Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Mauren Sakit


__ADS_3

"Bu... ibu...!!! " panggil Mirna.


"Kenapa mba?" tanya Adinda.


"Mauren demam bu." jawab Mirna.


"Ya Allah, padahal tadi malam masih ceria." ucap Adinda langsung mengecek suhu tubuh Mauren.


"Papi... Pap.. !!! " panggil Adinda.


"Ada apa?" tanya Yudha.


"Mauren demam." jawab Adinda, dan Yudha langsung memegang kening Mauren.


"Kita bawa ke rumah sakit, demam nya tinggi sekali." ucap Yudha langsung menggendong tubuh Mauren.


"Aksana, kamu panggil Aksana." ucap Adinda pada Mirna.


"Baik bu, Mirna langsung memanggil Aksana, dan Aksana pun datang.


" Ada apa Bu? "


"Saya hari ini mau, antar Mauren ke rumah sakit. Kamu atasi dulu, jadwal hari ini. Ayu sudah, saya bebas tugas kan karena suami nya sedang mencalonkan sebagai Bupati._ ucap Adinda.


" Siap bu." ucap Aksana.


Adinda dan Yudha, langsung membawa Mauren ke rumah sakit. Di dalam perjalanan, Mauren terus menangis. Demam yang tinggi, membuat Mauren rewel.


Mobil pun sampai di rumah sakit, Mauren langsung di masukan ke IGD. Dokter langsung menangani Mauren, sedang kan Adinda dan Yudha dengan panik melihat putri nya yang sedang ditangani dokter.


"Bu, Pak putri kalian terkena demam berdarah, dan harus di rawat." ucap Dokter.


"Tapi kondisinya tidak apa - apa kan dok?" tanya Yudha.


"Tidak apa - apa, kami akan melakukan tes darah dulu." jawab dokter.


"Baik dok."ucap Yudha.


Adinda memegang tangan Mauren, tangan yang yang sudah terdapat selang infus, membuat hati nya sangat sedih melihat putri kecil nya yang terbaring lemah.


" Pak, maaf untuk mengurus administrasi nya dulu. " ucap seorang suster pada Yudha.


"Baik sus." ucap Yudha.


"Mam, Papi ke bagian administrasi dulu ya untuk mengurus data Mauren."


"Iya Pap. "


*****


"Mauren kenapa bisa terkena demam berdarah? kok bisa. Pasti jorok ya, kurang bersih - bersih." ucap Rafael kesal.

__ADS_1


"Eh.. kalau ngomong itu di saring, sekali saja kalau ngobrol sama mantan istri itu nggak pernah halus, kasar terus."


"Tapi kenapa? Mauren bisa kena demam berdarah."


"Bisa saja kena nya di luar, di sekolah, atau di tempat nenek nya main sama teman - teman nya, atau pas di luar lain nya."


"Ah.. kamu nggak becus, saya sekarang kesana." ucap Rafael langsung mematikan ponsel nya.


Sedang kan di rumah sakit, Adinda langsung menjatuhkan pantat nya di sofa dengan kasar. Yudha paham pasti Rafael marah lagi.


"Kalau tidak di kasih tahu salah, di kasih tahu juga salah." ucap Yudha.


"Saya kesel saja sama orang satu ini, anak kena demam berdarah, saya yang di salahkan." ucap Adinda dengan wajah cemberut nya.


"Mami." panggil Mauren.


"Iya sayang, ada apa?"


"Mau makan."


"Ada roti mau?"


"Mau." ucap Mauren.


Mauren duduk dengan bersandar di kepala ranjang, sambil makan roti rasa strawberry. Yudha mendekat, sambil memegang kening Mauren, yang sudah tidak terasa panas lagi.


"Demam nya sudah turun, Mauren nya juga sudah tidak seperti tadi." ucap Yudha.


Pintu kamar terbuka, Ibu Nuha tiba, setelah mendapatkan kabar dari Yudha. Adinda, Yudha dan Mauren langsung bersalaman dengan Ibu Nuha.


"Kondisi nya gimana?" tanya ibu Nuha.


"Alhamdulillah bu, demam nya turun. Dan Mauren terkena demam berdarah." jawab Yudha.


"Kasihan cucu nenek."


"Bu, ada kabar gembira." ucap Yudha.


"Kabar gembira apa?"


"Adinda hamil."


"Alhamdulillah, selamat."


"Doakan ya Bu, semoga lancar sampai persalinan nanti. " ucap Adinda.


"Amin ya Allah, akhirnya Ibu punya cucu satu lagi." ucap ibu Nuha.


"Ibu nanti ramai rumah nya, nggak hanya ramai karena Mauren, tapi ramai ada adik nya Mauren." ucap Yudha.


"Ah.. jadi ibu nggak sabar, ingin menimang cucu."

__ADS_1


*****


"Mauren." sapa Rafael yang baru sampai, langsung berjalan ke arah putri nya.


Papi. "


"Astaga, kamu kena demam berdarah sayang, tangan kamu ada bintik - bintik merah nya. Papi sedih dengar kamu masuk rumah sakit, apalagi tangan kamu sampai di infus begini. Jarum nya menusuk tangan kamu, Papi sedih lihat nya. "ucap Rafael, dan langsung menatap ke arah Adinda dan Yudha.


" Kalian itu, tidak becus mengurus anak. Masa anak sampai kena demam berdarah begini, masuk rumah sakit lagi." ucap Rafael.


"Kamu kalau bicara, jangan sembarangan begitu. Anak sakit, bukan nya prihatin malah menuduh kita yang tidak becus mengurus anak. Kamu pikir, kita ini mau apa anak masuk rumah sakit, kamu pikir, kita juga mau anak kena demam berdarah. Mauren kena itu, bisa kena itu bisa saja dari luar. " ucap Yudha.


"Mauren, belum pernah terkena demam berdarah , tapi katanya setelah sering main ke rumah kamu, anak saya kena. Mungkin kampung kamu itu Kumuh, rumah nya tidak bersih. Jadi anak saya kena demam berdarah, nyamuk jadi banyak karena kurang nya bersih - bersih."


"Kamu kalau ngomong enak ya, seperti gorengan kacang renyah. Ini musibah, bukan nya saling menuduh."


"Sudah, lebih baik kamu pergi, kalau kamu sampai sini hanya bisa nya marah - marah." ucap Adinda.


"Gimana nggak marah, anak masuk rumah sakit." ucap Rafael.


"Kalau kamu bukan, Papi nya Mauren. Sudah saya hajar kamu, sampai sekarang saya masih sabar menghadapi kamu." ucap Yudha.


"Saya akan bawa Mauren, dia akan tinggal sama Papi nya. Biar dia terawat, dari pada anak saya nanti sakit - sakit an lagi."


"Nggak, enak saya, main bawa - bawa. Apa lupa keputusan pengadilan, Mauren itu ikut sama saya."


"Tidak bisa, Mauren itu ikut sama saya."


"Nggak bisa."


"Cukup...!!! " bentak Yudha.


"Apa kalian tidak kasihan sama Mauren, lihat dia. Dia sedang menatap kedua orang tua nya yang sedang merebutkan nya. Tanya sama anak nya, dia akan lebih nyaman dengan siapa? dan kalian harus tahu, bukan begini cara menyelesaikan masalah nya. Dan kamu Rafael, bagaimana mantan istri kamu itu tidak marah besar , karena kamu tidak pernah bisa bicara baik - baik. Apa ini cara kamu, hanya dengan emosi dan emosi. Anak kita sakit, bukan salah siapa - siapa, ini musibah. Semua orang tua, tidak mau seperti ini."ucap Yudha.


" Benar, apa kata Mas Yudha. Kamu Rafael, seharusnya jangan langsung datang - datang marah begitu, saya kasih tahu kamu salah, tidak kasih tahu juga salah. Jujur saya itu bingung sama kamu, mau nya apa." ucap Adinda." ucap Adinda.


"Gimana saya tidak emosi, lihat anak di infus, di tusuk jarum, sampai di rawat. Kalau kalian, lebih memperhatikan Mauren, dia tidak akan sampai kena demam berdarah seperti ini."ucap Rafael.


"Papi." panggil Mauren.


"Iya sayang." ucap Rafael dan Yudha.


"Papi Rafael, jangan marahin Mami sama Papi Yudha. Mereka tidak salah, Papi jangan marah - marah."


"Papi tidak marah sayang, Papi hanya menegur saja."


"Tuh, lihat anak kamu saja paham Anak kecil paham, tapi kamu tidak pernah paham."ucap Adinda.


.


.

__ADS_1


__ADS_2