
"Ibu Adinda." ucap Yudha langsung berjalan saat Adinda membuka masker dan kacamata hitam nya.
Yudha menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat Adinda datang sendiri. Dan melihat, kedua kaki Adinda tanpa alas kaki, serta sepatu nya di tenteng nya.
"Ibu sendirian? "
"Iya, saya sendirian. Mau minta maaf sama kamu, karena kamu seharian sekarang ponsel tidak aktif. Saya kira kamu marah, tapi ada satu warga bilang kamu seharian panen ikan."
"Betul Bu, salah nya dimana? "
"Saya itu, kepikiran kamu." ucap Adinda memukul lengan Yudha.
"Kepikiran gimana Bu? "
"Kepikiran kamu marah, sama saya."
"Itu saya sudah lupa Bu, saya malah seharian memang tidak pegang ponsel. Soalnya kan, habis panen ikan. Dan ini ponsel nya, masih saya cari."
"Saya minta maaf, besok kamu kembali jadi Ajudan saya."
"Kalau saya tidak mau gimana?"
"Saya buatkan surat tugas langsung, permutasian kamu ke daerah pelosok."
"Lebih baik, dari pada punya pimpinan se enak bikin aturan."
"Kamu!!! beraninya. "
"Mobil ibu mana? Aksana mana? "
"Mobil saya di jalan, ban nya bocor. Ada di jalan, sebelum belokan. Aksana, sengaja tidak saya bawa."
"Ya udah, kita ke mobil. Ada ban serep kan? "
"Ada, tapi saya haus."
"Masuk Bu. " ajak Yudha masuk kedalam rumah nya.
"Yudha." ucap Ibu Nuha, dan langsung terkejut saat melihat Adinda datang ke rumah nya.
"Ibu Bupati. "
"Ibu, apa kabar? " ucap Adinda langsung bersalaman dengan Ibu Nuha.
"Alhamdulillah baik, ya Allah Bu. Maaf rumah nya berantakan. Kamu Yudha, kenapa tidak bilang mau ada Ibu Bupati datang. Ibu belum siapin apa - apa, Bu maaf ya Bu. Nggak bisa di sambut, aduh gimana Yudha. "
"Bu Ibu, nggak usah repot - repot. Saya kemari juga, kebetulan saja. " ucap Adinda.
Yudha menaruh segelas air putih, lalu Adinda langsung menegak habis air yang dibawakan oleh Yudha.
"Ibu haus? " tanya Ibu Nuha.
"Maaf Bu, saya jalan kaki kesini." jawab Adinda.
"Yudha, kamu ini gimana? biarkan Ibu Bupati jalan kesini. Kalau sampai Gubernur atau Presiden tahu, kamu tidak menyambut dengan baik gimana. Bisa di pecat kamu, sekarang kamu ambil air minum lagi, dan bawakan makanan yang banyak. Beli di warung nya, Ibu Sunah. "
"Ta - tapi Bu, bukan salah Yudha. Dan nggak akan ada hubungannya sama Gubernur atau Presiden. " ucap Yudha.
__ADS_1
"Iya Bu, tenang. Ini kehendak saya, Yudha nggak salah. " ucap Adinda.
"Nggak apa - apa Bu, Yudha kamu beli kan kue, dan masih ada ikan nanti ajak Ibu Adinda makan."
"Tapi Yudha masih kenyang Bu. "
"Ibu Adinda, yang makan. Bukan kamu yang makan."
****
Setelah mengobrol lama dengan Ibu Nuha, kini Yudha dan Adinda bicara berdua di ruang tamu.
"Saya minta maaf, kemarin saya itu emosi."
"Nggak apa - apa Bu, saya seperti itu karena suasana hati saya sedang buruk."
"Kamu putus ya sama pacar kamu? "
"Kami memilih berpisah, dia ingin tetap pertahankan tapi saya tidak mau. Menjalankan hubungan, tanpa restu orang tua."
"Tapi kalian masih saling mencintai? "
"Jujur masih. " ucap Yudha, dan Adinda tersenyum kecewa.
"Ya Allah Yudha. " ucap Adinda langsung bangun dari duduk nya.
"Kenapa Bu? "
"Mobil saya, gimana nasib nya. Ah.. gara - gara kamu, sampai lupa kabar mobil. " ucap Adinda langsung berjalan ke luar rumah.
****
"Ini orang, bikin saya terlambat pulang. Untung suami saya, itu teman dekat nya. Sudah malam belum juga kembali, nggak mau di kawal. Kalau ada apa - apa, bisa gawat. " ucap ayu Kesal.
"Apa saya jemput saja, sama Pak Danang ke rumah Yudha. "
"Takut nya, kalian jemput. Ibu Adinda pulang, seharusnya kasih kabar, masih dimana atau ada masalah apa. Dan Yudha lagi, ponsel nya tidak aktif. "
"Mba Ayu, lebih baik kita kesana saja. Mau Ibu sudah pulang, itu urusan nanti. Dari pada disini kita, khawatir begini." ucap Pak Danang.
"Nah, itu baru setuju. " ucap Aksana.
"Yasudah, susul di rumah nya Yudha, jangan sampai terjadi sesuatu. " ucap Ayu.
****
"Akhirnya, ban nya bisa terpasang dengan ban yang tidak bocor. "
"Iya tadi bukan kempes tapi bocor, lain kali bawa supir atau Ajudan. Jangan sampai terjadi seperti ini, kan repot untung ada saya kalau nggak ada saya gimana? "ucap Yudha.
"Iya makasih."
"Saya antar ibu pulang, tapi ke rumah dulu , saya ganti pakaian nya. "
"Sekalian ya, bawa tas pakaian."
"Buat apa? "
__ADS_1
"Kan, kembali jadi Ajudan saya."
"Saya belum memutuskan."
"Yudha.. "
"Yudha, ini perintah. Kalau kamu tidak, melaksanakan perintah saya, kamu saya mutasi. " ucap Yudha sambil meniru gaya bicara Adinda.
"Ih.. dasar Ajudan nyebelin."
"Masuk mobil bu, keburu malam kita pulangnya. "
"Ini juta sudah malam."
*****
Saat sudah berada di dalam mobil, Yudha membuka ponsel nya yang mati total, karena lupa belum charger ponsel.
Banyak sekali panggilan tak terjawab, bahkan chat dari Adinda Dan juga, panggilan masuk dari Ayu dan chat, menanyakan tentang Adinda.
"Untung ponsel mati, kalau nggak pasti telinga saya sudah tuli. "
"Saya itu panik, serba salah. Eh tahu - tahu sedang panen ikan." ucap Adinda setengah malu.
"Mba Ayu, tanyain Ibu, saya jawab apa ya?"
"Sudah jangan di jawab lagi." ucap Adinda.
"Kata ibu ya, saya ketik jangan dijawab lagi." ucap Yudha langsung mengetik nya, dan Adinda langsung merebut ponsel milik Yudha, tapi Yudha berhasil menggagalkan Adinda merebut dari tangan nya, tapi tanpa sengaja Adinda , tubuh nya menyentuh tubuh Yudha sangat dekat, hanya di batasi oleh pakaian kedua nya.
Wajahnya begitu dekat, hingga hembusan nafas kedua nya, di rasakan. Adinda langsung menjauh, begitu juga Yudha langsung menyalakan mesin mobil nya.
****
Ayu melipat kedua tangan nya di dada, saat melihat Adinda pulang bersama Yudha. Adinda tahu, sahabat nya marah, tapi Adinda pura - pura tidak tahu.
"Lama sekali, habis ngapain? kamu aktif tapi kamu tidak langsung balas chat saya." tegur Ayu pada Yudha.
"Maaf, tadi saya lupa charger ponsel. Dan Ibu Ayu, mobil nya masalah pada ban nya, bocor tapi sudah saya atasi."
"Aksana dan Pak Danang sedang dalam perjalanan ke rumah kamu, repot ya, punya Ajudan seperti kamu dan punya pimpinan seperti Adinda. Repot, dan menyusahkan semua orang. "
"Maaf kan saya. "
"Seharusnya, itu pimpinan kamu, minta maaf. Bukan malah langsung masuk kamar. " ucap Ayu kesal.
"Kamu sedang bicarakan saya? " ucap Adinda tiba - tiba.
Ayu membalikkan tubuh nya, dan tersenyum ke arah Adinda yang kini melipat kedua tangan nya.
"Eh.. Ibu, anu itu iya. "ucap Ayu sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
.
.
.
__ADS_1