Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Bahagia Tiada Akhir


__ADS_3

Baby Amora sudah pulang dari rumah sakit, banyak yang memberikan hadiah untuk menyambut kelahiran Amora.


Kamar yang bernuansa warna pink menghiasi kamar Amora. Mauren tidak mau jauh, dari adik kecil nya. Adinda dan Yudha menyambut, kedatangan para tamu, yang ingin melihat kelahiran putri mereka.


"Mami, kado yang buat Amora di buka ya?" ucap Mauren.


"Jangan sayang, nanti saja masih banyak tamu." ucap Adinda.


"Yah... Mami...!! " rengek Mauren.


"Mauren, kata Mami jangan, harus nurut." ucap Pelan Yudha.


"Ah... Papi."


"Nanti lagi ya, kalau tamu nya sudah pada pulang. Nanti Mauren yang buka, kalau sekarang nggak boleh. Nggak sopan itu namanya, mengerti?" ucap Yudha.


"Iya..!! " ucap Mauren dengan wajah cemberut.


Ayu datang bersama Brasmana, dan ayu langsung meminta mengalihkan gendongan pada nya.


"Ih.. lucu banget, mirip sama Papi nya." ucap Ayu.


"Banyak yang bilang begitu, nggak satu dua orang saja." ucap Adinda.


"Seperti Rahel, muka nya persis seperti saya. Dia langsung protes, pas orang banyak yang bilang seperti Ayah nya." ucap Brasmana.


"Ya iyalah, saya yang mengandung 9 bulan, malah nggak ada satu pun yang mirip sama bunda nya." ucap Ayu.


"Nasib kamu sama mba, seperti Adinda." ucap Yudha sambil tersenyum.


"Tante, dede bayi nya nggak boleh dibawa." ucap Mauren yang datang sambil membawa boneka Barbie di tangan nya.


"Nggak sayang, Tante hanya pinjam ya." ucap Ayu.


"Nggak boleh Tante, nggak boleh Tante pinjam." ucap Mauren.


"Nggak sayang, Tante Ayu cuman pegang bentar kok." ucap Yudha, gemas melihat putri sambung nya.


*****


Amora terus menangis, Adinda belum bisa bergerak bebas karena jahitan yang masih belum terlalu kering. Yudha berusaha menggantikan popok Amora, yang basah akibat buang air besar.


"Mami terus ini gimana?Papi tidak bisa membersihkan nya, takut patah tulang." ucap Yudha.


"Aduh Papi, masa patah tulang ya nggak lah, Papi pelan - pelan angkat kedua kaki nya, ke atas terus bersihkan." ucap Adinda mengajarkan Yudha, karena Adinda masih merasakan sakit karena bekas luka cesar.


Adinda langsung berjalan mendekati suami nya, dan turun tangan langsung. Namun Yudha melarang nya, karena Adinda belum sembuh benar.


"Sudah, Mami duduk saja ya. Biar Papi yang tangani." ucap Yudha.


"Tapi cepat Papi, itu kasihan Amora nya nangis terus, gatal dia tidak betah."


"Sabar Mami, pelan - pelan takut patah tulang."


"Sudah minggir, kebanyakan pelan - pelan." ucap Adinda dan akhirnya, Adinda yang turun tangan membersihkan kotoran Amora.


"Kata nya suami siaga, bersihin gini saja sampe lama."


"Papi kan belum pengalaman Mami, makannya belajar dikit - dikit."


"Ah.. lama bisa nya." ucap Adinda, yang sudah selesai membersihkan


*****


Kampanye pun sudah mulai, para calon Bupati dan pasangan nya telah turun ke lapangan. Berbagai slogan dan visi misi mereka suarakan, hingga berbagai acara bakti sosial yang di adakan oleh Para calon Bupati dan pasangan nya.

__ADS_1


Adinda, sedang membereskan berbagai macam laporan nya, sebelum masa kerja nya habis. Satu persatu, dokumen dan pembangunan yang masuk dalam salah satu program nya telah selesai.


"Bu, ini satu berkas yang harus segera di tanda tangani." ucap Aksana.


"Nanti tolong, siapkan rapat dadakan bersama para staf."


"Baik bu."


"Terima kasih."


Aksana keluar, Yudha pun datang. Dan langsung mencium kening istri nya. Adinda memaksakan diri, 3 minggu pasca melahirkan langsung beraktivitas.


"Papi sudah melunasi rumah nya."


"Maaf ya belum sempat lihat rumah nya, saya percaya kok sama Papi." ucap Adinda sambil mengusap punggung tangan.


"Nggak apa - apa sayang, nanti Mas cicil ya barang - barang Mas angkut kesana."


"Atur saja ya Mas, saya mau bereskan semua ya. Agar jabatan saya selesai, semua beres saya tidak punya hutang pada rakyat."


"Iya sayang."


*****


Yudha memantau para pekerja, yang sedang merenovasi pagar rumah baru nya Dan beberapa orang mengangkut barang - barang, furniture dan peralatan rumah tangga.


Mauren yang ikut Papi nya, tengah asik bermain dengan teman nya, yang ada di seberang rumah baru nya.


Yudha sesekali, menoleh putri nya yang tengah asik bermain. Sedangkan Ibu Nuha, di bantu tetangga sedang menyiapkan makanan dan minuman.


"Bu, nanti sore pesan nasi di rumah makan depan gang, buat bagi tetangga." ucap Yudha.


"Mau buat berapa bungkus?" tanya Ibu Nuha.


"Jangan banyak - banyak, buat tetangga sekitar rumah ini saja. Nanti kalau sudah 100 persen siap di tempati baru adakan syukuran, mengundang semua warga sini."


"Bu, nanti sama saya saja lah. Mauren belum makan, sama ibu juga kan belum makan."


"Ibu masak kok di rumah, kamu sama Mauren makan di rumah saja."


"Oh yaudah."


*****


"Amora gimana mba? dia rewel tidak?" tanya Adinda saat baru pulang dinas.


"Nggak bu, stok asi ibu aman jadi tidak rewel." jawab Adinda.


"Bapak sama Mauren belum pulang bu, tapi Bapak bilang mungkin malam."


"Oh yaudah, saya bersih - bersih dulu. Nanti biar Amora sama saya, kamu istirahat saja nanti nya."


"Baik bu."


*******


6 bulan kemudian


Pesta rakyat di mulai, puncak hari ini adalah pemilihan Bupati, Brasmana dan Ayu memantau dari rumah nya, yang kini dijadikan markas besar, tim relawan Brasmana dan Lukman.


Perhitungan suara, telah di mulai, Brasmana dan pasangan nya, merasakan jantung yang berdetak kencang, saat perhitungan suara di mulai.


Adinda pun dari rumah dinas nya memantau perhitungan suara, bersama suami, Ajudan dan beberapa staf nya.


"Kira - kira siapa ya? yang akan menang." ucap Yudha.

__ADS_1


"Semoga pilihan rakyat, adalah pilihan terbaik dan bisa membawa kemajuan kabupaten M." ucap Adinda.


Perhitungan pun selesai, saat untuk pengumuman pemenang suara terbanyak. Semua para calon Bupati dan Wakil Bupati, harap - harap cemas. Hingga keluar nomer 1 pasangan Brasmana dan Lukman, yang terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati kabupaten M.


"Alhamdulillah." ucap Brasmana dan Lukman langsung sujud syukur.


Ayu, langsung memeluk suami nya, dan Indira istri Lukman pun langsung memeluk suami nya. Tangis bahagia pecah, Brasmana langsung memeluk Lukman.


"Kita di percaya untuk memimpin kabupaten M, kita di percaya mengemban amanat ini." ucap Brasmana.


"Kita akan sama - sama, menjadi kan kabupaten M menjadi lebih maju lagi." ucap Lukman.


*****


"Selamat ya." ucap Adinda menyalami Brasmana dan Lukman.


"Kalian, akan meneruskan untuk memimpin kabupaten M, dan menjadi kan kabupaten M menjadi lebih baik lagi."ucap Adinda.


"Pasti, kami akan membawa kabupaten M, menjadi lebih baik lagi." ucap Brasmana.


"Buktikan pada mereka, jangan hanya sekedar janji. Karena rakyat telah memilih, berarti mereka menaruh harapan besar pada kalian berdua."


"Kami akan memegang amanat itu." ucap Brasmana.


*****


"Yeeeee.. rumah baru, Mauren kamar nya disini ya kamar yang besar." ucap Mauren.


"Mauren suka rumah nya?" tanya Yudha.


"Suka Papi." ucap Mauren langsung melompat - lompat di atas kasur.


"Jatuh sayang, jangan lompat - lompat." ucap Adinda sambil menggendong Amora yang semakin gemuk.


Mauren akhirnya turun, dan langsung mendekati Mami nya, yang sedang menggendong Amora.


"Jangan dicubit terus, nanti nangis lagi." tegur Adinda.


"Gemes Mami." ucap Mauren.


Amora pun menangis, karena Mauren terus mencubit kedua pipi chubby adik nya.


"Tuh kan." ucap Adinda.


"Jangan dong sayang, sakit adik nya." ucap Yudha langsung mengangkat tubuh Amora.


"Habis gemes Papi."


"Tapi sakit sayang, di sayang dong." ucap Yudha pada Mauren untuk mencium pipi Amora.


Amora diam, saat Mauren mencium pipi nya dan membelai sayang. Senyum Amora terlihat, dan Mauren memeluk adik nya.


"Nah, begini kan enak di lihat nya." ucap Yudha.


"Mauren harus sayang adik nya, Amora juga harus sayang kakak. Kita harus saling menyayangi." ucap Adinda.


"Mauren, sayang Mami Papi dan Amora."


Yudha dan Adinda saling memeluk kedua putri nya, Yudha mencium satu persatu tiga bidadari nya, tepat di kening mereka.


"Bahagia tiada akhir." ucap Yudha


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2