
Aaaaarrrrrrgggghhhhh...
"Brengsek..!!! kamu rupa nya berani juga menggugat saya. " ucap Radafel marah.
Aaaaarrrrgggghhhhh...
Praaaaannngggg...
Braaaaakkkkk
Wita menutup kedua telinga nya, saat melihat Rafael mengamuk, bahkan semua barang - barang yang ada di sekitar nya dia hancurkan.
"Saya tidak akan pernah mau menceriakan kamu, kamu itu istri saya, selama nya istri saya. Tidak akan boleh, ada pria lain yang memiliki kamu."
"Kalau kamu, memang mencintai Adinda, kenapa kamu nikahi saya hah.. !! ucap Wita dengan lantang.
" Karena, saya mencintai kamu dan Adinda. Kalau Adinda mau menerima, dengan ikhlas tanpa marah - marah, kalian hidup bahagia."
"Kamu pikir, saya juga mau hidup satu atap sama dia? saya itu lebih dulu, dari pada Adinda."
"Kuasa itu, ada pada saya. Kamu mau, saya siksa seperti Adinda? "
"Kamu jangan sama kan saya dengan dia, tubuh saya ini adalah aset berharga, bila kamu macam - macam, saya tinggal kan kamu."
"Kurang ajar...!!! kamu mau melawan seperti Adinda hah...!!! "
Aaaaarrrrrrgggghhhhh
Braaaaakkkkk
"Pergi kamu... !!! jangan sampai tangan ini melukai kamu..!! "
Dari dalam kamar, Mauren menutup kepala nya dengan bantal, dan tubuh nya ditutupi selimut. Mauren, gemetar saat mendengar Papi nya memecahkan semua barang - barang, yang ada di rumah.
"Mami.. hiks.. hiks.. hiks... "
****
"Jadi surat dari pengadilan sudah sampai?" ucap Adinda pada Wildan.
"Benar, mungkin sekarang Pak Rafael sedang marah - marah. " ucap Wildan.
"Saya khawatir, dia akan bawa Mauren."
"Polisi akan turun tangan, karena jelas dari kasus nya Pengadilan akan mengabulkan permohonan ibu."
"Saya capek, 6 tahun disiksa seperti ini. Sudah saat nya, saya bertindak tegas."
"Saya akan bantu ibu, semaksimal mungkin."
"Terima kasih, kamu memang pengacara handal, dan dari sejak Om Wahyu, pengacara keluarga sampai kamu, jadi pengacara keluarga. "
"Terima kasih, masih mempercayai kan nya pada kami."
****
"Adinda...!!! "
"Adinda...!! "
Aksana dan Yudha serta Pak Danang, tersentak kaget, saat mendengar teriakan Rafael masuk kedalam rumah dinas.
"Kenapa bisa masuk? " ucap Aksana.
"Adinda...!! "
__ADS_1
"Pak, maaf ibu tidak ada." ucap Fikri, salah satu Satpol PP yang berjaga di pos depan.
"Saya ini suami nya, kamu di bayar berapa hah.. untuk kerja sama dengan atasan kamu..!! "
"Tapi ibu tidak ada. "
"Ada apa ini? " ucap Yudha.
"Mana atasan kamu? "
"Tidak ada. " ucap Yudha.
"Saya tidak percaya, kalau tidak ada kenapa kalian ada disini? "
"Apa setiap, ibu pergi harus kami kawal? dia juga ingin waktu privasi."
"Kamu berani sama saya hah..!! " ucap Rafael menarik kerah pakaian Yudha, dan Yudha menurunkan tangan Rafael dari pakaian nya.
"Apa begini, suami dari seorang pemimpin. Apa begini, cara anda memperlakukan seorang wanita? apa dengan seperti ini, anda akan menyelesaikan semua masalah."
"Kamu berani bicara seperti itu. "
"Maaf Pak, yang di katakan teman saya itu benar. Kalau Bapak, ingin menemui nya temui dengan cara baik - baik, dan kami pun akan menyambut Bapak dengan baik." ucap Aksana.
"Kamu banyak ngomong. " ucap Rafael, langsung memukul Aksana.
Buuugghhh
Aksana langsung tersungkur, saat di pukul wajah nya, dan Yudha kembali membalas memukul Rafael di bagian perutnya.
Buuugghhh
Aaaaarrrrrrgggghhhhh
Namun Yudha segera , menangkis nya, dan membuat Rafael tersungkur. Yudha menarik, kerah pakaian Rafael dan akan memukul wajah nya, tapi terdengar teriakan Adinda.
" Stop...!!! " Adinda langsung mendekat dan menyuruh Yudha untuk melepaskan Rafael.
"Kamu bisa tidak hah.. untuk tidak ribut? apa kamu tidak malu. Ini rumah Dinas, mana etika kamu sebagai suami seorang pemimpin?" bentak Adinda.
"Kamu, berani bentak saya hah..!! " ucap Rafael bangun dan langsung mendorong tubuh Adinda dengan sangat kasar. Namun dengan segera, Yudha menahan tubuh Adinda agar tidak jatuh dengan langsung menangkap tubuh nya.
"Kamu kasar sama perempuan. " ucap Yudha langsung naik pitam, dan menghajar Rafael. Hingga adu jotos terjadi, tapi langsung di pisahkan oleh Pak Danang, Aksana dan Fikri.
"Pak, tolong bawa pria itu, langsung masukan ke penjara. " ucap Ayu dan langsung kedua Polisi yang biasa mengawal mobil Adinda, menyeret Rafael untuk keluar.
"Saya bisa sendiri, tidak usah di pegang oleh kalian. Ingat Adinda, saya akan kasih pelajaran untuk kamu. "
"Silahkan, saya tidak takut. " ucap Adinda menantang Rafael.
Ayu segera mengikuti kedua polisi tersebut, dan Adinda langsung berlari masuk kedalam kamar nya.
****
Setelah keadaan membaik dan sepi, Yudha mengetuk pintu kamar Adinda. Hingga berkali - kali, Yudha ketuk dan akhirnya Adinda membuka pintu kamar nya.
"Kamu kenapa menangis? " ucap Yudha langsung mengusap air mata nya.
"Saya malu, saya malu memiliki pasangan seperti dia."
"Bukan nya, kamu sedang proses? "
"Tetap saja, bagaimana kalau sampai masalah rumah tangga, saya sampai tahu di telinga orang banyak. Saya itu tidak suka, di ekspos masalah pribadi seperti ini."
"Kalau sampai terjadi bagaimana? "
__ADS_1
"Saya malu."
"Tapi, kalau orang tahu pokok masalah nya, pasti akan mendukung kamu. Tapi sebisa mungkin, masalah ini jangan sampai mencuat keluar. "
"Makan nya, saya malu kalau dia datang ke rumah dinas. Anak buah , tahu semua."
"Kamu, jangan takut untuk kalah, orang seperti dia pasti akan dapat balasan nya."
"Makasih ya, kamu sudah menghibur saya."
"Sama - sama. "ucap Yudha.
"Ehm.. gimana, kalau kita keluar. " ajak Yudha.
"Kemana? "
"Biar kamu, tidak sedih lagi. Saya ajak kamu ke suatu tempat. "
"Berdua? "
"Iya, gimana? "
****
Dengan memakai kacamata hitam dan masker, Adinda dan Yudha kini berada di tengah laut, dan Yudha yang mengendarai sebuah kapal motor.
Adinda melepaskan kacamata dan masker nya, saat berada di tengah lautan. Terlihat burung camar laut, yang beterbangan di lautan.
Angin laut, membuat rambut, Adinda beterbangan kesana kemari, saat kapal dimatikan mesin nya, mereka kini ada di tengah lautan.
Yudha mengikat rambut Adinda, dengan cara menggelung nya. Adinda tersenyum ke arah Yudha, begitu juga dirinya.
"Kamu lihat, lautan yang luas. Serasa pikiran, menjadi lebih plong, dan masalah hilang seketika. Saya sering begini, kalau ombak sedang tidak tinggi saya sering kesini. "
"Tapi lama - lama, mual. " ucap Adinda langsung mabuk laut.
"Mual.. "
Hooeeeek... hooeeeek...
"Kita pulang. "
****
Adinda langsung mengeluarkan isi perut nya, setelah sampai di daratan. Yudha langsung memijat tengkuk, leher nya hingga Adinda merasakan sangat lega.
Buuugghhh
Adinda memukul lengan Yudha, hingga sangat kencang, dan Yudha langsung mengusap lengan yang di pukul nya.
"Gara - gara kamu, masalah benar hilang seketika, tapi malah tambah pusing kepala iya. "
"Maaf, saya kira tidak mabuk laut. "
"Tanggung jawab kamu, saya pusing banget."
"Masih mau muntah? "
"Masih, lihat kamu tambah ingin muntah." ucap Adinda langsung meninggal kan Yudha, dengan jalan yang sempoyongan.
.
.
.
__ADS_1