Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Tentang Keluarga


__ADS_3

Adinda dengan perut besar nya, menghadiri acara undangan dari salah satu desa, yang sedang mengadakan acara adat.


Di dampingi Yudha, di samping nya dan juga Mauren yang ingin ikut datang pada acara tersebut. Adinda, yang merasakan gerah, karena cuaca yang panas, membuat dirinya terus menggunakan kipas.


"Aduh ibu, panas ya padahal udah ada kipas besar. " ucap istri kepala desa.


"Cuaca nya bu, bikin gerah."ucap Adinda.


Sedang kam Mauren yang tidak bisa diam, membuat Aksana terus mengejar nya kesana kemari. Saat acara di mulai, Aksana langsung menangkap Mauren.


" Diam ya, itu acara nya di mulai." ucap Aksana langsung menggendong Mauren.


"Mau sama Mami Papi." ucap Mauren sambil mengalungkan kedua tangan nya, di leher Aksana.


"Sudah di sini saja, Mami sedang mau bicara di depan."


"Sama Papi."


"Sudah, sama Om saja."


Adinda kini berada di atas panggung, untuk memberikan sambutan acara adat yang ada di Desa B. Tamu undangan yang terdiri dari Camat, Kapolsek, Danramil, Bhabinkamtibmas, Babinsa, hadir dalam acara tersebut.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. " sapa Adinda memberikan salam.


"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." balas semua yang hadir.


"Alhamdulillah, saya panjatkan kepada Allah SWT, masih bisa berdiri di sini, dan hadir dalam undangan acara adat desa B. Terima kasih juga, buat Ibu dan Bapak kepala desa, Masyarakat desa B. Yang sudah menyambut kedatangan kami dengan meriah. Saya ucapkan juga, terima kasih Pada Bapak Kapolsek, Pak Danramil, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas desa B. Acara adat itu, patut di lestarikan, karena ini merupakan, warisan dari leluhur kita. Yang wajib di lestarikan, dan di kenal kan pada anak cucu kita. Budaya kita itu beragam, bahkan warga asing, kenapa menyukai negara kita. Karena aneka ragam budaya, dan bahasa nya. contohnya, saya sedang menghadiri undangan acara adat Desa B, acara adat yang bertujuan untuk, mempersembahkan hasil panen, sebagai rasa ucapan syukur kepada yang maha kuasa. Acara yang turun menurun, dari tahun ke tahun. Saya, dan semua nya, berharap ini tetap ada di lestari kan."


*****


Setelah acara selesai, Adinda langsung pulang. Dengan membawa oleh - oleh, berupa makanan dan hasil panen berupa pisang, dan sayuran.


Adinda di dalam mobil, meluruskan kedua kaki nya, dan naik di atas paha Yudha. Suami nya itu, memijat kedua kaki Adinda yang sudah terlihat bengkak.


"Seperti nya sesak banget?" ucap Yudha.


"Iya Mas, sudah nggak bebas gerak nya. Padahal baru 7 bulan."


"Ya mungkin karena sudah masuk 7 bulan, sudah nggak nyaman. Apalagi kalau sudah usia 8 sama 9 bulan." ucap Yudha.


"Waktu hamil Mauren sih, biasa saja mungkin ngerti ya nggak ada Papi nya. Beda sama sekarang, seperti nya manja banget hamil nya. Dari awal ngidam sampai sekarang usia 7 bulan. "


"Sekarang sih, ada Papi nya." ucap Yudha.


*****


"Saya kenapa di non aktifkan sih? nggak enak tahu di rumah." ucap Ayu.

__ADS_1


"Kan suami kamu, mencalonkan sebagai Bupati. Saya non aktifkan kamu sementara, untuk memberikan dukungan pada Brasmana."


"Kalau suami saya tidak jadi gimana?"


"Ya kerja lagi."


"Suami kamu, nggak ada ingin mencalonkan?"


"Nggak ada, lagian dia juga tidak ada pengalaman di dunia politik. Enak jadi orang biasa, makan nya saya ingin jadi orang biasa saja."


"Terus nanti, rencana mau usaha atau apa?"


"Ingin fokus anak sama suami saja."


*****


"Kamu kenapa? tidak kasih uang pada Mauren?" tanya Adinda saat menghubungi Rafael.


"Kamu kan tahu sendiri kabar nya, aset saya sebagian di jual ke orang asing." ucap Rafael dari seberang.


"Makan nya, jangan main perempuan. Bukti nya, sekarang habis - habis an kena perempuan nggak jelas begitu."


"Saya minta maaf, kalau tidak kirim uang buat Mauren."


"Iya, saya maafkan kamu. Saya juga masih mampu, memberi makan Mauren." ucap Adinda langsung menutup telepon nya.


"Rafael, sudah tidak mampu memberikan nafkah bulanan untuk Mauren." jawab Adinda.


"Ya udahlah, kita masih bisa kasih makan anak kita, Mas masih sanggup memenuhi kebutuhan nya, nggak usah di permasalahkan."


"Ya tapi kan, saya tidak enak sama kamu Mas. Takut nya, kamu itu gimana gitu."


"Astagfirullah, kamu itu seperti Mas apa saja. Dari awal kan, Mas sudah sayang sama Mauren, dan sudah menganggap Mauren itu anak nya Mas. Mending, sekarang nggak usah pikirkan Papi nya Mauren. Kita fokus pada perkembangan Mauren, yang sekarang kita asuh dia. Karena Mauren, tinggal bersama Mami dan Papi sambung nya, itu berarti tanggung jawab kita. Biar Rafael tidak tanggung jawab, mau alasan apapun, yang penting Mauren bahagia sama kita.Dan Jangan takut, Mas akan berubah atau berpikir jelek."


"Makasih ya Mas, makasih banyak."


*****


"Calon bayi nya perempuan bu." ucap dokter Siska saat memeriksa kandungan Adinda.


"Alhamdulillah, anak kita perempuan lagi." ucap Yudha.


"Mauren pasti senang, ada teman main barbie." ucap Adinda.


"Tapi ini, posisi anak melintang bu, jadi si kepala tidak tepat di jalan nya."


"Jadi harus cesar?" tanya Adinda.

__ADS_1


"Iya bu, tapi ini kan baru masuk 8 bulan, nanti bulan depan kita cek lagi. Soalnya, posisi bayi bisa berubah - ubah." jawab dokter Siska.


"Tapi bayi nya sehat kan?" tanya Yudha.


"Alhamdulillah sehat, hanya posisi nya saja. Kalau bayi nya, masih senang posisi melintang, yang terpaksa harus cesar."


"Yang terbaik saja dok, yang penting selamat." ucap Adinda.


"Kalau begitu, saya tulis resep vitamin nya. Nanti bulan depan, kita cek lagi."


******


"Pemilihan Bupati, berapa bulan lagi?" tanya Yudha.


"5 bulan lagi Mas, menunggu 5 bulan itu cepat, dan saya kan menghabiskan sampai akhir tahun sekarang."


"Nanti mau tinggal dimana?"


"Mas punya rencana?"


"Mas ada tabungan, ingin punya rumah sendiri. Kita kan masih sama orang tua, masa mau numpang. Rumah disini, kamu punya orang tua, Mas masih punya orang tua."


"Ikut apa kata Mas saja."


"Mas, mau beli rumah. Sudah dapat, harga nya cocok. Tapi Mas ingin pendapat dari kamu, takut nya Mas sudah deal kamu nggak suka."


"Mas, apapun pilihan Mas, saya ikuti. Karena kata Mas bagus, kata saya juga bagus. Yang penting rumah nya nyaman buat kita dan anak - anak."


"Iya, Mas tidak mau tinggal di rumah orang tua. Walau rumah kamu, disana kosong hanya ada tukang kebun dan pembantu, tapi kan punya orang tua. Mas di ibu, itu kan sama punya orang tua. Tapi kita sesekali, nanti menginap disana, secara Mauren kan punya banyak teman disana."


"Kenapa tidak beli dekat sama ibu?"


"Justru ini dekat sama i bu, hanya beda blok saja."


"Bagus dong Mas, Mauren pasti senang."


"Justru itu, Mas itu pilih disana. Jarak dari rumah ke ibu, hanya 500 meter."


"Nanti besok kita lihat rumah nya."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2