
"Kamu kok pucat?" tanya Ayu saat sedang berjalan menuju ke lapangan untuk Apel senin.
"Masa sih? padahal sudah saya poles make up loh." jawab Adinda.
Ayu menoleh ke belakang, terdapat Aksana dan Yudha dan dua orang pengawal. Yudha berjalan mendekat, saat Ayu memberikan kode.
"Sakit." bisik Yudha.
"Tidak kok, nggak sakit. Saya kuat kok."
"Kalau sakit, yang menjadi pembina upacara bisa di ganti. Sama Ibu Wabup."
"Saya kuat Mas."ucap Adinda, yang memang sudah merasakan pusing.
Adinda bersalaman dengan Ibu wakil Bupati, Ibu Handayani, mereka saling bercipika cipiki setelah bersalaman.
" Sedang sakit?" tanya Ibu Handayani.
"Tidak." jawab Adinda tersenyum.
"Kalau sakit, istirahat saja."
"Aman kok."
Yudha mendekat, dan berbisik pada istri nya. Adinda, mendengarkan perkataan Yudha tapi Adinda menggelengkan kepala nya.
"Saya tidak apa - apa."ucap Adinda yang sudah merasakan pusing yang sangat berat.
Apel senin pun dimulai, Adinda terus memijat kepala nya, Yudha terus memperhatikan istri nya yang terus memijat kepala nya.
Saat nya pengibaran bendera , Adinda dan Ibu Handayani berdiri saat bendera mulai di naikan. Adinda tiba - tiba tubuh nya tidak seimbang, dan Yudha langsung menangkap tubuh istri nya.
" Sayang." ucap Yudha, dan semua nya langsung membantu Yudha untuk membawa Adinda masuk.
****
Yudha melepaskan dua kancing seragam Adinda, dan melonggarkan pengait rok nya. Ayu memberikan minyak kayu putih pada Yudha, untuk di oleskan pada tubuh Adinda.
"Adinda, sedang tidak enak badan kamu diam saja." ucap Ayu.
"Dia dari bangun tidur, biasa saja. Kalau tahu sakit, saya juga nggak akan ijinkan dia berangkat." ucap Yudha mengoleskan pada pelipis Adinda.
Kedua mata Adinda terbuka, tangan nya memegang kepala nya yang masih sangat terasa berat dan pusing.
"Mas."
"Iya sayang."
"Pusing banget."
"Mas, panggil dokter ya."
"Saya ingin muntah." ucap Adinda berusaha bangun tapi susah karena merasakan pusing.
"Mba, tolong jantung plastik, buat Adinda muntah."
"Iya, tunggu sebentar Adinda." ucap Ayu langsung berlari keluar ruangan.
Tak lama, Ayu datang membawa kantung plastik warna hitam, Yudha mengambil dari tangan Ayu, Adinda memuntahkan isi perut nya.
"Muntah kan semua nya." ucap Yudha sambil memijat tengkuk leher nya.
Adinda merebahkan lagi tubuh nya di sofa ruangan kerja nya, Ayu memberikan teh hangat.
"Minum dulu, biar tidak enek banget." ucap Yudha, dan Adinda pun meminum nya.
Pintu terbuka, Ibu Wakil Bupati datang dan langsung mendekati Adinda.
"Gimana? ke rumah sakit ya, biar di periksa sama dokter." ucap Ibu Handayani.
"Saya tidak kuat bu, pusing sekali." ucap Adinda.
__ADS_1
"Mba, tolong telepon kan dokter , untuk datang ke rumah dinas. Saya akan bawa Adinda pulang." ucap Yudha.
"Baik saya hubungi sekarang." ucap Ayu.
"Sekarang istirahat saja dulu, nanti jangan banyak pikiran, apalagi pekerjaan." ucap Ibu Handayani.
"Iya bu, maaf ya kalau di serahkan sementara pada Ibu dulu."
"Iya, yang penting sehat."
"Bu, maaf ya saya bawa istri saya pulang dulu."
"Baik Pak,silahkan.Semoga cepat sembuh ya."
*****
"Bagaimana dok keadaan istri saya?" tanya Yudha pada dokter Herman.
"Ibu Adinda tidak apa - apa, hanya saja seperti nya Ibu Adinda hamil." jawab dokter Herman.
"Hamil dok?" ucap Yudha senang.
"Benar, apa ibu telat haid bulan ini?"
"Iya dok, saya baru ingat." ucap Adinda.
"Berarti kamu hamil sayang." ucap Yudha.
"Kalau begitu, ibu bisa cek."
***
Adinda mencoba memakai testpack nya, di dalam kamar mandi menunggu hasil nya. Dengan menatap terus ke alat tersebut, akhirnya Adinda melihat garis dua warna merah.
"Alhamdulillah..!! "
"Mas...!!! " ucap Adinda langsung ke luar dari kamar mandi, dan langsung menemui suami nya dan dokter Herman.
"Lihat Mas." ucap Adinda menyerah kan hasil nya.
"Alhamdulillah, kamu positif sayang." ucap Yudha bahagia.
"Alhamdulillah, selamat ya bu, nanti untuk hasil lebih jelas nya ke dokter kandungan." ucap dokter Herman.
"Baik dok, makasih ya maaf merepotkan." ucap Adinda.
"Tidak apa - apa, ini memang tugas seorang dokter."
*****
"Alhamdulillah, akhir nya kita mau menjadi orang tua. Mauren pasti senang, kalau dia akan menjadi seorang kakak." ucap Yudha.
"Benar Mas, akhirnya kamu hadir juga sayang." ucap Adinda sambil memegang perutnya.
"Yang sehat - sehat sayang, semoga kamu lahir sehat dan selamat." ucap Yudha sambil mencium perut istri nya.
"Amin, ya Allah." ucap Adinda sangat bahagia.
****
"Yeeeeee.... akhirnya Mauren mau punya adik." ucap Mauren sangat bahagia, saat tahu akan menjadi kakak.
"Nanti harus di sayang adik nya." ucap Adinda.
"Pasti Mami, pasti di sayang."
"Cium dong, perut Mami ada dede nya."
Mauren pun mencium perut Mami nya, Yudha dan Adinda tersenyum bahagia melihat putri mereka begitu perhatian.
"Nanti kalau adik nya Mauren perempuan, mau di ajak main barbie."
__ADS_1
"Nanti di jaga dan di sayang ya jangan di nakalin."
"Ok Mami, Mauren akan jaga adik."
****
"Mas pundak nya yang agak kencang dong, ini capek banget." ucap Adinda saat meminta Yudha memijat nya.
"Makan tadi masuk dikit ya?" tanya Yudha sambil memijat.
"Iya, rasanya nggak enak di lidah sama pahit." jawab Adinda.
"Kalau mau makan apa, tinggal bilang saja. Nanti Mas cari, kalau ngidam nya masih bisa di cari di sekitar sini."
"Kalau sekarang, ingin minta sate gurita gimana?"
"Sate gurita..!!!
*****
Yudha bersama Aksana mencari penjual sate gurita, hingga keluar kabupaten Yudha dan Aksana tidak mendapatkan nya.
" Gimana ini? tidak ada Yudha. " ucap Aksana.
"Dimana saja, harus dapat." ucap Yudha.
"Tapi ini sudah jauh, mau cari kemana lagi?"
"Pokok nya sampai dapat, kalau anak saya nanti ngiler gimana?"
"Ah... mitos, kita kan sudah usaha."
"Kita cari di tempat penjualan ikan."
"Ini jam berapa? "
"Siapa tahu ada." ucap Yudha langsung putar arah.
"Dari tadi punya pikiran begitu, enak kita nggak jauh begini."
"Kamu bicara begitu, di depan istri saya siap - siap kamu di mutasi."
"Mulai deh, jangan - jangan kamu juga kalau melanggar di mutasi juga." ucap Aksana sambil tersenyum.
"Bukan di Mutasi lagi, tapi tidur di luar."
****
Yudha berada di tempat penjualan ikan, dan Yudha mendatangi setiap kapal yang baru mendarat.
"Tidak ada ya?" ucap Yudha.
"Jarang kalau gurita, kalau ikan biasa banyak."
Yudha menghampiri salah satu nelayan, yang sedang menurunkan ikan - ikan nya. Yudha sambil melihat, mencari gurita.
"Pak, maaf ada gurita?" tanya Yudha.
"Aduh Pak, kosong tidak ada." jawab nya.
"Barang kali,ada satu aja Pak, mungkin kadang ketarik jaring." ucap Aksana.
"Sebentar ya Pak,saya cari tahu mungkin nelayan lain ada yang dapat." ucap nya lalu pergi.
"Terima kasih ya Pak." ucap Yudha
.
.
.
__ADS_1