
Adinda memegang perut nya, dengan merasakan sakit. Sambil berjalan, Adinda mencari suami nya.
"Mba Mirna.. !!! panggil Adinda.
" Ya bu, ada apa?" ucap Mirna datang menghampiri Adinda.
"Mirna, tolong kamu cari suami saya. Perut saya mules banget, seperti nya mau melahirkan."
"Iya - iya bu, sekarang ibu duduk dulu ya." ucap Mirna langsung mencari Yudha.
Adinda terus meringis sambil mencengkram sisi sofa yang dirinya duduk.
"Mami, kenapa?" tanya Mauren, saat mendekati Mami nya.
"Dede bayi, ingin keluar Mauren."
"Hah... serius? "
"Iya sayang, dede bayi nya ingin keluar."
Sedangkan Mirna, masih mencari Yudha, hingga tanya ke setiap orang di rumah tidak ada yang tahu, dimana Yudha.
"Pak Danang benar tidak melihat Pak Bos?" tanya Mirna.
"Benar Mirna, memang ada apa?" jawab Pak Danang kembali bertanya.
"Anu ibu, anu mau melahirkan." ucap Mirna.
"Ibu mau melahirkan!!! saya siap kan mobil nya dulu, kamu cari Pak Bos ya." ucap Pak Danang langsung menuju ke arah mobil.
"Aduh, Pak Bos kemana sih?" ucap Mirna yang masih terus mencari Yudha.
"Aduh nak, mana Papi kamu? Mami sudah nggak kuat." ucap Adinda.
"Mami telepon Papi."
"Kamu telepon Papi nak." ucap Adinda, dan Mauren mengambil ponsel Yudha.
"Mami tidak di angkat." ucap Mauren.
"Haduh, Papi kamu kemana sih?" ucap Adinda yang sudah tidak tahan.
****
"Gimana tadi? lumayan banyak kan hasil mancing kita hari ini." ucap Yudha di bantu oleh Aksana menurunkan box kecil berisi ikan segar hasil memancing nya.
"Lumayan lah, buat nanti malam kita makan - makan." ucap Aksana.
"Haduh Pak Bos, dari tadi di cari kemana, ternyata Pak Bos ada disini." ucap Mirna datang dengan nafas yang naik turun.
"Ada apa sih?" tanya Yudha.
"Ibu Pak, ibu." jawab Mirna.
"Iya ibu kenapa?"
"Ibu mau melahirkan."
"Kamu kenapa, tidak bilang dari tadi."ucap Yudha langsung bergegas berjalan masuk.
__ADS_1
"Lah gimana sih Pak Bos, orang Bapak nya saja baru datang."
****
"Kemana saja sih Mas? ini sudah mules banget, sakit tahu." bentak Adinda.
"Maaf sayang, maaf. Kita ke rumah sakit sekarang, mba tolong tas yang sudah di siapkan di kamar bawa ke mobil." ucap Yudha.
"Baik Pak." ucap Mirna, sedangkan Yudha langsung memapah Adinda berjalan ke arah mobil yang sudah siap.
"Aaaaaaaa... Mas, sakit." ucap Adinda sambil mencengkram paha Yudha.
"Iya sabar, Pak Danang sudah kecepatan penuh." ucap Yudha.
"Mami, dede nya maksa ya mau keluar?" tanya Mauren yang duduk di kursi depan penumpang bersama Mirna.
"Iya sayang, dede sudah ingin keluar." jawab Adinda.
"Pak... bisa cepat tidak?" ucap Adinda.
"Ini sudah cepat bu, mobil polisi sudah di depan, biar kita sampai di rumah sakit." ucap Pak Danang.
"Sakit Mas, sakit."
"Iya sayang, tahan ya sebentar lagi sampai."
****
Adinda pun langsung di tangani dokter kandungan, sedang kan Yudha terlihat sangat panik dan grogi. Berulang kali Ibu Nuha, dan Mertua nya Ibu Heni mengingat kan Yudha untuk tenang.
"Kamu duduk Yudha, kami lihat nya pusing." ucap Ibu Nuha.
"Ibu, saya khawatir di dalam. dokter sedang memeriksa kandungan Adinda, takut kenapa - napa." ucap Yudha.
Ceklek
Pintu ruang IGD terbuka, dan dokter spesialis kandungan langsung menghampiri Yudha.
"Bagaimana dok?" tanya Yudha.
"Pak, saat di USG posisi bayi melintang. Dengan terpaksa, harus cesar."
"Apapun itu dok, lakukan yang penting anak dan istri saya selamat."
"Baik Pak, kalau begitu Bapak silahkan tanda tangan duku, dan mengurus semuanya. Kami akan siapkan operasi sekarang."
"Baik dok, lakukan yang terbaik."
****
Hampir 30 menit, Adinda di dalam ruang operasi, belum juga keluar. Sehingga membuat Yudha semakin stres dan panik. Mauren yang tadi nya duduk, di pangkuan Mirna langsung turun berjalan ke arah Papi nya.
"Papi, dede bayi nya nggak mau keluar ya? kok lama banget."
"Ini Papi sedang nunggu dede bayi keluar."
Terdengar dari dalam suara tangisan bayi, dan pintu ruang operasi terbuka. Dokter Siska pun keluar dengan tersenyum ke arah Yudha.
"Gimana dok?" tanya Yudha.
__ADS_1
"Alhamdulillah, selamat Pak bayi nya sehat, perempuan." jawab dokter Siska.
"Alhamdulillah ya Allah." ucap Yudha langsung memeluk tubuh Mauren.
****
Yudha, menggendong putri kecilnya, warna kulit yang masih merah, dengan rambut yang hitam tebal, hidung mancung membuat yang melihat nya semakin gemas.
"Aduh, cucu nenek lucu banget." ucap Ibu Nuha.
"Ayah langsung terbang pulang, saat tahu cucu nya lahir. " ucap Ibu Heni.
"Wajah nya, mirip siapa?" tanya Adinda, yang masih lemah.
"Wajah nya, mirip Papi nya." ucap Ibu Heni.
"Saya yang mengandung 9 bulan, malah mirip Papi nya." ucap Adinda.
"Mitos mengatakan, kalau mirip sama Papi nya, berarti Mami nya yang cinta nya besar."
"Oh, jadi Papi nya nggak besar ya cinta nya."
"Ya nggak dong, besar lah." ucap Yudha.
"Papi, boleh Mauren gendong?"
"Jangan dong, Mauren kan belum bisa."
"Mauren kan sudah besar Papi, gendong boneka kan kuat."
"Tapi ini bukan boneka sayang."
"Mami.. Papi pelit." ucap Mauren mengadu.
"Papi tidak pelit sayang, tapi Mauren belum boleh, karena tulang dede bayi belum kuat."
Huuuuaaaaaaa
"Mau gendong dede bayi, huuuaaaaaa...!! "
****
"Amora Cinta Purnama." ucap Yudha memberikan nama untuk putri nya.
"Nama yang cantik Mas, kita panggil Amora." ucap Adinda.
"Iya sayang, kita panggil Amora."
"Alhamdulillah Mas, kita memiliki dua bidadari Semoga anak kita menjadi anak yang solehah."
"Amin."ucap Yudha sambil mengecup Amora yang ada di dalam dekapan Adinda, sedang kan Mauren tertidur di sofa setelah menangis meminta menggendong adik nya.
" Mas tidak akan mengurangi rasa sayang pada Mauren, Mas akan tetap sayang sama Mauren, dan cinta Mas tidak akan pernah berkurang pada nya. Mauren dan Amora adalah anak yang Mas sayangi."
"Makasih sayang, kamu sudah memberikan kasih sayang dan cinta yang sangat besar sama Mauren, walau Mas itu adalah Papi sambungnya."
"Kalian bertiga, adalah harta yang paling berharga."
.
__ADS_1
.
.