
"Pasti seru, musik di dalam dunia politik dan dunia non politik."
"Terus juga, orang tua Tasya itu apa tidak tahu, siapa pria itu itu. Terus juga, apa nggak lihat Yudha ganteng muda, tapi Pak sukma Jaya itu tua loh."
"Kamu itu, seperti tidak melihat bibit, bebet, bobot saja. Dan satu lagi harta, itu yang jelas."
"Betul juga ya kata kamu."
*****
"Kemarin urusan cabang daerah juga datang, menemui saya perihal masa jabatan saya, yang segera berakhir. Tapi Saya tidak ingin mencalonkan lagi, untuk dua periode." ucap Adinda.
"Saya sudah dapat tembusan nya, dan katanya Brasmana." ucap Pak Satrio.
"Iya, Brasmana itu cocok. Dan saya mau tanya, apa Bapak sudah dengar tentang Sukma Jaya?"
"Kenapa dia?"
"Dia akan mencalonkan menjadi seorang Bupati."
__ADS_1
"Orang kebal hukum, tidak tahu saja kedok nya."
"Bapak tahu, semua tahu kenapa dia masih bisa menghirup udara bebas?"
"Dia itu licin seperti ular, dan dia itu pintar melenyapkan bukti. Tapi ini saat nya, kita kupas tuntas habis saat pesta rakyat nanti. Kita sedikit demi sedikit, kita bongkar aib nya."
"Istri Sukma Jaya, adakah kunci nya."
"Istri yang mana? istri nya banyak."
"Tasya, dia seorang PNS yang di nikahi nya secara sah."
"Tunggu, secara sah? memang nya istri - istri nya sudah di ceraikan?"
"Mungkin, dan istri nya ingin suami nya itu jatuh."
"Aneh, kok istri nya seperti itu."
"Karena kasar, dan tekanan batin."
"Ok, dimana saya bisa menemui nya?"
"Brasmana sedang mengatur strategi nya, bapak bisa kerja sama dengan Brasmana sebelum terlambat, dan jangan sampai orang seperti dia itu menjadi pemimpin."
"Terima kasih untuk informasi nya, ini sangat berguna sekali buat kita."
"Sama - sama Pak, semoga partai kita tetap unggul, siapa pun yang menang nanti. Asal jangan pria seperti dia, karena kalau dia yang menang, pasti kabupaten M akan hancur." ucap Adinda.
"Betul, betul itu. Saat nya orang kebal hukum itu, jatuh ke dalam jurang dan mati. Sehingga, berakhir sudah, kejayaannya."
"Betul itu. "ucap Adinda sambil tersenyum.
" Saya akan menemui Brasmana setelah ini, saya akan buat janji." ucap Pak Satrio sambil mengambil ponsel nya dari saku celana.
.
.
.
.
__ADS_1