
"Sampai deh. " ucap Yudha di sebuah sekolah taman kanak-kanak.
"Ini sekolah baru Mauren. " ucap Yudha kembali.
"Mauren itu, entah sampai kapan bisa sekolah di sini Om. "
"Kenapa? "
"Pasti Papi, akan bawa Mauren. "
"Nggak akan, ada Om Yudha. Sekarang kita turun. "
Yudha membuka pintu mobil nya, dan berjalan ke arah pintu mobil samping, Mauren turun dari mobil nya dengan di gandeng oleh Yudha, Mauren masuk kedalam sekolah nya.
"Mas Yudha. "
"Elisa."
Elisa melihat Yudha menggandeng seorang anak kecil, dan langsung berjongkok sejajar dengan Mauren.
"Mauren ya? "ucap Elisa.
" Yupz Bu guru. "
Elisa berdiri dan menatap ke arah Yudha, sambil beralih menggandeng tangan Mauren.
"Saya wali jelas Mauren. "
"Syukurlah, nanti kalau ada apa - apa kamu hubungi saya. "
"Baik Mas, Mauren kita masuk kelas yuk."
"Ok, Om Yudha bye... "
"Bye... juga. "
Yudha menatap gadis kecil itu masuk sampai kedalam kelas nya, dan langsung berjalan ke arah mobil nya untuk kembali ke kantor Bupati.
*****
"Semua berkas yang kemarin , sudah diserahkan? " tanya Adinda.
"Sudah Bu. "
"Nanti tolong, ini serahkan ke Ibu Wabup. "
"Baik Bu. "
"Untuk SK pensiun tahun sekarang mana? katanya perlu di tanda tangan."
"Masih di meja saya, nanti saya bawa kesini. "
"Saya tunggu ya, mau saya tanda tangan sekarang."
Aksana datang, dan berjalan ke arah Adinda yang sedang duduk. Aksana menarik kursi nya dan mulai dengan wajah seriusnya.
"Ada apa? "
"Maaf Bu, ada beberapa wartawan katanya ingin mengadakan wawancara eksklusif bersama keluarga Ibu. "
"Saya tidak suka, mengekspos masalah pribadi. "
"Seperti nya, siaran langsung di televisi."
"Katakan, saya sibuk. Yudha sudah datang? "
"Sudah Bu. "
"Suruh dia hadapi wartawan nya. "
"Tapi Bu. "
__ADS_1
"Jangan bantah, ini perintah. "
"Baik Bu. "
Aksana mendekati Yudha, dan melihat sedang berdiri di depan para wartawan yang sedang menata camera nya.
"Kata Ibu, kamu urus mereka. "
"Perihal? "
"Ibu sibuk, tidak bisa di wawancara. Dan mereka juga salah, datang - datang ingin wawancara, tidak ada ijin. Dan Ibu tidak suka, kalau mereka mengekspos pribadi nya."
Yudha melihat ke arah jam nya, dan waktu menujuk kan jam untuk menjemput Mauren.Aksan mengangkat kedua bahu nya, dan Yudha berbisik pada Aksana.
"30 menit lagi, saya harus sampai ke sekolah Mauren. Saya harus jalan dari sekarang, jangan sampai telat."
"Saya yang jemput Mauren gimana? "
"Ok, kamu jemput Mauren, saya urus mereka." ucap Yudha.
Yudha menghampiri mereka, yang tengah bersiap - siap untuk mengadakan wawancara.
"Maaf, seperti nya tidak ada wawancara." ucap Yudha.
"Maaf Pak, kami dari stasiun TV milik suami Ibu Adinda. Dan Host nya sudah siap, itu dia." ucap nya.
"Yudha."
"Amel."
"Kamu, ternyata disini? nggak nyangka ya."
"Saya hanya menjalankan perintah, tidak ada wawancara. "
"Saya juga menjalankan perintah, karena Pak Rafael itu suami nya."
"Tapi Ibu menolak. "
"Saya hanya menjalankan perintah nya, dan tidak mau tahu urusan nya. "
"Dasar, mantan jahat. "
"Kamu bilang apa tadi? "
"Iya mantan jahat, mantan yang tidak tahu diri. Mutusin lewat ponsel, dan nggak jelas masalah nya. "
"Nggak jelas bagaimana, setiap ketemu berantem, mau nya di mengerti. Kamu sendiri aja nggak mengerti tentang saya."
"Alah dasar nya saja, kamu itu ingin putus lantaran selingkuh sama cewek kamu yang sekarang."
"Kalau ngomong di jaga ya, bukan nya kamu pacaran sama Produser sebuah acara TV. "
"Eh jangan fitnah ya. "
Dari jauh, Ayu , Aksana dan beberapa staf melihat keributan Yudha dan pembawa acara tersebut. Ayu menyilangkan kedua tangan nya, sedangkan Aksana menggeleng kan kepala nya.
"Ternyata oh ternyata. " ucap Aksana.
"Ada sinetron gratis, yang kita tonton." ucap Aksana.
"Laris juga dia, pantas Bupati kita naksir. Ternyata oh ternyata. "
"Hah.. Ibu naksir Yudha. " ucap Aksana.
"Iya, kamu jangan bocorkan. Bisa gawat." ucap Ayu pelan.
Keributan Yudha, sampai ke telinga Adinda. Dengan wajah kesal nya, Adinda menegur kedua nya.
"Kalian ini, ribut di kantor Bupati, memalukan. Apa yang kalian, ributkan? apa tidak bisa bicara baik - baik, lihat semua nya pada melihat kalian. " tegur Adinda.
"Maaf Bu. " ucap Yudha.
__ADS_1
"Bu Adinda, apa kabar? " sapa Amel.
"Kamu, di bayar berapa lagi sama Rafael? untuk mengadakan acara seperti ini."
"Bu, hanya 30 menit, Pak Rafael sedang berada di jalan untuk menuju kemari. "
"Mau tunjukan pada dunia, kalau saya masih istri sah nya? kenapa tidak dari dulu saja."
"Bu, hanya pencitraan saja. "
"Kamu pikir, saya harus bersandiwara? acara macam apa ini."
"30 menit Bu, hanya 30 menit."
"Tidak."
"Sayang." sapa Rafael, berjalan mendekat ke arah Adinda.
"Kalian sudah siap? " tanya Rafael pada anak buah nya.
"Siap Pak. " ucap Salah satu cameraman.
"Kamu, se enak jidat mau siaran langsung menunjukkan saya ini istri kamu? semua juga tahu. "
"Tidak semua nya, ada yang belum tahu. Apalagi status kita, lama kan kita pisang rumah. "
"Mau meluruskan gosip? saya sudah capek."
Yudha hanya memperhatikan, perdebatan antara atasan nya dengan suami nya, dan Yudha meminta untuk semua nya, menjauh. Bahkan Amel, dan tim nya pun ikut menjauh.
Sadar akan, pertengkaran nya Adinda membawa masuk Rafael. Bahkan Yudha sengaja menutup, pintu akses masuk ke ruangan Adinda.
"Kalian tahu kan, Ibu Bupati kita itu, bahagia di depan rakyat nya. Tapi nyata nya, dia itu tekanan batin. Senyum nya itu palsu, mungkin sering hal aneh yang dia lakukan hanya ingin, menghibur dirinya. " ucap Ayu.
"Pernikahan seperti itu, apa sudah lama? " tanya Yudha.
"Sejak sebulan menikah, dan mengandung Mauren. Suami nya, kasar bahkan kadang menyiksa nya. Apalagi, sering main perempuan. Dia kan punya istri siri tapi Adinda tetap di pertahankan." jawab Ayu
Yudha terdiam, dan tetap menatap pintu ruangan tersebut, dan lalu semua nya meninggal tempat itu.
"Yudha." panggil Aksana.
"Apa? " ucap Yudha.
"Bukan nya, saat nya jemput Mauren. "
"Ya Allah, Mauren. " ucap Yudha langsung berlari ke arah mobil nya untuk menjemput Mauren.
****
Gadis kecil tersebut, sedang menatap tajam ke arah Ajudan Mami nya, dengan menyilang kan kedua tangan nya.
"Maafkan Om ya, sampai lupa jemput Mauren."
"Mauren marah sama Om, Mauren tidak mau lagi di jemput sama Ajudan seperti Om."
"Maaf ya, maaf banget. "
Mauren dengan kesal masuk, kedalam mobil nya, Elisa mendekati Yudha yang sedang mengusap dada nya.
"Anak pejabat loh? kalau sampai ada yang culik Mas yang di salahkan."
"Maaf, tadi ada sedikit masalah."
"Saya ingin mengantar pulang, pihak sekolah tidak mengijinkan karena menunggu pihak yang menjemput nya. Bila tidak ada, baru pihak sekolah akan mengantar nya bersama pihak polisi. Karena keamanan, kami tidak berani. "
"Sekali lagi, saya mohon maaf."
.
.
__ADS_1