Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Gangguan


__ADS_3

Mauren baru saja tidur, pukul 2 malam, Mauren tidur. Setelah bermain dengan Yudha dan Mami nya. Adinda menguap, tidak dengan Yudha yang kedua mata nya belum merasakan mengantuk.


"Mami, ngantuk?" tanya Yudha.


"Iya Pap, ngantuk banget. Capek, mata nya berat banget." jawab Adinda merebah kan tubuh di samping Mauren.


Mauren yang tidur, tidak mau diam. Tubuh nya memutar, hingga kaki di bantal, kepala di dekat kaki Yudha dan Adinda.


"Mauren, kalau tidur begini?"


"Iya." ucap Adinda yang sudah tidak tahan dengan kantuk.


"Tidur ya?"


"Iya."


"Padahal, Mas ingin malam ini buat malam spesial kita, malah gagal total."ucap Yudha menarik nafas nya panjang.


" Kamu tidur ya?" ucap Yudha sambil menoleh ke arah Adinda yang sudah masuk kedalam alam mimpi.


***


Pancaran sinar matahari, mengenai ketiga nya, yang berasal dari celah jendela. Adinda bangun, melihat Yudha dan Mauren masih tidur. Mauren yang entah sejak kapan, tertidur pulas di atas tubuh Yudha.


Adinda mencoba memindahkan tubuh Mauren, dan Yudha merasakan tidur nya terusik langsung bangun.


"Jam berapa?" tanya Yudha dengan suara serak nya.


"Jam 6 pagi." jawab Adinda.


"Sini dong, pindah Mas ingin peluk. " ucap Yudha dengan suara khas orang bangun tidur.


Mauren yang di pindah kan ke sisi tepi, tempat tidur. Dan Adinda pindah posisi di tengah, langsung memeluk tubuh suami nya.


"Bakalan setiap hari begini, bangun tidur lihat wajah istri. Mau tidur, lihat wajah istri. Mau ngapain pasti ada istri."


"Mas, harus tahu. Ini belum pernah saya rasakan, dengan Rafael. Entah setelah menikah, hitungan jam rasanya seperti hambar. Tidak dengan kamu Mas, rasanya manis. Semoga akan tetap terus manis."


"Amin sayang, by the way Mas boleh coba sekarang nggak?"


"Coba apa? "


"Yang tadi malam itu, kita kan gagal."


"Itu, ada penjaga. "ucap Adinda sambil menunjuk ke arah Mauren yang masih tidur.


" Kan masih bobo."


"Nggak ah."


"Kalau nggak, dikamar mandi saja yuk, Mas udah on banget."


"Idih.. kok Papi ngomong nya begini."


"Nggak kasihan apa, sama ini yang di bawah."


"Sabar kenapa, nanti di rumah saja."


"Yah, nggak asik dong. Masa di rumah, terus ngapain kita menginap di hotel numpang tidur doang."

__ADS_1


"Lah, emang di hotel, numpang tidur sayang."


"Ah... bodoh amat, Mas eksekusi kamu." ucap Yudha langsung bangun dan mengangkat tubuh Adinda, ala bridal style menuju ke kamar mandi.


Di nyalakan air dari shower mengalir ke tubuh mereka. Yudha segera melepaskan kaos dan celana nya. Dan membantu melepaskan pakaian, yang di kenakan Adinda.


Ciuman dibawah guyuran air, kedua nya terhanyut dalam permainan. Suara kedua nya, memenuhi seisi kamar mandi. Adinda terus menahan teriakan saat Yudha bermain, di bagian bawah dengan menggunakan jari dan lidah nya.


Adinda memegang kepala Yudha dengan mencengkram pundak nya dengan tangan kiri nya, saat merasakan akan meledak. Tahu, sudah mencapai puncak, Yudha mempercepat tempo jari nya.


Aaaaaaaa


Adinda akhir nya berteriak, saat melepaskan madu cinta nya. Kini Yudha mengambil alih posisi, Yudha mengarahkan milik nya, kedua mata Adinda terpejam saat merasakan sebuah benda asing memasukinya.


Yudha dengan wajah serius nya memimpin permainan nya, Adinda terlihat sangat menikmati nya. Saat sedang, sama - sama terhanyut, terdengar suara tangisan Mauren.


"Mas, Mauren nangis."


"Ntar Yank, tanggung."


"Mami... hiks... hiks... Papi.. hiks.. hiks.. "


"Mas."


"Tanggung nanti, bentar lagi."


"Mami.. Papi.. hiks.. hiks.. "


"Mas."


"Bentar Yank, aaaaaaarrrrggghhhh." Yudha menembakkan madu cinta nya, hingga merasakan sangat lemas.


"Sayang."


"Mami dari mana?"


"Mami habis dari kamar mandi."


"Mami rambut nya basah."


"Kan Mami sedang mandi, kamu teriak nangis. Ini Mami belum selesai mandi."


"Papi mana?"


"Papi sedang mandi."


*****


"Ini anak nakal, di bilang ikut sama Oma Opa malah ikut sama Mami Papi." ucap Ibu Mira.


"Pasti kalian terganggu. " ucap Pak Faisal.


"Nggak kok, walau di awal bikin gemes." ucap Adinda.


"Kalian masih cuti?" tanya Pak Halim.


"Masih Ayah, sekitar satu minggu kita cuti." jawab Yudha.


"Kalian mau bulan madu kemana?" tanya Pak Faisal.

__ADS_1


"Saya mau bawa Adinda, menginap di puncak saja. " jawab Yudha.


"Ya sudah, biar Mauren urusan nya Ayah sama Ibu, nanti biar Ibu yang kasih tahu dia. Kalau Mami Papi nya , ada dinas luar. Kalau bilang liburan, pasti minta ikut."


"Makasih Ibu, Ayah sudah mau jagain Mauren." ucap Adinda sambil menatap Mauren yang sedang bermain boneka dengan Mirna.


****


"Sayang, ini dari Ibu." ucap Yudha sambil menyerah kan sebuah kotak perhiasan warna merah.


Dan saat di buka, Adinda terbelalak kaget saat melihat satu set perhiasan. Dan Yudha mengambil sebuah kalung dan memakai kan nya.


"Ini mas kawin Ibu, dia berikan ini untuk kamu."


"Mas, ini kan punya ibu."


"Ibu bilang, ingin memberikan nya sama kamu. Kalau membutuhkan, boleh di jual."


"Nggak Mas, nggak akan saya jual. Ini nilai sejarah nya besar loh, Ayah nya Mas memberikan ini untuk ibu suatu usaha, dan ibu menyimpan nya. Hingga sekarang, dan malah di wariskan sama saya."


"Simpan ya, kenapa ibu berikan sama kamu. Bila ibu meninggal dunia , tidak mau kalau barang kesayangan nya ini, hilang atau tidak rawat. Kamu simpan, sesuai amanat ibu, kalau butuh boleh di jual."


*****


"Oma sama Opa, akan tinggal disini?" tanya Mauren.


"Iya sayang, karena Mami sama Papi ada tugas keluar kota, beberapa hari." ucap Ibu Mira.


"Nanti, berangkat sekolah Opa yang antar." ucap Pak Faisal.


"Benar Opa?"


"Serius."


"Hoooreeeeeee..!!! "


"Mauren, nanti kalau Mami sama Papi tidak ada, jangan nakal ya." ucap Adinda.


"Ok Mami, nanti pulang bawa oleh - oleh."


"Pasti sayang, pastinya."


Yudha datang sambil membawa dua buah koper, dan langsung ikut duduk di samping Adinda.


"Kalian bawa supir?" tanya Pak Faisal.


"Masa bawa supir, nggak asik ." jawab Adinda.


"Iya ih, Ayah seperti tidak pernah muda saja." ucap Ibu Mira.


"Ya barang kali, Ayah kan hanya menebak."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2