
"Ayah sama Ibu ini bagaimana, Mauren di ijinkan dibawa sama Adinda. Dari bayi, saya yang kasih makan Mauren, bukan Adinda. Nengok seminggu sekali saja tidak, satu bulan sekali tidak. Yang ada malah orang tua nya, kadang kasih jajan ke Mauren. Sekarang malah, Ibu sama Ayah mengijinkan dia ikut kesana. " ucap Rafael kesal.
"Rafael, biarkan saja dia sama Mami nya. Mauren, itu sedih selalu nangis. Dia kurang kasih sayang dari Mami nya, dia ingin Mami nya selalu ada saat dia tampil atau ada acara di sekolah nya. Dia itu butuh Adinda bukan kita, atau kamu. Makan nya, kemarin kami, suruh orang tua nya untuk telepon Adinda kemari, dan biar di bawa sama dia. "ucap Ibu Lela, sedangkan Pak Fajri, hanya diam saja.
"Kalau Adinda, bawa Mauren pergi jauh bagaimana? "
"Kalau Adinda, maju sendiri untuk cerai bagaimana? "ucap Ibu Lela.
" Saya akan bawa kabur Mauren. "ucap Rafael langsung pergi.
****
" Taaarrraaaaaa... akhirnya sampai sayang."ucap Adinda saat sampai di rumah dinas bersama Mauren.
"Rumah Mami? "
"Yupz betul. " ucap Adinda dan Mauren turun.
Pak Danang, lalu menurunkan beberapa koper milik Mauren, dan membawa nya ke dalam. Mauren menoleh ke kanan dan kiri, melihat sisi rumah nya, bahkan ada beberapa penjaga di rumah nya.
"Mami, kenapa rumah nya di jaga? "
"Karena Mami di sini orang nomer satu."
"Apa itu? "
"Mami, seorang pemimpin kepala Daerah, Mami ini adalah seorang Bupati. "
"Oh semacam presiden ya? "
"Benar sayang, kalau Presiden adalah yang memimpin negara, kalau Mami memimpin kabupaten, namanya Bupati. "
"Berarti kalau laki - laki, Pak Pati ya. "
"Nggak gitu sayang, tetap Bupati baik perempuan maupun Laki - laki. "
"Oh gitu ya "
Yudha datang menghampiri Adinda dan putri nya Mauren, Adinda tersenyum ke arah Yudha.
"Sayang, kenalkan sama om ganteng, namanya Om Yudha. "
"Hallo.. Om. " sapa Mauren.
"Hallo cantik. " balas Yudha sambil mengusap kepala Mauren.
"Yudha, mulai sekarang kamu antar jemput anak saya. " ucap Adinda sambil berjalan.
"Ma - maksud nya Ibu? "
"Kurang jelas ya, kamu antar jemput anak saya. Dan satu, kalau ada pria yang mengaku Papi nya Mauren jangan kamu kasih ke dia. Jadwal kamu, pagi antar Mauren sekolah, jemput sekolah dan sore antar dia private biola. "
"Baik Bu. "
"Ayu, kamu tarik Askana jadi Ajudan saya."
"Tapi Bu, Askana kan sekarang, Asisten nya Pak Sekda. " ucap Ayu.
"Stop jangan bantah, dia bukan nya dulu Ajudan Bupati sebelum nya kan?"
__ADS_1
"Tarik Askana kemari, dan Lastri jadi Asisten nya. "
"Tapi dia Asisten saya? "
"Masih mau bantah? "
"Baik Bu. " ucap Ayu memutar bola matanya, karena kesal memiliki pimpinan seperti Adinda yang sesuka hati merubah formasi.
****
Mirna sudah merapikan kamar untuk Mauren, kamar yang bersebelahan dengan Adinda, dan dekat dengan kamar Yudha. Kamar yang sengaja, Adinda atur, walau di belakang bawahan nya selalu membicarakan Adinda.
"Yudha, kamu kenalan dulu ya sama anak saya, kamu dekati dia sampai akrab. " ucap Adinda.
"Siap Bu. "
Ayu mengikuti langkah Adinda, hingga masuk kedalam ruangan nya, dan langsung mengunci pintu.
"Kamu bukan maksud, Yudha menggantikan posisi Rafael Kan? jangan sampai ada perintah, Yudha suruh tidur atau nikah sama kamu, dan dia harus menurut. "
"Kamu pikir, saya apaan? kalau Yudha nya mau sih, nggak masalah. "
"Dasar kamu. "
"Kemarin, saya temui Rafael. "
"Terus? "
"Ada Wita. "
"Masih ama tuh cewek? "
"Nikah siri katanya, nggak tahu di luar ada berapa lagi. "
"Saya masih belum berani, saya takut Mauren di bawa kabur. Begini saja, saya sudah senang bawa Mauren."
"Dari awal juga, saya nggak setuju, kamu nikah sama Rafael, eh sudah hamil duluan. Dan kamu apa nggak mau tahu, di luar sana Rafael itu banyak anak nya. "
"Saya tidak mau tahu, itu anak sama wanita lain. Yang penting mikirin anak sendiri, terserah Rafael di luar sana mau gimana - gimana, saya hanya ingin Mauren tinggal sama Mami nya. "
****
Yudha menyilangkan kedua tangan nya di dafa, saat Mauren menatap nya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Om itu siapa sih? "
"Ajudan Bunda nya Mauren. "
"Mami, bukan Bunda. "
"Oh Mami. "
"Iya, Om itu nanti di suruh sama Mami antar jemput Mauren kan? "
"Iya, kenapa? "
"Nanti, jam 7 harus sudah sampai sekolah, pulang harus sudah stand bay, dan satu minggu tiga kali, saya les biola. "
"Ok, terus apa lagi? "
__ADS_1
"Om jangan dekat - dekat sama Mami ya? "
"Kenapa? om satu rumah, dan om kerja sama Mami kamu. "
"Tapi kenapa Ajudan, kamar nya dekat sama kamar Mami? "
"Kan, kalau ada apa - apa, bisa dekat minta sesuatu nya. "
"Ingat ya Om, jangan jatuh cinta sama Mami, karena Mami itu milik Papi. "
Yudha hanya tersenyum, dan mengusap rambut Mauren. Sedang kan Mauren tersenyum dengan menuju kan deretan gigi nya yang bolong.
****
"Biar saya saja. " ucap Adinda membuatkan kopi untuk Yudha, sedangkan Mirna hanya menuruti perintah majikan nya.
"Mirna, kamu ke dapur saja, biar Yudha sama Mauren saya yang urus. "
"Baik Bu. "
Adinda membawa kan sarapan untuk Mauren, berupa susu dan roti tawar selai strawberry. Mauren pun memakan nya, dan Adinda langsung mengantarkan kopi buatan nya untuk Yudha, yang sedang duduk di kursi tami sambil membaca surat kabar.
"Kopi nya. "
"Ibu, jangan repot - repot, tadi saya suruh mba Mirna. "
"Nggak apa - apa, ini spesial buat kamu."
"Terima kasih Bu, tapi jangan lagi - lagi ya Bu, saya tidak sopan kelihatan nya. " ucap Yudha.
"Kamu itu, kalau sedang begini bukan Ajudan saya, kalau di luar Kamu Ajudan saya. "
"Maaf Bu, jangan seperti itu. Tidak pantas, saya hanya seorang bawahan, dan ibu adalah seorang ibu satu anak, dan memiliki suami."
"Tahu apa kamu, tentang rumah tangga saya hah..!!! "
"Maaf Bu, saya tidak ada maksud menyinggung perasaan ini. Jujur Bu, selama saya disini, seperti saya ini di perlakuan spesial, tolong biasa saja. Saya hanya ingin bekerja, bukan hal yang aneh - aneh."
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Kopi nya saya bawa lagi. " ucap Adinda, langsung membawa kopi nya lagi.
"Ta - tapi Bu, kopi nya. "
"Buat sendiri. "
Yudha tersenyum, dan menggeleng kan kepala nya, sedang kan Adinda duduk di depan Mauren yang masih sarapan.
"Mami kenapa? bete gitu? "
"Nggak apa - apa sayang, kamu cepat habiskan. Nanti telat, masuk sekolah."
"Ini hari pertama, apa Mami tidak mau antar Mauren? "
"Mami harus, pimpinan apel pagi sayang, yang jadi pembina apel pagi nya Mami."
"Ok, nggak masalah. "
"Sorry, janji nanti kita akan banyak waktu."
"Ok Mami, Mauren tunggu janji Mami."
__ADS_1
.
.