
"Yudha...!! Yudha...!! " panggil Tasya, saat Yudha sedang berjalan bersama Adinda, setelah apel pagi hari senin.
Tasya terus berjalan cepat mengejar Yudha yang berjalan sambil bergandengan tangan. Tasya terus mengikuti nya, hingga Aksana berbalik badan, dan langsung menghampiri Tasya.
"Ada apa kamu? mengejar Pak Yudha?" tanya Aksana.
"Tolong, ijinkan saya untuk bicara dengan Pak Yudha." jawab Tasya memohon."
"Maaf, kami tidak bisa mengijinkan kamu untuk berbicara dengan Pak Yudha."
"Tolong, sekali saja. Tolong..!! "
"Maaf saya tidak bisa. " ucap Aksana langsung pergi.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Tolong, ijin kan saya bertemu dengan Mas Yudha." ucap Tasya sambil terisak.
Yudha hanya diam saat Aksana, berkata bahwa Tasya datang ingin bicara dengan nya. Sedang kan Adinda hanya diam, saat tahu apa yang sedang terjadi.
"Bu, Tasya itu sudah di buatkan surat pindah tugas?" tanya Yudha pada Adinda.
"Iya kenapa?" tanya Adinda.
"SK nya itu, sudah turun belum?" tanya kembali Yudha.
"Tanya sama Ayu." ucap Adinda, dan Ayu langsung melirik ke arah Yudha sambil mengangkat kedua bahunya.
"Tanya juga percuma." ucap Yudha.
Adinda terhenti, saat dirinya sedang memeriksa beberapa laporan. Dan langsung menatap ke arah suami nya.
"Apa ada sesuatu? sampai dia itu memaksa ingin bertemu sama kamu Mas?" ucap Adinda.
"Mas tidak memiliki sesuatu yang rahasia, atau masalah sama dia."ucap Yudha.
" Menurut saya, kenapa tidak di temui saja ada apa." ucap Ayu.
"Betul, siapa tahu ada yang ingin di katakan. Dia seperti nya, raut wajahnya itu ada sebuah masalah atau apa."
"Mau katakan apa sih, lagian nggak ada yang perlu di katakan lagi. Masalah saya sama dia, sudah selesai."
"Mas, coba Mas temui dia. Siapa tahu ada sesuatu, yang ingin di sampaikan." ucap Adinda.
"Mas harus temui dia dimana? masa Mas harus temui dia ke rumah nya. "
"Dia seperti nya masih di lingkungan kantor." ucap Aksana.
****
Yudha berjalan di teras kantor Bupati, mencari Tasya yang sedang ingin bertemu dengan nya. Kedua mata Yudha menyapu seluruh lingkungan kantor, namun tidak terlihat sama sekali oleh Yudha.
"Dimana dia? apa dia sudah pergi." ucap Yudha.
Yudha masih berdiri di depan kantor Bupati, salah satu Satpol PP yang menjaga di pos depan langsung menghampiri Yudha.
"Pak, apa sedang cari seorang wanita tadi?" tanya Saiful.
"Benar, dimana dia? apa sudah pergi?" tanya Yudha.
"Tadi saya lihat dia sudah pergi, ke arah sana."
"Masih di lingkungan sini nggak ya?"
"Apa Bapak perlu saya, kejar atau cari di mana?"
__ADS_1
"Tidak usah."
****
"Kamu jangan cemburu Adinda, percaya sama suami kamu. Memang, kedatangan nya membuat kamu itu terganggu, tapi mungkin ada sesuatu yang memang harus di selesai kan." ucap Ayu.
"Tapi permintaan saya, untuk memindahkan semua mantan saya, sudah kan?" tanya Adinda.
"Sudah, sudah semua. Karina sekarang sudah pindah, sesuai permintaan kamu. Dan Tasya pun sudah, mungkin belum keluar. Kan baru kemarin maju, tunggu saja."
"Saya itu sebagai istri nya, ingin tahu apa sih? yang ingin dia katakan sama Mas Yudha."
****
"Apa tadi bertemu dengan Tasya?"
"Tidak , dia sudah pergi." ucap Yudha sambil mengganti beberapa chanel TV.
"Saya kok penasaran, ada masalah apa Mas sama Tasya?"
"Jujur, Mas itu sudah tidak ada masalah apa - apa, hanya tahu sendiri kan saat kemarin datang. Dia katakan KDRT, dia itu kabur. Terus apa hubungan nya sama Mas? kan bukan apa - apa nya dia."
"Benar kata kamu ya Mas, tapi ada apa dia terus ingin bertemu. Padahal Mas tidak ingin, dan sudah selesai antara Mas sama dia."
"Makanya, kamu percaya sama Mas, ada nya dia itu mengganggu banget. Mas takut saja, kamu uring - uring an, tapi ternyata tidak."
"Saya percaya sama Mas."
"Terima kasih ya."
"Sama - sama Mas."
*****
Tasya kembali berdiri di depan kantor Bupati, beberapa Satpol PP yang sedang berjaga sengaja membiarkan nya.
Yudha turun dari mobil nya, dan berjalan mendekat ke arah pintu gerbang. Sedang kan mobil Dinas Adinda, lanjut berjalan sampai depan pintu kantor.
"Masuk." ucap Yudha, dan Tasya tersenyum lalu berjalan ke arah Yudha.
Tasya mengekor, mengikuti langkah Yudha, yang saat itu membawa nya ke ruangan nya, dan didalam ruangan sudah terdapat Adinda.
"Maafkan saya, kalau saya lancang." ucap Tasya.
"Seharusnya, masalah pribadi tidak pantas disini, tapi saya masih memiliki toleransi sama kamu. Karena kamu itu, sangat mengganggu dari kemarin." ucap Adinda.
"Maafkan saya, dan terima kasih sudah mengijinkan saya untuk bertemu dengan Mas Yudha." ucap Tasya.
"Sekarang, katakan ada apa?" tanya Yudha.
"Mas, maaf kalau saya hanya ingin minta tolong. Hanya kamu, yang bisa menolong saya."jawab Tasya.
" Minta tolong apa? kalau masalah rumah tangga kamu, Mas tidak ada hak. Kamu tahu kan, mantan kamu sudah memiliki istri. Karena ulah kamu, dia marah. Kamu sudah tahu kan? kalau kamu di mutasi?"
"Iya, saya tahu. Tapi itu lebih baik."
"Katakan sama Mas, apa yang ingin kamu katakan? sampai terus mengejar saya? kalau sampai tahu, ada berita tentang saya di media di kaitkan sama kamu, saya tidak akan maafkan kamu. Dan kamu tahu kan? kalau saya itu sedang jadi pembicaraan media, pernikahan kami belum satu bulan. Dan kehidupan kami sedang jadi incaran mereka." ucap Yudha dengan wajahnya yang serius.
"Mas kan sudah tahu, bahkan ibu Adinda tahu kalau saya itu KDRT, saya hanya minta selamat kan saya dari suami saya."
"Tunggu, selamat kan bagaimana? kamu minta tolong nya sama Polisi, bukan sama suami saya. Kamu itu, dangkal pikiran, atau kamu itu memang buntu otak nya yang ada hanya ada suami saya." ucap Adinda.
"Mas Yudha tahu, Pak Sukma Jaya?"
"Sukma Jaya kan banyak."
__ADS_1
"Dia suami saya."ucap Tasya dan langsung menatap tajam ke arah Tasya.
" Jadi kamu menikah sama dia?" ucap Yudha.
"Iya, saat itu saya ingin kita bertemu terakhir kali nya tapi Mas tidak datang.Itu yang saya harapkan, agar Mas tahu dengan siapa saya menikah."
"Siapa dia?" tanya Adinda.
"Dia itu, Ayah nya Amel, mantan Mas yang host TV stasiun Rafael. "jawab Yudha.
" Terus?" ucap Adinda
"Kamu kenal pasti, dia juga aktif di salah satu partai politik. Dia itu terkenal keras, apa kamu tidak kenal?"
"Sukma Jaya, tapi seperti nya saya juga kenal nama nya."
"Dia itu keras, suka main kasar sama Amel, saat pacaran dulu Amel, sering mengadu kalau Ayah nya itu sering pukul dia." ucap Yudha.
"Saya tidak sanggup Mas, saya ingin laporkan ke Polisi tapi dia kebal hukum. Dan apalagi, dia kan ingin mencalonkan sebagai Bupati. Saya minta tolong sama Mas, mungkin ibu bisa bantu, untuk dia itu jera.Masa calon pemimpin seperti itu, tidak layak untuk di pandang di mata masyarakat. Mungkin Ibu bisa, menggagalkan dia untuk mencalonkan, saya ingin balas dia apa yang dia perbuat. Tolong Bu, siapa tahu Ibu bisa bantu, tolong Mas, dan saya akan bantu apa saja kecurangan dia. Dan ibu juga harus tahu, dia itu, terlibat dalam penggelapan uang, milik negara, saat menjabat jadi Anggota legislatif. Dia kan sekarang sudah habis masa bakti nya, dan ingin mencalonkan diri sebagai Bupati. Saya minta orang kotor seperti dia jangan di biarkan." ucap Tasya.
"Brahmana, ini pekerjaan dia. Saya akan bantu, karena saya melihat kamu itu pernah dekat dengan suami saya, tapi hanya sekedar membantu saja, karena saya dan suami tidak mau terlihat langsung. Biar teman saya yang akan membantu kamu, agar kamu lepas dari dia. Tapi surat mutasi kamu, sebentar lagi turun, mungkin kamu itu lebih baik jauh dari suami kamu."
"Saya, sudah menggugat dia, tapi dia tidak mau. Apalagi, proses cerai seperti saya ini sangat panjang jalur nya."
"Kamu jangan khawatir, proses cerai kamu akan di permudah." ucap Yudha.
"Benar Mas?"
"Iya, saya akan bantu. Hanya itu, dan setelah ini jangan sampai kamu merusak rujak tangga kami. Karena kamu, saya dan Adinda hampir bertengkar."
"Maafkan saya bu, maafkan saya."ucap Tasya.
" Tidak apa - apa, kamu tenang saja ya." ucap Adinda.
*****
"Sukma Jaya...!!! " ucap Brasmana.
"Bukan nya, Brasmana itu musuh kamu Mas?" ucap Ayu.
"Iya, dia kan memusihi saya itu waktu masalah apa ya? yang jelas itu masalah politik. Ternyata terjerat kasus korupsi, nikah sama dia, dan istri nya mantan nya Yudha. Bagus juga ini info, dia rupa nya ingin mencalonkan menjadi Bupati."
"Bukan nya, ini bagus kalau kamu mencalonkan. " ucap Adinda.
"Ok, saya mencalonkan diri. Asal jangan dia yang menang, saya mencalonkan ini bukan ingin menang atau apa, karena semua itu hak pilihan rakyat, tapi dari pencalonan nya, sedikit demi sedikit borok dia akan saya kupas tuntas di saat kampanye nanti." ucap Brasmana.
"Betul banget, ide bagus itu." ucap Yudha.
"Jadi gimana?" ucap Adinda.
"Kamu yakin, tidak mencalonkan lagi?"
"Tidak, saya tidak akan mencalonkan lagi."
"Kenapa?"
"Karena saya ingin fokus pada keluarga, saya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga seutuhnya, mengurus anak dan suami. Sudah cukup, saya itu menggeluti dunia seperti ini. Apalagi sekarang saya memiliki suami yang tepat. Suami yang sangat sayang sama istri, dan anak. Itu yang paling bahagia, lagian kamu itu pantas maju, bahkan rakyat siapa sih yang tidak kenal sama kamu. Mereka tahu kamu, dan pasti sangat pasti saya yakin kamu itu akan menang." ucap Adinda.
"Alhamdulillah, kalau memang saya itu akan di percaya. Kalau semua nya mendukung saya, saya mau mencalonkan."
"Menurut kamu gimana?" tanya Adinda pada Ayu.
"Dari awal kan sudah saya katakan, apa kata Mas Brasmana." jawab Ayu.
.
__ADS_1
.
.