Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Sebuah Restu


__ADS_3

"Ini uang jatah bulanan Mauren. " ucap Rafael memberikan nya, di amplop warna cokelat. Adinda pun menerima nya, tanpa menghitung uang jatah untuk Mauren.


"Terima kasih. " ucap Adinda.


"Saya mau tanya, apa benar calon Papi sambung anak kita itu, si Yudha Ajudan kamu? "


"Kata siapa? "


"Mauren, anak kecil kalau bicara itu tidak bohong loh. "


"Kalau iya kenapa? tidak suka? hak saya dong."


"Ntar dulu, gaji dia berapa sih? dia itu bawahan kamu. Apa tidak ada yang lebih dari saya? calon suami malah bawahan, sekalian saja kamu nikah sama tukang kebun, supir atau apalah. " ucap Rafael meledek.


"Nggak masalah, yang penting halal, mau profesi dia itu apa. Dari pada kamu, gaji besar tapi nggak sayang sama istri. Sedang kan dia, sayang sama saya dan mauren."


"Apa kata orang, Bupati menikahi Ajudan nya, pasti akan ada yang mengatakan , si pria numpang hidup. "


"Cukup ya, kamu tidak usah urus kehidupan pribadi saya lagi, kita bukan suami istri, kamu cukup nikmati hidup kamu, saya juga nikmati hidup saya. Cukup, kita sama - sama memperhatikan perkembangan, anak kita. Dan kewajiban kita, sebagai orang tua. Paham kan, diri sini? "


"Tapi Ajudan, yang lebih level tinggi lah. " ucap Rafael meledek.


"Sekarang, kamu pulang. Kalau kamu, masih bahas ini. Saya masih punya hati, karena kamu itu Papi nya Mauren. Sekarang, kamu keluar..!!! "


"Ok, dah.. ibu Ajudan, hahahaha... "


Adinda, hanya mengehela nafas panjang. Ayu lalu masuk, dan berjalan mendekati Adinda yang sedang menahan emosi.


"Ngomong apa saja dia? "


"Tidak ada. "


"Sudah, jujur saja.Saya tahu, bahkan Aksana, Mirna dan Pak Danang tahu kalian itu pacaran. Mauren cerita sama Papi nya, dia komentar apa? "


"Katanya, apa tidak ada pria yang lebih lagi dari dia, yang level nya lebih tinggi lagi. Calon Papi sambung, kok Ajudan. Sekalian saja, supir , tukang kebun. Gaji dia berapa sih? yang ada itu pria numpang hidup. "


"Kurang ajar sekali si Rafael, kamu jawab nggak dari pada kamu, banyak duit kagak sayang sama istri. "


"Sudah saya jawab begitu, tetap saja meledek. Namanya juga Rafael, saya bilang saja. Jangan urus hidup saya, sekarang mending juga kita fokus pada Mauren."


"Iya betul, mending kamu bicara seperti itu." ucap Ayu.


"Saya, jadi nya ikut kesel. " ucap Ayu kembali.


****


"Ibu tidak mau, punya mantu anak pejabat, atau orang atas. Ibu tidak setuju, kamu mau mohon atau apa. Kamu pikir, jadi suami anak dari pejabat itu enak? kamu pikir jadi suami, dengan jabatan istri lebih tinggi enak. Kamu pikir, setelah menikah, kamu nafkahi dia dengan gaji kamu segitu, dia akan lama - lama menerima nya? ibu jamin, harga diri kamu akan di injak - injak. Ibu tidak rela, tidak ridho kalau anak ibu, di perlakuan seperti itu. "


"Bu, Adinda tidak begitu. "


"Alah, sekarang iya nanti kalau sudah menikah. Sudah kamu sama Elisa atau Karina, diantara dua itu. Kamu itu tampan, kamu mudah cari perempuan. Kamu putuskan Adinda, ibu tidak setuju. "

__ADS_1


"Tapi bu. "


"Jangan bahas itu lagi. " ucap Ibu Nuha, lalu pergi meninggalkan Yudha.


Yudha hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar, dan langsung berdiri berjalan mendekati kamar ibu nya, saat tahu Ibu Nuha masuk ke dalam kamar nya.


"Bu, saya pamit. Assalamu'alaikum. "


*****


"Pak, lihat Yudha? " tanya Adinda.


"Nggak lihat Bu, dari siang tidak lihat. Setelah selesai dinas dia ijin pulang, ke rumah nya." jawab Pak Danang.


"Baik Pak, makasih ya." ucap Adinda.


Saat masuk, Yudha melintas dan langsung Adinda menghampiri nya. Yudha tersenyum dan menyambut kekasih nya.


"Dari mana? " tanya Adinda sambil memegang tangan nya.


"Dari rumah ibu, kenapa kangen ya? "


"Iya lah, mau bicara sebentar. "


"Bicara apa? " tanya Yudha sambil membawa Adinda duduk di sofa ruang keluarga.


"Mas, kita tunangan saja dulu, Mas temui Ayah sama Ibu. Minggu depan, jadwal mereka kesini. " jawab Adinda.


"Makasih sayang. " Adinda memeluk tubuh Yudha.


*****


"Mana cucu Opa sama Oma. " ucap Pak Faisal.


"Opa... Oma.. !!! panggil Mauren berlari ke arah Oma Opa nya.


" Sini peluk oma, terus peluk Opa." ucap Ibu Mira.


Lalu Mauren memeluk Oma nya, dan berlanjut ke Opa nya, tidak lupa mendapatkan ciuman dari kedua nya.


"Akhirnya, kamu dapatkan hak asuh Mauren." ucap Pak Faisal.


"Alhamdulillah, dan sebenarnya tanpa di minta, Mauren ingin ikut saya, tapi tetap saja melalui pengadilan, karena Rafael itu tahu sendiri Ayah dan ibu." ucap Adinda.


"Ibu senang dengar nya, hati orang tua mana yang tidak menangis, melihat anak nya tekanan batin begini, ya nggak Yah, seperti nya hancur. Mau ikut campur, kamu selalu bilang urusan Saya, dan hanya sama kamu dia kasar, tapi sama Mauren sayang. Ibu saran kan, kamu itu cari pria yang lebih baik."


"Saya sudah dapat. "


"Siapa? " tanya Pak Faisal.


"Mas Yudha. " jawab Adinda.

__ADS_1


"Yudha siapa? " tanya kembali ibu Mira.


"Ajudan saya." jawab Adinda.


"Kamu pacaran sama dia? " ucap Pak Faisal.


"Kenapa? ayah tidak setuju? "


"Ayah sama ibu setuju saja, yang penting sayang sama kamu dan Mauren. Kamu hidup bahagia, tidak tersakiti lagi." ucap Pak Faisal.


"Benar apa yang ribuan katakan sama Ayah kamu, Ibu setuju asal sayang, tidak main kasar. " ucap Ibu Mira.


"Dia sangat berbeda dengan Rafael, dia sayang sama saya dan Mauren. Bukti nya, Mauren sangat dekat sama Mas Yudha."


"Hati - hati, jangan terkecoh, di awal seperti ini, tapi ingat jangan sampai seperti Rafael, pertama juga begitu eh sudah menikah malah seperti binatang." ucap Pak Faisal.


"Tidak Ayah, Ibu Mas Yudha berbeda dengan dia."


*****


"Bisa bicara sama kamu? " tanya Pak Faisal, memanggil Yudha.


"Bisa Pak." jawab Yudha sopan.


"Kamu sekarang katanya sedang dekat sama Adinda? apa itu benar?"


"Iya Pak, benar. " jawab Yudha.


"Kamu mencintai dia? "


"Sangat mencintai nya. "


"Punya apa kamu, ingin melamar anak saya?"


"Harta saya tidak punya, tapi saya memiliki cinta yang tulus, dengan menerima baik dan buruk nya. Dan saya akan menjadi pria yang bertanggung jawab, dan menerima Mauren sebagai anak sambung saya."


"Saya tidak butuh janji kamu, tapi bukti."


"Saya akan buktikan, kalau saya seorang pria sejati. "


"Saya pegang janji kamu, dan saya ingin melihat nya. "


"Baik Pak, dan terima kasih sudah memberikan sinyal, untuk saya mendekati putri bapak. "


"Jangan buat dia menangis, bahagia kan dia, sekali kamu sakiti dia, saya akan bertindak tegas sama kamu."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2