Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Alasan Anak


__ADS_3

Adinda melihat Yudha berjalan cepat, ke arah luar kantor. Dari jauh Adinda melihat, Yudha bertemu dengan seorang wanita, tak lain adalah mantan pacar nya.


"Mas, saya tidak bisa bertemu di luar. Hanya bisa disini, dan saya hanya mau kasih ini saja." ucap Tasya pada Yudha dengan menyerah kan undangan pernikahan.


"Selamat Tasya, semoga kamu bahagia." ucap Yudha menerima undangan nya.


"Saya tidak bisa jawab, karena saya hanya mencintai Mas. Dan Mas, sudah merelakan saya untuk pria lain."


"Maafkan Mas, maaf ya. "


"Saya harap Mas bisa datang."


"Insya Allah, saya akan datang."


"Kalau begitu, saya permisi. Assalamu'alaikum. "


"Walaikumsalam."


Yudha memperhatikan Tasya, hingga hilang dari pandangan nya, saat berbalik badan , Adinda sedang menatap nya dengan menyilangkan kedua tangan nya.


"Mantan kamu, mau nikah? " tanya Adinda saat Yudha sudah berada di depan nya.


"Iya, dia mengundang saya."


"Terus? "


"Saya disuruh datang. "


"Kamu mau datang? "


"Iya Bu, saya akan datang."


"Sendiri? "


"Iya, sendiri.Terus sama siapa lagi? kalau nggak sendirian."


"Saya antar kamu. "


"Jangan Bu, nanti bakalan heboh. Bupati antar, Ajudan nya hadir di pesta pernikahan mantan nya."


"Bagus dong, kita bisa viral."


"Ibu jangan macam - macam."


"Tenang saja, nggak akan kok."


*****


"Tolong bantu, urusan perceraian saya dengan Rafael. " ucap Adinda, pada pengacara nya.


"Saya akan bantu proses nya Bu. " ucap Wildan.


"Saya ingin, pengadilan menjatuhkan hak asuh anak pada saya. Karena dari awal pernikahan, Rafael yang salah bukan saya. Dia KDRT, dia playboy banyak lagi."


"Saya akan bantu, semaksimal mungkin. Agar ibu, memenangkan nya. Dan saya akan cari bukti, untuk menguatkan nanti di persidangan."


"Saya ingin, ancaman dia untuk saya, malah tertimpa pada nya. "


"Tenang Bu, saya sering menangani kasus ini. Pasti Pak Rafael, akan makan sendiri ucapan nya. "


*****


"Mirna...!!! "


"Dalem Bu. " ucap Mirna langsung menghadap ke arah Adinda.


"Ini meja, ada puntung rokok, sama rokok nya siapa? " tegur Adinda, saat melihat ada puntung rokok dan satu bungkus rokok yang ada, di atas meja makan.


"Ya kalau bukan punya Pak Danang, Mas Yudha, dan Mas Aksana kan tidak merokok. "


"Kamu kan tahu, saya tidak suka perokok, dan ini meja makan, bukan meja santai untuk merokok. Buang, dan panggil mereka berdua."


"Baik Bu. "

__ADS_1


Mirna lalu, menghampiri Pak Danang, yang sedang main catur bersama Aksana.


"Pak, di panggil sama ibu."


"Ada apa? "


"Bapak di tegur tuh, merokok di dalam rumah. Di meja makan lagi."


"Itu bukan saya."


"Jadi punya Mas Yudha? "


"Iya."


"Pak Danang. " panggil Adinda.


"Ibu, ada apa? "


"Kalau merokok jangan di dalam, Bapak kan tahu, saya tidak suka perokok, apalagi bau asap rokok. "


"Tapi itu bukan punya saya, itu punya Yudha."


"Bukan punya Bapak? "


"Bukan Bu. "


"Oh ya sudah, Mirna kamu kasih pengharum." ucap Adinda langsung pergi.


"Baik Bu. " ucap Mirna.


"Majikan aneh, giliran nama Yudha di sebut langsung lembut. " ucap Pak Danang.


Saat itu, Yudha datang dan langsung menjewer telinga Yudha, sontak Yudha kaget dan langsung berteriak


Aaaaaawwwww


"Pak, Pak... Pak.. ada apa ini? sakit Pak." ucap Yudha, memegang telinga nya saat Pak Danang langsung melepaskan nya.


"Gara - gara kamu, bapak jadi kena omel."


"Mas Yudha, gara - gara mas merokok di dalam. Jadi ibu marah, dan memarahi Pak Danang. "


"Rokok apa? "


"Meja makan, tuh lihat sana."


"Ya ampun, itu lupa mau saya buang. Maaf ya, maaf saya ambil dulu. " ucap Yudha langsung masuk kedalam.


"Bakalan kena semprot nggak ya? " ucap Aksana.


"Kamu kan tahu, saat dengar nama Yudha langsung lembut."ucap Pak Danang.


Yudha mengambil asbak dan rokok nya di atas meja, dan langsung membawa nya. Adinda berdiri di depan pintu kamarnya dan langsung mendekati Yudha.


" Maaf Bu, ini punya saya. Tadi lupa, habis ke pos. "


"Lain kali, jangan seperti itu. Kamu kan tahu, saya benci orang perokok."


"Maaf Bu, tadi bukan Pak Danang, itu saya."


"Iya, gara - gara kamu, saya salahkan Pak Danang. "


"Maaf ya Bu, maaf. "


"Ya sudah, buang sana ditempat nya."


"Siap Bu. "


****


"Hallo sayang. " sapa Rafael pada Mauren.


"Hallo Papi. " balas Mauren, langsung mencium kedua pipi kanan dan kiri Rafael.

__ADS_1


"Sedang apa? "


"Taraaaaa...!! " Mauren menunjukkan sebuah lukisan, menunjukkan dua orang dewasa dan satu orang anak kecil di tengah nya.


"Siapa ini? "


"Mami, Papi sama Mauren. "


"Bagus."


"Mauren, belum pernah photo bertiga Papi. Bahkan, tidak punya sama sekali."


"Sekarang sudah malam, besok sekolah."


"Ok Papi. " ucap Mauren sambil menaruh lukisan nya di atas meja belajar.


Rafael, langsung menutup pintu, dan tidak lupa mematikan lampu kamar Mauren. Sedang kan Mauren, langsung menarik selimut dan memejam kan mata nya.


"Good night, have nice a dream. "


"Good night too Papi. "


Rafael langsung mengambil kunci mobil nya, dan kembali mengenakan jaket nya. Wita pun langsung, menghampiri Rafael.


"Mau kemana kamu? "


"Bukan urusan kamu. "


Wita hanya diam, melihat suami nya pergi, hingga mobil melesat jauh, dan hilang dari pandangan nya.


*****


Yudha terbangun saat mendengar sebuah keributan, dan langsung ke luar dari kamarnya, terlihat ada Mirna yang memberikan kode untuk masuk kembali, begitu juga Pak Danang.


Yudha memperhatikan pintu kamar Adinda, suara lantang Adinda, dan Rafael, hingga terdengar suara benda di banting, bahkan teriakan Adinda.


Yudha memejamkan kedua mata nya, mendengar teriakan Adinda minta ampun. Dan Yudha memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kamar nya, tapi tetap terjaga.


"Kamu apa tidak sedih, melihat Mauren ingin kita bersatu hah...!! " bentak Rafael sambil menarik rambut Adinda.


"Saya tidak mau. " ucap Adinda berusaha ingin melepaskan tangan Rafael dari rambut nya.


"Kamu harus tahu, Mauren ingin kita berphoto bertiga, apa kamu tidak ada hati nurani hah..!!"


"Cukup Rafael, saya capek dengan kebohongan publik, saya capek. "


Aaawwww


Rafael menghantam kepala Adinda ke lantai, hingga memar di kening nya. Rafael langsung melepaskan ikat pinggang nya, dan mengayunkan ke punggung Adinda.


Ceeetttaaaassss


Aawwwwwww


"Ampun....!!! "


Ceeettttaaaassss


"Rafael stop, sakit...!!! " teriak Adinda.


"Iya, kita photo bertiga. " ucap Adinda menahan sakit, dan Rafael menghentikan nya.


Hiks.. hiks...


"Kamu kenapa, selalu siksa saya begini? hiks.. hiks.."


"Karena kamu, sering membantah. Apalagi kalau urusan, masalah anak. Saya akan bertindak tegas, sama kamu." ucap Rafael langsung memakai kembali ikat pinggang nya.


Adinda tergeletak di lantai, Yudha keluar dan langsung masuk ke kamar Adinda. Melihat Adinda tak berdaya di lantai, langsung Yudha mengangkat tubuh nya.


"Tolong saya, Yudha. " ucap pelan Adinda.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2