
Saat Yudha akan menjemput Mauren, terlihat Rafael sedang menunggu juga. Yudha mendekat, dan langsung mengajak Rafael bersalaman, namun Rafael menolak nya.
"Mau ajak Mauren?" tanya Yudha.
"Kalau iya kenapa? " tanya kembali Rafael.
"Tidak apa - apa, kamu kan Papi nya." jawab Yudha.
"Ya jelas dong, saya ada hak ajak dia kemana saja. Dan ingat, jangan pernah halangi saya untuk bertemu dengan anak saya."
"Saya tidak akan pernah, menghalangi kamu untuk bertemu dengan Mauren, tidak ada batasan. Masalah kamu, dengan Adinda bukan dengan Mauren. Anak tetap anak, tidak ada kata istilah bekas anak. Saya tidak akan pernah, melarang itu. Ingat, dan dengar. Saya tidak akan membatasi nya."
"Ini akhir pekan, saya ingin bawa Mauren menginap. "
"Sebaiknya, bilang sama Adinda."
"Kamu saja, yang katakan pada dia. Mauren, di bawa sama saya. Adinda itu, tidak akan mau angkat telepon saya."
Mauren berlari menghampiri mereka berdua, dan Mauren melihat ada Papi nya datang, Mauren diam, antara kemana yang akan dia datangi.
"Sayang, ikut Papi yuk, kita liburan. Kan besok weekend, nanti hari minggu Papi antar kamu pulang." ucap Rafael, dan Mauren menatap ke arah Yudha, yang menganggukkan kepala nya.
"Tapi Mauren, pulang dulu Papi, kan ganti pakaian sama bawa baju."ucap Mauren.
"Di rumah Papi masih banyak, pakaian Mauren. Nggak usah bawa lagi, disana masih ada."
"Nanti Papi Yudha, kasih tahu Mami." ucap Yudha.
"Thanks, sampai kan pada Adinda. Hari minggu sore, saya antarkan pulang."
Mauren pulang bersama Rafael, Yudha mengantarkan Mauren hingga masuk kedalam mobil Papi nya. Mauren melambaikan tangan nya, hingga mobil melaju.
****
"Mauren mana?" tanya Adinda mencari.
"Mauren sama Papi nya." jawab Yudha.
"Mas ijinkan, Rafael bawa Mauren? "
"Rafael kan Papi nya, dia datang ke sekolah hanya untuk bertemu dengan anak nya. Hari minggu, Mauren akan di antarkan pulang."
"Menginap, dan dia tidak ijin sama saya."
"Katanya, kamu kalau Rafael telepon tidak di angkat, jadi melalui Mas."
"Berarti, kalau Mas tidak jemput, dia akan bawa Mauren, itu namanya penculikan."
"Sayang, biarkan Mauren ikut sama Papi nya beberapa hari. Tadi lihat Mauren sangat senang, bertemu dengan Papi nya. Jadi, tolong jangan batasi Mauren sama Papi nya untuk bertemu."
"Saya takut, Rafael bawah jauh Mauren."
"Tidak akan, karena kamu itu kuat, hak asuh jatuh sama kamu. Dia bawa kabur Mauren, polisi akan bertindak. Percaya, Rafael tidak seperti itu."
****
Adinda mencoba menghubungi Rafael, tapi tidak juga di angkat. Hingga panggilan ke 20, Rafael mengangkat nya.
__ADS_1
"Mauren sedang apa?" tanya Adinda melalui sambungan telepon nya.
"Ada sama saya, kenapa?"
"Kenapa, mau bawa Mauren harus langsung ke sekolah nya? kenapa tidak langsung ke rumah dulu, ijin sama saya."
"Buat apa ijin, kalau akhir nya kamu tolak. Dan saat itu, saya bertemu dengan calon suami kamu. Untuk sampai kan, pada kamu kalau Mauren di bawa sama Papi nya.
" Saya tidak mau tahu, yang penting hari senin Mauren harus sudah ada di sekolah nya."ucap Adinda kesal.
"Ok sayang, dan ingat. Mauren itu, sangat betah sama saya, apapun dia mau saya turuti. Dan jangan kaget, kalau Mauren ingin tinggal sama Papi nya."
"Jangan macam - macam kamu, awas saja, kalau kamu bawa Mauren kabur." ucap Adinda langsung menutup telepon nya.
"Saya itu Mas, takut saja Mauren di bawa ke luar negeri sama Rafael, saya dapat kan hak asuh Mauren itu sangat sulit. Kalau sampai, Mauren di bawa Rafael saya salahkan Mas." ucap Adinda kesal.
"Sayang, maafkan Mas. Tapi Mas lakukan ini, karena Rafael itu adalah Papi nya. Masa Mas larang, percaya sama Mas Rafael tidak akan bawa Mauren jauh. Ingat kejadian sebelum nya kan, Mauren kabur demi cari kamu. Kalau pun, di bawa ke luar negeri, Mauren kabur Rafael akan sangat bersalah. "
Adinda langsung memeluk tubuh Yudha, kedua tangan nya memeluk sangat erat. Begitu juga Rafael, memeluk nya dengan sangat erat.
"Saya takut Mas."
"Jangan takut, harus yakin."
*****
"Taaaarrrraaaaaa....!!! "
"Banyak banget Papi." ucap Mauren saat melihat Rafael membawa banyak snack dan es krim.
"Yes Papi, bersenang - senang manja kata Papi."
"Yes sayang." ucap Rafael sambil membukakan bungkus snack untuk Mauren.
"Sayang, nanti malam kamu bobo sama Papi ya. Sampai minggu Papi, ingin habiskan waktu sama kamu."
"Ok Papi."
"Kamu kangen nggak sama Papi?"
"Kangen."
"Kamu kenapa tidak ikut Papi saja, kenapa harus sama Mami."
"No Papi, Mauren lebih suka ikut Mami. Papi suka nya, marah - marah."
"Papi janji , nggak akan marah - marah. Gimana kalau kita, tinggal di luar negeri, katanya Mauren ingin lihat salju, ingin merasakan musim semi,kalau mau Papi urus keberangkatan nya."
"No Papi, Mauren mau sama Mami."
"Mami kamu, akan menikah lagi. Dan dia akan punya anak lagi, kamu tidak di sayang nanti nya."
"Papi Yudha sayang sama Mauren, Papi Yudha bilang, Papi Yudha tidak akan merebut posisi Papi dan Papi Mauren sampai kapan juga Papi Rafael, Papi Yudha hanya Papi sambung."
"Dia bilang begitu?"
"Yes Papi."
__ADS_1
*****
"Mami....!!! " ucap Mauren melalui panggilan video nya.
"Kamu baik - baik saja kan sayang?"
"I'm ok mami."
"Kamu nanti pulang, Mami jemput atau Papi kamu yang antar? "
"Papi."
"Kalau Papi kamu mengajak ke luar negeri, kamu jangan mau."
"Papi ajak tapi Mauren tidak mau."
"Papi kamu, sempat ajak kami Mauren?"
"Yes Mami, tapi Mauren tidak mau."
"Good, ingat pesan Mami."
"Ya Mami."
"Ya sudah, bobo nya jangan malam - malam. Iove you."
"I love you too."
Adinda mematikan ponsel nya, dan terdengar dari luar suara Yudha dan Aksana sedang menyanyi, terlihat juga Pak Danang yang sedang menonton mereka menyanyi.
Adinda tersenyum saat melihat calon suami nya, sedang memetik gitar sambil bernyanyi. Yudha pun melihat ke atas dan mendapatkan Adinda yang sedang melihat nya dari lantai 2.
"Ya Allah, semoga pilihan hati saya ini tidak salah. Semoga dia memberikan kasih sayang yang tulus, tidak menyakiti. Dan tidak seperti Rafael, setelah menikah berubah. Semoga kamu, tidak pernah berubah sedikit pun."
****
"Lagi ngapain? "
Aaaawwww
"Ih.. bikin kaget saja." ucap Adinda, saat Yudha memeluk dirinya dari belakang.
"Laper Mas." ucap Adinda sambil memasukan sayuran ke dalam panci lalu mie nya.
"Buatin buat Mas dong, lapar."
"Ok, tunggu ya."
Yudha pun duduk di depan meja makan, dan memperhatikan Adinda yang sedang memasak mie rebus buat nya.
"Ya ampun Ibu, biar Mirna yang masak." ucap Mirna langsung merebut spatula di tangan Adinda.
.
.
.
__ADS_1