Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Mendapatkan Restu


__ADS_3

"Kamu kesini deh, ada Adinda." ucap Ibu Nuha lewat panggilan telepon nya.


"Sama siapa bu? " tanya Yudha dari seberang.


"Sendirian, dia bawa sembako banyak, ada pakaian juga. Kata nya buat Ibu, mau di tolak dia bilang buat Ibu, kayak maksa gitu."


"Rejeki bu, jangan ditolak."


"Ibu tidak bisa terima, terus juga dia itu, nggak pulang - pulang."


"Ibu ini gimana? calon mantu mau ibu usir. Bu, Adinda itu baik, sayang sama ibu. Malah dia bilang gini, dia akan menjadi seorang ibu rumah tangga utuh, setelah menikah nanti sama Yudha, dia juga tidak mencalonkan lagi bu, sebagai bupati."


"Terserah lah, kamu kesini, Ibu bingung mau bicara apa."


Ibu Nuha, langsung mematikan ponsel nya, dan berjalan ke arah Adinda yang sedang duduk di ruang tamu.


"Yudha sebentar lagi kesini." ucap Ibu Nuha.


"Ibu telepon Mas Yudha?" ucap Adinda.


"Iya, ibu telepon dia."


"Ibu, saya mencintai Mas Yudha, saya sayang sama dia. Saya kesini, ingin meminta restu dari ibu."


"Yudha itu tidak pantas untuk kamu, dia anak orang biasa, tidak seperti kamu anak orang penting."


"Ibu, itu hanya sebuah jabatan, tapi saat kita pulang ke rumah, kita hanya orang biasa. Itu hanya sebuah pekerjaan, keluarga saya juga hanya orang biasa, seperti ibu dan Mas Yudha."


"Tapi, Ibu takut tanggapan orang bagaimana tentang Yudha. Dia hanya seorang bawahan, kamu adalah atasan nya. Takut di kira, Yudha mengambil keuntungan dari kamu."


"Ya Allah ibu jangan berpikiran seperti itu. Kalau pun iya, biarkan saja yang penting kenyataan nya tidak."


"Nggak, ibu tidak mau. Ibu tidak mau, Yudha di kira apa - apa, saya pun tidak mau tetangga bilang yang tidak - tidak."


Tak lama, sebuah motor berhenti di depan rumah Ibu Nuha, Adinda menoleh ke arah luar jendela, terlihat dengan gagah nya Yudha melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum." sapa Yudha, mengucapkan salam.


"Walaikumsalam." balas Ibu Nuha dan Adinda.


"Sayang, kok kamu nggak bilang sih kalau mau kemari."


"Kan sengaja ingin, ketemu sama ibu."


"Kan bisa, ajak Mas sayang."


"Sekarang, kalian mau nya apa?" tanya Ibu Nuha.

__ADS_1


"Bu, kami ingin meminta restu sama Ibu, kalau kami ingin menikah. Restui kami ya bu, Adinda adalah pilihan saya."


"Dari dulu juga, kamu sering memilih sendiri, tapi apa nyatanya gagal nikah." ucap Ibu Nuha.


"Bu, saya sudah mantap, ingin menikah dengan Adinda. Yudha sudah siap untuk menghadapi masa depan, bagaimana nanti reaksi publik terhadap saya." ucap Yudha sambil memegang tangan Adinda.


"Ibu, Adinda adalah pilihan hati saya, dengan hati yang mantap. Yudha akan memilih, Adinda untuk teman hidup sampai, akhir hayat."


Ibu Nuha, diam sambil menatap kedua nya, dan melihat tangan Yudha masih menggenggam tangan Adinda. Ada rasa saling sayang, dan tidak ingin di pisahkan.


"Baik, ibu restui kalian."


"Alhamdulillah." ucap Yudha dan Adinda.


"Terima kasih bu, terima kasih." ucap Yudha langsung mencium punggung tangan nya.


"Semoga kalian bahagia, dan lancar sampai hari H.


*****


Adinda, kini sedang berada di kamar Yudha. Terlihat Yudha sedang mengambil beberapa pakaian nya. Adinda tersenyum, saat melihat Yudha yang masih SMA bahkan SD, di ambil nya figura tersebut, sambil tersenyum.


" Kenapa? terpesona ya."


"Ganteng dulu sih, sama yang sekarang."


"Ngomong apa hah, tadi ngomong apa? " Yudha langsung mengambil figura tersebut, dan menjatuhkan tubuh Adinda di atas tempat tidur, dan Yudha menindih nya.


"Ganteng dulu."


Aaaaaaaaaa


Teriak Yudha, saat menggigit leher nya, dan langsung Yudha bungkam mulut Adinda, dengan sebuah ciuman.


"Ngomong lagi, Mas gigit nih." ucap Yudha, kembali menggigit leher Adinda hingga, terlihat merah akibat gigitan.


"Main gigit aja, merah kan." ucap Adinda mendorong tubuh Yudha, dan langsung bergeser ke samping.


Adinda bangu, dan langsung berkaca, leher nya terdapat tanda merah dia, akibat gigitan Yudha.


"Ih... Mas ah, lihat nih ada bekas nya."


Yudha langsung bangun, dan memeluk tubuh Adinda dari belakang, ciuman nya, Yudha daratkan di tengkuk leher Adinda.


"Mas, sama mantan dulu begini ya?"


"Nggak, belum pernah. Hanya sama kamu saja, berani bawa masuk kamar juga hanya kamu."

__ADS_1


"Bohong, pasti bohong."


"Nggak sayang, Mas nggak bohong kok.Asli, kenapa Mas berani? karena Mas sudah yakin, kamu itu adalah pilihan hati Mas, menua bersama, dan membesarkan anak - anak kita."


Adinda membalikkan tubuh nya, dan kedua tangan nya, di kalung kan di leher Yudha. Sebuah ciuman, mendarat di bibir Yudha. Begitu pun juga Yudha, membalas nya dengan kembali membalas ciuman Adinda.


"Udah ah, nanti Ibu marah lagi, kita lama - lama di kamar, nggak enak juga." ucap Adinda.


****


"Jadi kapan, ibu bertemu dengan orang tua kamu?" tanya Ibu Nuha.


"Ayah sama Ibu, akan datang satu bulan sekali, jadi bulan depan ibu bisa bertemu sama Ayah dan ibu." jawab Adinda.


"Yaudah, nanti atur saja. Bulan depan, Yudha akan lamar kamu."


"Tuh Yank bulan depan Mas lamar kamu, terus nikah. Waktu nya jangan lama - lama, kira - kira bulan depan lamaran dan tentuin tanggal nya dulu, sampai menunggu masa idah kamu selesai. " ucap Yudha.


"Jadi nggak sabar, nunggu bulan depan." ucap Adinda.


*****


"Gimana, kalau suami kamu mencalonkan jadi Bupati?" tanya Adinda pada Ayu.


"Berat." jawab Ayu.


"Tapi cocok loh, Brasmana itu bagus dalam kepemimpinan nya. Dia juga sudah pengalaman, di dunia politik. Saya tidak mencalonkan lagi, saya ingin menjadi ibu rumah tangga. Saya ingin, fokus mengurus suami dan anak."


"Saya bicarakan dulu, dia mau atau tidak."


"Saya yakin, Brasmana akan menang dalam pemilihan nanti. Suara nya banyak, siapa sih yang tidak kenal dengan Brasmana."


"Terima kasih, kalau Partai politik kita mempercayai, suami saya untuk maju. Tapi, saya akan tanya, siap atau tidak."


"Iya, kalau siap, saya akan hubungi Pak Sutrisno."


"Iya, by the way gimana hubungan kalian?"


"Bulan depan , dia akan lamar saya."


"Alhamdulillah, selamat. Saya jadi ikut senang dengar nya, semoga dia itu pilihan yang terakhir."


"Amin ya Allah, minta doa nya, semoga lancar tidak ada halangan."


"Amin ya Allah, semoga lancar sampai hari H."


.

__ADS_1


.


"


__ADS_2