Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Kisah Menyakitkan


__ADS_3

"Taraaaaaaa... ice cream sama chocolate." Yudha memberikan pada Mauren, tapi Mauren menolak nya.


"Kenapa? " tanya Yudha.


"Mauren, tidak makan chocolate, tahu kan gigi Mauren berlubang. " jawab Mauren.


"Ok ice cream. "


"No."


"Why? "


"Om mau menyogok saya? "


"Astaga, anak kecil ini waktu dalam kandungan di kasih makan apa? "


"Makan kepiting. "


"Hah...!! "


"Mami itu waktu hamil, ngidam makan kepiting. Hampir setiap hari, tapi Mauren tidak suka kepiting. "


"Jadi mau nggak? kalau nggak mau, ice cream om makan. "


"Nanti bintitan loh om. "


"Haduh, ini. " ucap Yudha memberikan es krim nya, dan Yudha memakan chocolate nya.


"Kita nggak pulang? "


"Nanti ya, kita makan dulu. Om kan lagi makan chocolate, sama kamu. "


"Oh."


Yudha sengaja, memperlambat makan nya. Karena Yudha tidak ingin, Mauren tahu apa yang sedang terjadi.


"Mauren, sayang sama Papi? "


"Sayang, Papi memberikan segala nya."


"Sama Mami? "


"Sayang, tapi Mami tidak memberikan apa yang Papi beri. Hanya sebatas panggilan video, hanya barang yang Mami kirim. Kata Papi, Mami itu tidak sayang sama Mauren. "


"Tapi Mami, bawa Mauren ke sini."


"Terpaksa."


"Mauren kok bicara begitu? Mauren itu tidak tahu apa - apa. "


"Iya,Mauren hanya anak kecil. "


"Apakah, suami Ibu Adinda mempengaruhi anak sekecil ini, untuk membenci nya? tapi kenapa tidak, di ceraikan."


****


Ruang kerja, yang berantakan hingga terlihat rambut Adinda, yang berantakan bahkan, sudut bibir nya yang berdarah.


Rafael memakai celana panjang nya, setelah melakukan paksa Adinda, di ruang kerja nya. Adinda hanya bisa terisak, dengan pakaian yang masih terbuka.


"Kamu berani ajukan cerai, Mauren saya bawa kabur. Dan tidak akan pernah, kamu lihat lagi. Apa salah nya, kamu lakukan yang ingin saya lakukan, sekarang kamu rapikan pakaian kamu, dan poles tutupi luka kamu."ucap Rafael keluar dari ruangan Adinda.


Flashback On


" Mas...!!! " Bentak Adinda, saat melihat Rafael dengan dua seorang wanita di atas tempat tidur.


"Hi.. sayang, sini gabung. " ucap Rafael.

__ADS_1


"Menjijikan kamu, ternyata kamu itu benar - benar pria brengsek. Kamu berani bawa dua wanita itu, naik di atas tempat tidur kita. Pernikahan kita baru satu minggu, saya sedang hamil anak kamu. "


"Kenapa? kamu kan tahu saya ini banyak wanita nya, masih mau saja kamu dengan saya. "


"Jujur, saya menyesal menyerah kan semua nya sama kamu. Menyesal, saya minta cerai."


"Cerai, silahkan. Tapi anak yang kamu kandung itu, akan saya ambil. "


"Jahat kamu. "


"Sayang, istri kamu suruh pergi dong." ucap wanita yang setengah tanpa pakaian, berbicara sambil memainkan dada Rafael.


"Sayang, kamu turun. Tutup pintu nya, dan usir dia. " pintar Rafael pada wanita satu nya lagi.


"Jahat kamu. " bentak Adinda.


"Huuuusssss sana kamu. " ucap wanita penghibur, dengan mendorong pelan Adinda.


Adinda menangis , hingga membanting vas bunga, dan melemparkan guci ke arah pintu kamar nya.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Jahat kamu, Rafael...!! "


****


Plaaakkk


Plaaaakkk


Aaaawwwww


"Ampun...!!! "


Rafael terus memukuli Adinda, hingga tubuh nya merasakan sakit yang sangat luar biasa, dan menjambak rambut nya.


"Kamu, mau lapor hah.. sama orang tua saya, dan orang tua kamu. Saya tidak takut, kamu pergi anak saya kamu ambil. "


"Saya sudah tidak tahan. Pasti kamu, di luar sana, memiliki seorang anak. Ya kan? katakan.. !!


" Tidak tahu, mungkin. Karena selama ini tidak ada wanita, yang meminta pertanggung jawaban. Hanya kamu saja, bisa jadi mereka menggugurkan nya. "


"Karena kamu tidak bertanggung jawab kan, kamu menikah dengan saya karena orang tua kita bersahabat, coba kalau tidak. Kamu mungkin akan lari, seperti pada wanita yang kamu hamili."


"Kamu mau cari tahu silahkan, tapi kebanyakan mereka itu, hanya seorang ja****ang."


"Saya minta cerai. "


"Silahkan, anak kamu lahir, saya bawa."


9 Bulan kemudian


"Suami saya mana? " tanya Adinda.


"Sudahlah Adinda, kamu jangan cari Rafael." jawab Ibu Lela yang sedang menggendong Mauren.


"Benar, nanti Ayah akan urus perceraian kalian." ucap Pak Fajri.


"Kamu itu, punya anak tidak tahu diri, menyakiti hati anak saya. Kalau kamu bukan sahabat saya, sudah saya tuntut anak kamu." ucap Pak Faisal geram.


"Adinda, akan pulang bersama kami. Dia tidak akan lagi, tinggal di rumah nya. Cucu kami, pun harus berada pada kami." ucap Ibu Heni.


"Jangan Heni, cucu ini harus sama kami."


"Diam, semua. Saya hanya ingin cerai. " ucap Adinda kesal.


****

__ADS_1


Adinda bangun dari tidur nya, saat melihat Rafael menggendong Mauren, Rafael tersenyum pada Adinda.


"Kamu."


"Kenapa? kaget ya." ucap Rafael.


"Kenapa kamu datang? "


"Saya ingin menengok anak saya, apa salah?"


"Bukan nya, kamu sedang sama wanita mu."


"Iya, dan saya sudah nikah siri sama Wita."


"Tega kamu ya, sekarang saya minta kamu ceraikan saya, atau saya yang akan maju sendiri."


"Silahkan, tapi Mauren saya ambil. Saya akan laporan kan kamu, kalau kamu Ibu yang tidak bertanggung jawab."


"Kamu, mau putar balikan Fakta. Kamu pikir, orang kita, tidak sedang menyiapkan perpisahan kita. Istri mana, yang tahan dengan kelakuan suami nya, yang sering main kasar dan main wanita. Saya sudah tidak kuat, kita akan selesai kan semua nya, setelah saya keluar dari rumah sakit."


"Tidak, kamu ingin ancaman ini terwujud baik. Saya buktikan, ini saya buktikan. " ucap Rafael berjalan membuka jendela kamar rumah sakit, dan tubuh Mauren kecil, akan dijatuhkan.


"Rafael...!! kamu tega ya, itu anak kita. "


"Kamu sekali lagi bilang cerai, saya jatuhkan."


"Saya mohon Rafael, jangan." ucap Adinda dengan mata berkaca - kaca.


"Sekali lagi, katakan cerai saya jatuh kan."


"Iya, saya tidak akan minta cerai dari kamu."


"Bagus." ucap Rafael kembali mendekap tubuh Mauren.


"Tolong, Mauren sama saya."


"Tidak, Mauren akan sama saya. Sekali lagi, kamu minta cerai Mauren akan saya bawa jauh dari kamu. Dan kamu boleh, menemui Mauren, tapi tidak untuk di bawa."


Flashback Off


Adinda mengusap air mata nya, dan berjalan ke arah kamar, untuk istirahat dirinya saat berada di kantor.


Wajahnya yang lebam, Adinda poles dan ditutupi oleh make up, sehingga tidak terlihat luka lebam di wajah nya.


Acara pun di mulai, seperti tidak terjadi sesuatu, Adinda dan Rafael berbicara di depan camera, dengan Amel sebagai Host nya.


"Permirsa, mungkin banyak desas desus untuk pasangan muda ini, katanya tidak lagi satu atap bahkan berpisah sejak lama. Mungkin, dengan kehadiran kedua nya, akan menjawab pertanyaan - pertanyaan masyarakat. Untuk lebih jelas nya, kita tanya kan langsung pada Pak Rafael pemilik stasiun TV swasta NN TV, dan Ibu Adinda yang sekarang menjabat sebagai, Bupati kota M." ucap Amel.


"Apa kabar? " sapa Amel.


"Baik mba Amel. " balas Adinda.


"Bagaimana tanggapan, kalian tentang desas desus di luar." ucap Amel.


"Sebenarnya, sudah lama. Tapi kami memilih diam, karena prinsip nya. Biarlah mau di bicarakan apa, itu hanya gosip. Fakta nya, kita masih sama - sama. Ya kan sayang." ucap Rafael sambil memegang tangan Adinda.


"Iya, berita tentang kita sudah tidak satu atap lagi, benar tapi maksudnya gini, saya kan jadi Bupati di kota M, dan sebelum nya saya kan sering di luar negeri, sibuk kuliah S3 bahkan sibuk dalam dunia politik. Dan suami saya, sibuk dengan dunia nya. Alhamdulillah, pernikahan kami, sudah di karuniakan satu orang putri cantik, yang masih berumur 6 tahun."


Sedangkan di dalam mobil, Yudha menonton siaran langsung tersebut. Mauren tertidur, saat setelah bermain di dalam mobil bersama Yudha.


"Kamu pandai membohongi dunia, bahagia kamu itu palsu."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2