
"Mana lagi? " ucap Adinda pada Ayu, saat sedang menandatangani sebuah berkas.
"Tinggal yang ini, persetujuan untuk merehab cagar budaya. "
"Nanti tolong suruh orang, awasi disana, saya tidak mau dana yang digunakan untuk melestarikan cagar budaya, jaman purba ada yang memakai nya, atau memangkas nya. Saya ingin, 100 persen turun kesana. "
"Siap Bu. "
"Dan tolong, perintah kan semua yang menjaga di depan, kalau ada Rafael jangan di boleh kan masuk. " ucap Adinda pada Aksana.
"Baik Bu, saya akan sampaikan. "ucap Aksana.
"Ini, ada berkas yang harus di tanda tangani Bendahara, kamu kasih ke dia. "
"Baik Bu. " ucap Ayu lalu, pergi meninggalkan ruangan Adinda.
"Aksana."
"Iya Bu. "
"Kalau Yudha datang, tolong suruh dia temui saya. "
"Baik Bu. "
****
"Om....!!! teriak Mauren sambil lari menghampiri Mauren.
" Jangan lari - lari dong. " ucap Yudha langsung mengangkat tubuh Mauren dan menggendong nya.
"Jadi kamu, sekarang yang antar jemput Mas?' tanya Elisa.
" Iya, dia tanggung jawab saya. " jawab Yudha.
"Mauren, aktif. Dari awal masuk, anak nya sudah pintar bergaul. "
"Bagus lah, berarti dia supel."
"Kalau begitu, saya masuk kedalam. Hati - hati, bawa anak orang nomer satu. "
"Saya akan menjaga nya, dengan pertaruhkan nyawa saya. "
"Om, pulang yuk. Panas. " ucap Mauren.
"Ok, kita pulang. "
Di dalam mobil, Mauren tidak henti bernyanyi, bahkan Yudha pun ikut menyanyi. Tawa kedua nya, meramaikan sendiri di dalam mobil, hingga mobil telah sampai di rumah Dinas.
Mirna pun, langsung membuka pintu, dan langsung menggandeng tangan Mauren. Yudha tersenyum dengan melambaikan tangan nya, saat Mauren masuk.
"Dah... Om... Mauren masuk dulu ya. "
"Iya sayang, dah... juga...!! " balas Yudha.
"Semakin akrab, sama anak atasan. " ucap Aksana.
"Mauren itu lucu, dia pintar. Anak seperti dia itu, memang harus bahagia. Dia pandai bergaul, bahkan memiliki pikiran yang dewasa tapi terlewat menakutkan. Bukti nya, dia nekat kabur dari rumah, hanya ingin ke rumah Mami nya. "
"Rekaman dalam pikiran nya, akan diingat sampai dia dewasa. " ucap Aksana.
"Betul kata kamu, oh iya Ibu Adinda ingin ketemu sama kamu. "
"Saya ke kantor nya dulu. "
"Makan nya, saya kemarin cek kamu sudah pulang belum. "
"Ada ponsel, ribet banget kamu kesini."
"Takut ganggu, kamu lagi di jalan. "
"Saya ke kantor nya. " ucap Yudha, yang hanya berjarak 500 meter, dari rumah Dinas ke kantor Bupati.
__ADS_1
****
"Mauren makan siang dulu. " ucap Mirna.
"Mauren, tidak suka telur. " ucap Mauren saat melihat, telur gulung.
"Maaf, mba Marni nggak tahu, kalau Mauren tidak suka telur. "
"Mauren, alergi telur. "
"Yasudah, makan sama sayur sop saja ya sama kerupuk. Ini sayur sop ayam, suka kan?"
"Suka."
"Mba Mirna, suapin ya. "
"No mba, Mauren biasa makan sendiri, sama Papi tidak boleh manja, apalagi saat Mami Wita suruh, ambil sendiri. Tapi sama Oma dan opa, Mauren di manja. "
"Oh gitu ya, jadi bener makan sendiri. "
"Yes, makan sendiri. "
"Ya sudah, ini. Mba Mirna temenin Mauren makan. "
"Mba Mirna, nggak makan? "
"Nggak, lihat Mauren saja sudah kenyang."
"Hehehehehe... "
****
Tok... tok...
Yudha membuka pintu ruangan Adinda, dan terlihat Adinda sedang fokus pada layar laptop nya. Yudha menutup kembali pintu ruangan Adinda.
"Duduk dulu. "
Yudha duduk, sambil menatap ke sekeliling ruangan, bahkan terlihat photo Adinda bersama Mauren dengan ekspresi tertawa.
Yudha tersenyum, dan Adinda melihat nya. Sambil menutup laptop nya, dan Yudha langsung berubah serius saat Adinda menatap nya.
"Kamu kenapa senyum? "
"Itu anu, saya lihat photo kamu sama Mauren."
"Oh, itu. " ucap Adinda tersenyum, dan bagun dari duduk nya lalu berjalan ke arah Yudha dan duduk di seberang nya.
"Ehm.. boleh saya tanya? "
"Tanya apa? "
"Kenapa kamu, kemarin bilang sama Rafael, kamu kekasih saya dan akan lamar saya setelah surat cerai nya turun."
"Oh, biar dia tidak menyakiti kamu dan Mauren lagi. "
"Kalau dia percaya bagaimana? dia itu bisa nekat loh. "
"Kenapa takut, nggak lah. Dia itu sama saja manusia, ciptaan Tuhan, takut itu sama sang Pencipta kita, bukan sama Rafael. "
"Kamu tahu nggak? saat kamu bilang calon suami saya, disitu saya itu merasakan berbunga - bunga. "
Yudha tersenyum sambil menatap ke arah Adinda, dan langsung memasang wajah serius kembali.
"Oh.. jadi ada yang baper ya? "
"Gimana nggak baper, kamu nya saja bilang nya pakai perasaan. " ucap Adinda.
"Saya tidak akan memiliki, orang yang masih di miliki, dan saya tidak akan mengatakan, apa isi hati ini, ketika masih ada tali yang mengikatnya. "
*****
__ADS_1
"Ayu.. !!! " Adinda memeluk erat Ayu dengan kencang.
"Ih.. lepas, sakit tahu sama sesak nih. " ucap Ayu, sambil berusaha melepaskan pelukan Adinda.
"Kamu harus tahu, seperti nya perasaan saya itu terbalas. "
"Sama siapa? "
"Yudha."
"Masa? "
"Serius."
"Dia katakan cinta sama kamu? "
"Nggak sih. "
"Lah terus? "
"Dia bilang gini, Saya tidak akan memiliki, orang yang masih di miliki, dan saya tidak akan mengatakan, apa isi hati ini, ketika masih ada tali yang mengikatnya. "
"Terus, kalau bilang begitu dia suka sama kamu? dan kamu baper, geer, merasa yakin kalau Yudha memang cinta kamu. Ingat jangan ketinggian, kalau jatuh nanti sakit loh."
"Ah.. kamu mah, sahabat bukan nya dukung, malah buat patah semangat orang. "
"Kalau pun iya, Yudha itu tidak sembarangan. Dia akan jaga sikap dan jarak, dan kamu harus tahu, status kamu itu masih istri Rafael secara hukum. Dan itu yang, jadi bahan pertimbangan. "
"Gitu ya, ini sih takut kecewa."
"Makan nya, jangan terlalu baper sama pria, jadilah Rafael itu pelajaran buat kamu, jangan sampai kamu tersakiti lagi. "
*****
"Kok belum tidur? " Adinda naik ke atas tempat tidur Mauren.
"Mauren belum ngantuk. "
"Mami temanin kamu ya. "
Mauren langsung memeluk tubuh Mami nya, tangan mungil itu, mulai mengusap lengan Adinda.
"Mami tidur sama Mauren ya. "
"Iya sayang, Mami akan tidur sama kamu."
"Mami, tahu tidak apa yang Mauren doa setiap hari? "
"Memang nya, Mauren berdoa apa? "
"Mauren doa kan, Mami bahagia. "
"Loh kok doa kan Mami bahagia, memang nya Mami tidak bahagia? Mami bahagia kok. "
"Mami bahagia, tapi hati Mami menangis. Makan nya Mauren, ingin dekat sama Mami, biar Mami tidak sedih lagi. Mauren sekarang tahu, kenapa Mami jauh dari Mauren. "
"Kamu kok, bisa punya pikiran seperti ini? kamu kan masih kecil sayang. "
"Ada teman Mauren, tidak dapat kasih sayang dari orang tua nya, karena bercerai.Mauren nggak mau. "
"Jadi Mauren ingin, Mami sama Papi tidak marahan lagi? "
"Nggak Mami, Mauren hanya ingin Mami, sama Om Yudha menikah. "
"Mauren..!! "
"Om Yudha itu sayang sama Mauren, tidak seperti Papi, sayang tapi suka marah - marah."
.
.
__ADS_1
.